Monday, September 18, 2017

Makalah Fonologi

Makalah Fonologi - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :




Kata pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kita, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah perbedaan fonologi bahasa Indonesia dan bahasa inggris.

      Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah ini. Karna kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
 
       Akhir kata saya mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat bagi kita semua.




Makassar, 09 oktober 2016
Sitti khadijayanti saputri
  


Daftar isi

Kata pengantar  ………………………………………………………………………
Daftar isi   ……………………………………………………………………………….
Bab 1  pendahuluan   ………………………………………………………………
A.    Latar belakang ………………………………………………………………..
B.    Rumusan masalah ……………………………………………………………
C.     Tujuan ……………………………………………………………………............
Bab 2  Pembahasan …………………………………………………………………..
A.    Pengertian fonologi ………………………………………………...............
B.    Ilmu-ilmu yang mencakup fonologi bahasa Indonesia………..
C.     Ilmu-ilmu yang mencakup fonologi bahasa inggris…………….
D.    Perbedaan fonologi bahasa Indonesia dan bahasa inggris…..
Kesimpulan ………………………………………………………………………………
Daftar pustaka…………………………………………………………………………..






Bab 1
Pendahuluan
   A.    Latar belakang
     Sebelum diuraikan mengenai fonologi, terlebih dahulu dibahas mengenai struktur. Struktur adalah penyusunan atau penggabungan unsur-unsur bahasa menjadi suatu bahasa yang berpola.
     Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang berarti ‘bunyi‘ dan logi yang berarti ‘ilmu’. Sebagai sebuah ilmu, fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi–bunyi bahasa menurut fungsinya. Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian, fonologi adalah sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.
     Sebelum diuraikan mengenai fonologi, terlebih dahulu dibahas mengenai struktur. Struktur adalah penyusunan atau penggabungan unsur-unsur bahasa menjadi suatu bahasa yang berpola.
     Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang berarti ‘bunyi‘ dan logi yang berarti ‘ilmu’. Sebagai sebuah ilmu, fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi–bunyi bahasa menurut fungsinya. Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian, fonologi adalah sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.
B.       Rumusan masalah
1.      Pengertian fonologi
2.      Perbedaan fonologi bahasa Indonesia dan bahasa inggris
C.      Tujuan
·        Agar lebih mengerti tatanan cara berbahasa yang baik dan benar
·        Dan mengerti perbedaan bahasa Indonesia dan bahasa inggris dalam pengucapannya
Bab 1
pengertian fonologi
A.      Latar belakang
   Sebelum diuraikan mengenai fonologi, terlebih dahulu dibahas mengenai struktur. Struktur adalah penyusunan atau penggabungan unsur-unsur bahasa menjadi suatu bahasa yang berpola.
      Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang berarti ‘bunyi‘ dan logi yang berarti ‘ilmu’. Sebagai sebuah ilmu, fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia.

Menurut  para ahli

Ø  Keraf  (1984)  fonologi ialah bagian dari tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa.

Ø  Daniel jones sarjana fonologi inggris, fonologi ialah sistem bunyi sebuah bahasa.

Ø  Fromkin dan rodman  fonologi adalah bidang linguistic yang mempelajari menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa.

Ø  Verhaar  fonologi merupakan bidang khusus dalam linguistic yang mengamati bunyi bunyi suatu bahasa tertentu.

