Saturday, September 23, 2017

Makalah Etika Bisnis

Makalah Etika Bisnis yang akan penulis bagikan merupakan salah satu refrensi bagi teman-teman dalam menyelesaikan tugas sekolah ataupun kuliah. Jika masih terdapat bahan yang kurang, pembaca bisa menambah sumber refrensi lain.

BAB I
PENDAHULUAN 
1.1  Latar Belakang
Etika bisnis adalah bagian dari filsafat. Secara garis besar pengertian filsafat, etika dan etika bisnis berhubungan erat satu sama lain. Filsafat dalam arti luas adalah suatu usaha sistematis untuk  memahami pengalaman manusia secara pribadi dan kolektif/kelompok. Berbeda dengan teologi maka filsafat menggunakan rasio untuk menafsirkan pengalaman manusia dan bukan mengandalkannya pada wahyu Ilahi.

Dalam masyarakat, manusia mengadakan hubungan-hubungan  antara lain hubungan agama, keluarga, perdagangan, politik dan sebagainya. Sifat hubungan ini sangat rumit dan coraknya berbagai ragam. Hubungan antara manusia ini sangat peka, sebab sering dipengaruhi oleh emosi yang tidak rasional. Manusia selalu berusaha agar tercapai kerukunan dan kebahagiaan di dalam suatu masyarakat. Timbullah peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang kita sebut etik, etika, norma, kaidah, tolak ukur.

Kebanyakan orang tidak senantiasa sadar akan fungsi etika. Salah satu sebabnya, etika menjadi bagian yang integral dari pribadi seseorang sehingga tidak lagi dipersoalkan oleh yang bersangkutan. Artinya seseorang jarang sekali memikirkan etika yang dimilikinya, kecuali bila ia merasa bahwa dalam hubungannya dengan orang lain etika tersebut mendapat tantangan. Pada saat tertentu kita pasti berhadapan dan berinteraksi dengan orang yang memiliki etika yang berbeda.

Sasaran etika adalah moralitas (etika merupakan filsafat tentang moral). Moralitas adalah istilah yang dipakai untuk mencakup praktek dan kegiatan yang membedakan apa yang baik dan apa yang buruk, aturan-aturan yang mengendalikan kegiatan itu dan nilai-nilai yang tersimbul di dalamnya yang dipelihara atau dijadikan sasaran oleh kegiatan praktek tersebut.

                                                                          
1.2  Dasar Teori
Menurut kamus, istilah etika memiliki beragam makna berbeda. Salah satu maknanya adalah “prinsip tingkah laku yang mengatur individu dan kelompok”. Makna kedua menurut kamus – lebih penting – etika adalah “kajian moralitas”. Tapi meskipun etika berkaitan dengan moralitas, namun tidak sama persis dengan moralitas. Etika adalah semacam penelaahan, baik aktivitas penelaahan maupun hasil penelaahan itu sendiri, sedangkan moralitas merupakan subjek.

A. Moralitas
Moral berasal dari kata ‘mos’ dalam bahasa latin, yang bentuk jamaknya ‘mores’, yang artinya adalah tata cara atau adat istiadat (http//:staff.uny.ac.id)
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:592), “moral diartikan sebagai aklak, budi pekerti, atau susila”.
Sehingga moralitas dapat dipahami sebagai pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa itu benar dan salah, atau baik dan jahat.
Pedoman moral mencakup norma-norma yang kita miliki mengenai jenis-jenis tindakan yang kita yakini benar atau salah secara moral, dan nilai-nilai yang kita terapkan pada objek-objek yang kita yakini secara moral baik atau secara moral buruk. Norma moral seperti “selalu katakan kebenaran”, “membunuh orang tak berdosa itu salah”. Nilai-nilai moral biasanya diekspresikan sebagai pernyataan yang mendeskripsikan objek-objek atau ciri-ciri objek yang bernilai, semacam “kejujuran itu baik” dan “ketidakadilan itu buruk”. Standar moral pertama kali terserap ketika masa kanak-kanak dari keluarga, teman, pengaruh kemasyarakatan seperti gereja, sekolah, televisi, majalah, music dan perkumpulan.

Hakekat standar moral :

1.   Standar moral berkaitan dengan persoalan yang kita anggap akan merugikan secara serius atau benar-benar akan menguntungkan manusia.
2.   Standar moral tidak dapat ditetapkan atau diubah oleh keputusan dewan otoritatif tertentu.
3.   Standar moral harus lebih diutamakan daripada nilai lain termasuk (khususnya) kepentingan diri.
4.   Standar moral berdasarkan pada pertimbangan yang tidak memihak.
5.   Standar moral diasosiasikan dengan emosi tertentu dan kosa kata tertentu.

Standar moral, dengan demikian, merupakan standar yang berkaitan dengan persoalan yang kita anggap mempunyai konsekuensi serius, didasarkan pada penalaran yang baik bukan otoritas, melampaui kepentingan diri, didasarkan pada pertimbangan yang tidak memihak, dan yang pelanggarannya diasosiasikan dengan perasaan bersalah dan malu dan dengan emosi dan kosa kata tertentu.

B. Etika
Etika berasal dari dari kata Yunani „Ethos (jamak – ta etha), berarti adat istiadat. Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu masyarakat. Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tatacara hidup yg baik, aturan hidup yg baik dan segala kebiasaan yg dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu generasi ke generasi yg lain
Etika merupakan ilmu yang mendalami standar moral perorangan dan standar moral masyarakat. Ia mempertanyakan bagaimana standar-standar diaplikasikan dalam kehidupan kita dan apakah standar itu masuk akal atau tidak masuk akal – standar, yaitu apakah didukung dengan penalaran yang bagus atau jelek.
Etika merupakan penelaahan standar moral, proses pemeriksaan standar moral orang atau masyarakat untuk menentukan apakah standar tersebut masuk akal atau tidak untuk diterapkan dalam situasi dan permasalahan konkrit. Tujuan akhir standar moral adalah mengembangkan bangunan standar moral yang kita rasa masuk akal untuk dianut.

