Tuesday, September 19, 2017

Makalah Auditing II (Audit Terhadap Ekuitas)

Makalah Auditing II (Audit Terhadap Ekuitas) - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :


Makalah Auditing II “Audit Terhadap Ekuitas”


Disusun Oleh :
Kelompok 7 dan Kelompok 8
Ade Fitria                                               (A1C011022)
Doni Saputra                                          (A1C013026)
Janua Apriadi                                        (A1C014055)
Mega Maulida Fitri                               (A1C014074)
Ni Putu Setia Devi A.                           (A1C014089)
Novilatul Saputri                                  (A1C014093)
Nurul Hadi                                            (A1C014097)


S1 AKUNTANSI REGULER PAGI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MATARAM
2016


KATA PENGANTAR
            Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Makalah yang berjudul “Audit Terhadap Ekuitas” ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Auditing II yang dibimbing oleh bapak Wirawan Suhaedi, SE., M.Ak.
            Adapun pokok bahasan yang disajikan dalam makalah ini merupakan hasil diskusi dan kajian materi terkait prosedur auditing atas ekuitas yang dikerjakan secara berkelompok. Dalam menyelesaikan makalah ini kami berusaha menyampaikan dan menyajikan pembahasan dengan bahasa yang sederhana disertai penggunaan referensi yang terpercaya. Besar harapan kami makalah ini dapat mudah dipahami dan bermanfaat bagi mahasiswa yang menempuh mata kuliah Auditing II pada khususnya.
            Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam penyajian makalah ini. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, segala saran yang membangun kami harapkan demi kemajuan yang lebih baik dimasa mendatang. Atas perhatian dan apresiasinya kami ucapkan terimakasih.

Mataram,     November 2016

(Kelompok 7 & Kelompok 8)




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. iii
          1.1 Latar Belakang .............................................................................................. iii
          1.2 Tujuan ............................................................................................................ iii
          1.3 Rumusan Masalah ....................................................................................... iii
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 1
          2.1 Deskripsi Ekuitas............................................................................................ 1
          2.2 Tujuan Pengujian Substantif terhadap Ekuitas ........................................ 2
          2.3 Pengujian Pengendalian terhadap Ekuitas ............................................... 5
          2.3 Pengujian Substantif terhadap Ekuitas ...................................................... 8
BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 15
          3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 15
          3.2 Saran ............................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 16





BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ekuitas merupakan unsur penting dari keberadaan suatu entitas yang berorientasi pada profit atau keuntungan. Lazimnya, transaksi atas ekuitas tidak sering terjadi atau dengan kata lain volume transaksi yang berkaitan dengan ekuitas cukup rendah. Dalam melakukan prosedur audit terhadap ekuitas, sangat dimungkinkan dalam satu periode laporan keuangan tidak ditemukan adanya perubahan saldo ekuitas pada entitas dan hanya menemui satu atau dua jurnal pendebitan atau pengkreditan di dalam akun saldo laba yang merupakan bagian dari ekuitas. Meski volume transaksi atas ekuitas rendah, namun dalam transaksi yang muncul berkaitan dengan ekuitas nominal transaksinya bersifat material atau terbilang melibatkan rupiah yang besar. Dengan demikian, dalam pengujian substantif terhadap ekuitas, auditor melakukan pemeriksaan secara seksama terhadap setiap perubahan akun-akun ekuitas dan umumnya hanya memerlukan waktu pemeriksaan yang singkat.

1.2  Tujuan
1)      Mengetahui sifat dan contoh ekuitas pada berbagai jenis usaha
2)      Memahami tujuan audit atas ekuitas
3)      Memahami pengujian Pengendalian terhadap ekuitas
4)      Memahami pengujian substantif terhadap ekuitas

1.3  Rumusan Masalah
1)      Bagaimana sifat ekuitas pada berbagai jenis usaha?
2)      Apa tujuan dilakukannya proses audit terhadap ekuitas?
3)      Bagaimana prosedur pengujian pengendalian terhadap ekuitas?
4)      Bagaimana prosedur pengujian substantif terhadap ekuitas?


