Saturday, September 23, 2017

Makalah Kemiskinan

Makalah Kemiskinan - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :

Makalah Kemiskinan
DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………………..

BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………
1.2 Rumusan Masalah ……………………….………………………………
1.3 Tujuan Penelitian .………………………………………………………

BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Kemiskinan …………………………...............……………………………...
2.2 Penyebab Terjadinya Kemiskinan ………………………………………….
2.3 Cara Penanggulangan Kemiskinan....................……………………………
2.4 Dampak Kemiskinan ……………….……………………………………….
a) Pengangguran ......................................................................................
b) Kekerasan ............................................................................................
c) Pendidikan ..........................................................................................
d) Kesehatan ............................................................................................
e) Konflik Sosial Bernuansa SARA .........................................................

BAB III : PENUTUP
3.1 Kesimpulan …………………………………………………………….......
3.2 Saran …………………………………………………………………….....

DAFTAR FUSTAKA ...................................................................................................



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebuah negara tidak akan pernah bisa lepas dari berbagai permasalahan yangberhubungan dengan warga negaranya. Terlebih pada negara-negara yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi seperti Indonesia. Masalahketenagakerjaan,pengangguran, dan kemiskinan Indonesia sudah menjadi masalah pokok bangsa inidan membutuhkan penanganan segera supaya tidak semakin membelit danmenghalangi langkah Indonesia untuk menjadi mengara yang lebih maju. Indonesiasebenarnya sempat menjadi tempat favorit bagi para pengusaha dari luar negeri untuk membangun usaha mereka disini. Ya, dengan alasan murahnya biaya tenaga kerjamerupakan salah satu faktor mengapa Indonesia diincar oleh para pengusaha asing.Namun, ternyata hal tersebuttidak diimbangi dengan dukungan positif daripemerintah tentang pengaturan Undang-Undang investasi dan ketenagakerjaansehingga malah memunculkan banyak masalah baru sehingga mengakibatkan dampak terparah berupa relokasi tempat usaha ke negara lain. Banyak yang harus dibenahiuntuk menyelesaikan masalah ketenagakerjaan. Diantaranya adalah denganmembekali berbagai macam ketrampilan bagi para tenaga kerja usia produktif supayalebih mampu bersaing di dunia kerja tidak hanya dalam bursa tenaga kerja lokalnamun juga bursa tenaga kerja dunia.Dampak terbesar dari terjadinya relokasi tempat usaha adalah meningkatnyaangka pengangguran di Indonesia. Jumlah pengangguran di Indonesia telah mencapaititik dimana memerlukan penanganan dari pemerintah dengan sangat serius. Ternyatalangkah pemerintah untuk membuka banyak lapangan kerja baru tidak banyak membantu mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia. Langkah yang dianggappaling tepat adalah dengan membekali ketrampilan kepada para tenaga kerja produktif yang masih belum medapatkan pekerjaan dengan harapan mereka bisa membukalapangan kerja baru, tidak hanya untuk diri mereka sendiri namun juga untuk masyarakat di sekitar mereka. Oleh karena itu, dukungan penuh dari pemerintahterhadap para wiraswasta sangatdiharapkan supaya angka pengangguran bisa jauhberkurang.

Masalah yang tidak kalah pentingnya adalah masalah kemiskinan. Kemiskinandianggap sebagai akar dari segala permasalahan sosial kependudukan yang memilikiefek luar biasa bagi Indonesia. Harus diakui bahwa hingga saat ini jumlah penduduk miskin di Indonesia masih sangat tinggi. Upaya pemerintah untuk menurunkan jumlahpenduduk miskin adalah dengan memberikan fasilitas rusunawa yang padakenyataannya banyak salah sasaran, memberikan BLT (bantuan langsung tunai) yangternyata tidak banyak membantu masyarakat, hingga pemberian aneka subsidi untuk masyarakat miskin. Berbagai langkah tersebut pada kenyataannya tidak bisa membuat jumlah penduduk miskin di Indonesia menjadi berkurang. Karena solusi idealnyaadalah dengan memberikan mereka pekerjaan tetap dengan gaji yang memadaisehingga mereka bisa hidup lebih layak. Ini bukan perkara yang mudah bagipemerintah.Meski kemiskinan merupakan sebuah fenomena yang setua peradabanmanusia tetapi pemahaman kita terhadapnya dan upaya-upaya untuk mengentaskannya belum menunjukan hasil yang menggembirakan. Para pengamat ekonomi pada awalnya melihat masalah kemiskinan sebagai “sesuatu” yang hanya