C. Etika Bisnis

Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis.
Menurut Zimmerer (1996:20), etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan nilai – nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan dan memecahkan persoalan.
Menurut Ronald J. Ebert dan Ricky M. Griffin (2000:80), etika bisnis adalah istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan perilaku dari etika seseorang manajer atau karyawan suatu organisasi.
Menurut K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, (Yogjakarta: PenerbitKanisius, 2000, Hal. 5), Etika Bisnis adalah pemikiran refleksi kritis tentang moralitas dalam kegiatan ekonomi dan bisnis.
 Etika Bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis (Velasquez, 2005)
Etika bisnis merupakan suatu ajaran untuk membedakan antara salah dan benar guna memberikan pembekalan kepada setiap pemimpin perusahaan ketika mempertimbangkan untuk mengambil keputusan strategis yang  terkait dengan masalah moral yang kompleks. (Hill dan Jones, 1998)
Etika bisnis adalah standar etika yang  berkaitan dengan tujuan  dan cara membuat keputusan bisnis. (Steade et al (1984: 701) dalam bukunya ”Business, Its Natura and Environment An Introduction”).
Etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat. (Business & Society - Ethics and Stakeholder Management, Caroll&Buchholtz.
Etika bisnis merupakan studi standar formal dan bagaimana standar itu diterapkan ke dalam system dan organisasi yang digunakan masyarakat modern untuk memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa dan diterapkan kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi.

Sarina H. Manaroinsong dalam jurnal Etika Bisnis menulis keutamaan, sasaran  dan lingkup etika bisnis.

a.      Keutamaan Etika bisnis
Dalam bisnis modern, para pelaku bisnis dituntut untuk menjadi orang-orang profesional di bidangnya. Perusahaan yang unggul bukan hanya memiliki kinerja dalam bisnis,manajerial dan finansial yang baik akan tetapi juga kinerja etis dan etos bisnis yang baik
Dalam persaingan bisnis yang sangat ketat,maka konsumen benar-benar raja. Kepercayaan konsumen dijaga dengan memperlihatkan citra bisnis yang baik dan etis.
Dalam sistem pasar terbuka dengan peran pemerintah yang menjamin kepentingan dan hak bagi semua pihak, maka perusahaan harus menjalankan bisnisnya dengan baik dan etis.
Perusahaan modern sangat menyadari bahwa karyawan bukanlah tenaga yang harus dieksploitasi demi mendapat keuntungan.
Kenneth Blanchard dan Norman Vincent Peale: “perlakuan yang baik terhadap karyawan telah menaikkan keuntungan perusahaan sebesar 20% atau telah menurunkan harga produk perusahaan tersebut sebesar 20%”.

b.      Sasaran dan Lingkup Etika Bisnis
Etika bisnis bertujuan untuk menghimbau pelaku bisnis agar menjalankan bisnisnya secara baik dan etis.
Untuk menyadarkan masyarakat khususnya konsumen, buruh atau karyawan dan masyarakat luas akan hak dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar oleh praktek bisnis siapapun juga.
Etika bisnis juga berbicara mengenai sistem ekonomi yang sangat menentukan etis tidaknya suatu praktek bisnis.

D. Integritas
Integritas berasal dari  bahasa Latin  integer; incorruptibility , firm adherence to a code of especially moral a acristic values, yaitu , sikap yang teguh mempertahankan prinsip , tidak mau korupsi, dan menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral. 
Definisi integritas secara kamus :

Integrity is a personal quality of fairness that we all aspire to — unless you're a dishonest, immoral scoundrel, of course.
Having integrity means doing the right thing in a reliable way. It's a personality trait that we admire, since it means a person has a moral compass that doesn't waver. It literally means having
Dalam kamus Indonesia terkait mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran

Integritas bukan hanya sekedar bicara, pemanis retorika, tetapi juga sebuah tindakan. Bila kita  menelusuri karakter yang dibutuhkan para pemimpin saat ini dan selamanya mulai dari integritas, kredibilitas dan segudang karakter mulia yang lainnya-pastilah akan bermuara pada pribadi agung manusia pilihan al-mustofa Muhammad saw. Yang di utus untuk menyempurnakan karakter manusia.




















BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Pengambilan Keputusan Moral dalam Etika Bisnis
Scholars George dan John Steiner telah mengidentifikasi enam sumber utama etika dalam arena bisnis Amerika .
1.      Warisan genetik . Sifat-sifat kebaikan sering dikaitkan dengan perilaku etis mungkin ,   dalam beberapa ukuran , menjadi produk dari sifat genetik diperkuat dari waktu ke waktu oleh proses evolusi .
2.      Agama. Moralitas agama jelas merupakan kekuatan utama dalam membentuk etika sosial kita .
3.      Sistem filsafat . Filosofi telah berperan dalam perkembangan moral masyarakat kita .
4.      Pengalaman budaya . Nilai-nilai individu dibentuk dalam ukuran besar oleh norma-norma masyarakat .
5.      Sistem hukum. Hukum merupakan pendekatan kasar dari standar etika masyarakat . Dengan demikian , hukum berfungsi untuk mendidik kita tentang kursus etika dalam kehidupan.
6.      Kode etik . Steiner dan Steiner mengidentifikasi tiga kategori utama dari aturan-aturan tersebut . Kode perusahaan , biasanya singkat dan sangat umum , mengungkapkan luas harapan tentang perilaku fit . Kedua , kebijakan operasi perusahaan sering mengandung dimensi etika . Ketiga , banyak asosiasi profesi dan industri telah mengembangkan kode etik .