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Deskripsi Ekuitas
Secara umum, Ekuitas/modal merupakan hak pemilik atas aktiva perusahaan yang merupakan kekayaan bersih (jumlah aktiva dikurangi kewajiban). Ekuitas pada berbagai jenis usaha dapat berupa berbagai jenis dan bentuk. Hal ini tergantung dari jenis usaha yang dijalankan serta bentuk dari entitas itu sendiri.
Berikut ini beberapa ekuitas yang diklasifikasikan berdasarkan bentuk entitasnya:
1.      Perusahaan terbuka (go public)
Ekuitas dari perusahaan terbuka (go public) terdiri dari modal yang disetor oleh pemegang saham dan sisa laba yang ditahan (retained earning). Dari segi perusahaan, Ekuitas merupakan kewajiban perusahaan kepada para pemegang saham. Sedangkan dari segi pemilik perusahaan (pemegang saham), ekuitas adalah bagian hak pemilik atas kekayaan bersih perusahaan (harta dikurangi kewajiban).

2.      Perusahaan perseorangan
Di dalam suatu perusahaan perorangan, ekuitas terdiri atas ekuitas pemilik tunggal; laba yang diperoleh dalam suatu periode; dan tambahan setoran ekuitas yang menambah saldo ekuitas, kerugian yang diderita dalam suatu periode dan pengambilan prive akan mengurangi saldo ekuitas.

3.      Firma
Di dalam suatu firma (partnership) ekuitas terdiri atas ekuitas lebih dari satu partner. Ekuitas masing-masing partner akan bertambah dengan adanya pembagian laba atau tambahan setoran ekuitas dan akan berkurang dengan adanya pembagian kerugian atau pengambilan prive.

4.      Koperasi
Dalam badan hukum yang berbentuk koperasi, ekuitas utamanya adalah simpanan pokok anggota yang tidak dapat dipindahtangankan dan dapat diambil kembali pada saat seorang anggota mengundurkan diri. Kekayaan bersih koperasi adalah simpanan pokok, simpanan lain, pinjaman-pinjaman, penyisihan hasil usaha termasuk cadangan.
Dalam badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas (PT), perekuitasannya (ekuitas) terdiri dari :
o   Ekuitas menurut akte pendirian yang telah disahkan menteri Kehakiman dan HAM:
-          Ekuitas dasar (authorized capital)
-          Ekuitas ditempatkan (issue capital)
-          Ekuitas disetor (paid-uo/paid in capital)
Ekuitas yang berasal dari sumbangan (donated capital)bisa dilaporkan sebagai bagian daro tambahan ekuitas disetor.
o   Treasury Stock (saham perusahaan yang sudah beredar lalu dibeli kembali oleh perusahaan).
o   Premium (agio) atau Discount (Disagio) dari penjualan saham baik saham biasa (common stock) maupun saham preferen (preffered stock).
o   Selisih kurs atas ekuitas disetor.
o   Selisih penilaian kembali aktiva tetap, untuk perusahaan yang melakukan revaluasi aktiva tetap berdasarkan peraturan pemerintah.
o   Retained Earnings (Laba ditahan/sisa laba tahun lalu) atau Deficit/Accumulated Losses (sisa rugi tahun lalu).


2.2 Tujuan Pengujian Substantif Terhadap Ekuitas
Tujuan pengujian subtantif terhadap ekuitas pemegang saham adalah:
1.      Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang berkaitan dengan ekuitas pemegang saham.
Sebelum auditor melakukan pengujian menegenai kewajaran saldo ekuitas pemegang saham yang dicantumkan di dalam neraca, ia harus memeproleh keyakinan mengenai ketelitian dan keandalan catatan akuntansi yang mendukung informasi ekuitas pemegang saham yang disajikan di dalam neraca. Untuk itu auditor melakukan rekonsiliasi antara Ekuitas  Saham, paid-in Capital, Treasury Stock, akun Laba, dan  Cadangan yang dicantumkan di neraca dengan buku besarnya dan selanjutnya ke jurnal penerimaan kas, check register  dan jurnal umum.

2.      Membuktikan bahwa saldo ekuitas saham mencerminkan kepentingan pemegang saham yang ada pada tanggal neraca yang mencerminkan keterjadian transakasi yang berkaitan dengan ekuitas pemegang saham selama tahun yang diaudit.
Auditor membuktikan apakah saldo ekuitas saham mencerminkan kepentingan kepemilikan saham yang ada pada tanggal neraca dan mencerminkan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan ekuitas pemegang saham selama tahun yang diaudit. Untuk mencapai tujuan tersebut auditor melakukan berbagai pengujian subtantif berikut ini:
1.      Pengujian analitik.
2.      Pemeriksaaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan ekuitas pemegang saham.
3.      Pemeriksaan pencataatan transaksi pengumuman dividen dan pembayrannya.
4.      Pelajari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perusahaan klien, notulen rapat pemegang saham dan dewan komisaris, dan kontran underwriting dan persyaratan emisi saham.
5.      Konfirmasi dari independetn registrar dan transfer agen.
6.      Analisis terhadap akun Ekuitas Saham, Treasury stock, saldo laba.
7.      pemeriksaan terhdap sertifikat saham yang dibatalkan.

