Friday, October 2, 2020

Makalah Ekonomi Islam Tentang Mashlahah dan Konsumsi

Materi kali ini adalah Makalah Ekonomi Islam yang membahas hubungan mashlahah dan konsumsi. Yang dimaksud dengan konsumsi disini adalah konsumsi yang berpedoman pada ajaran Islam serta memprioritaskan maslahah.




BAB I

PENDAHULUAN



A.Latar Belakang


Islam adalah agama yang komprehensif dan mencakup seluruh aspek kehidupan, yang mengatur segala tingkah laku manusia. Sebagai khalifah bagi dirinya sendiri manusia mempiunyai peranan yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan untuk mengarungi kehidupan didunia. Demikian pula dalam masalah konsumsi, Islam mengatur bagaimana manusia dapat melakukan kegiatan-kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemashlahatan hidupnya.


Konsumsi yang Islami selalu berpedoman pada ajaran Islam, yang aturannya terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Di antara ajaran yang penting berkaitan dengan konsumsi adalah tujuan konsumsi itu sendiri, dimana seorang muslim akan lebih mempertimbangkan mashlahah daripada utilitas. Preferensi seorang konsumen dibangun atas kebutuhan akan mashlahah, baik mashlahah yang diterima di dunia maupun di akhirat. Perilaku konsumsi yang seperti ini akan membawa pelakunya mencapai keberkahan dan kesejahteraan hidupnya.


Dalam Islam, konsumsi tidak dapat dipisahkan dari peranan keimanan. Peranan keimanan menjadi tolak ukur penting karena keimanan memberikan cara pandang dunia yang cenderung mempengaruhi kepribadian manusia. Keimanan sangat mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan material maupun spiritual. Maka dari itu semua, seorang muslim yang baik haruslah mengerti tentang teori-teori konsumsi menurut Islam demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat.


B. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka yang menjadi pokok masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

1.Bagaimana hubungan mashlahah dan konsumsi dalam Islam?

2.Apa perbedaan utilitas dan mashlahah?

3.Bagaimana keseimbangan konsumen dalam Islam?

4.Bagaimana hukum permintaan dan penurunan kurva permintaan?


C. Tujuan Penulisan

1. Memberikan pengetahuan mengenai teori konsumsi dalam Islam

2. Menambah wawasan tentang hukum permintaan dan penurunan kurva permintaan dalam Islam



BAB II

PEMBAHASAN


A. Mashlahah dalam Konsumsi


Secara etimologi, mashlahah berasal dari kata sholaha ( صلح ) yang memiliki arti faedah, kepentingan, manfaat dan kemaslahatan. 

Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia dimuka bumi ini (Khan dan Ghifari, 1992). Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs), properti atau harta benda (al-mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl).


Dalam menjelaskan konsumsi, kita mengasumsikan bahwa konsumen cenderung untuk memilih barang dan jasa yang memberikan mashlahah maksimum. Hal ini sesuai dengan rasionalitas Islami bahwa setiap pelaku ekonomi selalu ingin meningkatkan mashlahah yang diperolehnya. Keyakinan bahwa ada kehidupan dan pembalasan yang adil di akhirat serta informasi yang berasal dari Allah adalah sempurna akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kegiatan konsumsi. 


Misalnya, ketika seseorang diminta memilih antara mengonsumsi sepiring cimol di pinggir jalan atau  ketika  menyantap seporsi Hamburger di restoran terkenal manakah yang kira-kira kebanyakan orang pilih?. Bagi orang yang menyukai Hamburger dan memiliki uang lebih cenderung memilih pilihan kedua, akan tetapi bagi mereka yang dompetnya kosong akan lebih condong ke pilihan pertama, walaupun  ia tidak menyukai cimol. Dalam ilustrasi tersebut tergambar pertimbangan seseorang dalam mengkonsumsi suatu barang yang antara lain biaya dan selera. Padahal, menurut pandangan Islam apabila kita hendak memilih sesuatu yang akan dikonsumsi bukan hanya selera atau biaya. Kita juga harus memperhatikan faktor manfaat seta halal/tidaknya barang tersebut. Nah, faktor manfaat dan berkah inilah yang merupakan bagian utama dari maslahah.


Mashlahah berkonsep maqashid as-syariah. Maslahah memiliki dua kandugan yaitu manfaat dan berkah. Manfaat berarti dapat memenuhi kebutuhan konsumen, berkah berarti barokah, sesuai konsep Islam. Bagi seorang muslim yang takwa dia akan mempertimbangkan maslahah dari barang tersebut. Jika dihubungkan  ke pertanyaan awal, maka ia akan lebih memilih Cimol dipinggir jalan karena Hamburger termasuk barang haram (Ham=daging babi), meskipun ia tidak menyukai cimol tersbut setelah membandingkan berkah dari kedua makanan tersebut. Contoh lainnya, seorang siswa SMA karena prestasinya disekolah dan orang tuanya kaya raya akan dibelikan  hadiah antara sepeda roda dua atau Motor gede 250cc. Karena mempertimbangkan sekolahnya yang tidak terlalu jauh, serta tidak suka polusi maka ia akan lebih memilih sepeda, karena mempertimbangkan manfaatnya meskipun harga sepeda tersebut jauh lebih murah. Selain itu konsumsi yang maslahah termasuk konsumsi yang tidak berlebihan (israf), mubazdir, dan tidak menimbulkan kemudharatan. 


Konsumen merasakan adanya manfaat suatu kegiatan konsumsi ketika ia mendapatkan pemenuhan  kebutuhan fisik atau psikis atau material. Di sisi lain, berkah akan diperolehnya ketika ia mengonsumsi barang/jasa yang dihalalkan oleh syariat Islam. Mengonsumsi yang halal saja merupakan kepatuhan kepada Allah, karenanya memperoleh pahala. Pahala inilah yang kemudian dirasakan sebagai berkah dari barang/jasa yang telah dikonsumsi. Sebaliknya, konsumen tidak akan mengonsumsi barang/jasa yang haram karena tidak mendatangkan berkah, menimbulkan dosa dan siksa Allah.


Jadi, dapat ditarik kesimpulan apabila kita hendak mengkonsumsi suatu barang, hendaklah kita memikirkan manfaat, berkah, dan kauntitas yang diperlukan. Dengan melakukannya Insya Allah maslahah dapat tercapai.


1. Kebutuhan dan Keinginan

Kebutuhan terkait denagn segala sesuatu yang harus dipenuhi agar suatu barang berfungsi secara sempurna. Sebagai misal genting dan pintu jendela merupakan kebutuhan suatu rumah tinggal. Di sisi lain, keinginan adalah terkait dengan hasrat atau harapan seseorang yang jika dipenuhi belum tentu akan meningkatkan kesempurnaan fungsi manusia atau suatu barang.

Secara umum pemenuhan terhadap kebutuhan akan memberikan tambahan manfaat fisik, spiritual, intelektual atau material, sedang keinginan akan menambah kepuasan disamping manfaat lainnya. 


Wants dalam teori ekonomi konvensional muncul dari keinginan naluriah manusia, yang muncul dari konsep bebas nilai (value-free concept). Ilmu ekonomi konvensional tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan, karena keduanya memberikan efek yang sama bila tidak terpenuhi, yaitu kelangkaan. Mereka berpendirian bahwa kebutuhan adalah keinginan, demikian pula sebaliknya. Padahal konsekuensi dari hal ini adalah terkurasnya sumber-sumber daya alam secara membabi-buta dan merusak keseimbangan ekologi.


Pada sisi yang lain, Ekonomi Islam justru tidak memerintahkan manusia untuk meraih segala keinginan dan hasratnya. Memaksimalkan kepuasan (maximization of satisfaction) bukanlah spirit dalam perilaku konsumsi Ekonomi Islam, karena hal tersebut adalah norma-norma yang disokong oleh peradaban yang materialistik. Sebagai gantinya Ekonomi Islam memerintahkan individu untuk memenuhi kebutuhannya/needs sebagaimana yang dikehendaki oleh syari’ah. Needs memang muncul dari keinginan naluriah, namun dalam framework Islam tidak semua keinginan naluriah itu bisa menjadi kebutuhan. 

2.  Mashlahah dan Kepuasan


Imam Shatibi menggunakan istilah 'maslahah', yang maknanya lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan hukum syara' yang paling utama.


Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung  elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini (Khan dan Ghifari, 1992).  