Secara pengertian pengambilan keputusan (desicion making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan. Keputusan ini diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah utama, menyusn alternatif yang akan dipilih dan sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik. 
Secara umum, pengertian pengambilan keputusan telah dikemukakan oleh banyak ahli, diantaranya adalah :
1.      G. R. Terry : Mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah sebagai pemilihan yang didasarkan kriteria tertentu atas dua atau lebih alternatif yang mungkin.
2.      Claude S. Goerge, Jr : Mengatakan proses pengambilan keputusan itu dikerjakan oleh kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan pemikiran yang termasuk pertimbangan, penilaian dan pemilihan diantara sejumlah alternatif.
3.      Horold dan Cyril O’Donnell : Mereka mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif mengenai suatu cara bertindak yaitu inti dari perencanaan, suatu rencana tidak dapat dikatakan tidak ada jika tidak ada keputusan, suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
4.      P. Siagian : Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta dan data, penelitian yang matang atas alternatif dan tindakan.

Pengambilan keputusan semata-mata bukan karena kepentingan pribadi dari seorang si pengambil keputusannya. Beberapa hal kriteria dalam pengambilan keputusan yang etis diantaranya adalah :
1)  Pendekatan bermanfaat (utilitarian approach), yang dudukung oleh filsafat abad kesembilan belas , pendekatan bermanfaat itu sendiri adalah konsep tentang etika bahwa prilaku moral menghasilkan kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar.
2)  Pendekatan individualisme adalah konsep tentang etika bahwa suatu tindakan dianggap pantas ketika tindakan tersebut mengusung kepentingan terbaik jangka panjang seorang indivudu.
3)   Konsep tentang etika bahwa keputusan yang dengan sangat baik menjaga hak-hak yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
·         hak persetujuan bebas. Individu akan diperlakukan hanya jika individu tersebut secara sadar dan tidak terpaksa setuju untuk diperlakukan.
·         hak atas privasi. Individu dapat memilih untuk melakukan apa yang ia inginkan di luar pekerjaanya.
·         hak kebebasan hati nurani. Individu dapat menahan diri dari memberikan perintah yang melanggar moral dan norma agamanya.
·         hak untuk bebas berpendapat. Individu dapat secara benar mengkritik etika atau legalitas tindakan yang dilakukan orang lain.
·         hak atas proses hak. Individu berhak untuk berbicara tanpa berat sebelah dan berhak atas perlakuan yang adil.
·         hak atas hidup dan keamanan. Individu berhak untuk hidup tanpa bahaya dan ancaman terhadap kesehatan dan keamananya.
http://chipachupz.blogspot.com/2013/10/pengambilan-keputusan-dalam-etika_25.html diakses pada 1 April 2014 pukul 23.45



Pengambilan keputusan moral seseorang dapat dijelaskan melalui teori Kohlberg, dalam hal ini Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral berdasar teori Piaget, yaitu dengan pendekatan organismik (melalui tahap-tahap perkembangan yang memiliki urutan pasti dan berlaku secara universal). Selain itu Kohlberg juga menyelidiki struktur proses berpikir yang mendasari perilaku moral (moral behavior).
Tahap-tahap perkembangan moral Kohlberg terdiri dari 3 tingkat, yang masing-masing tingkat terdapat 2 tahap, yaitu:
I. Tingkat Pra Konvensional (Moralitas Pra-Konvensional) à perilaku anak tunduk pada kendali eksternal:
§  Tahap 1:  Orientasi pada kepatuhan dan hukuman à anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah (reward) dan tidak mendapat hukuman (punishment)
§  Tahap 2:  Relativistik Hedonism à anak tidak lagi secara mutlak tergantung aturan yang ada. Mereka mulai menyadari bahwa setiap kejadian bersifat relative, dan anak lebih berorientasi pada prinsip kesenangan. Menurut Mussen, dkk. Orientasi moral anak masih bersifat individualistis, egosentris dan konkrit.
II.    Tingkat Konvensional (Moralitas Konvensional) à fokusnya terletak pada kebutuhan social (konformitas).
  • Tahap 3: Orientasi mengenai anak yang baik à anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain.
·         Tahap 4:  Mempertahankan norma2 sosial dan otoritas à menyadari kewajiban untuk melaksanakan norma-norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma, artinya untuk dapat hidup secara harmonis, kelompok sosial harus menerima peraturan yang telah disepakati bersama dan melaksanakannya
III. Tingkat Post-Konvensional (Moralitas Post-konvensional) à individu mendasarkan penilaian moral pada prinsip yang benar secara inheren.
·         Tahap 5: Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya à pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan sosialnya, artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma social, maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat.
·         Tahap  6: Prinsip Universal à pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif. Artinya: dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur2 subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan/perilaku itu baik/tidak baik; bermoral/tidak bermoral. Disini dibutuhkan unsur etik/norma etik yang sifatnya universal sbg sumber utk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas.
Menurut Kohlberg, seorang Manager harus melewati ketiga level tersebut dengan baik. Kohlberg menemukan bahwa banyak orang dewasa yang tidak pernah melewati atau keluar dari Level 2. Konsekuensinya, apabila Kohlberg benar, banyak manager yang akan bersikap tidak beretika, yang secara sederhana karena mereka tidak memilki kedewasaan moral.