3.      Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat selama tahun yang diaudit dan kelengkapan saldo pemegang saham yang disajikan di neraca.
Untuk membuktikan bahwa ekuitas pemegang saham yang dicnttumkan di neraca mencakup semua kepentingan pemegang saham (stackholders interest) terhadap aktiva entitas pada tanggal neraca dan mencakup semua transaksi yang berakitan dengan ekuitas pemegang saham dalam tahun yang diaudit, auditor melakukan pengujian subtantif berikut ini:
1.      Pengujian analitik.
2.      Konfirmasi dari independent regitrar dan transfer agent.
3.      Pemrikasaan atas pertanggungjawaban nomor urut sertifikat saham.
4.      Pemeriksaan terhadap sertifikat saham yang dibatalkan.

4.      Membuktikan bahwa saldo ekuitas pemegang saham yang dicantumkan di neraca merupakan klaim pemilik terhadap aktiva entitas.
Untuk membuktikan klaim pemegang saham atas aktiva entitas pada tanggal neraca, auditor melakiukan pengujian subtantif berikut ini:
1.      Pemeriksaan bukti pendukung transaksiyang berkaitan dengan ekuitas pemegang saham.
2.      Pemriksaan pencatatan transaksi pengumuman dividen dan pembayarannya.
3.      Pelajrai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perusahaan klien, notulen rapat pemegang saham dan dewan komisaris, dan kontrak underwriting dan persyaratan emisi saham.
4.      konfirasai dari independent registrar dan transfer agent.
5.      Analisa terhadap akun ekuitas saham, treasury stock, saldo laba.
6.      Pemeriksaan terhadap sertifikat shaam yang dibatalkan.


5.      Membuktikan kewajaran penilaian ekuitas pemegang saham yang dicantumkan di neraca.
Dalam prinsif akuntansi yang berterima umum di Indonesia, akun ekuitas saham, paid-in capital, treasury stock, saldo laba, dan cadangan harus disajikan dalam neraca dengan penjelasan tertentu sebagaimana diatur dalam prinsif tersebut. Dengan demikian untuk membuktikan asersi penilaian ekuitas pemegang saham yang dicantumkan di neraca auditor melakukan pengujian subtantif:
1.      Prosedur audit awal.
2.      Pengujian analitik.
3.      Pelajari anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perusahaan klien, notulen rapat pemegang saham dan dewan komisaris, dan kontrak underwriting  dan persyaratan emisi.

6.      Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan ekuitas pemegang sahamdi neraca.
Pengujian subtantif terhadap ekuitas pemegang saham diarahkan untuk mencapai salah satu tujuan membuktikan apakahunsur ekuitas pemegang saham telah disajikan dan diungkapkan oleh klien di neracannya sesui dengan prinsif berterima umum di Indonesia. Satu-satunya pengujian subtantif untuk membuktikan asersi pengujian dan pengungkapan ekuitas pemegang saham di neraca yang diaudit dengan akuntansi berterima umum melalui berbagai prosedur berikut ini:
1.      Pemeriksaan atas transaksi emisi saham untuk menentukan pemisahan jumlah ekuitas saham dengan paid in-capital.
2.      Pemisahan atas penyajian treasury stock.
3.      Pemeriksaan atas penyisihan saldo laba dalam tahun yang diaudit.
4.      Pemerikaan atas penjelasan yang bersangkutan dengan unsur ekuitas saham.
Dari beberapa sub tersebut dapat disimpukan bahwa tujuan utama pengujian subtantatif terhadap ekuitas pemegang saham adalah membuktikan bahwa saldo akun Ekuitas Saham dan akun penilaiannya (volution account) yang dicantumkan di neraca mencerminkan saldo akun Ekuitas Saham, akun paid-in Capital, akun Treasury Stock, akun Saldo Laba, Cadangan yang sesungguhnya pada tanggal neraca tersebut.


2.3 Pengujian Pengendalian Terhadap Ekuitas
Pengendalian internal adalah rencana, metode, prosedur, dan kebijakan yang didesain oleh manajemen untuk memberi jaminan yang memadai atas tercapainya efisiensi dan efektivitas operasional, kehandalan pelaporan keuangan, pengamanan terhadap aset, ketaatan/kepatuhan terhadap undang-undang, kebijakan dan peraturan lain.
Beberapa pengendalian intern yang penting akan diutamakan oleh auditor, yaitu: (1) otorisasi yang memadai atas transaksi, (2) pencatatan yang memadai dan pemisahan tugas antara pencatatan ekuitas pemilik dan penanganan kas serta sertifikat saham, dan (3) penggunaan petugas serta agen penjualan saham yang bebas.