selalu dikaitkan dengan faktor-faktor ekonomi saja.Hari Susanto [2006] mengatakan umumnya instrumen yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat tersebutmiskin atau tidak bisa dipantau dengan memakai ukuran peningkatan pendapatan atautingkat konsumsi seseorang atau sekelompokorang. Padahal hakikat kemiskinandapat dilihat dari berbagai faktor. Apakah itu sosial-budaya, ekonomi, politik, maupunhukum.Menurut Koerniatmanto Soetoprawiryo menyebut dalam Bahasa Latin ada istilah esse[to be] atau [martabat manusia] dan habere [to have] atau [harta atau kepemilikan].Oleh sebagian besar orang persoalan kemiskinan lebih dipahami dalam kontekshabere. Orang miskin adalah orang yang tidak menguasai dan memiliki sesuatu.Urusan kemiskinan urusan bersifat ekonomis semata.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latarbelakang diatas penulis mengambil beberapa rumusan masalahdiantaranya :
a)Apakahyang dimaksud dengan kemiskinan?
b)Mengapa kemiskinan itu bisa terjadi?
c)Bagaimanacara menangani kemiskinan?
d)Bagimanadampak kemiskinan terhadap kehidupan masarakat?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari pada artikelini adalah:
a)Untuk mengetahui apa yang di maksut dengan kemiskinan.
b)Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kemiskinan.
c)Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi kemiskinan.
d)Untuk mengetahui dampak dari kemiskinan terhadap kehidupan masarakat



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kemiskinan
Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhandasar minimal untuk hidup layak (BPS dan Depsos, 2002:3).Kemiskinanmerupakan sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilaistandar kebutuhan minimum, baik untuk makanan dan non makanan, yang disebutgaris kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty threshold). Gariskemiskinan adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapatmembayar kebutuhan makanan setara 2100 kilo kalori per orang per hari dankebutuhan non-makanan yang terdiri dari perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan,transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya (BPS dan Depsos, 2002:4).Kemiskinan pada umumnya didefinisikan dari segi pendapatan dalam bentuk uang ditambah dengan keuntungan-keuntunan non-material yang diterima olehseseorang. Secara luas kemiskinan meliputi kekurangan atau tidak memilikipendidikan,keadaan kesehatan yang buruk, kekurangan transportasi yang dibutuhkanoleh masyarakat (SMERU dalam Suharto dkk, 2004).Beberapa tahun ke belakang, kemiskinan di Indonesia dan penanggulangannyatelah menjadi prioritas pembangunan dan menjadi agenda pokok yang mengerahkanberbagai sumber daya pembangunan.

Selama itu pula, dinamika kemiskinan danpenanggulangannya di Indonesia juga turut berkembang. Sampai dengan Maret 2012,tingkat kemiskinan telah turun menjadi 11.96 persen (29.13 juta jiwa). Sebelumnya,sampai dengan Maret 2011, tingkat kemiskinan nasional menurun hingga 12,49persen, dari 13,33 persen pada tahun 2010. Selanjutnya, pada periode September 2011, tingkat kemiskinan menurun lagi menjadi 12,36 persen. “Diharapkan tingkat kemiskinan nasional akandapat diturunkan lagi pada kisaran 9,5-10,5 persen pada tahun 2013,” ungkap ibu Armida, dalam Konferensi Pers Kementerian PPN/Bappenas, pada hari Senin, (13/8), bertempat di Ruang Serba Guna, GedungBappenas. Hal ini, menurut Menteri PPN/ Kepala Bappenas,mencerminkan bahwa pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan jangka pendek sudah berjalandengan baik.Diakui oleh Ibu Armida dalam paparannya, penduduk miskin di Indonesiatersebar tidak merata. Jumlah terbesar dari penduduk miskin sebesar 57,8 persenberada di pulau Jawa.