Tanggung Jawab Perusahaan
Menurut K. Bertens dalam buku Pengantar Etika Bisnis menyebutkan beberapa hal mengenai tanggung jawab perusahaan.
1. Tanggung Jawab legal dan tanggung jawab moral perusahaan
Perusahaan harus mempunyai tanggung jawab legal, karena sebagai badan hukum ia memiliki status legal. Karena merupakan badan hukum, perusahaan mempunyai banyak hak dan kewajiban legal yang dimiliki juga oleh manusia perorangan , seperti menuntut di pengadilan, dituntut di pengadilan, mempunyai milik, mengadakan kontrak, dll. Seperti subyek hukum biasa (manusia perorangan), perusahaan pun harus mentaati perturan hukum dan memenuhi hukumannya, bila terjadi pelanggaran. “Suatu korporasi adalah suatu makhluk buatan, tidak terlihat, tidak terwujud, dan hanya berada di mata hukum. Karena semata – mata ciptaan hukum, ia hanya memiliki ciri-ciri yang oleh akta pendiriannya diberikan kepada…” (Hakim Agung, Marshal,1819).
Ciri-ciri yang ditentukan dalam akte pendirian korporasi bisa mengakibatkan bahwa korporasi itu berperan penting dan mempunyai dampak besar atas dunia di sekelilingnya. Supaya mempunyai tanggung jawab moral, perusahaan perlu berstatus moral atau dengan kata lain
perusahaan merupakan pelaku moral. Pelaku moral (moral agent) bisa melakukan perbuatan yang kita beri kualifikasi etis atau tidak etis. Salah satu syarat penting adalah miliki kebebasan atau kesanggupan mengambil keputusan bebas.
Apakah pimpinan perusahaan atau orang-orang pembentuk perusahaan merupakan pelaku moral. Mereka masing-masing miliki status moral. Yang dipersoalkan adalah apakah perusahaan sendiri merupakan pelaku moral, terlepas dari orang yang termasuk dalam perusahaan ini. Ada argument pro dan kontra. Disatu pihak harus diakui bahwa hanya individu atau manusia perorangan yang mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan, dan akibatnya hanya individu yang dapat memikul tanggung jawab. Tetapi di lain pihak suli juga untuk menerima pandangan bahwa perusahaan hanyalah semacam benda mati yang dikemudikan oleh para manager.
Perusahaan yang mepunyai sejarah tertentu yang sering dilukiskan pada kesempatan yubileum 100 tahun berdirinya atau sebagainya., perusahaan bisa tumbuh , perusahaan bisa menjalankan pengaruh atas politik local, kita sering mendengar ada corporate culture yang tertentu, dan sebagainya. Ciri-ciri tersebut tidak mungkin ditemukan pada benda mati.
Menurut Peter Frence 1979, “corporate can be full-fledge moral person and have whatever previleges, rights and duties as are. In the normal course of affairs, accorded to moral persons”. Pernyataan ini jelas membela status moral perusahaan. Ada keputusan yang diambil oleh korporasi yang hanya bisa dihubungkan dengan korporasi itu sendiri dan tidak dengan beberapa orang yang bekerja untuk korporasi tersebut.
2. Pandangan Milton Friedman tentang tanggung jawab social perusahaan
Yang dimaksud disini adalah tanggung jawab moral perusahaan terhadap masyarakat. Tanggung jawab moral perusahaan bisa diarahkan kepada banyak hal : kepada diri sendiri, kepada para karyawan, kepada perusahaan lain, dsb. Namun yang paling disoroti adalah tanggung jawab moral terhadap masyarakat dalam kegiatan perusahaan tsb.
Tanggung jawab perusahaan adalah meningkatkan keuntungan menjadi sebanyak mungkin. Tanggung jawab ini diletakkan dalam tangan manajer. Pelaksanaanya tentu harus sesuai dengan aturan-aturan main yang berlaku di masyarakat, baik dari segi hukum, maupun dari segi kebiasaan etis.
Menurut Friedman maksud dari perusahaan adalah perusahaan publik dimana kepemilikan terpisah dari manajemen. Para manajer hanya menjalakan tugas yang dipercayakan kepada mereka oleh para pemegang saham. Sehingga tanggung jawab social boleh dijalankan oleh para manajer secara pribadi, seperti juga oleh orang lain, akan tetapi sebagai manajer mereka mereka mewakili pemegang saham dan tanggung jawab mereka adalah mengutamakan kepentingan mereka, yakni memperoleh keuntungan sebanyak mungkin.
Friedman menyimpulkan bahwa doktrin tanggung jawab social dari bisnis merusak system ekomoni pasar bebas. Terdapat satu dan hanya satu tanggung jawab social untuk bisnis, yakni memanfaatkan sumber dayanya dan melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang bertujuan meningkatkan keuntungan, selama masih dalam batas aturan main, artinya melibatkan diri dalam kompetisi yang terbuka dan bebas tanpa penipuan atau kecurangan.
3. Tanggung jawab ekonomis dan tangung jawab sosial
Masalah tanggung jawab sosial perusahaan dapat menjadi lebih jelas, jika kita membedakan dari tanggung jawab lain. Bisnis selalu mempunya dua tanggung jawab : tanggung jawab ekonomis dan tanggung jawab social.
Jika Milton Friedman menyebutkan peningkatan keuntungan perusahaan sebagai tanggung jawab sosialnya, sebenarnya hal ini justru membicarakan tanggung jawab ekonomi saja, bukan tanggung jawab social. Kinerja setiap perusahaan menyumbangkan kepada kinereja ekonomi nasioal sebuah Negara.
Tanggung jawab social perusahaan adalah tanggung jawab terhadap masyarakat di luar tanggung jawab ekonomis. Secara positif perusahaan bisa melakukan kegiatan yang tidak membawa keuntungan ekonomis dan semata-mata dilangsungkan demi kesejahteraan masyarakat atau salah satu kelompok di dalamnya. Secara negative perusahaan bisa menahan diri untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang sebenarnya menguntungkan dari segi bisnis, tetapi akan merugikan masyarakat atau sebagian masyarakat.
Dalam mengambil keputusan, perusahaan tentu tidak boleh menutup mata terhadap akibat-akibat sosialnya., tetapi jika sudah diusahakan perbaikan ekononomis dan tidak berhasil mereka tidak wajib menerima kerugian ekonomis itu demi suatu tujuan diluar bisnis.
4. Kinerja social perusahaan
Ada beberapa alasan mengapa bisnis menyalurkan sebagian labanya kepada karya amal melalui yayasan independent. Alasan pertama berkaitan dengan perusahaan-perusahaan itu berstatus public. Rapat umum pemegang saham dapat menyetujui bahwa sebagian laba tahunan disisihkan untuk karya amal sebuah yayasan khusus. Disamping alasan financial seperti pajak, alasan lain lagi adalah bahwa pemimpin perusahaan tidak bisa ikut campur dalam urusan suata yayasan independent, dan dengan demikian bantuan mereka lebuh tulus, bukan demi kepentingan perusahaan saja.
Upaya kinerja sosial perusahaan sebaiknya tidak dikategorikan sebagai pelaksanaa tanggung jawab sosial perusahaan. Walaupun secara langsung tidak dikejar keuntungan, namun usaha-usaha kinerja social perusahaan ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab ekonomis perusahaan.
Konsepsi kinerja sosial perusahaan ini memang tidak asing terhadap tanggung jawab ekonomis perusahaan, tetapi konsepsi ini sangat cocok juga dengan paham stakeholders management.