1.      Otorisasi yang memadai untuk transaksi
Karena masing-masing transaksi yang mempengaruhi ekuitas pemilik biasanya material, sebagian besar transaksi ini harus disetujui oleh dewan direksi. Transaksi-transaksi ekuitas pemilik ini umumnya memerlukan otorisasi yang khusus.  
·         Pengeluaran Modal Saham
 Otorisasi meliputi jenis saham yang akan diterbitkan (misalnya apakah saham preferen atau saham biasa), jumlah yang diterbitkan, nilai pari saham, kondisi kekhususan dari saham selain saham biasa, dan tanggal penerbitannya.

·         Pembelian Kembali Modal Saham
Pembelian kembali saham, baik saham biasa maupun saham preferen, waktu pembelian kembali, dan jumlah yang akan dibayarkan untuk pembelian kembali saham, seluruhnya harus disetujui oleh dewan direksi.
·         Pernyataan Pembagian Dividen
Dewan direksi harus memberikan otorisasi terhadap bentuk dividen (tunai atau dalam bentuk saham), jumlah dividen untuk setiap saham dan catatan serta tanggal pembelian dividen.

2.      Pencatatan yang baik dan pemisahan fungsi
Jika suatu perusahaan melakukan sendiri pencatatan atas transaksi saham dan saham yang beredar, maka perusahaan harus mempunyai struktur pengendalian yang memadai untuk memastikan bahwa pemilik saham dicatat dalam catatan perusahaan, jumlah dividen yang dibayarkan kepada pemilik saham per tanggal catatan dividen telah benar dan kemungkinan kecurangan karyawan diminimalkan. Untuk itu diperlukan penugasan personil yang tepat dan prosedur pencatatan yang memadai.
Prosedur terpenting untuk mencegah kekeliruan dalam ekuitas pemilik adalah (1) kebijakan yang jelas untuk pembuatan sertifikat saham dan pencatatan transaksi saham (2) verifikasi intern yang independen terhadap informasi dalam catatan. Pada saat menerbitkan dan mencatat saham, klien harus memastikan bahwa peraturan pemedasar perusahaan telah dipenuhi. Contohnya ,nilai pari saham ,jumlah saham yang boleh diterbitkan oleh perusahaan yang bersangkutan ,dan pajak terhadap penerbitan saham semuanya mempengaruhi penerbitan dan pencacatan saham .
Pengendalian atas modal saham yang digunakan oleh kebanyakan perusahaan adalah penggunaan buku sertifikasi saham dan buku besar pemegang saham .Buku sertifikasi saham merupakan catatan penerbitan dan pembelian kembali saham selama operasi perusahaan. Pencatatan suatu transaksi penjualan meliputi informasi mengenai sertifikat ,jumlah saham yang dikeluarkan ,nama pemegang saham dan tanggal penerbitan saham .Jika ada saham yang dibeli kembali ,buku sertifikasi saham harus mencatat saham yang dibeli kembali ,dan tanggal pembelian kembali saham tersebut. Buku besar pemegang saham merupakan catatan saham yang beredar pada suatu waktu tertentu .Buku besar ini digunakan untuk mencek keakuratan buku sertifikasi saham dan saldo-saldo dalam buku besar serta digunakan sebagai dasar pembayaran deviden .
Pengeluaran kas untuk pembayaran deviden harus dikendalikan dengan cara  dapat berupa Cek-cek pembayaran deviden harus disiapkan berdasarkan buku saham oleh pegawai yang tidak melakukan pencatatan dalam buku saham .Setelah seluruh buku cek disiapkan ,sebaiknya dilakukan verifiaksi secara independen terhadap nama pemegang saham ,jumlah seluruh cek dan rekonsiliasi antara jumlah total cek deviden dengan jumlah pembayaran dividen yang disetujui dalam notulen rapat .Dalam hal ini juga dapat digunakan suatu rekening dividen impress untuk mencegah pembayaran dividen yang lebih besar daripada jumlah yang telah diotorisasi .