B.      Fonologi bahasa Indonesia
Fonologi dalam tataran ilmu bahasa terdiri atas:
  • Fonetik
Fonetik yaitu ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap. Menurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), fonetik diartikan bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Chaer (2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu menjadi tiga jenis fonetik yaitu:
1.      Fonetik artikulatoris
Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Pembahasannya antara lain meliputi masalah alat-alat ucap yang digunakan dalam memproduksi dalam bahasa itu, mekanisme arus udara yang digunakan dalam memproduksi bunyi bahasa, bagaimana bunyi bahasa itu dibuat, mengenai klasifikasi bahasa yang dihasilkan serta apa kriteria yang digunakan, mengenai silabel, dan juga mengenai unsur-unsur atau ciri-ciri supresegmental, seperti tekanan, jeda, durasi dan nada.
1.      Fonetik akustik
Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Objeknya adalah bunyi bahasa ketika merambat di udara, antara lain membicarakan: gelombang bunyi beserta frekuensi dan kecepatannya ketika merambat di udara, spektrum, tekanan, dan intensitas bunyi. Juga mengenai skala desibel, resonansi, akustik produksi bunyi, serta pengukuran akustik itu. Kajian fonetik akustik lebih mengarah kepada kajian fisika daripada kajian linguistik, meskipun linguistik memiliki kepentingan didalamnya.
1.      Fonetik auditoris
      Fonetik auditoris mempelajari bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu diterima oleh telinga, sehingga bunyi-bunyi itu didengar dan dapat dipahami. Dalam hal ini tentunya pambahasan mengenai struktur dan fungsi alat dengar, yang disebut telinga itu bekerja. Bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu, sehingga bisa dipahami. Oleh karena itu, kajian fonetik auditoris lebih berkenaan dengan ilmu kedokteran, termasuk kajian neurologi.
      Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika yang dilakukan setelah bunyi-bunyi itu dihasilkan dan sedang merambat di udara. Kajian mengenai frekuensi dan kecepatan gelombang bunyi adalah kajian bidang fisika bukan bidang linguistik. Fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran daripada linguistik. Kajian mengenai struktur dan fungsi telinga jelas merupakan bidang kedokteran.
  • Fonemik
      Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Terkait dengan pengertian tersebut, fonemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) diartikan: (1) Bidang linguistik tentang sistem fonem. (2) Sistem fonem suatu bahasa. (3) Prosedur untuk menentukan fonem suatu bahasa.
     Jika dalam fonetik mempelajari berbagai macam bunyi yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan, maka dalam fonemik mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi untuk membedakan arti.
    Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Misalnya bunyi [l], [a], [b] dan [u] dan [r], [a], [b] dan [u]. Jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi [r]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.
·        ALAT UCAP
Dalam bahasan struktur fonologis cara pertamalah yang paling mudah, praktis, dapat diberikan bukti-bukti datanya. Hampir semua gerakan alat-alat ucap itu dapat kita periksa, paru-paru, sekat rongga dada, tenggorokan, lidah dan bibir.
Alat ucap dibagi menjadi dua macam:
  1. Artikulator; adalah alat-alat yang dapat digerakkan/ digeser ketika bunyi diucapkan
  2. Titik Artikulasi; adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang dapat disentuh atau didekati
Untuk mengetahui alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bahasa, perhatikan bagan berikut.