Menurut Zimmerer, ada beberapa macam pertanggungjawaban perusahaan, yaitu:
1.      Tanggung jawab terhadap lingkungan. Perusahaan harus ramah lingkungan, artinya perusahaan harus memerhatikan, melestarikan, dan menjaga lingkungan, misalnya tidak membuang limbah yang mencemari lingkungan, berusaha mendaur ulang limbah yang merusak lingkungan, dan menjalin komunikasi dengan kelompok masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya.
2.      Tanggung jawab terhadap karyawan. Tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan dapat diakukan dengan cara:
a.       Mendengarkan dan menghormati pendapat karyawan
b.      Meminta input kepada karyawan
c.       Memberikan umpan balik positif maupun negative
d.      Selalu menekankan tentang kepercayaan kepada karyawan
e.       Membiarkan karyawan mengetahui apa yang sebenarnya mereka harapkan
f.       Memberikan imbalan kepada karyawan yang bekerja dengan baik
g.      Memberi kepercayaan kepada karyawan
Prinsip-prinsip Etika Bisnis
Prinsip otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadaran sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.
Prinsip Kejujuran, antara lain:
Ø  Kejujuran dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak.
Ø  Kejujuran dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu dan harga sebanding.
Ø  Kejujuran dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.
Prinsip Keadilan menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai dengan kriteria yang rasional, objektif dan dapat dipertanggung jawabkan.
Prinsip Saling Menguntungkan menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak & menuntut agar persaingan bisnis haruslah melahirkan win solution.
Prinsip Integritas Moral dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan agar menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baiknya atau nama baik perusahaan.

Realisasi Moral bisnis
Norma etis berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. ‘’Kalau di Amerika, bertindaklah sebagaimana dilakukan orang Amerika’’( kubu komunitarian ). Artinya perusahaan harus mengikuti norma dan aturan moral yang berlaku di negara itu.
Norma sendirilah yang paling benar dan tepat. “Bertindaklah di mana saja sesuai dengan prinsip yang dianut dan berlaku di negaramu sendiri”. Pandangan ini mewakili kubu moralisme universal, bahwa pada dasarnya norma dan nilai moral berlaku universal (prinsip yang dianut sendiri juga berlaku di negara lain).
Tidak ada norma moral yang perlu diikuti sama sekali (De George menyebutnya sebagai dengan”immoralis naif”). Pandangan ini sama sekali tidak benar.

Pendekatan-Pendekatan stakeholders
Pendekatan stakeholder ialah cara mengamati dan menjelaskan secara analitis bagaimana berbagai unsur akan dipengaruhi dan juga mempengaruhi keputusan dan tindakan bisnis, memetakan hubungan-hubungan yang terjalin.
Pendekatan Stakeholder dalam kegiatan bisnis pada umumnya untuk memperlihatkan siapa saja yang mempunyai kepentingan, terkait, dan terlibat dalam bisnis itu.

Kelompok stakeholders:
Ø  Kelompok primer yaitu pemilik modal atau saham, kreditor, karyawan, pemasok, konsumen, penyalur dan pesaing atau rekanan. Perusahaan harus menjalin relasi bisnis yang baik dan etis dengan kelompok ini.
Ø  Kelompok sekunder yaitu pemerintah setempat, pemerintah asing, kelompok sosial, media massa, kelompok pendukung, masyarakat.

(ETIKA BISNIS ~ Sarina H. Manaroinsong #16210388 @4EA21)


2.2 ETIKA INTEGRITAS

Etika Integritas secara total yang berikut adalah disampaikan oleh Stephen R. Covey

Dalam bukunya yang  berjudul The Seven Habit of Effective People Stephen R. Covey membahas hal-hal yang kritis tentang integritas dalam bisnis dan tindakan.  Menurut Covey, “We can grow our own goodness in our organizations if our integrity is a natural consequence of our humility and courage.” 
Dapatkah kita pikir adanya perbedaan dalam bisnis apabila seorang pengambil keputusan bertindak dalam Integritas yang terbaik ?