3.      Petugas dan agen pemindahan saham yang independen.
Perusahaan yang mengeluarkan sahamnya di pasar modal ,diharuskan menggunakan petugas catat yang bebas sebagai suatu alat pengendalian untuk mencegah pengeluaran sertifikat saham yang tidak sah. Tanggungjawab petugas catat yang bebas adalah memastikan bahwa saham yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan sesuai dengan kebijakan mengenai saham dalam akte pendirian perusahaan tersebut dan otorisasi dewan direksi .Petugas catat bertanggungjawab menandatangani seluruh sertifikat saham yang baru dikeluarkan dan menyimpan serta membatalkan sertifikat lama sebelum sertifikat pengganti diterbitkan ,dalam hal ada penggantian kepemilikan saham.
Sebagai bagian perusahaan besar juga mengggunakan jasa agen pemindahan saham untuk melakukan pencatatan mengenai pemegang saham ,termasuk mendokumentasikan pemindahan kepemilikan saham .Penggunaaan agen pemindahan saham tidak hanya dimaksudkan sebagai alat pengendalian atas catatan-catatan saham ,karena sifatnya yang independen ,tetapi juga mengurangi biaya pencatatan dengan menggunakan jasa tenaga ahli .Disamping itu ,banyak pula perusahaan yang menggunakan jasa agen pemindahan saham untuk membayarkan deviden dalam bentuk tunai kepada pemegang saham ,yang merupakan cara untuk meningkatkan struktur pengendalian intern.
2.4 Pengujian Substantif Terhadap Ekuitas
Program pengujian subtantif  terhadap ekuitas pemegang saham berisi prosedur audit yang dirancang untuk mencapai tujuan audit. Adapun program yang dimaksud dapat diklasifikasikan menjadi lima golongan, yaitu (1) prosedur audit awal, (2) prosedur analitik, (3) pengujian terhadap transaksi rinci, (4) pengujian terhadap akun rinci, dan (5) verifikasi penyajian dan pengungkapan.
1.      Prosedur Audit Awal
Sebelum membuktikan apakah saldo ekuitas pemegang saham yang dicantumkan oleh klien di dalam neracanya sesuiai dengan ekuitas pemegang saham yang benar-benar ada pada tanggal neraca, auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi ekuitas pemegang saham yang dicantumkan di dalam neraca dengan catatan akuntansi yang mendukungnya. Rekonsiliasi ini perlu dilakuakan agar auditor  memperoleh keyakinan bahwa informasi ekuitas pemgang saham yang dicantumkan di dalam neraca didukung oleh catatan akuntansi yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, auditor melakukan prosedur audit awal yang terdiri dai 6 prosedur audit berikut ini:

1.      Usut saldo ekuitas pemegang saham yang tercantum dalam neraca ke saldo akun ekuitas pemegang saham yang bersangkutan ke dalam buku besar.
Untuk memperoleh keyakinan bahwa saldo ekuitas pemegang saham yang tercantum di dalam neraca didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya kebenaran, mekanisme pencatatannya, maka saldo ekuitas pemegang saham yang dicantumkan di dalam neraca diusut ke akun buku besar berikut ini :

Ekuitas Saham
:
Merupakan akun yang digunakan untuk mencatat nilai nominal yang beredar dan pengurangan saham yang beredar karena perlunasan saham dan transaksi treasury stock.
Treasury stock
:
Merupakan akun yang digunakan untuk menampung kelebihan atau kekurangan setoran pemegang saham dari nilai nominal saham.
Saldo Laba
:
Merupakan akun yang digunakan mencatat laba rugi kegiatan perusahaan dalam adjustment perhitungan rugi laba dalam periode akuntansi yang lalu.
Cadangan (reserve)
:
Merupakan akun yang digunakan untuk menyisihkan saldo laba untuk tujuan tertentu.

2.      Hitung kembali saldo akun ekuitas pemegang saham di dalam buku besar.
Untuk memmperoleh keyakinan mengenai ketelitian penghitungan saldo akun ekuitas pemegang saham, auditor menghitung kembali saldo akun ekuitas saham, paid-in capital stock, saldo laba dan cadangan dengan cara menambah saldo awal dengan jumlah pengkreditan dan menguranginya dengan jumlah pendebitan tiap-tiap akun tersebut.

3.      Lakukan review terhadap mutasi luar dalam jumlah dan sumber posting dalam akun ekuitas pemegang saham.
Ketidakberesan dalam transaksi emisi saham, pembelian treasury stock, pembagian deviden, pembentukan cadangan (reserve), dapat ditemukan melalui review atas mutasi luar biasa, baik dalam jumlah maupun sumber posting dalam akun Ekuitas Saham, Paid-in Capital, Treasury Stock, Saldo Laba dan Cadangan.