Fonem-fonem yang dihasilkan karena gerakan organ-organ bicara terhadap aliran udara dari paru-paru sewaktu seseorang mengucapkannya. Jika bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan, maka bunyi atau fonem yang dihasilkan adalah vokal. Selanjutnya jika bunyi ujaran ketika udara keluar dari paru-paru mendapat halangan, maka terjadilah bunyi konsonan.
vokal
Nama-nama vokal yang ada dalam bahasa Indonesia adalah:
  1. /i/ vokal depan, tinggi, tak bundar
  2. /e/ vokal depan, sedang, atas, tak bundar
  3. /a/ vokal depan, rendah, tak bundar
  4. /∂/ vokal tengah, sedang, tak bundar
  5. /u/ vokal belakang, atas, bundar
  6. /o/ vokal belakang, atas, bundar
Fonem vokal yang dihasilkan tergantung dari hal berikut.
  1. Tinggi rendahnya posisi lidah
Berdasarkan tinggi rendahnya posisi lidah bunyi-bunyi vokal dapat dibedakan atas:
  • vokal tinggi atas, seperti bunyi [i] dan [u]
  • vokal tinggi bawah, seperti bunyi [I] dan [U]
  • vokal sedang atas, seperti bunyi [e] dan [o]
  • vokal sedang bawah, seperti bunyi [ɛ] dan [ﬤ]
  • vokal sedang tengah, seperti bunyi [∂]
  • vokal rendah, seperti bunyi [a]
  1. Maju mundurnya lidah
Berdasarkan maju mundurnya lidah bunyi vokal dapat dibedakan atas:
  • vokal depan, seperti bunyi [i], [e], dan [a]
  • vokal tengah, seperti bunyi [∂]
  • vokal belakang, seperti bunyi [u] dan [o]
Berkenaan dengan penentuan bunyi vokal berdasarkan posisi lidah ada konsep yang disebut vokal kardinal (Jones 1958:18), yang berguna untuk membandingkan vokal-vokal suatu bahasa di antara bahasa-bahasa lain. Konsep vokal kardinal ini menjelaskan adanya posisi lidah tertinggi, terendah, dan terdepan dalam memproduksi bunyi vokal itu. Bunyi vokal [i] diucapkan dengan meninggikan lidah depan setinggi mungkin tanpa menyebabkan terjadinya konsonan geseran. Vokal [a] diucapkan dengan merendahkan pangkal lidah sebawah mungkin. Vokal [u] diucapkan dengan menaikkan pangkal lidah setinggi mungkin.
  1. Struktur
Struktur pada bunyi vokal adalah jarak antara lidah dengan langit-langit keras (palatum). Maka, berdasarkan strikturnya bunyi vokal dapat dibedakan menjadi:
  • Vokal tertutup (close vowels) yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit-langit. Vokal tertutup antara lain [i], [u].
  • Vokal semi tertutup (half-close) yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga di bawah tertutup atau dua per tiga di atas vokal terbuka. Vokal semi tertutup antara lain [e], [∂], dan [o].
  • Vokal semi terbuka (half-open) yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga di atas terbuka atau dua per tiga di bawah vokal tertutup. Vokal semi terbuka antara lain [ɛ] dan [ﬤ].
  • Vokal terbuka (open vowels) yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah dalam posisi serendah mungkin. Vokal terbuka adalah [a].
  1. Bentuk mulut
Berdasarkan bentuk mulut sewaktu bunyi vokal itu diproduksi dapat dibedakan:
  • Vokal bundar, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk mulut membundar. Dalam hal ini ada yang bundar terbuka seperti bunyi [ﬤ], dan yang bundar tertutup seperti bunyi [o] dan bunyi [u].
  • Vokal tak bundar, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk mulut tidak membundar, melainkan terbentang melebar, seperti bunyi [i], bunyi [e], dan bunyi [ɛ].
  • Vokal netral, yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk mulut tidak bundar dan tidak melebar, seperti bunyi [a]
Berdasarkan keempat kriteria diatas, maka nama-nama vokal dapat disebutkan sebagai berikut:
[i] adalah vokal depan, tinggi (atas), tak bundar, tertutup.
[I] adalah vokal depan, tinggi (bawah), tak bundar, tertutup.
[u] adalah vokal belakang, tinggi (atas), bundar, tertutup.
[U] adalah vokal belakang, tinggi (bawah), bundar, tertutup.
[e] adalah vokal depan, sedang (atas), tak bundar, semi tertutup.
[ɛ] adalah vokal depan, sedang (bawah), tak bundar, semi terbuka.
[∂] adalah vokal tengah, sedang, tak bundar, semi tertutup.
[o] adalah vokal belakang, sedang (atas), bundar, semi tertutup.