 “Ethical Movement” pada  beberapa tahun yang lalu telah menyebabkan banyak organisasi salah jalan. Banyak pemimpin organisasi telah bingung  antara etika dengan isu hukum atau saat mereka mengambil tindakan  dengan pendekatan terpisah dari pendekatan integritas dan alamiah dalam etika.
Dengan pendekatan alami, seorang eksekutif akan melihat segala sesuatunya dari kacamata Etika, secara konsekuen, secara menyeluruh, tidak dalam kerangka yang berbeda-beda.
Dalam pendekatan alami juga semua dilakukan secara tulus (sincere) , yang berasal dari bahasa latin Sin dan Cere“ yang berarti tanpa polesan, tanpa kosmetik, tanpa sesuatu yang menutupi muka, tanpa mengandalkan personal, relasi dan penampilan, terlihat apa adanya. Etika personal adalah terlihat apa adanya.
Untuk eksekutif yang telah kehilangan integritas, penampilan adalah mereka. Mereka hidup dan bekerja dalam dunia penampilan yang bukan diri mereka sendiri. Mereka selalu khawatir terhadap apa yang orang lain lihat bukan pada siapa mereka. Mereka adalah aktor yang selalu memoles penampilan mereka dan memelihara citra mereka.
Moto seorang eksekutif seharusnya “to be rather than to seem” , Menjadi seseorang yang utuh daripada dalam kepura-puraan. Sayangnya kepura-puraan telah menggantikan integritas aslinya. Pura-pura adalah lawan dari kenyataannya. Secara menyeluruh dan terpadu, bukan bagian dari kelompok.
Kita tidak akan memiliki anak integritas apabila ada kekurangan dalam ibu kerendahan hati, atau memiliki kerendahan hati tapi kurang keberanian dalam bertindak dalam keyakinan. Malah kita akan berada dalam kemunafikan.

Menurut Stephen R. Covey, Integritas hanya dapat dilahirkan dari 2 karakter : kerendahan hati dan keteguhan hati.

Generasi pertama adalah kerendahan hati dan keteguhan hati.
Kerendahan hati berarti merealisasikan prinsip-prinsip tak berbatas waktu dan hukum alam dengan mengesampingkan nilai sosial, nilai dan hasrat pribadi.
Sedangkan keteguhan hati merupakan puncak kualitas dari nilai yang telah teruji dimana setiap nilai akan diuji. Suka atau tidak kita akan menyelaraskan nilai-nilai kita, hidup kita dan kebiasaan hidup kita pada prinsip-prinsip tersebut. Rendah hati berbeda dengan keteguhan hati,  saat diri kita berenang dalam arus utama yang bertentangan dengan nilai-nilai alami maka disinilah keteguhan hati bekerja.

Generasi kedua : Integritas. Saat seseorang sudah memiliki kerendahan hati dan keteguhan hati maka akan melahirkan Integritas. Integritas berarti kita memadukan prinsip dengan sekitarnya dan dimana rasa aman diri berasal dari dalam bukan dari luar. Hal ini juga berarti  integritas merupak level tertinggi dari kejujuran dan kredibiltas dalam semua hubungan (relationship).
Kita tidak memiliki integritas apabila tidak memiliki kerendahan hati, atau memiliki kerendahan hati tapi tidak memilki keteguhan hati dalam keyakinan. Malah kita akan menjadi seorang pengekor, munafik (hipokrit) dan bermasalah dalam etis kepribadian. Dengan kata lain rasa aman diri kita berasal dari luar dimana derajatnya tergantung sejauh mana tingkat ketergantungan kita terhadap luar.

Generasi ketiga : buah integritas. Generasi ketiga adalah banyak buah atau anak-anak integritas.
·         Anak pertama dari integritas adalah wisdom (bijaksana). Kita akan menilai segala sesuatu secara lebih baik.  Kita tidak akan dalam kondisi overactive, tidak akan dikhotomi, tidak akan menjadi sumber bencana, tidak akan berlaku ekstrim. Kita akan menjalani hidup secara seimbang dengan kebijaksanaan (wisdom), akan melihat segala sesuatu secara perspektif yang benar dan seimbang.  Tidak akan bereaksi berlebihan ataupun kurang bereaksi.

·         Anak kedua dari integritas adalah Abundance Mentality (mentalitas kelimpahan). Apabila timbul dari dalam maka kita tidak akan terus menerus membandingkan dengan yang lain. Segala sesuatu dilihat secara melimpah dan sangat luas.
·         Anak ketiga dari integritas adalah synergy. Kamu akan datang dengan idea yang lebih baik, pemikiran transformasi dan semangat win-win dalam kemitraan saat ada merasakan ada ancaman atau bagaimana kita membandingkan dengan yang lain. Kita akan menyampaikan ide-ide dengan berani dan penuh pertimbangan untuk menemukan alternatif yang terbaik, tidak secara sederhana menyilakan atau memenuhi tuntutan  yang lain.
·         Buah manis yang lain dari pribadi dan organisasi yang berintegritas adalah relationships of thrust (hubungan yang saling percaya) dengan semua pemegang kepentingan (stakeholders).  Secara jelas, kepercayaan akan meningkat saat kita membangun kredibilitas tinggi berdasarkan pada kepercayaan. Secara sederhana kita tidak akan memilki hubungan yang utuh tanpa integritas pribadi yang asli apa adanya. Pada keuntungan pada line bisnis termasuk persaingan , fleksibilitas, kemampuan respon, kualitas, nilai tambah ekonimis dan pelayanan pelanggan, tergantung pada hubungan kepercayaan.