4.      Usut saldo awal akun ekuitas pemegang saham ke kertas kerja tahun yang lalu.
Sbelum auditor melakukan pengujian terhadap transaksi rinci yang menyangkut akun ekuitas pemegang saham, ia perlu memperoleh keyakinan atas kebenaran saldo awal kedua akun-akun Ekuitas Saham, Paid-in Capital, Treasury Stock, Saldo Laba dan Cadangan. Untuk mencapai tujuan ini, auditor melakukan pengusutan saldo awal akun-akun ke kertas kerja tahun lalu. Kertas kerja tahun lalu dapat menyediakan informasi koreksi yang diajukan oleh auditor dalam audit tahun yang lalu, sehingga auditor dapat mengevaluasi tindak lebih lanjut yang telah ditempuh oleh klien dalam  menanggapi koreksi yang diajukan oleh auditor tersebut.

5.      Usut posting pengkreditan dan pendebitan akun ekuitas pemegang saham ke dalam jurnal yang bersangkutan.
Pengkreditan dan pendebitan ke dalam akun Ekuitas Saham, Paid-in Capital diusut ke jurnal penerimaan kas dan jurnal umum untuk memperoleh keyakinan bahwa mutasi penambahan dan pengurangan akun ekuitas saham dan paid-in capital berasal dari jurnal-jurnal yang bersangkutan. Pendebitan dan pengkreditan di dalam akun Treasury Stock diusut ke dalam jurnal pengeluaran kas dan jurnal penerimaan kas. Pegkreditan dan pendebitan di dalam aku saldo laba dan cadangan diusut ke jurnal umum untuk memperoleh keyakinan bahwa mutasi penambahan dan pengurangan ke dua akun berasl dari jurnal-jurnal yang bersangkutan.

6.      Lakukan rekonsiliasi buku pembantu pemegang saham, buku sertifikat saham dengan akun kontrol Ekuitas saham di dalam buku besar.
Akun kontrol Ekuitas Saham memeperlihatkan total nilai nominal  saham yang beredar dikurangi, jika ada, treasury stock. Buku pembantu pemegang saham berisi jumlah lembar nomor seri dan nilai nominal saham yang dimiliki oleh setiap pemegang saham. Buku sertifikat saham berisi semua sertifikat saham yang dibatalkan pemakaiannya dan bonggol saham ( Stock stubs) untuk saham yang beredar. Auditor harus merekonsiliasi  ketiga macam catatan ini untuk memperoleh keyakinan bahwa jumlah lembar saham yang beredar tidak melebihi jumlah yang seharusnya beredar.


2.      Prosedur Analitik
Pada tahap awal pengujian subtantif terhadap ekuitas pemegang saham, pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memeahami bisnis klien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif, untuk itu auditor melakukan perhitungan berbagai ratio berikut ini :

Rasio
Formula
Nilai buku saham biasa
Ekuitas pemegang saham + rerata jumlah saham biasa yang beredar
Return on common stockholders equity
Laba bersih + rerata jumlah saham biasa yang beredar
Dividen payout
Dividen kas + Laba bersih
Laba per saham
Laba bersih + rerata tibangan jumlah saham beredar

Rasio yang telah dihitung tersaebut kemudian dibandingkan dengan harapan auditor, misalnya ratio tahun yang lalu, rerata ratio industri , atau ratio yang dianggarakan. Perbandingan ini membantu auditor untuk mengungkapkan:
1. peristiwa atau transaksi yang luar biasa,
2. perubahan akuntansi,
3. perubahan usaha,
4. fluktuasi acak,atau 
5. salah saji.


3.      Pengujian Terhadap Transaksi Rinci
Pengujian terhadap transaksi rinci ekuitas pemegang saham dilaksanakan oleh auditor melalui dua prosedur audit berikut ini ;
1.    Periksa bukti pendukung pencatatan kedalam akun ekuitas saham, paid-in capital, tyreasury stocl, saldo laba, dan cadangan.
2.    Periksa catatan transaksi pengumuman dividend an pembayarannya

Usut penerimaan kas dari emisi saham ke jurnal penerimaan kas dan rekening Koran bank.
Jika klien tidak menunjukkan independent registrar untuk mengurus saham yang dikeluarkannya, auditor harus mengusut penerimaan kas dari pengeluaran saham ke dalam buku juenal penerimaan kas dan rekening Koran bank.
Periksa pencatatan transaksi pengumuman dividend pembayarannya.
Prosedur pembayaran dividen dimulai dengan otorisasi oleh direksi. Oleh karena itu, auditor harus mereview notulen rapat direksi yang bersangkutan dengan pembagian dividen.