[ﬤ] adalah vokal belakang, sedang (bawah), bundar, semi terbuka.
[a] adalah vokal belakang, rendah, netral, terbuka.
 Diftong
Fonem diftong yang ada dalam bahasa Indonesia adalah fonem diftong /ay/, diftong /aw/, dan diftong /oy/. Ketiganya dapat dibuktikan dengan pasangan minimal.
/ay/ gulai x gula (gulay x gula)
/aw/ pulau x pula (pulaw x pula)
/oi/ sekoi x seka (s∂koy x seka)
Adapun klasifikasi diftong adalah sebagai berikut:
  1. Diftong naik, terjadi jika vokal yang kedua diucapkan dengan posisi lidah menjadi lebih tinggi daripada yang pertama.
Contoh:
[ai]                   <gulai>
[au]                  <pulau>
[oi]                   <sekoi>
[∂i]                   <esei>
  1. Diftong turun, terjadi bila vokal kedua diucapkan dengan posisi lebih rendah daripada yang pertama. Dalam bahasa Jawa ada diftong turun contohnya:
[ua] pada kata <muarem> ‘sangat puas’
[uo] pada kata <luoro> ‘sangat sakit’
[uɛ] pada kata <uelek> ‘sangat jelek’
  1. Diftong memusat, terjadi bila vokal kedua diacu oleh sebuah atau lebih vokal yang lebih tinggi, dan juga diacu oleh sebuah atau lebih vokal yang lebih rendah. Dalam bahasa Inggris ada diftong [oα] seperti pada kata <more> dan kata <floor>. Ucapan kata <more> adalah [mo∂] dan ucapan kata <floor> adalah [flo∂].
  2. Fonem Konsonan
Nama-nama fonem konsonan bahasa Indonesia adalah
/b/ konsonan bilabial, hambat, bersuara
/p/ konsonan bilabial, hambat, tak bersuara
/m/ konsonan bilabial, nasal
/w/ konsonan bilabial, semi vokal
/f/ konsonan labiodentals, geseran, tak bersuara
/d/ konaonan apikoalveolar, hambat, bersuara
/t/ konsonan apikoaveolar, hambat, tak bersuara
/n/ konsonan apikoaveolar, nasal
/t/ konsonan apikoaveolar, sampingan
/r/ konsonan apikoaveolar, getar
/z/ konsonan laminoalveolar, geseran, bersuara
/s/ konsonan laminoalveolar, geseran, tak bersuara
/∫/ konsonan laminopalatal, geseran, bersuara
/ñ/ konsonan laminopalatal, nasal
/j/ konsonan laminopalatal, paduan, bersuara
/c/ konsonan laminopalatal, paduan, tak bersuara
/y/ konsonan laminopalatal, semivokal
/g/ konsonan dorsevelar, hambat, bersuara
/k/ konsonan dorsevelar, hambat, tak bersuara
/ŋ/ konsonan dorsevelar, nasal
/x/ konsonan dorsevelar, geseran, bersuara
/h/ konsonan laringal, geseran, bersuara
/?/ konsonan glotal, hambat
konsonan dapat digolongkan berdasarkan 4 kriteria yakni:
  1. Tempat artikulasi, yaitu tempat terjadinya bunyi konsonan, atau tempat bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif. Tempat artikulasi disebut juga titik artikulasi. Sebagai contoh bunyi [p] terjadi pada kedua belah bibir (bibir atas dan bibir bawah), sehingga tempat artikulasinya disebut bilabial. Contoh lain bunyi [d] artikulator aktifnya adalah ujung lidah (apeksi) dan artikulator pasifnya adalah gigi atas (dentum), sehingga tempat artikulasinya disebut apikondental.
  2. Cara artikulasi yaitu bagaimana tindakan atau perlakuan terhadap arus udara yang baru keluar dari glotis dalam menghasilkan bunyi konsonan itu. Misalnya, bunyi [p] dengan cara mula-mula arus udara dihambat pada kedua belah bibir, lalu tiba-tiba diletupkan dengan keras. Maka bunyi [p] itu disebut bunyi hambat atau bunyi letup. Contoh lain bunyi [h] dihasilkan dengan cara arus udara digeserkn di laring (tempat artikulasinya). Maka, bunyi [h] disebut bunyi geseran atau frikatif.
  3. Bergetar tidaknya pita suara, yaitu jika pita suara dalam proses pembunyian itu turut bergetar atau tidak. Bila pita suara itu turut bergetar maka disebut bunyi bersuara. Jika pita suara tidak turut bergetar, maka bunyi itu disebut bunyi tak bersuara. Bergetarnya pita suara adalah karena glotis (celah pita suara) terbuka sedikit, dan tidak bergetarnya pita suara karena glotis terbuka agak lebar.
  4. Striktur, yaitu hubungan posisi antara artikulator aktif dan artikulator pasif. Umpamanya dalam memproduksi bunyi [p] hubungan artikulator aktif dan artikulator pasif, mula-mula rapat lalu secar tiba-tiba dilepas. Dalam memproduksi bunyi [w] artikulator aktif dan artikulator pasif hubungannya renggang dan melebar.