2.3 Penerapan Psikologi ke dalam Etika Bisnis (Psycoethics)
Anita Roddick, adalah wanita pengusaha asal Inggris, pendiri perusahaan kosmetik The Body Shop yang memproduksi dan menjual produk kecantikan dari bahan-bahan alami dan ramah lingkungan.
Lahir tahun 1942 di Littlehampton, Sussex, England dari keluarga imigran Yahudi-Italia, nama kecilnya adalah Anita Lucia Perilli. Ibunya mengelola sebuah kafe, dan keempat anaknya diminta membantu sepulangnya mereka dari sekolah dan pada akhir pekan.
Masa sekolah dilewatkannya di St Joseph’s Convent, dan diteruskannya di Maude Allen Secondary Modern. Selanjutnya Anita masuk sekolah guru di Bath College of Higher Education (sekarang Universitas Bath Spa). Ia senang pergi berkelana keliling dunia ke Tahiti, Australia, dan Afrika Selatan, dan akhirnya diperkenalkan oleh ibunya dengan seorang penyair Skotlandia bernama Gordon Roddick. Anita dan Gordon menikah pada tahun 1970, ketika mereka sudah memiliki seorang putri dan Anita sedang hamil putri kedua. Mereka berdua membuka rumah makan, dan mengembangkan bisnis dengan membuka sebuah hotel.
Sewaktu suaminya berkelana di Amerika, Anita Roddick membuka toko The Body Shop dengan uang hasil pinjaman. Toko pertama didirikannya di Brighton pada tahun 1976, dan belum banyak mempunyai barang. Ketika baru dibuka, tokonya hanya menjual sejumlah krim dan produk perawatan rambut.
Pada tahun 1990, Roddick membantu pendirian majalah The Big Issue yang keuntungan penjualannya digunakan untuk membantu tunawisma. Selain itu, Roddick mendirikan yayasan amal Children On The Edge untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung di Eropa Timur dan Asia. Roddick juga banyak membantu sejumlah organisasi amal termasuk Greenpeace. Pada bulan Februari 2007, Roddick mengumumkan dirinya menderita Hepatitis C menahun, dan mempromosikan yayasan Hepatitis C Trust, dan ikut serta melakukan kampanye penanggulangan Hepatitis.

Bennett "Ben" Cohen (lahir 18 Maret 1951) adalah seorang Amerika pengusaha, aktivis, dan dermawan. Dia adalah co-pendiri perusahaan es krim Ben & Jerry .
Lahir di Brooklyn, New York dan dibesarkan di kota Merrick di Long Island oleh orang tuanya Frances dan Irving, Cohen pertama kali bertemu dan berteman dengan mitra bisnis masa depannya, Jerry Greenfield , dalam kelas olahraga SMA kelas tujuh pada tahun 1963. Dalam tahun berikutnya, Cohen menemukan pekerjaan sebagai tukang es krim sebelum kuliah di Colgate University
Sekitar 1977, Ben telah memutuskan untuk masuk ke bisnis makanan dengan teman lamanya Jerry Greenfield , dan pada bulan Mei tahun depan, dua orang membuka Ben & Jerry Homemade Ice Cream Parlor di Burlington, Vermont. Mereka awalnya berniat untuk memulai bisnis bagel, tetapi menemukan biaya peralatan mahal dan beralih ke es krim sebaliknya, memilih Burlington sebagai lokasi karena itu adalah kota perguruan terkemuka yang tidak memiliki sebuah toko es krim.
Ben & Jerry langsung menjadi hit di Burlington, gambar orang banyak dengan es krim yang dicampur krim lokal segar dan susu dengan rasa baru liar dan "sebagian besar dari bahan-bahan apa pun yang mereka merasa baik."
Ben & Jerry secara bertahap berkembang menjadi bisnis nasional dan salah satu yang usaha terbesar perusahaan es krim di Amerika Serikat. Selanjutnya Cohen menggunakan keuntungan dari es krim tersebut untuk aktif secara sosial, umumnya melalui Ben & Jerry Yayasan. Yayasan menerima 7,5% dari semua keuntungan Ben & Jerry
Leona Helmsley
              Ambisius dalam bekerja, termasuk mengalahkan kepentingan keluarga demi karier & bisnis Perjalanan karier dimulai dari bawah sampai bisa memiliki usaha sendiri
              Menyusul tuduhan oleh kontraktor yang belum dibayar yang kerja yang dilakukan di rumahnya telah dibebankan pada perusahaan, dia diselidiki dan dihukum karena penggelapan pajak penghasilan dan kejahatan lainnya pada tahun 1989. Meskipun memiliki awalnya menerima hukuman dari 16 tahun, Helmsley diminta untuk melayani hanya 19 bulan penjara dan dua bulan di bawah tahanan rumah.
Michael Milken
              Didakwa atas pemerasan dan penipuan sekuritas pada tahun 1989 dalam insider trading investigasi. Sebagai hasil dari tawar-menawar pembelaan , ia mengaku bersalah atas surat berharga dan pelanggaran pelaporan tetapi tidak untuk pemerasan atau insider trading. Milken dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara, didenda $ 600 juta, dan secara permanen dilarang dari industri sekuritas oleh Securities and Exchange Commission . Hukumannya kemudian dikurangi menjadi dua tahun untuk bekerja sama dengan kesaksian terhadap mantan rekan-rekannya dan untuk perilaku yang baik.
              Sejak dibebaskan dari penjara, Milken telah mendanai penelitian medis .  Dia adalah co-pendiri Milken Family Foundation, ketua Milken Institute , dan pendiri filantropi medis mendanai penelitian melanoma , kanker dan penyakit yang mengancam jiwa lainnya.