Menurut al-Ghazali dalam pemikirannya maslahah didasarkan kepada 5 (lima) tujuan dasar (maqashid al-syar’iyyah) yaitu: agama (al-din), hidup atau jiwa (al-nafs), keluarga atau keturunan (al-nasl ), harta ataukekayaan (al-mal ), danintelektual atau akal (al-’aql ), beliau menitikberatkan (mahallusyahid ) pada tuntunan wahyu, tujuan utama kehidupan umat manusia adalah untuk mencapaikebahagian di dunia dan akhirat (maslahat al-din wa al-dunya) 

Kepuasan merupakan suatu akibat dari terpenuhinya suatu keinginan, sedangkan mashlahah merupakan suatu akibat atas terpenuhinya suatu kebutuhan atau fitrah. Meskipun demikian terpenuhinya suatu kebutuhan juga akan memberikan kepuasan terutama jika kebutuhan tersebut disadari dan diinginkan.


Berbeda dengan kepuasan yang bersifat individualis mashlahah tidak hanya bisa dirasakan oleh individu. Mashlahah bisa jadi dirasakan oleh selain konsumen, yaitu dirasakan oleh sekelompok masyarakat. Sebagai contoh ketika seseorang membelikan makanan untuk tetangga miskin, maka mashlahah fisik/psikis akan dinikmati pula oleh tetangga yang dibelikan, sementara itu si pembeli akan mendapatkan berkah.


3. Mashlahah dan Nilai-nilai Ekonomi Islam

Perekonomian islam akan terwujud jika prinsip dan nilai-nilai Islam diterapkan secara bersama-sama. Pengabaian terhadap salah stunya akan membuat perekonomian pincang. Penerapan prinsip ekonomi yang tanpa diikuti oleh pelaksanaan nilai-nilai Islam hanya akan memberikan manfaat (mashlahah duniawi), sedangkan pelaksanaan sekaligus prinsip dan nilai akan melahirkan manfaat dan berkah atau mashlahah dunia akhirat. Keberkahan akan muncul jika dalam kegiatan ekonomi-konsumsi misalnya disertai dengan niat dan perbuatan yang baik seperti menolong orang lain, bertindak adil dan semacamnya.


B.Utilitas dan Mashlahah


Dalam ekonomi konvensional, konsumen diasumsikan selalu bertujuan untuk memperoleh kepuasan (utility) dalam kegiatan konsumsinya. Utility secara bahasa berarti berguna (usefulness), membantu (helpfulness), atau menguntungkan (advantage). Dalam konteks ekonomi utilitas dimaknai sebagai kegunaan barang yang dirasakan oleh seorang konsumen ketika mengonsumsi sebuah barang. Kegunaan ini bisa juga dirasakan sebagai rasa “tertolong” dari suatu kesulitan karena mengonsumsi barang tersebut. Karena adanya rasa inilah, maka sering kali utilitas dimaknai juga sebagai rasa puas atau kepuasan yang dirasakan oleh seorang konsumen dalam mengonsumsi sebuah barang. Jadi kepuasan dan utilitas dianggap sama, meskipun sebenarnya kepuasan adalah akibat yang ditimbulkan oleh utilitas. 


Dalam ekonomi Islam, tujuan konsumsi lebih mempertimbangkan mashlahah daripada utilitas. Namun demikian utilitas tidak bertentangan dengan mashlahah bahkan dalam Islam Seorang muslim juga harus rasional tetapi dibatasi pada hal-hal yang membawa kemashlahatan. 

Untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen terhadap mashlahah akan dipaparkan terlebih dahulu mengenai perilaku konsumen konvensional yang mengejar utilitas dalam konsumsi.


1.Hukum Penurunan Utilitas Marginal


Dalam ilmu ekonomi konvensional dikenal adanya hukum mengenai penurunan utilitas marginal (law of diminishing marginal utility) yang mengatakan bahwa jika seseorang mengonsumsi suatu barang dengan frekuensi yang diulang-ulang, maka nilai tambahan kepuasan dari konsumsi berikutnya akan semakin menurun.

2. Hukum mengenai Mashlahah


Hukum mengenai penurunan utilitas marginal tidak selamanya berlaku pada mashlahah. Maslahah dalam konsumsi tidak seluruhnya secara langsung dapat dirasakan, terutama mashlahah akhirat atau berkah. Adapun maslahah dunia manfaatnya sudah dapat dirasakan setelah konsumsi. Dalam hal berkah, dengan meningkatkanya frekuensi kegiatan, maka tidak akan ada penurunan berkah karena pahala yang diberikan atas ibadah mahdhah tidak pernah menurun. 


Sedangkan mashlahah dunia akan meningkat dengan meningkatnya frekuensi kegiatan, namun pada level tertentu akan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan tingkat kebutuhan manusia di dunia adalah terbatas sehingga ketika konsumsi dilakukan berlebih-lebihan, maka akan terjadi penurunan mashlahah duniawi. Dengan demikian, kehadiran mashlahah akan memberi warna dari kegiatan yang dilakukan oleh konsumen mukmin.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Preferensi seorang konsumen dibangun atas kebutuhan akan akhirat, baik maslahah yang diterima di dunia ataupun di akhirat. Maslahah adalah setiap keadaan yang membawa manusia pada derajat yang lebih tinggi sebagai makhluk yang sempurna. Maslahah dunia dapat berbentuk manfaat fisik, biologis, psikis, dan material, atau disebut manfaat saja. Maslahah akhirat berupa janji kebaikan (pahala) yang akan diberikan di akhirat sebagai akibat perbuatan mengikuti ajaran Islam.


Bagi orang yang peduli akan adanya berkah, semakin tinggi barang halal yang dikonsumsi seseorang, tambahan maslahah yang diterimanya akan meningkat hingga titik tertentu dan akhirnya akan menurun, dengan asumsi jumlah konsumsi masih dibolehkan oleh Islam. Namun, bagi orang yang tidak peduli terhadap adanya berkah, peningkatan maslahah adalah identik dengan peningkatan manfaat duniawi saja.

B. Saran

Sebagai seorang kosumen, sebaiknya kita mengonsumsi barang-barang halal, tidak berlebih-lebihan dalam berkonsumsi, dan diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah dalam rangka mencapai tingkat maslahah yang lebih tinggi.


DAFTAR PUSTAKA

Http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2200531-definisi-maslahah

Misanam, Munrokhim. 2008. Ekonomi Islam. Jakarta : Rajagrafindo Persada

Http://wasilas.wordpress.com/2012/04/20/maslahah-dalam-konsumsi

Http://qamaruddinshadie.blogspot.com/2012/04/maqashid-syariah-maslahah-sebagai_29.html

Al-Syatibi (tt), al-Muwafaqat fi Usul al-Ahkam, Beirut: Dar al-Fikr, juz 2

Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din (Beirut : Dar al-Nadwah, tt), Juz 2

Http://burhanuddinsolong.blogspot.com/2010/02/bagaimana-sebaiknya-perekonomian.html

Mustafa, dkk. Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam. Kencana Prenada Media Group: Jakarta. 2007


Demikian tulisan tentang makalah ekonomi Islam yang bisa penulis bagikan, semoga menjadi referensi yang sesuai bagi pembaca dalam menyelesaikan tugas kuliah. Intinya dalam materi ini pembahasan yang diberikan adalah tentang bagaimana mengkonsumsi yang sesuai dengan ajaran dan aturan Islam. Tidak berlebihan dan mendatangkan manfaat.


Wednesday, September 30, 2020

Cara Menyusun Makalah Yang Benar

Pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang bagaimana cara menyusun makalah yang baik dan benar secara sistematis. Penyusunan dan penulisan makalah harus memperhatikan kaidah penulisan serta unsur-unsur sumber data yang jelas agar makalah tersebut berkualitas.




Susunan Sistematika Makalah


Kata Pengantar

Sebuah makalah yang baik harus memiliki kata pengantar sebagai tulisan awal sebelum membahas materi yang menjadi judul dari makalah tersebut. Kata pengantar biasanya berisi ucapan syukur serta terima kasih penulis kepada pihak yang membantunya dalam menyelesaikan penyusunan makalah. 

Selain itu, kata pengantar juga harus memuat ucapan permohonan maaf jika dalam kaidah penyusunan terdapat kekeliruan. Hal ini merupakan bentuk kesadaran penulis bahwa dirinya tidak luput dari kesalahan dalam proses pembuatan makalah tersebut.


Daftar Isi

Daftar isi pada dasarnya memuat rincian terhadap judul per bab serta pembahasan yang ditulis dalam sebuah makalah. Dengan adanya daftar isi, pembaca dapat melihat secara sepintas, poin-poin apa saja yang ada dalam makalah yang disusun oleh penulis.