4.      Pengujian Terhadap Akun Rinci
Pengujian terhadap saldo rinci akun ekuitas pemegang saham dilaksanakan oleh auditor melalui berbagai prosedur audit berikut ini :
a.    Pelajari anggaran awal dan anggaran rumah tangga perusahaan klien
Auditor harus mempelajari anggaran dasar dan anggarab rumah tangga perusahaan serta perusahaan yang terjadi dalam tahun yang di audit.

b.    Pelajari notulen rapat pemegang saham dan dewan komisaris.
Auditor juga harus mempelajari notulen rapat pemegang saham dan dewan komisaris yang berisi keputusan mengenai penambahan, pengurangan, pelunasan dan emisi saham, pembentukan cadangan, tawaran pemberian saham kepada karyawan dan kebijakan pembagian dividen.

c.    Pelajari kontrak underwriting dan persyaratan emisi saham.
Perusahaan yang go public, menjual sahamnya melalui pasar ekuitas, yang dikelolah oleh bapepam. Bapepam menetapkan persyaratan dalam menjual sahamnya. Untuk mengetahuo apakah klien mematuhi persyaratan tersebut, auditor harus mempelajari aturan-aturan yang berlaku bagi perusahaan yang go public.

d.    Pelajari notulen rapat dewan komisaris dan pemegang saham mengenai pembagian dividen.
Dalam memverifikasikan dividen yang digabikan dalam tahun yang diaudit, auditor harus mempelajari notulen rapat pemegang saham dan rapat dewan komisaris untuk memperoleh informasi mengenai otorisasi pembagian dividen dalam tahun yang di audit.

e.    Pelajari kontrak antara klien dengan independent registrar dan transfer agent.
Perusahaan yang sahamnya dijual di pasar ekuitas diharuskan menggunakan asa independent registrar untuk melindungi pemegang saham dari pengeluaran saham yang melebihi jumlah yang ditentukan atau kecurangan dalam pengeluaran sertifikat saham. Jika independent resgitrar berkepentingan utnuk mengawasi jumlah maksimum lembar saham yang beredar, maka transfer agent berkepentingan untuk menyelenggarakan catatn yang memperlihatkan siap pemilik saham pada saat tertentu dan transfer hak pemilik atas saham.

f.      Pelajari surat perjanjian penarikan kredit dan bond indentures mengenai pasal yang membatasi pembagian dividen
Dengan mempelajari surat perjanjian  penarikan kredit dan bond indentures, auditor akan dapat melakukan penilaian mengenai kepatuhan klien atas persyaratan perjanjian kredit tersebut.

g.    Lakukan analisis terhadap akun ekuitas saham
Dalam pemeriksaan pertama kalinya, auditor berkepentingan untuk menilai kewajaran saldo awal akun ekuitas saham. Oleh karena itu auditor harus melakukan analisis ekuitas saham sejak perusahaan tersebut beridiri sampai dengan awal tahun yang di audit.

h.    Lakukan analisi terhadap akun saldo laba
Auditor melakukan analisi terhadap pendebitan dan pengkreditan akun saldo laba untuk mengetahui  apakah semua transaksi yang menyangkut akun tersebut telah diotorisasi oleh yang berwenang.

i.      Dapatkan konfirmasi dari independent registrar dan transfers agent
Jika klien menunjukakn indepentdent registrar dan transfer agent untuk mengurus transaksi yang bersangkutan dengan saham yang dikeluarkannya, auditor harus mendapatkan konfirmasi dari independent registrar dan transfer agent mengenai jumlah lembar saham yang dikeluarkannya.

j.      Periksa pertanggung jawaban nomor urut sertifikat saham
Jika klien tidak menggunakan jasa independent registrar dan transfer agent auditor harus memeriksa pertanggungjawaban sertifikat saham yang dikeluarkan oleh klien.

k.    Periksa semua sertifikat saham yang dibatalkan pemakaiannya
Auditor harus mencatat nomor sertifikat saham yang dibatalkan pemakaiannya dan memeriksa apakah klien telah member tanda khusu sehingga menghindari penyalahgunaan setifikar yang sudah dibatalkan tersebut.

l.      Selidiki adjustment yang berasal dari tahun sebelumnya yang dicatat di dalam akun saldo laba
Auditor harus menyelidiki pendebitan dan pengkreditan akun saldo laba yang diberi keterangan sebagai adjustment tahun sebelumnya untuk menentukan apakah klien telah mencatat sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia.

m.  Lakukan analisi terhadap akun treasury stock.
Auditor harus membuat daftar sertifikat saham sebagai treasury stock tersebut didalam suatu kertas kerja, yang memperlihatkan nomor urut sertifikat dan jumlah lembar sertifikatnya.