C.    FONOLOGI BAHASA INGGRIS
         Phonology adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari tata     bunyi/kaidah bunyi dan cara menghasilkan. Phonology merupakan bagian penting dari suara atau bunyi di dalam pengucapan bahasa.
       Phonetics adalah hasil berupa suara atau bunyi yang di hasilkan oleh huruf yang kita ucapkan sebagai pembeda fungsi makna yangt kita maksud.
a)    Rules off phonology
-          Phonetic
-          Alat ucap
-          Proses fonasi
-          Klasifikasi bahasa
-          Klasifikasi vocal
-          Silabel
b)   Alat ucap

Laring : pipa tempat beradanya pita suara yang akan menuju paru-paruh
Paring : pipa diantara mulut yang bisa membuka dan menutup sesuai dengan kebutuhan pipa
Nassal : suara yang keluar dari hidung / hidung
Vocal track : smua rangkaian pembentuk suara mulai dari hidung sampai pipa yang ada di paru-paru
Phonetic : ilmu umum yang mempelajari karakteristik suara dibicarakan/disuarakan
Voiceless sound : suara yang terbentuk ketika vocal cords melebar kemudian udara dari tengorokan melewati diantaranya

Voice sound : suara yang terbentuk ketika vocal cords tertarik bersama kemudian udara dari tenggorokan berulang-ulang menekannya membuat efek getaran,

Tempat artikulasi ada 7 dalam B.inggris :

1.       Bilabials : menggunakan bibir contoh B , P
2.       Labiodentals : bibir bawah dan gigi contoh v, f
3.       Dental : menggunakan gigi , contoh : 0 seret tengah ( bath ) voiceless
4.       Alveolars : menggunakan lidah dan gusi, contoh : t,d,s,z
5.       Palatals : menggunakan langit-langit, contoh : “sh” pada shoot
6.       Velars : menggunakan lebih kebelakang / mundur dari langit-langit, contoh : k,g
7.       Glottals  menggunakan ruang dan tanpa menggunakan lidah ataupun bibir

Cara mengartikulasi ada 6 dalam B.inggris :

1.       Stop : stop airstream then letting it go abruptly. Example : ten ; voiceless alveoral stop
2.       Fricatives : combination of a brief stopping of the airstream with an obstructedrelease which causes some friction
3.       Nasals : the velum is lowered and the airstream is allowed to flow out through the nose to produce [m], [n]
4.       Liquids : formed by letting the airstream flow around the sides of the tongue as the tip of the tongue makes contact with the middle of the alveolar ridge. Example : L, R
5.       Glides ( menggilinding ) : produced with the tongue in motion to or from the position of a vowel and sometimes are semi-vowel. Example : W,J Bo”y”
6.       Vowel : produced with a relatively free flow of air


Perbedaan antara vowel sound dan consonant sound

Vowel : tongue, lack of construction, more soundneress, nucleous
Consonant : 7 place of articulation, lack of construction, lack of soundneress, not nucleous
Diphthongs : a kind of vowel which show a change of quality in singel syllabel (suku kata ) contoh :  buy (aj), cow (aw), boy (oj) boy

D. Perbedaan  fonologi bahasa Indonesia dan fonologi bahasa inggris
Perbedaan fonologi bahasa Indonesia dan bahasa inggris adalah cara pengucapan, lafal, dan cara dilambangkannya serta pembagian sistem diterima nya dalam sistem fonologi bahasa inggris dan bahasa indonesia





Kesimpulan
     Secara etimologi kata fonologi berasal dari gabungan kata fon yang berarti ‘bunyi‘ dan logi yang berarti ‘ilmu’. Sebagai sebuah ilmu, fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap manusia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi–bunyi bahasa menurut fungsinya. Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian, fonologi adalah sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.
Perbedaan fonologi bahasa Indonesia dan bahasa inggris adalah cara pengucapan, lafal, dan cara dilambangkannya serta pembagian sistem diterima nya dalam sistem fonologi bahasa inggris dan bahasa indonesia

Demikianlah materi tentang Makalah Fonologi yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Kerajaan-Kerajaan Hindu – Budha Di Indonesia yang telah kami posting sebelumnya. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.






EmoticonEmoticon