Bab I Pendahuluan

Untuk sebuah makalah yang merupakan tugas pembelajaran atau tugas kuliha, secara garis besar pada bab pertama memuat pendahuluan yang berisi Latar Belakang dari judul atau tema yang diangkat. Tujuan dari penulisan makalah tersebut, serta rumusan masalah.

Tujuan merupakan bagian yang biasanya menuliskan secara terperinci untuk apa sebuah makalah disusun. Apakah untuk memenuhi sebuah tugas kuliah, atau sekedar memberikan informasi umum kepada pembaca atau bahkan keduanya.

Rumusan masalah merupakan gambaran tentang pokok permasalahan yang akan dibahasa dalam makalah yang disusun.


Bab II Tinjauan Pustaka

Dalam tinjauan pustaka  merupakan kumpulan teori yang dikaji oleh penulis. Teori-teori tersebut tentu harus berkaitan erat dengan pembahasan yang ada dalam sebuah makalah. Jika membahas tentang saham misalnya, maka teori yang diangkat dalam tinjauan pustaka berupa hasil penelitian atau pendapat para ahli tentang saham.

Bab III Pembahasan

Untuk poin pembahasan secara keseluruhan mencakup hasil yang didapatkan atas pertanyaan yang ada dalam rumusan masalah. Tujuan pembahasan adalah agar pokok permasalahan yang diangkat dalam bab 1 terjawab secara rinci dan detail.


Bab IV Penutup

Dalam bab ini biasanya hanya memuat dua poin, yaitu kesimpulan dan saran. Kesimpulan diambil dari rangkuman poin-poin penting yang telah dibahas secara keseluruhan dalam makalah. Sedangkan saran, memuat permintaan masukan dari pembaca terkait penulisan makalah serta tema yang dibahas dalam makalah tersebut.


Daftar Pustaka

Pada bagian ini penulis harus mencantumkan sumber-sumber referensi yang dikumpulkan penulis selama proses penyusunan makalah tersebut. Sumber referensi tersebut bisa berasal dari buku, karya tulis, internet, serta media cetak lainnya.


Dengan memperhatikan sistematika penyusunan diatas, maka akan dihasilkan sebuah makalah yang baik dan benar. Paling tidak, hasil dari karya tersebut bisa bermanfaat dan bukan hanya sekedar untuk memenuhi tugas kuliah semata.


Monday, September 28, 2020

Pengertian Saham Menurut Para Ahli

Saham pada dasarnya memiliki pengertian sebagai penyertaan modal. Dalam bahasa sederhana, dapat penulis gambarkan bahwa dengan memiliki saham, maka anda telah ikut serta dalam kepemilikan sebuah perusahaan.



Lalu apa yang didapatkan pemegang saham dari kepemilikan tersebut?


Tentu saja setiap pemegang saham berhak untuk mendapat bagian atas keuntungan perusahaan. Bagian ini sering disebut sebagai dividen. Namun, setiap pemegang saham harus siap juga dengan risiko kerugian yang bisa saja menimpa perusahaan yang telah kita beli sahamnya.


Saham sebagai salah satu instrumen keuangan memiliki ruang lingkup yang cukup luas. Sehingga dalam kesempatan kali ini, penulis hanya akan fokus membahas pada definisi dari saham itu sendiri.


Pengertian Saham Menurut Para Ahli


1. Campbell R. Harvey mendefinisikan saham sebagai ownership of corporation. Menurut Campbell, bentuk kepemilikan tersebut direpresentasikan dalam kepemilikan aset serta keuntungan perusahaan.

2. Swadidji Widoatmodjo, memberikan pengertian bahwa saham adalah surat berharga yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan atau korporasi.

3. Darmadji dan Fakhruddin, saham adalah tanda penyertaan yang diterbitkan oleh perusahaan dalam bentuk selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut merupakan pemilik perusahaan. Dalam kertas saham pun tercantum nilai nominal, nama perusahaan, serta hak dan kewajiban pemegang saham.

4. Bursa Efek Indonesia mendefinisikan saham sebagai tanda penyertaan modal  atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau korporasii. Dengan menyertakan modal , maka pihak pemegang saham memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Dari beberapa definis diatas, dapat kita simpulkan bahwa saham merupakan instrumen keuangan yang memberikan hak kepada pemegangnya sebagai pemilik perusahaan dengan persentase tertentu.

Oleh sebab itulah ada yang disebut dengan saham biasa dan saham preferen. Saham biasa atau Common Stock, merupakan saham yang pemegangnya memiliki klaim atas profit atau loss yang terjadi pada perusahaan. Jika perushaan tersebut dilikuidasi, maka pemegang saham biasa mendapat prioritas terakhir dalam hak atas penjualan aset perusahaan. Begitu pun dengan pembagian dividen.

Selanjutnya, ada yang disebut dengan saham preferen atau preffered stock. Saham jenis ini memberikan hak istimewa kepada pemegangnya, khususnya dalam pembagian dividen dan saat perusahaan dilikuidasi.

Sebagai salah satu instrumen keuangan yang banyak diminati, pemegang saham umumnya memiliki dua tujuan ketika membeli saham suatu perusahaan. Tujuan tersebut adalah, apakah saham yang dimilikinya akan digunakan sebagai produk investasi atau akan diperjualbelikan (trading).

Jika pemegang saham memiliki tujuan jangka panjang, maka kebanyakan dari mereka akan menggunakan saham sebagai produk investasi. Artinya dengan membeli saham perusahaan yang listing dibursa efek secara rutin, pemegang saham sedang menginvestasikan dana mereka atas kepemilikan perusahaan tersebut dan tentu saja mendapatkan dividen secara rutin.

Berbeda halnya dengan trading saham. Dalam trading, pemegang saham akan memanfaatkan momentum fluktuasi harga dipasaran. Ya, kita tahu bahwa saham adalah produk keuangan dengan fluktuasi harga yang sangat tinggi.

Para trader akan memanfaatkan hal tersebut dan mendapatkan captial gain atau keuntungan selisih harga beli dan harga jual. Namun, dalam trading risiko capital loss pun sangat besar terlebih pergerakan harga saham dipasaran sangat signifikan.


Demikian penjelasan tentang pengertian saham yang bisa penulis bagikan, dan bagi pembaca yang tertarik untuk memiliki saham, cobalah untuk membelinya. Apalagi saat ini begitu banyak wadah atau aplikasi yang bisa kita manfaatkan untuk turut serta dalam penyertaan modal tersebut. Untuk tujuan investasi atau trading, keduanya sama-sama menguntungkan dan memiliki tingkat risiko nya masing-masing.

Sunday, September 29, 2019

Makalah Pengertian Sistem Pendidikan

Makalah Pengertian Sistem Pendidikan berisi bahan materi tentang pengelolaan pendidikan yang baik dan benar. Orientasinya tentu pada pengembangan SDM yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Makalah ini bisa dijadikan sumber refrensi bagi pembaca sesuai kebutuhan masing-masing.


BAB I
PENDAHULUAN



A.Latar Belakang Masalah
Sistem pendidikan Indonesia  yang telah di bagun dari dulu sampai sekarang ini, teryata masih belum mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan dan tantangan global untuk masa yang akan datang, Program pemerataan dan peningkatan kulitas pendidikan yang selama ini menjadi fokus pembinaan masih menjadi masalah yang menonjol dalam dunia pendidikan di Indonesia ini.
Kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh yang di harapkan, oleh karena itu upaya untuk membagun SDM yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, di butuhkanya partisipasi yang strategis dari berbagai komponen yaitu : Pendidikan awal di keluarga , Kontrol efektif dari masyarakat, dan pentingnya penerapan sistem pendidikan pendidikan yang khas dan berkualitas oleh Negara.[1]
B.     Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa Pengertian Sistem Pendidikan?
2. Apa saja komponen Sistem Pendidikan?
 C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.  Mahasiswa mampu memahami Sistem Pendidikan..
2.  Mahasiswa mampu memahami berbagai komponen dari Sistem Pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN

1.  Pengertian Sistem Pendidikan
Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “systema”, yang berarti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan. Istilah sistem dipakai untuk menunjukkan beberapa pengertian, salah satunya adalah sistem dapat dipakai untuk menunjukkan sehimpunan gagasan atau ide yang tersusun dan terorganisasi sehingga membentuk suatu kesatuan yang logis.
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen atau elemen-elemen atau unsur-unsur sebagai sumber-sumber yang mempunyai hubungan fungsional yang teratur, tidak sekedar acak, yang saling membantu untuk mencapai suatu hasil (product) (Zahara Idris 1987). Pendidikan merupakan sustu usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Suatu usaha pendidikan menyangkut 3 unsur pokok yaitu sebagai berikut:
1.      Unsur masukan ialah peserta didik dengan berbagai ciri-ciri yang ada pada diri peserta didik itu (antaralaian, bakat, minat, kemampuan, keadaan jasmani).
2.      Unsur usaha adalah proses pandidikan yang terkait berbagai hal, seperti pendidik, kurikulum, gedung sekolah, buku, metode belajar, dan lain-lain.
3.      Unsur hasil uasaha adalah hasil pendidikan yang meliputi hasil belajar (yang berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan) setelah selesainya suatu proses belajar mengajar tertentu.[2]





2.  KOMPONEN SISTEM PENDIDIKAN
Secara teoritis, suatu pendidikan terdiri dari komponen-komponen yang menjadi inti dari proses pendidikan. Menurut P.H. Combs (1982) komponen pendidikan yaitu sebagai berikut:
1. Tujuan dan Prioritas
Fungsinya mengarahkan kegiatan sistem. Hal ini merupakan informasi tentang apa yang hendak dicapai oleh sistem pendidikan dan urutan pelaksanaannya.Contoknya ada tujuan umum pendidikan,yaitu tujuan yang tercantum dalam peraturan perundangan negara, yaitu tujuan pendidikan nasional, ada tujuan institusional, yaitu tujuan lembaga tingkat pendidikan dan tujuan program, seperti S1 ,S2 ,S3, dan tujuan kulikuler,yaitu tujuan setiap suatu mata pelajaran/mata kuliah. Tujuan yang terakhir ini dibagi dua pula, yaitu tujuan pengajaran (instrusional) umum dan tujuan pengajaran (instruksional khusus).
2. Peserta Didik
Fungsinya ialah belajar. Diharapkan peserta didik mengalami proses perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan sistem pendidikan.Conthnya, berapa umurnya, berapa jumblahnya, bagaimana tingkat perkembangannya, pembawaannya, motivasinya untuk belajar, dan social ekonomi orang tuanya.
3. Manajemen atau Pengelolaan
Fungsinya mengkoordinasikan, mengarahkan, dan menilai sistem pendidikan. Komponen ini bersumber pada sistem nilai dan cita-cita yang merupakan tenytang pola kepemimpinan dalam pengelolaan sistem pendidikan, Contohnya pemimpin yang mengelola system pendidikan itu bersifat otoriter,demokratis, atau laissez-faire.
4. Struktur dan Jadwal Waktu
Fungsinya mengatur pembagian waktu dan kegiatan.Contohnya, pembagian waktu ujian, wisuda, kegiatan perkuliahan, seminar, kuliah kerja nyta, kegiatan belajar mengajar dan program pengamalan lapangan.
Isi dan Bahan Pengajaran
Fungsinya untuk menggambarkan luas dan dalamnya bahan pelajaran yang harus dikuasai peserta didik. Selain itu untuk mengarahkan dan mempolakan kegiatan-kegiatan dalam proses pendidikan.Contohnya, isi bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran atau mata kuliah, dan untuk pengamalan lapangan.
5. Guru dan Pelaksana
Fungsinya menyediakan bahan pelajaran dan menyelenggarakan proses belajar untuk peserta didik. Selain itu, guru dan pelaksana juga berfungsi sebagai pembimbing, pengaruh, untuk menumbuhkan aktivitas peserta didik dan sekaligus sebagai pemegang tanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan.Contonya, pengalaman dalam mengajar, status resminya guru yang sudah di angkat atau tenaga sukarela dan tingkatan pendidikannya.
6. Alat Bantu Belajar
Maksudnya adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berfungsi untuk mempermudah atau mempercepat tercaainya tujuan pendidikan. Contohnya : film, buku, papan tulis, peta.[3]
7. Fasiliatas
Fungsinya untuk tempat terselenggaranya proses pendidikan.Contohnya, gedung dan laboraterium beserta perlengkapannya.
8. Teknologi
Fungsinya memperlancar dan meningkatkan hasil guna proses pendidikan. Yang dimaksud dengan teknologi ialah semua teknik yang digunakan sehingga sistem pendidikan berjalan denhgan efisien dan efektif.Contohnya, pola komonikasi satu arah, artinya guru menyamoaikan pelajaran dengan berceramah, peserta didik mendengarkan dan mencatat:atau pola komonikasi dua arah, artinya ada dialog antara guru dan peserta didk.
9. Pengawasan Mutu
Fungsinya membina peraturan-peraturan dan standar pendidikan.Contohnya, peraturan tentang penerimaan anak/peserta didik dan staf pengajar, peraturan ujian dan penilaian.
10. Penelitian
Fungsinya untuk memperbaiki dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan penampilan sistem pendidikan.Contohnya, dulu bangsa Indonesia belum mampu membuat kapal terbang dan mobil tetapi sekarang bangsa Indonesia sudah pandai. Sebelum tahun 1980-an, kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia belum melaksanakan system satuan kredit semester(SKS), sekarang hamper seluruh perguruan tinggi telah melaksanakannya.
11. Biaya
Fungsinya melancarkan proses pendidikan dan menjadi petunjuk tentang tingkat efisiensi sistem pendidikan.Contohnya, sekarang biaya pendidkan menjadi tanggung jawabbersama antara keluarga, pemerintah dan masyarakat.[4]





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Sistem pendidikan merupakan jumlah keseluruhan dari bagian-bagiannya yang saling bekerjasama untuk mencapai hasil yang diharapakan berdasarkan atas kebutuhan yang telah ditentukan. Setiap sistem pasti mempunyai tujuan, dan semua kegiatan dari semua komponen atau bagian-bagiannya adalah diarahkan untuk tercapainya tujuan terebut. Pendidikan merupakan suatu sistem yang mempunyai unsur-unsur tujuan/sasaran pendidikan, peserta didik, pengelola pendidikan, struktur atau jenjang, kurikulum dan peralatan/fasilitas.
contoh-contoh sistem pendidikannya yaitu tujuan dan prioritas,peserta didik,manajemen dan pengelolaan, struktur dan Jadwal Waktu.





DAFTAR PUSTAKA

 [1] http:/sistempendidikanasional.blogspot.com/

[2]  H. Fuad Ihsan. 2003. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakata: Rineka Cipta. Hlm. 107.

[3] H. Fuad Ihsan. 2003. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakata: Rineka Cipta. Hlm. 111.

[4] Hasbullah. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hlm. 127.


Demikianlah materi tentang Makalah Pengertian Sistem Pendidikan yang sempat kami berikan dapat bermanfaat. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak Makalah Pendidikan Karakter yang telah kami posting sebelumnya. 

Thursday, November 29, 2018

Makalah Perkembangan Sosial-Emosional Anak Sekolah Dasar Kelas Rendah

Makalah Perkembangan Sosial-Emosional Anak Sekolah Dasar Kelas Rendah ini bisa menjadi sumber rujukan bagi pembaca dalam memahami pola perkembangan anak.


KATA PENGANTAR



Puji syukur kami penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya kami

dapat menyelesaikan penyusunan makalah Perkembangan Peserta Didik “Perkembangan Sosial - Emosional Anak Sekolah Dasar Kelas Rendah”.

Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik di Universitas Muria Kudus.

Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Aamiin…..




DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar........................................................................................ i
Daftar Isi.................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
    A.    Latar Belakang.......................................................................................... 1
    B.     Perumusan Masalah................................................................................... 2
    C.     Tujuan Penulisan....................................................................................... 2
   D.    Metode Penulisan...................................................................................... 2
    E.     Manfaat Penulisan..................................................................................... 3
    F.      Sistematika Penulisan................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
   A.    Makna Perkembangan Sosial..................................................................... 4
   B.     Bentuk-Bentuk Tingkah Laku Sosial pada Anak...................................... 6
   C.     Hubungan Pertemanan (Rekan Sebaya).................................................... 8
   D.    Perkembangan Identitas Diri (Self Identity)............................................... 11
   E.     Implikasi Terhadap Kegiatan Pembelajaran.............................................. 15
    F.      Konsep Kemandirian................................................................................. 17
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
    A.    Kesimpulan................................................................................................ 20
    B.     Saran.......................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 22

BAB I
PENDAHULUAN

    A.    Latar Belakang
Suatu perubahan kehidupan yang cukup esensial pada anak usia SD adalah semakin meluasnya lingkungan pergaulan. Sejak memasuki lembaga pendidikan pra-sekolah atau taman kanak-kanak, anak memperoleh perluasan yang sangat berarti dalam jangkauan interaksi sosialnya. Kalau semula ia hanya bergaul dengan lingkungan keluarga dan teman sebaya yang ada di sekitar rumahnya maka sekarang ia mulai mengenal guru dan teman-tema sekelasnya.
Semakin luas dan kompleksnya lingkungan pergaulan anak tersebut adalah suatu proses kehidupan yang wajar dalam arti merupakan suatu tugas perkembangan yang secara normal perlu dijalani oleh anak. Bukan hanya tuntutan lingkungan yang membuat anak berperilaku seperti itu, tetapi perkembangan internal pribadi anak sendiri sendiri juga mendorongnya untuk semakin memperluas lingkup pergaulannya. Secara internal, dalam diri anak juga terjadi perubahan-perubahan yang mendorongnya untuk lebih interest terhadap interaksi pertemanan dan pergaulan sosial yang lebih luas. Dikuasaina berbagi perangkat keterampilan fisik dan bahasa serta semaki berkurangnya ketergantungan kepada pihak orang tua. Mendorong anak untuk memperluas lingkup interaksi sosialnya. Begitu pula, pengalamna-pengalaman menyenangkan yang didapat dari hubunga teman sebaya semain menumbuhkan minat anak utuk memperluas lingkungan pergaulannya.
Sesuai dengan kekhasan perkembangan sosial dan pribadi anak di atas, ada beberapa aspek esensial yang perlu dipahami oleh calon guru SD, yakni berkenaan dengan perkembangan emosi, hubungan pertemanan, dan perkembangan identitas diri. Pemahaman tentang aspek perkembangan anak tersebut diharapkan dapat membantu dalam merancang suasana lingkungan belajar yang kondusif bagi perkembangan sosial-pribadi anak.
Manfaat lain yang dapat diperoleh dengan memahami perkembangan sosial-pribadi anak adalah memberikan landasan konseptual dalam menentukan alternatif perlakuan pendidikan terhadap anak didik yang sesuai dengan perkembangannya. Dengan demikian, guru diharapkan akan bisa menjadi fasilitator perkembangan sosial-pribadi anak.

   B.     Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, penulis merumuskan beberapa masalah yang berkaitan dengan perkembangan sosial dan konsep kemandirian, yakni:
   1.      Apakah makna dari perkembangan sosial?
   2.      Bagaimana bentuk-bentuk tingkah laku sosial pada anak SD?
   3.      Bagaimana  hubungan pertemanan anak SD dengan teman sebayanya?
   4.      Bagaimana perkembangan identitas diri anak pada usia SD?
   5.      Apa implikasi dari perkembangan sosial bagi perkembangan lingkungan belajar yang kondusif?

   C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
   1.      Memberikan informasi mengenai makna dari perkembangan sosial.
   2.      Memberikan informasi mengenai bentuk-bentuk tingkah laku sosial pada anak usia SD.
   3.      Memberikan informasi mengenai hubungan pertemanan pada anak usia SD.
   4.      Memberikan informasi mengenai perkembangan identitas diri anak pada usia SD.
  5.      Memberikan informasi mengenai lingkungan belajar yang kondusif bagi perkembangan sosial-pribadi anak.

    D.    Metode Penulisan
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, penulis menggunakan metode studi kepustakaan atau teknik studi pustaka. Yakni dengan menganalisis dan menelaah buku-buku khususnya yang berhubungan dengan Perkembangan Sosial dan Kemandirian Anak Sekolah Dasar.
   E.     Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini adalah:
   1.      Pembaca, khususnya mahasiswa calon guru mengetahui makna dari perkembangan sosial.
   2.    Pembaca, khususnya mahasiswa calon guru mengetahui bentuk-bentuk tingkah laku sosial pada anak usia SD.
   3.     Pembaca, khususnya mahasiswa calon guru mengetahui dan memahami hubungan pertemanan pada anak-anak usia SD.
  4.      Pembaca, khususnya mahasiswa calon guru mengetahui dan memahami perkembangan identitas diri pada anak usia SD.
 5.     Pembaca, khususnya mahasiswa calon guru mengetahui bagaimana lingkungan belajar yang kondusif bagi perkembangan sosial-pribadi anak.

BAB II
PEMBAHASAN

    A.    Makna Perkembangan Sosial-emosional
Anak-anak menjelang masuk SD, telah mengembangkan keterampilan berpikir, bertindak, dan pengaruh sosial yang lebih komplek. Anak-anak pada usia sekitar ini, pada dasarnya egosentris dan dunia mereka adalah rumah, keluarga, dan sekolah. Selama duduk di kelas rendah SD, anak mulai percaya diri tetapi juga sering rendah diri. Pada tahap ini mereka mulai mencoba membuktikan bahwa mereka dewasa. Mereka merasa “ saya dapat mengerjakan sendiri tugas itu”.
Konsentrasi anak mulai tumbuh pada kelas-kelas tinggi SD. Mereka dapat lebih banyak meluangkan waktu untuk tugas-tugas pilihan mereka, dan sering kali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Pada tahap ini terjadi tumbuhnya tindakan mandiri, kerja sama dengan kelompok, dan bertindak menurut cara-cara yang dapat diterima lingkungan. Mereka juga peduli terhadap permainan yang jujur.
Selama masa ini anak mulai menilai diri sendiri dengan membandingkannya terhadap orang lain. Anak-anak lebih mudah menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk norma-norma sosial yang sesuai dengan jenis tingkah laku mereka.
Sebagai akibat dari perubahan struktur fisik dan kognitif, anak pada kelas tinggi SD berupaya untuk tampak lebih dewasa. Mereka ingin diperlakukan sebagai orang dewasa. Pada masa ini tampak perubahan-perubahan yang berarti dalam kehidupan sosial dan emosional mereka. Di kelas tinggi SD anak laki-laki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Teman-teman mereka menjadi lebih penting dari pada sebelumnya. Mereka menyatakan kesetiakawanan dengan anggota kelompok teman sebaya melalui pakian atau prilaku.
Hubungan antara anak dan guru sering berubah. Di awal-awal tahun kelas tinggi SD, hubungan ini menjadi lebih komplek. Ada siswa yang menceritakan informasi pribadi kepada guru, tetapi tidak menceritakan kepada orang tuanya. Beberapa anak pra remaja memilih guru mereka sebagai model. Sementara itu ada anak membantah guru dengan cara-cara yang tidak dibayangkan seperti sebelumnya. Bahkan beberapa anak secara terbuka menentang gurunya.
Salah satu tanda mulai munculnya perkembangan indentitas diri anak remaja adalah reflektivitas, yaitu kecendrungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak mereka dan mengkaji diri sendiri. Anak remaja mulai meyakini bahwa ada perbedaan antara apa yang dipikirkan dan rasakan sebagaimana mereka berprilaku. Mereka mengkritik sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka dengan orang lain, dan mencoba untuk mengubah pribadinya. Remaja menjadi lebih sadar atas keunikan mereka dan perbedaannya dibandingkan dengan orang lain. Mereka belajar bahwa orang lain tidak dapat mengetahui apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Isu perkembangan kepribadian yang dominan pada remaja adalah “siapa dan apa sebenarnya diriku?”. Inilah kepedulian utama remaja terhadap indentitas dirinya. Remaja mencapai indentitas dirinya pada usia 18 tahun sampai 22 tahun.