Lalu sebanyak 21 persen di Sumatera, 7,5 persen di Sulawesi,6,2 persen di Nusa Tenggara, 4,2 persen di Maluku dan Papua dan angka terkecilsebesar 3,4 persen tersebar di Kalimantan. Angka kemiskinan tidak dapat turundengan signifikan karena inflasi yang dirasakan oleh masyarakat miskin juga tinggi.Kondisi global yang berimbas pada situasi nasional, mendorong kenaikan harga-harga, kenaikan bahan-bahan pokok yang tertinggi di antara kelompok pengeluaranuntuk bahan-bahan lainnya. Pengeluaran rumah tangga miskin untuk bahan pokok inirentan terhadap kenaikan harga pangan.

Bahkan pada tahun 2005, meski terjadipertumbuhan, tetapi dengan poverty basket inflation tercatat sampai dengan 12,78persen karena adanya kenaikan harga BBM, yang memicu kenaikan harga bahanpokok sehingga berdampak pada kenaikan angka kemiskian. Oleh karenanya,stabilitas harga pangan harus dijaga.Tercatat pada tahun 2006, angka kemiskinan naik dari 15,97 persen menjadi 17,75 persen.Selanjutnya, berdasarkan seriesstatus kemiskinan selama 4 tahun, terlihatbahwa jumlah penduduk sangat miskin semakin berkurang setiap tahunnya. Hal initerlihat pada tahun 2010 jumlah penduduk sangat miskin sebesar 4,56 persen turunmenjadi 4,37 persen pada tahun 2011. Sebaliknya, penduduk hampir miskinbertambah sebagai akibat adanya penduduk miskin yang keluar dari garis kemiskinan,tetapi masih rentan untuk jatuh lagi ke dalam garis kemiskinan. Tercatat pada tahun2011, jumlah penduduk hampir miskin sebesar 11,28 persen dari jumlah9,88 persenpada tahun 2010.

Kemiskinan adalah masalah yang telah ada selama berabad-abad umatmanusia hidup. Bahkan sebelum adanya peradaban yang maju, kemiskinan sudah ada.Permasalahan kemiskinan saat ini menimpa hampir semua negara, bahkan negaramajusekalipun memiliki masalah kemiskinan. Masyarakat miskin itu sendiri adalahsatu golongan masyarakat yang tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan dasarnya,yakni sandang atau pakaian, pangan atau makanan dan papan atau tempat tinggal.Pada setiap negara tentu saja memiliki standar kemiskinan yang berbeda-beda.Hal ini juga menyebabkan tingkat kemiskinan berbeda di setiap negara. Negara maju tentu memiliki standar hidup yang lebih baik daripada negara berkembang, sehinggastandar kemiskinannya pun berbeda. Negara dikatakan sebagai berkembang jikamemiliki angka kemiskinan yang cukup tinggi sesuai standar yang ditetapkan secarainternasional. Masyarakat miskin terjadi karena banyak faktor seperti populasi yangterlalu padat, kekeringan bahkan peperangan. Pada dasarnya kemiskinan itu dibagimenjadi tiga kelompok, yakni:

TigaKelompok Kemiskinan
·         Kemiskinan karena kurangnya pemenuhan materi kebutuhan dasar sepertibahan makanan, pakaian dan tempat tinggal, ada juga yang menyatakantermasuk fasilitas kesehatan.
·         Kemiskinan karena ketidakmampuan dalam berpartisipasi pada kegiatanmasyarakat termasuk ketidakmampuan mendapatkan pendidikan daninformasi.

·         Kemiskinan yang meliputi pendapatan yang tidak layak dan memadai
Masyarakat miskin terbesar umumnya ada di perkotaan,di daerah-daerahkumuh. Mereka berkembang sangat cepat sehingga perkampungan kumuh tersebutmeluas dan dihuni oleh mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Hal inidiperparah dengan adanya urbanisasi oleh mereka yang tidak memiliki keahlianmaupun pendidikan yang cukup. Mereka hidup di daerah kumuh karena engganpulang kembali ke desa. Umumnya mereka menempati daerah yang tidak layak dantidak seharusnya dijadikan tempat tinggal, seperti kolong jembatan dan bantaransungai.Masyarakat miskin kotaumumnya tidak mendapatkan fasilitas yang layak seperti air bersih, listrik dan lainnya. Tentu saja mereka tidak bisa bercocok tanamkarena tidak ada lahan. Akhirnya satu-satunya jalan terbaik adalah menjadi pemulungdan pengemis, yang buruk adalah menjadipencuri dan pencopet. Ini disebabkankarena mereka tidak memiliki ketrampilan dan pendidikan yang memadai untuk mendapatkan pekerjaan. Kemiskinan ini akan diturunkan terus pada generasiselanjutnya karena orang tua mereka tidak mampu membiayai pendidikan mereka

2.2 Penyebab Terjadinya Kemiskinan
Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masalalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskindalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupanmodern padamasakini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dankemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern.Penyebab kemiskinanKemiskinan banyak dihubungkan dengan:a)penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibatdari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskinb)penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikankeluarga;c)penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikankeluarga;d)penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengankehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;e)penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain,termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;f) penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakanhasil dari struktur sosial Di sisi lain adadua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaknikemiskinan alamiah dan karena buatan.