VENTURING BEYOND COMPLIANCE
Menurut identifikasi Lynn Sharp Paine, pendekatan yang dilakukan untuk mendukung business ethics dalam perusahaan/korporasi ada 2 hal :
1.      Legal Compliance
2.      Integritas Organisasi
Strategi tsb ditempuh dengan beberapa cara :
Ø  Ethos kerja
Ø  Objektiv
Ø  Leadership
Ø  Metods
Ø  Asumsi behavior
Keterbatasan pendekatan Compliance based
Ø  Tidak responsif terhadap permasalahan keseharian
Ø  Sulit memberikan solusi pada area ‘abu-abu’
Ø  Tidak memberikan kesempatan pada personal empowerment
Ø  Tidak bisa melihat detail permasalahan pada industri
Tantangan pendekatan Integrity based
Ø  Pembuatan framework ethic
Ø  Alignment antara praktis & prinsip
Ø  Harus bisa mengatasi sinisme publik
Ø  Memecahkan konflik ethics
Navigasi dengan kompas Ethic
Ø  Purpose : tujuan organisasi
Ø  People : Siapa subyek & obyek? Apa wewenangnya?
Ø  Power : Otoritas Organisasi & kemampuan bertindak
Ø  Prinsip : Kewajiban organisasi





BAB III
STUDI KASUS DAN KESIMPULAN



3.1. Studi Kasus

Dalam studi kasus kali ini, kami mengambil contoh dalam Etika Perbankan

Seorang pejabat bank mengadakan manipulasi secara licik sehingga sulit dibuktikan bahwa bank dirugikan. Pejabat tersebut begitu licik, sehingga tidak mudah dibuktikan tentang adanya manipulasi yang menguntungkan pejabat. Pejabat Bank, bermaksud mengantongi uang manipulasi beberapa ratus juta rupiah dan mendiamkannya. Sewaktu pejabat bank merenungkan perbuatannya, ia sadar bahwa bank yang dirugikan, seandainya uang tidak dikembalikan. Seandainya beberapa pejabat bank melakukan hal yang sama, maka kemungkinan besar bank akan jatuh pailit. Uang yang tertanam di bank itu bukan hanya milik beberapa gelintir pemegng saham, melainkan juga ratusan orang menyimpan uangnya di bank tersebut.
                 Menurut etika perbankan, setiap uang milik bank tidak boleh diambil atau ditarik oleh pejabat bank untuk dimiliki secara pribadi. Hal ini bertentangan dengan etika perbankan. Karena pejabat bank tersebut sadar akan etika perbankan yang melarang mengambil uang bank untuk kepentingan pribadinya, maka pejabat bank tersebut wajib untuk mengembalikan uang bank. Kesadaran terakhir ini kita sebut kesadaran moral. Keputusan ini secara sadar diambil oleh pejabat, karena ia merasa bahwa itu adalah tanggung jawabnya bukan saja sebagai karyawan bank, melainkan juga sebagai manusia yang memiliki moral atau kesusilaan berlandaskan ajaran Tuhan Yang Maha Esa yang tercantum dalam sila pertama Pancasila. Ajaran Agama melarang mengambil uang atau barang milik orang lain untuk kepentingan diri sendiri.

3.2. Kesimpulan

  1. Dalam bisnis dengan para pelakunya yang merupakan orang biasa, maka diperlukan prinsip-prinsip etika bisnis dan moral yang melandasi setiap pelaku bisnis tersebut. Adanya etika bisnis membuktikan bahwa bagi bisnis justru tidak ada pengecualian serta bukan pula bentuk permusuhan yang lama terhadap bisnis dan kegiatan ekonomis.
  2. Etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan nilai – nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan dan memecahkan persoalan. Kelompok pemilik kepentingan yang memengaruhi keputusan bisnis adalah Para pengusaha dan mitra usaha, Petani dan perusahaan pemasok bahan baku, Organisasi pekerja, pemerintah, bank, investor, masyarakat umum serta pelanggan
  3. Etika bisnis bisa membantu untuk mengambil keputusan moral yang dapat dipertanggungjawabkan, tapi tidak berniat mengganti tempat dari para pelaku moral dalam perusahaan.
  4. Setiap perusahaan harus memiliki tanggung jawab terhadap semua pihak yang bersangkutan dengan perusahaannya seperti tanggung jawabnya terhadap lingkungan, karyawan, investor, pelanggan, masyarakat. Karena dengan beretika bisnis yang baik selain dapat menjamin kepercayaan dan loyalitas dari semua unsur yang berpengaruh pada perusahaan, juga sangat menentukan maju / mundurnya suatu perusahaan.
  5. Integritas menjadi kunci kepemimpinan bagaimana membuat keputusan yang benar pada waktu yang benar dalam bersikap dan berperilaku karena disitulah terletak pondasi dalam membangun kepercayaan dan hubungan antara individu dalam organisasi. Integritas seseorang dapat menuntun mana yang jujur dan yang tidak jujur yang tidak mudah di kacaukan hal-hal yang bersifat formal tapi dapat menyesatkan.
f.       Banyak organisasi yang menerapkan desain budaya organisasi yang bukan didasarkan pada budaya etis tapi mengadopsi penalaran moral pada tahap rendah dengan hanya menitikberatkan perhatian pada perilaku, berujung pada pengambilan keputusan dan perilaku yang tidak etis yang dilakukan oleh karyawan, Menerapkan integritas moral di dalam konteks organisasi dengan demikian perlu memikirkan bagaimana membentuk perilaku anggota organisasi agar sejalan dengan perilaku yang diharapkan oleh organisasi dan sekaligus membentuk kesadaran moral yang berorientasi kepada nilai moral universal.


Demikianlah materi tentang Makalah Etika Bisnis yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Tenis Meja yang telah kami posting sebelumnya. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.


EmoticonEmoticon