    B.     Bentuk-Bentuk Tingkah Laku Sosial pada Anak
Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya maupun teman bermainnya, anak mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial, diantaranya sebagai berikut.
   1.      Pembangkangan (Negativisme)
Pembangkangan yaitu suatu bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini mulai muncul pada kira-kira usia 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usai tiga tahun. Berkembangnya tingkah laku negativisme pada usia ini dipandang pada usia yang wajar. Setelah usia empat tahun, biasanya tingkah laku ini mulai menurun. Antara usia empat dan enam tahun, sukap membangkang/melawan secara fisik beralih menjadi sikap melawan secara verbal (menggunakan kata-kata). Sikap orang tua terhadap tingkah laku melawan pada usia ini, seyogiyanya tidak memandangnya sebagi pertanda bahwa anak itu anak nakal, keras kepala, tolol atau sebutan lainnya yang negatif. Dalam hal ini, sebaiknya orang tua mau memahami tentang proses perkembangan anak, yaitu bahwa secara naluriah anak itu mempunyai dorongan untuk berkembang dari posisi “dependent”  (ketergantungan) ke posisi “independent” (bersikap mandiri). Tingkah laku melawan merupakan salah satu bentuk dari proses perkembangan tersebut.
   2.      Agresi (aggression)
Agresi yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (vebal). Agresi ini merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap frustrasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan/keinginannya) yang dialaminya. Agresi ini mewujud dalam perilaku menyerang, seperti: memukul, mencubit, menendang, menggigit, marah-marah dan mencaci maki. Orang tua yang menghukum anak yang agresif, menyebabkan meningkatnya agresivitas anak. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua berusaha untuk mereduksi, mengurangi agresivitas anak tersebut dengan cara mengalihkan perhatian/keinginan anak, memberikan mainan atau sesuatu yang diinginkannya (sepanjang tidak membahayakan keselamatannya), atau upaya lain yang bisa meredam agresivitas anak tersebut.
   3.      Berselisih/bertengkar (quarreling)
Berselisih/bertengkar terjadi apabila seorang anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap dan perilaku anak lain, seperti diganggu pada saat mengerjakan sesuatu atau direbut barang atau mainannya.
   4.      Menggoda (teasing)
Menggoda yaitu sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif. Menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan), sehingga menimbulkan reaksi marah pada orang yang disekitarnya.
   5.      Persaingan (rivarly)
Persaingan yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong (distimulasi) oleh orang lain. Sikap persaingan ini mulai terlihat pada usia empat tahun, yaitu persaingan untuk prestise dan pada usia enam tahun, semangat bersaing ini berkembang dengan lebih baik.
   6.      Kerjasama (cooperation)
Kerjasama yaitu sikap mau bekerja sama dengan kelompok. Anak yang berusia dua atau tiga tahun belum berkembang sikap bekerjasamanya, mereka masih kuat sikap “self-centered”-nya. Mulai usia tiga tahun akhir atau empat tahun, anak sudah mulai menampakkan sikap kerjasamanya dengan anak lain.  Pada usia enam atau tujuh tahun, sikap kerja sama ini sudah berkembang dengan lebih baik lagi. Pada usia ini anak mau bekerja kelompok dengan teman-temannya.
   7.      Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior)
Tingkah laku berkuasa yaitu sejenis tingkah laku untuk menguasi situasi sosial, mendominasi atau bersikap “bussiness.”  Wujud dari tingkah lauk ini, seperti: meminta, menyuruh, dan mengancam atau memaksa orang lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya.
   8.      Mementingkan diri sendiri (selfishness)
Mementingkan diri sendiri yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya. Anak ingin selalu dipenuhi keinginannya dan apabila ditolak, maka dia protes dengan menangis, menjerit atau marah-marah.
   9.      Simpati (sympathy)
Simpati yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerja sama dengannya. Seiring dengan bertambahnya usia, anak mulai dapat mengurangi sikap “selfish”-nya dan dia mulai mengembangkan sikap sosialnya, dalam hal ini rasa simpati terhadap orang lain.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orang tua, sanak keluarga, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya. Apabila lingkungan sosial tersebut memfasilitasi atau memberikan peluang terhadap perkembangan anak secara positif, maka anak akan dapat mencapai perkembangan sosialnya secara matang. Namun, apabila lingkungan sosial itu kurang kondusif, seperti perlakuan orang tua yang kasar; sering memarahi; acuh tak acuh; tidak memberikan bimbingan; teladan; penagajaran; atau pembiasaan terhadap anak dalam menerapakan norma-norma, baik agama maupun tatakrama/budi pekerti;cenderung menampilkan perilaku maladjustment, seperti : bersifat minder, senang mendominasi orang lain, bersifat egois/selfish, senang mengisolasi diri/menyendiri, kurang memiliki perasaan tenggang rasa, dan kurang mempedulikan norma dalam berperilaku.

    C.     Hubungan Pertemanan (Rekan Sebaya)
            Salah satu dimensi dari perkembangan sosial anak adalah hubungan pertemanan. Hubungan pertemanan ini di tandai dengan semakin terlibatnya anak dalam aktivitas atau interaksi dengan teman sebaya.
Ada dua faktor utama yang mendorong anak untuk membangun hubungan pertemanan yaitu :
   1.      Menguasai perangkat keterampilan fisik dan komunikasi sehingga memungkinkan anak untuk lebih memperluas jaringan hubungan dengan orang lain.
   2.      Melalui teman sebaya mereka dapat membangun kultur kelompoknya yang berbeda dengan kultur pergaulan orang dewasa.
Dilihat dari proses perkembangannya, hubungan pertemanan ini sejalan dengan bertambahnya usia anak. Menurut Hartup dalam Buku Perkembangan Peserta Didik (Vesta et, 1992) dengan semakin bertambah usia, anak akan lebih banyak menggunakan waktu dengan teman sebayanya dan relatif sedikit dengan orangtuanya.
Ketika memasuki usia SD, anak lebih antusias dan lebih banyak terlibat dalam aktivitas-aktivitas bermain yang bersifat kooperatif (cooperative play). Intensitas hubungan maupun waktu keterlibatannya mengalami peningkatan. Bentuk kegiatan bermain anak-anak usia SD lazimnya berlangsung dalam adegan kelompok yang melibatkan koordinasi dan pencapaian tujuan.
Dilihat dari faktor-faktor yang memepengaruhinya, ada lima unsur determinan yang memepengaruhi hubungan pertemanan, yakni:
   1.      Kesamaan Usia
Unsur ini lebih memungkinkan anak untuk memiliki minat-minat dan tema-tema pembicaraan  atau kegiatan yang sama sehingga mendorong terjalinnya hubungan pertemanan.
   2.      Faktor Situasi
Dalam pemilihan permainan, misalnya, di saat berjumlah banyak anak-anak akan cenderung memilih permainan kompetitif dari pada permainan kooperatif; aktivitas di ruang terbuka mendorong permainan kooperatif yang mengguanakan orang atau objek sebagai simbol; dan seterusnya.
    3.      Keakraban
Kolaborasi dalam pemecahan masalah lebih baik dan efisien bila dilakukan oleh anak di antara teman sebaya yang akrab. Keakraban ini jug mendorong munculnya perilaku yang kondusif bagi terbentuknya persahabatan.
   4.      Ukuran Kelompok
Bila jumlah anak dalam kelompok hanya sedikit, maka interaksi yang terjadi cenderung lebih baik, lebih kohesif, lebih berfokus, dan lebih berpengaruh.
   5.      Perkembangan Kognitif Anak (khususnya berkenaan dengan Social Problem Solving Skills)
Anak yang kemampuan kognitifnya meningkat,  hubungan dengan rekan sebayanya juga meningkat. Anak-anak yang memiliki keterampilan kognisi lebih unggul akan cenderung tampil sebagai pemimpin atau sekurang-kurangnya sebagai anggota kelompok yang berpengaruh, khususnya di saat kelompok menghadapi persoalan yang perlu dipecahkan.
Selanjutnya, salah satu bentuk khusus dari hubungan pertemanan yang mungkin di alami oleh anak usia SD adalah persahabatan. Persahabatan adalah hubungan yang intens dan lama antar dua atau beberapa anak yang diwarnai oleh loyalitas, keintiman, dan saling menyayangi . Terjalinnya persahabatan dapat didorong oleh unsur kesamaan (usia, jenis kelamin, ras, orientasi pendidikan, orientasi budaya, dan sejenisnya), minat, keterbukaan diri, saling berbagi informasi, dan keinginan pemecahan masalah. 
Perilaku-perilaku prososial seperti saling berbagi , membantu, dan bekerja sama lebih umum terjadi diantara sesama sahabat. Meskipun adanya konflik tidak dapat dihindari, dalam persahabatan hal itu lazimnya diatasi bukan dengan cara konfrontasi dan kekerasan, melainkan dengan saling menerima alasan sehingga sampai kepada solusi yang sama-sama menang (win-win solution).
Gejala lain yang juga dapat terjadi dalam hubungan pertemanan adalah munculnya anak-anak yang populer (popular children), anak yang diabaikan (neglected children), dan anak yang ditolak (rejected children). Kecenderungan anak populer, diabaikan, atau ditolak ini biasanya sangat berkaitan erat dengan pola kepribadian dan perilaku yang bersangkutan.
   1.      Anak Populer (popular children)
Anak populer adalah yang banyak disukai oleh teman-temannya. Anak populer biasanya memiliki kemampuan intelektual, karakteristik fisik yang menarik, serta memiliki kemampuan interaksi (memulai interaksi, mempertahankan interakasi, dan memecahkan masalah).
   2.      Anak yang Diabaikan (neglected children)
Anak yang diabaikan adalah yang dibiarkan atau cenderung tidak diperhatikan oleh teman-temannya. Anak yang diabaikan biasanya menunjukkan perilaku enggan bicara, kurang aktif, dan malu-malu.
   3.      Anak yang Ditolak (rejected children)
Anak  yang ditolak adalah yang kehadirannya tidak diterima oleh teman-temannya. Anak yang ditolak biasanya berperilaku agresif, anti sosial, mengganggu, dan tidak peduli terhadap situasi. Anak yang ditolak cenderung memiliki efek jangka panjang seperti kenakalan dan gangguan mental.
Permasalahan anak-anak yang diabaikan dan ditolak dapat diatasi dengan menerapkan program sekolah yang terpadu. Tujuan program ini adalah untuk menolong dan berusaha menarik perhatian teman-teman sebaya mereka dengan cara-cara yang positif dan mempertahankan perhatian dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mendengarkan dengan cara yang hangat dan bersahabat serta apabila berbicara mengenai diri mereka sendiri, bicarakanlah hal-hal yang menarik minat teman sebaya. Mereka juga diajarkan untuk memasuki kelompok secara lebih efektif.
Selain itu, tujuan program pelatihan bagi anak-anak yang ditolak haruslah untuk membantu mereka mendengarkan teman-teman sebaya dan mendengarkan apa yang mereka katakan dan bukan mencoba mendominasi interaksi teman-teman sebaya. Anak-anak yang ditolak dilatih untuk bergabung dengan teman-teman sebaya tanpa mengubah apa yang sedang berlangsung dalam kelompok teman sebaya. Anak-anak mungkin perlu dimotivasi untuk mengguanakan strategi ini dengan suatu bujukan sehingga program tersebut berjalan dengan efektif dan memuaskan.