Kemiskinan alamiah terjadi antara lain akibatsumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan “buatan” terjadi karena lembaga -lembaga yang ada di masyarakatmembuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi danberbagai fasilitas lain yang tersedia, hingga mereka tetap miskin. Maka itulahsebabnya para pakar ekonomi sering mengkritik kebijakan pembangunan yang meluluterfokus pada pertumbuhan ketimbang pemerataan.Di Indonesia, para pelaku pembangunan banyak yang melakukan kecurangan.Praktik kolusi dan nepotisme juga merajalela. Sehingga pembangunan yang selama ini dilakukan menjadi suatu hal yang tidak berarti.Apalagi Indonesia tidak memilikisumber daya manusia yang berkualitas yang mampu menjalankan roda pembangunandengan baik. Sementara itu, hasil-hasil pembangunan di Indonesia juga tidak sampaipada penduduk yang tinggal di daerah pedesaan.

Pada akhirnya para penduduk desabanyak yang tergiur dengan kehidupan di daerah perkotaan. Padahal pekerjaan diperkotaan menuntut para pekerja yang terampil.Penduduk yang berpindah dari desa ke kota semakin meningkat. Permasalahansosial di daerah perkotaan juga semakin banyak dengan bermuculannya parapedagang kaki lima, pengemis, gelandangan, dan berbagai kasus kriminalitas lainnya.Ditengah hiruk pikuk pembangunan yang dilakukan, daerah pedesaan pun tetap sajaberada pada kondisi kemiskinan dan ketidakberdayaan hal ini menggambarkankegagalan pembangunan. Pembangunan seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan perubahan kondisi kepadamasyarakat luas, tentunya perubahan darikondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik.

Secara ideal, pembangunan yangdilakukan seharusya dapat memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada masyarakatuntuk keluar dari kondisi serba kekurangan dan meraih kualitas hidup yang baik.negara pun dapat mencapai kondisi kesejahteraan sosialBerbagai persoalan kemiskinan penduduk memang menarik untuk disimak dari berbagai aspek, sosial, ekonomi, psikologi dan politik. Aspek sosial terutamaakibat terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi. Aspek ekonomi akantampak pada terbatasnya pemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar rendah,tabungankecil, lemah mengantisipasi peluang. Dari aspek psikologi terutama akibatrasa rendah diri, malas, dan rasa terisolir. Sedangkan, dari aspek politik berkaitandengan kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan, diskriminatif,posisi lemah dalam proses pengambil keputusan.

Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian:
a)Kemiskinanabsolut,
Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasilpendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan,pendidikan

b)Kemiskinan relatif
 Seseorang yang tergolongmiskin relatif sebenarnya telah hidup di atasgaris kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakatsekitarnya.

c)Kemiskinankultural.
Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atausekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkatkehidupannya sekalipun ada usaha dari fihak lain yang membantunya.

Adapun indikator-indikator kemiskinan sebagaimana di kutip dari Badan PusatStatistika, antara lain sebagi berikut:
a)Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar(sandang, pangandan papan).
b)Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan,pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
c)Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
d)Kerentananterhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
e)Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
f)Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
g)Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yangberkesinambungan.
h)Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
i)Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak terlantar, wanitakorban kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marginal danterpencil).

Lebih lanjut, gariskemiskinan merupakan ukuran rata-rata kemampuanmasyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. Melalui pendekatansosial,masih sulit mengukur garis kemiskinan masyarakat, tetapi dari indikatorekonomi secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan tiga pendekatan, yaitupendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Sementara ini yang dilakukanBiro Pusat Statistik (BPS) untuk menarik garis kemiiskinan adalah pendekatanpengeluaran.