5.      Verifikasi Penyajian dan Pengungkapan
Prosedur akhir dalam pengujian substantif adalah verifikasi penyajian dan pengungkapan terhadap ekuitas yang disajikan dalam laporan keuangan klien.
1.    Periksa pencatatan transaksi emisi saham untuk menentukan pemisahan jumlah ekuitas saham dengan paid-in capital.
Emisi saham harus dicatat dengan mengkredit akun ekuitas saham sebesar nilai nominalnya, sedangkan kelebihan ataua kekurangan jumlah kas atau nilai aktiva lain yang diterima klien dari nilai nomilnal saham tersebut dicatat didalam akun paid-in capital akun paid-in capital ini juga digunakan untuk mencatat selisih antara kos saham yang dibeli kembali dengan nilai nominalnya jika treasury stock dicatat pada nilai nominalnya. Dalam memeriksa penyajian ekuitas saham didalam neraca, auditor harus memastikan bahwa klien telah memisahkan jumlah yang harus disajikan didalam akun paid-in capital dengan disajikan didalam akun ekuitas saham.

2.    Periksa penyajian treasury stock.
Menurut prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia, treasury stock tidak boleh disajikan sebagai unsure aktiva perusahaan, dan perusahaan tidak dapat membagikan dividen untuk saham yang dimiliki oleh perusahaan sebagai treasury stock. Auditor harus memastikan penyajian treasury stock klien sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum tersebut.

3.    Perikasa penyisihan saldo laba dalam tahun yang diaudit
Penyisihan saldo laba untuk tujuan tertentu diatur di dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perusahaan. Auditor berkewajiban untuk memeriksa apakah klien telah melaksanakan penyisihan saldo laba sesuai dengan ketentuan di dalam anggaran dasar dan anggaran perusahaan.

4.    Periksa penjelasan yang bersangkutan dengan unsur ekuitas pemegang saham
Penyajian unsure ekuitas pemegang saham harus sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum dan dengan penjelasan yang cukup didalam laporan keuangan. Auditor harus memeriksa bahwa klien telah mencantumkan pengungkapan yang cukup bagi unsure ekuitas pemegang saham di dalam laporan keuangan.




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Ekuitas adalah hak pemilik atas aktiva perusahaan yang merupakan kekayaan bersih yang dipoeroleh dari hasil pengurangan aktiva terhadap kewajiban yang dimiliki oleh entitas atau perusahaan. Pengauditan terhadap ekuitas penting dilakukan karena saldo nominal ekuitas yang tercatat pada laporan keuangan entitas sangat berkaitan dengan hak dari para pemilik modal atau ekuitas itu sendiri. Adapun karakteristik ekuitas yang penting untuk diketahui oleh auditor adalah sifat volume transaksi ekuitas yang rendah, namun memiliki nilai yang material. Tujuan pengujian substantif terhadap ekuitas adalah membuktikan bahwa saldo akun Ekuitas Saham dan akun penilaiannya (volution account) yang dicantumkan di neraca mencerminkan saldo akun Ekuitas Saham, akun paid-in Capital, akun Treasury Stock, akun Saldo Laba, dan cadangan yang sesungguhnya pada tanggal neraca. Untuk mencapai tujuan tersebut dirancang pengujian substantif yang diklasifikasikan menjadi lima kelompok, yaitu (1) prosedur audit awal, (2) prosedur analitik, (3) pengujian terhadap transaksi rinci, (4) pengujian terhadap akun rinci, dan (5) verifikasi penyajian dan pengungkapan.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyadi. (2002). Auditing (Buku 2, Edisi 6). Jakarta, Indonesia: Salemba Empat.
https://valdhekarundeng.wordpress.com/2012/10/03/makalah-auditing-pemeriksaan-ekuitas/
http://3.bp.blogspot.com/GFn5fflqGBA/UzmAmUVymkI/AAAAAAAAALE/2joVEUEc8pM/s1600

Demikianlah materi tentang Makalah Auditing II (Audit Terhadap Ekuitas) yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Makromolekul Protein yang telah kami posting sebelumnya. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.



EmoticonEmoticon