   D.    Perkembangan Identitas Diri (Self Identity)
Salah satu unsur kepribadian terpenting adalah konsep diri (self-concept), yakni keseluruhan persepsi seseorang tentang dirinya, abilitas, perilaku, harga diri, dan kepribadiannya. Konsep diri seseorang akan sangat mempengaruhi cara yang bersangkutan melihat dan memperlakukan dirinya sendiri dan cara-cara ia berinteraksi dengan lingkungannya. Konsep diri ini banyak dimensinya, namun yang akan dideskripsikan di sini dibatasi pada penjelasan tentang konsep identitas diri (self identity) dari Erikson.
Erikson (Conny R. Setiawan: 1998) berpendapat bahwa tema utama kehidupan ialah pencarian identitas. Identitas diri seseorang ini tidak sekedar menyangkut pemahaman dan penerimaan dirinya sendiri, melainkan selalu terkait pula dengan pemahaman dan penerimaan terhadap masyarakat (lingkungan).
Dalam pandangan Erikson, identitas pribadi seseorang terbentuk melalui perkembangan proses krisis psikososial. Menurutnya, setiap individu akan dihadapkan pada krisis-krisis kehidupan dalam setiap fase perkembangannya. Jika individu mampu mengatasi krisis-krisis yang dihadapinya, maka ia akan memiliki kepribadian yang sehat atau terintegrasi dan kemampuan untuk menguasai lingkungan. Sebaliknya, kalau seseorang gagal menyelesaikan krisis-krisis tersebut, maka ia akan menjadi orang yang hanyut dalam arus kehidupan.
Meskipun perkembangan identitas diri ini mencapai puncak krisis pada masa remaja, proses perkembangannya dimulai sejak bayi, yakni di saat bayi mengenali dan merasa dikenali oleh ibunya. Sejak itu, seseorang mengembangkan identitas dirinya hingga terus sampai tua. Selama hidup seseorang, ada delapan tahap krisis yang akan dilalui. Namun, yang akan dijelaskan di sini hanya krisis yang dialami oleh bayi hingga masa kanak-kanak.
   1.      Kepercayaan Lawan Ketidakpercayaan (Basic Trust vs Basic Mistrust)
Kepercayaan dasar (Basic Trust) ialah kepercayaan yang sifatnya fundamental pada diri bayi kepada orang lain dan lingkungannya. Kepercayaan dasar ini juga mencakup kepercayaan dan perasaan bahwa dirinya dipercayai dan bahwa ada keterkaitan antara kebutuhan-kebutuhan dirinya dengan lingkungannya. Bayi yang memiliki kepercayaan dasar dapat memperkirakan bahwa ibunya akan memeberinya makan bila ia lapar dan menghiburnya bila ia merasa takut atau kesakitan. Ia dapat memberikan toleransi bila ibunya tidak ada karena ia yakin bahwa ibunya akan kembali.
Kepercayaan dasar akan terbentuk melalui perlakuan orang tua dan orang dewasa lainnya yang berupaya memenuhi berbagai kebutuhan ndan keinginannya. Bila si bayi merasa terjamin kehidupannya, maka ia akan mengembangkan kepercayaan dasar ini. Sebaliknya, bila bayi merasa kebutuhan-kebutuhannya tidak terjamin atau tidak ditanggapi, maka ia akan menumbuhkan sikap dan rasa tidak percaya terhadap orang lain dan lingkungannya. Ia mungkin akan cenderung menjadi  orang yang penuh curiga dan waswas terhadap orang lain. Dengan demikian, seorang bayi yang kelahirannya tidak diharapkan oleh orangtuanya dan kemudian diperlakukan secara tidak wajar akan memiliki peluang yang besar untuk menumbuhkan sikap tidak percaya diri.
Dalam taraf tertentu, sebenarnya sikap tidak percaya ini tetap dibutuhkan yaitu guna mendeteksi kemungkinan bahaya atau situasi yang tidak menyenangkan dan untuk membedakan antara orang-orang yang dapat dipercaya dengan yang tidak dipercaya. Akan tetapi, bila perasaan tidak percaya ini lebih besar daripada rasa percayanya, maka anak (atau kelak sesudah dewasa) akan menjadi frustasi, menarik diri, dan penuh curiga.
   2.      Kemandirian Lawan Malu dan Keraguan (Autonomy vs Shame and Doubt)
Pada usia kira-kira dua sampai tiga tahun, anak semakin independen baik secara fisik maupun psikologis. Ia dapat berjalan, berbicara, mengambil sesuatu, dan melakukan hal-hal lainnya. Kemampuan-kemampuan tersebut membuat anak memiliki peluang-peluang baru untuk berkembangnya kepribadian.
Namun, pada saat yang sama anak juga menghadapi kerawanan-kerawanan baru seperti kecemasan atau perpisahan dengan orang tua, khawatir kalau buang air besar (kontrol anal) tidak berhasil, dan berbagai kekhawatiran lainnya. Keberhasilan anak dalam mengatasi krisis pada masa ini akanmengembangkan rasa kemandirian. Sebaliknya, bila anak tidak berhasil mengatasi krisis-krisis kehidupan pada usia ini, maka ia akan cenderung menjadi orang pemalu dan penuh keraguan.
Dalam membantu krisis otonomi lawan malu dan keraguan ini, idealnya orang tua menciptakan iklim yang mendukung anak untuk mengembangkan kontrol diri tanpa harus kehilangan harga diri. Di sini diperlukan adanya keseimbangan antara tuntutan tugas aktivitas yang dilakukan anak dengan taraf kemampuan anak serta bantuan atau kontrol dari pihak orang tua. Anak yang dipaksakan untuk melakukan tugas-tugas yang diluar kemampuannya sehingga banyak gagal, atau anak yang terlalu dikendalikan sehingga kurang memiliki kesempatan, akan cenderung mengembangkan sikap yang ragu-ragu atau takut dan malu dalam berbuat. Sebaliknya, bila anak diberi kesempatan yang cukup dan sepadan dengan kemampuannya serta mendapat bimbingan secara wajar, maka ia akan cenderung mengembangkan sikap mandiri.
   3.      Inisiatif Lawan Merasa Berdosa (Initiative vs Guilt)
Krisis inisiatif lawanmerasaberdosa ini dialami anak pada usia sekitar empat sampai lima tahun. Pada usia ini, anak mengalami suatu gejala psikologis untuk mengidentifikasi diri dengan orang lain. Karenanya, agar anak memiliki keyakinan yang mantap bahwa dirinya adalah seorang pribadi, ia perlu mendapat gambaran tentang akan menjadi orang macam apa dirinya di kemudian hari. Jadi, tema tahap ini ialah identifikasi anak kepada tokoh idealnya.
Kecenderungan untuk mengidentifikasikan diri tersebut mendorong perkembangan kesadaran atau kata hati (conscience) dan juga menumbuhkan seperangkat minat, sikap, dan perilaku jenis kelamin. Kondisi demikian mendukung anak untuk berinisiatif, membentuk dan mencapai tujuan, serta untuk berkompetisi.kemampuan inisiatif didukung oleh peningkatan kemampuan mobilitas, kecakapan fisik, bahasa, kognisi dan imajinasi kreatif. Bila anak mendapat kesempatan yang memadai untuk berprakarsa dan berinisiatif, maka kemampuan dan dorongan untuk berprakarsanya akan terpelihara dan berkembang. Sebaliknya, kalau anak terlalu banyak ditegur atau dikekang, maka ia mungkin menjadi merasa serba salah dan penuh keraguan.
Sebenarnya anak lazimnya berada padasuatu posisi tertentu dalam suatu kontinum yang merentang dari posisi keberhasilan berinisiatif sampai ke posisi tercekam oleh rasa bersalah. Rasa bersalah ini berkaitan dengan kesadaran yang berlebihan dalam menghukum perilaku-perilaku yang dianggapnya salah. Jika anak cenderung mengembangkan sikap rasa berdosa yang berlebihan ini, maka akibatnya bukan saja memiliki perasaan bersalah secara berlebihan, tetapi ia juga akan diliputi oleh perasaan bahwa dirinya harus senantiasa melakukan sesuatu, senantiasa bersaing, dan senantiasa berbuat sesuatu agar dirinya mempunyai nilai sebagai manusia.
   4.      Mampu Berkarya Lawan Inferioritas (Industry vs Inferiority)
Pada masa ini, usia enam tahun hingga remaja, anak-anak memasuki usia berkarya (industrial age). Mereka mulai masuk sekolah tempat mempelajari dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk kepentingan hidupnya pada saat sekarang dan nanti. Mereka sekarang dituntuut untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan atau tugas dengan baik. Pengalaman-pengalaman keberhasilan yang diperolehnya akan menumbuhkan perasaan dan kepercayaan bahwa dirinya mampu berkarya atau menyelesaikan sesuatu (industry). Sebaliknya, kalau pada masa ini anak mengalami banyak kegagalan apalagi disertai kecerobohan, maka ia akan merasa tidak percaya terhadap kemampuan yang dimilikinya sehingga cenderung merasa inferior atau merasa bahwa dirinya tidak berarti.