Selama ini masyarakat miskin sering masih dianggap sebagaibeban dalamsuatu sistem ekonomi, sehingga bagaimana merubah total posisi masyarakat miskinyang tadinya sebatas beban dalam sistem ekonomi tersebut, menjadi kontributordalam pertumbuhan ekonomi. Inilah permasalahan yang harus dipecahkan olehpemerintahkhususnya dalam menghadapi kegiatan ekonomi yang semakin global.

Dikutip dari Badan Pusat Statistik, Jumlah penduduk miskin di Indonesia padaSeptember 2011 sebesar 29,89 juta orang (12,36 persen). Diihat dari jumlahnyapenduduk miskin merupakan jumlahyang tidak sedikit. Untuk mengurangi angkakemiskinan ini pemerintah harus mengambil langkah yang tepat dalam mengambilkebijakan.Tetapi dalam kenyataannyaKebijakan Pemerintah yang ingin menuntaskankemiskinan seringkali tidak sesuai dengan implementasidalam masyarakat.

2.3 Cara penanggulangan kemiskinan
Kemiskinan dapat ditanggulangi dengan berbagai cara mulai dari pembagianbantuan secara langsung ataupenyediaan lapangan pekerjaan yang padat karya.Bantuan langsung haruslah bersifat sementara karena tidak akan mendidik masyarakatdan membuat mereka menjadi malas. Penyediaan lapangan pekerjaan yang cocok bagimereka serta bantuan untuk relokasi supaya mendapatkan fasilitas yang lebih baik tentu saja lebih cocok untuk solusi jangka panjang. Solusi yang lain adalahtransmigrasi, yakni merelokasi ke pulau lain dan memberikan sebidang tanah untuk digarap. Dengan begitu diharapkan mereka bisa mengubah nasib. Sudah banyak ceritatentang orang yang tadinya gelandangan sekarang menjadi kaya raya karena hidup didaerah transmigrasi. Namun tak sedikit pula yang kembali ke daerah asal dan kembalimenjadi gelandangan.

Saat iniIndonesia masih harus menghadapi tigamasalah mendasar dalamupaya mengangkat sebagian besar penduduk yangmasihterhimpitkemiskinanyaitu:
a)Mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Jumlah penduduk miskin tidakakan dapat dikurangi secara signifikantanpa adanya pertumbuhanekonomi yang bermanfaat bagi orang miskin.Untuk menurunkan tingkat kemiskinan lebih jauh lagi,pertumbuhanekonomiyang lebih tinggi merupakan suatu keharusan.
b)Peningkatan pelayanan sosial bagi masyarakat miskin.

Indonesia harusdapat menyelesaikan masalah dalam bidang pelayanansosial agarmanfaat daripembangunan lebih dirasakan. Peningkatandalamefektifitas dan efisiensi pemberian pelayanansosial, dapatdicapaidengan mengusahakan perbaikan dalam sistem kelembagaandankerangkahukum, termasuk dalam aspek-aspek yang terkaitdengandesentralisasi. Hal ini akan membuat penyedia jasa mengenalitanggungjawab mereka dalam menjaga kualitas pelayanan yangdiberikan,disamping memberikan kesempatan bagi pemerintah danmasyarakatuntuk mengawasi aktifitas tersebut.

c)Perlidungan bagi si miskin.
Kebanyakan penduduk Indonesia rentanterhadapkemiskinan.Perubahan sedikit saja dalam tingkat harga,pendapatan dankondisi kesehatan, dapat menyebabkan mereka beradadalamkemiskinan,setidaknya untuk sementara waktu. Programperlidungan sosialyang ada tidaklah mencukupi dalammenurunkantingkat resiko bagi keluargamiskin, walaupun memberikan manfaatpada keluarga yanglebih berada.Kondisi ini dapat diperbaiki denganmenyediakan program perlindungan sosialyang lebih bermanfaat bagipenduduk miskin serta masyarakat yang rentanterhadap kemiskinan.

Kesulitan-kesulitan tersebut memang masih belum dapat diatasi olehpemerintah, oleh sebab itu berbagai kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengatasi kemiskinan seringkali mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan yanglain diantaranyaPertama, program-program penanggulangan kemiskinan selama inicenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin. Haltersebut antara lain berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengamansosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti iniakan sulit menyelesaikan persoalankemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkandapat menimbulkan ketergantungan. Program-program bantuan yang berorientasipada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral danperilakumasyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskanuntuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskanketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak, program-programbantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya.

Faktor kedua yang dapat mengakibatkan gagalnya program penanggulangankemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang penyebabkemiskinan itu sendiri sehingga program-program pembangunan yangada tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan, yang penyebabnya berbeda-beda secara lokal.

Sebagaimana diketahui, data dan informasi yang digunakan untuk program-program penanggulangan kemiskinan selama ini adalah data makro hasil SurveiSosial dan EkonomiNasional oleh BPS dan data mikro hasil pendaftaran keluargaprasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN. Kedua data ini pada dasarnya ditujukanuntuk kepentingan perencanaan nasional yang sentralistik, dengan asumsi yangmenekankan pada keseragaman dan fokus pada indikator dampak. Padakenyataannya, data dan informasi seperti ini tidak akan dapat mencerminkan tingkatkeragaman dan kompleksitas yang ada di Indonesia sebagai negara besar yangmencakup banyak wilayah yang sangat berbeda, baik dari segi ekologi, organisasisosial, sifat budaya, maupun bentuk ekonomi yang berlaku secara lokal. Bisa sajaterjadi bahwa angka-angka kemiskinan tersebut tidak realistis.

Pada prinsipnya, pemerintah dalam program pembangunannya telahmenjadikan kemiskinan sebagai salah satufokus utamanya. Programumumpembangunan yang berfokus pada pengentasan kemiskinan, peningkatanpertumbuhan ekonomi dan perluasan lapangan kerja.

Dalam kondisi ideal, maka peningkatan pertumbuhan ekonomi akan diikutidengan perluasan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan. Namun keadaan riiltidak selalu seperti yang diharapkan. Adapun hal-hal yang mungkin terjadi adalah :
·         Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak diikuti dengan pengurangankemiskinan.
·         Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi tidak lantasmemperluas lapangankerja.
·         Lapangan kerja yang luas akan tetapi pertumbuhan ekonomi tetap rendah

Dalam mengatasi masalah kemiskinan harus bertumpu pada peningkatanpertumbuhan ekonomi. Tanpa adanya pertumbuhan ekonomi yang memadai maka lapangan kerja yangtersedia tidak akan cukup atau bisa jadi tersedia lapangan kerjayang luas namun tidak sanggup untuk menyediakan tatanan upah yang memadaisehingga tetap tidak sanggup mengatasi masalah kemiskinan. Namun sebaliknyapertumbuhan ekonomi yang tinggi juga tidak dengan sendirinya akan menyediakanlapangan kerja yang berkualitas dan langsung menyelesaikan masalah kemiskinan.Secara umum, kebijakan yang dirancang untuk mengatasi masalah kemiskinan diIndonesia umumnya akan selalu berhadapan dengan tiga tantanganpenting yaitu:
·         Tantangan untuk menyediakan lapangan kerja yang cukup.
·         Tantangan untuk memberdayakan masyarakat.

·         Tantangan untuk membangun sebuah kelembagaan jaminan sosial yang akanmenjamin masyarakat ketika terjadi ketegangan ekonomi.
Sehingga untuklebih mengefektifkan kinerja program yang telah ada, makaperlu dirancang sebuah rekomendasi kebijakan yang akan sanggup untuk mengakselerasi capaian dari program-program tersebut.

Rekomendasi kebijakan pertama diarahkan pada peningkatan pertumbuhanekonomi. Program kerja yang dapat dilakukan antara lain: (1) mempercepat belanjanegara yang dialokasikan pada sejumlah proyek infrastruktur dan memberdayakanusaha kecil menengah sektor-sektor produksi, (2) mendukung dan memfasilitasigerakan nasional penanggulangan kemiskinan dan krisis BBM melalui rehabilitasidan reboisasi 10 juta hektar lahan kritis dengan tanaman yang menghasilkan energipengganti BBM kepada masyarakat luas, diantaranya jarak pagar, tebu, kelapa sawit,umbi-umbian, sagu.