   E.     Implikasi Terhadap Kegiatan Pembelajaran
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang berfungsi untuk memfasilitasi proses perkembangan anak secara menyeluruh. Tidak hanya aspek pengetahuan dan intelektual anak yang perlu diperhatikan dan dibina, akan tetapi keseluruhan aspek perkembangan termasuk aspek sosial anak.
Dilihat dari pemahaman terhadap aspek perkembangan sosio-emosional anak sebagaimana telah dipaparkan di atas, terdapat beberapa implikasi yang seyogiyanya diperhatikan oleh para calon guru SD. Implikasi-implikasi tersebut terutama berkenaan dengan penciptaan suatu lingkungan belajar yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Pertama, untuk meningkatkan kemampuan anak dalam menyadari dan menghayati pengalaman-pengalaman emosionalnya, dapat juga dilakukan melalui aktivitas bermain peran, pemutaran film, dan aktivitas-aktivitas sejenis lainnya yang diperlihatkan kepada mereka tentang bagaiman orang mengekspresikan emosinya secara wajar dan tidak wajar serta kosekuensi-konsekuensinya.
Yang lebih penting dari aktivitas-aktivitas di atas adalah perlunya figur dari guru yang dapat memberikan contoh tentang bagaimana mengekspresikan dan mengendalikan emosi secara wajar dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas semacam bermain peran dan semacamya tidak akan banyak berarti tanpa didukung oleh penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif.
Singkatnya, disamping perlu adanya program-program pengayaan yang berkenaan dengan upaya pengembangan sosioemosi anak, diperlukan pula upaya penciptaan kondisi yang memberi kesempatan kepada setiap anak untuk mengembangkan dan mengekspresikan emosinya secara wajar sesuai dengan kultur yang berlaku dengan disertai contoh kongkrit dari guru dalam perilaku sehari-hari.
Kedua, yang perlu diperhatikan adalah menonjolnya peran teman sebaya bagi anak SD. Keberadaan teman sebaya bagi anak SD merupakan hal yang sangat berarti, bukan saja sebagai sumber kesenangan bagi anak melainkan dapat mengembangkan banyak aspek perkembangan anak. Hal ini mengimplikasikan perlunya aktivitas-aktivitas pendidikan atau pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas yang memberikan banyak kesempatan kepada anak untuk berdialog diantara sesama mereka. Akan lebih baik kalau sekolah menyediakan berbagai kegiatan yang terprogram dan terencana untuk mereka sehingga aktivitas anak-anak dapat lebih terarahkan sesuai dengan yang diharapkan.
Berkenaan dengan perkembangan indentitas diri, sekolah perlu menyelaraskan kondisi lingkungan sekolah dan perlakuan-perlakuan yang diberikan dengan kondisi anak. Guna menumbuhkan perasaan dan keyakinan mampu berkarya atau berprestasi (sense of industry), sekolah perlu memberikan berbagai alternatif pilihan kegiatan yang memungkinkan anak untuk memperlihatkan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Unsur penghargaan dari sekolah kepada semua anak juga merupakan hal penting guna mengembangkan sense of industry ini. Selain itu, guna mengembangkan kesadaran identitas jenis kelamin sesuai dengan kultur yang berlaku sangat diperlukan adanya figur dari pihak guru dan upaya-upaya condotioning lainnya. Upaya-upaya conditioning ini dapat dilakukan dari mulai cara berpakaian, pembagian tugas, sampai pada bimbingan karir.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Dari hasil pembahasan tentang perkembangan sosial anak dan konsep kemandirian anak SD, penulis mencoba membuat kesimpulan sebagai berikut:
  1.      Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan berkerja sama.
   2.      Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya maupun teman bermainnya, anak mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial, diantaranya: (1) Pembangkangan (Negativisme); (2) Agresi (aggression); (3) Berselisih/bertengkar (quarreling); (4) Menggoda (teasing); (5) Persaingan (rivarly); (6) Kerjasama (cooperation); (7) Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior); (8) Mementingkan diri sendiri (selfishness); (9) Simpati (sympathy).
   3.      Hubungan pertemanan ini di tandai dengan semakin terlibatnya anak dalam aktivitas atau interaksi dengan teman sebaya. Ketika memasuki usia SD, anak lebih antusias dan lebih banyak terlibat dalam aktivitas-aktivitas bermain yang bersifat kooperatif (cooperative play). Intensitas hubungan maupun waktu keterlibatannya mengalami peningkatan.
  4.      Identitas pribadi seseorang terbentuk melalui perkembangan proses krisis psikososial. Setiap individu akan dihadapkan pada krisis-krisis kehidupan dalam setiap fase perkembangannya. Jika individu mampu mengatasi krisis-krisis yang dihadapinya, maka ia akan memiliki kepribadian yang sehat atau terintegrasi dan kemampuan untuk menguasai lingkungan. Sebaliknya, kalau seseorang gagal menyelesaikan krisis-krisis tersebut, maka ia akan menjadi orang yang hanyut dalam arus kehidupan.
   5.      Implikasi terhadap pembelajaran, yakni perlunya aktivitas-aktivitas pendidikan atau pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas yang memberikan banyak kesempatan kepada anak untuk berdialog diantara sesama mereka. Akan lebih baik kalau sekolah menyediakan berbagai kegiatan yang terprogram dan terencana untuk mereka sehingga aktivitas anak-anak dapat lebih terarahkan sesuai dengan yang diharapkan.

   B.     Saran
Setelah membaca makalah ini kami sebagai penyusun menyarankan dan mengharapkan terutama kepada mahasiswa calon guru SD masa depan agar memberikan kesempatan kepada semua siswanya untuk mengembangkan dan mengekspresikan emosinya secara wajar, dengan disertai contoh konkrit dari gurunya dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat memahami dan memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh siswa untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya.

DAFTAR PUSTAKA

           Ali, M. dan Asrori, M. (2005). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

          Yusuf, LN. S. (2011). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
   
          Budiamin, A., Hafidz, D. dan Daim. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Bandung: UPI Press.

       Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. (1998). Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jakarta: Depdikbud.

          Http://bintangcentaury.blogspot.com/2013/09/perkembangan-sosio-emosional-anak.html


Demikianlah materi tentang Makalah Perkembangan Sosial-Emosional Anak Sekolah Dasar Kelas Rendah yang sempat kami berikan dapat bermanfaat. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak Makalah Bahasa Indonesia yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.