Rekomendasi kedua adalah kebijakan penguatan sistem pendidikan nasionalyang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja. Kebijakan pendidikan harusdiintegrasikan dengan kebijakan yang mengatur industri, ketenagakerjaan dan ilmupengetahuan dan teknologi. Bentuk program kerja yang dapat dilakukan antara lain:keberadaan kredit mikro bagi para individu miskin yang dirancang dengan skemayang sedemikian sehingga memacu produktifitas dan daya saing dari individu miskintersebut. Program ini dilakukan dengan koordinasi Bank Indonesia melalui berbagaiprogram keuangan mikro bersama bank-bank pembangunan daerah (BPD) dan bank-bank perkreditan rakyat (BPR) bekerja-sama dengan lembaga-lembaga keuanganmilik masyarakat seperti Lembaga Dana dan Kredit Perdesaan (LDKP) dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Program kerja lainnya adalah membukaakses tanah olahan bagi para individu miskin. Untuk keberhasilan program kerja ini,diperlukan suatu kebijakan land reform yang kondusif.

Rekomendasi ketiga adalah kebijakan yang mengatur pembangunan suatukelembagaan perlindungan sosial bagi warga negara. Bentuk program kerjanya antaralain adalah jaminan asuransi, jaminan penanganan khusus untuk pemberikan kreditbagi para cacat untuk wira usaha dan regulasi lainnya terkait dengan upah minimumdanfasilitas minimum bagi para pekerja.

Rekomendasi keempat adalah kebijakan yang memungkinkan adanya aksesuntuk menyuarakan aspirasi dan pendapat dari kalangan miskin. Bentuk programkerjany yaitupada terbentuknya forum-forum masyarakat miskin yang difasilitasioleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat atau memberdayakan forum-forum sejenis yang telah terbentuk.
2.4 Dampak Kemiskinan

Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dankompleks.
a) pengangguran.
Sebagaimana kitaketahui jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 saja sebanyak 12,7 juta orang. Jumlah yang cukup “fantastis” mengingat krisis multidimensional yang sedang dihadapi bangsa saat ini.Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya.Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan belimasyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadaptingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.Dalam konteks daya saing secara keseluruhan, belum membaiknyapembangunan manusia di Tanah Air, akan melemahkan kekuatan daya saingbangsa. Ukuran daya saing ini kerap digunakan untuk mengetahui kemampuansuatu bangsa dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain secara global. Dalamkonteks daya beli di tengah melemahnya daya beli masyarakat kenaikan harga

beras akan berpotensi meningkatkan angka kemiskinan. Razali Ritongamenyatakan perkiraan itu didasarkan atas kontribusi pangan yang cukupdominan terhadap penentuan garis kemiskinan yakni hampir tiga perempatnya[74,99 persen].Meluasnya pengangguran sebenarnya bukan saja disebabkanrendahnya tingkat pendidikan seseorang. Tetapi, jugadisebabkan kebijakanpemerintah yang terlalu memprioritaskan ekonomi makro atau pertumbuhan[growth]. Ketika terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia tahun 1997 silammisalnya banyak perusahaan yang melakukan perampingan jumlah tenagakerja. Sebab, tak mampu lagi membayar gaji karyawan akibat defisit anggaranperusahaan. Akibatnya jutaan orang terpaksa harus dirumahkan atau dengankata lain meraka terpaksa di-PHK [Putus Hubungan Kerja].

b) Kekerasan.
Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakanefek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkahmelalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorangdapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pundilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu [dengancara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-purakalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi.Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.

c) Pendidikan.
Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadidewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapatmenjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitumiskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.Bagaimana seorang penarik becak misalnya yang memiliki anak cerdasbisa mengangkat dirinya dari kemiskinan ketika biaya untuk sekolah sajasudah sangat mencekik leher. Sementara anak-anak orang yang berduit bisabersekolah di perguruan-perguruan tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap.

Jika ini yang terjadi sesungguhnya negara sudah melakukan “pemiskinanstruktural” terhadap rakyatnya. Akhirnya kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam.Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikanseseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorangmendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkanbertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasiyang menuntut keterampilan di segala bidang.
d) Kesehatan.

Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampirsetiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
e)Konflik Sosial Bernuansa SARA.

Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasandan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain darikemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan  jaminan keadilan “keamanan” dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitasyangsubjektif.

Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini yangberdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah orang miskin. Kesemuanyamenambah deret panjang daftar kemiskinan. Dan, semuanya terjadi hampir merata disetiap daerah diIndonesia. Baik di perdesaan maupun perkotaan.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kemiskinan di indonesia, sampai saat sekarang masih banyak dan masihbelum bisa ditangani secara keseluruhan, Tapi semogadengan adanya penangulangan kemiskinan yang diadakan pemerintah, kemiskinan akan lebih berkurang dan warga masyarakat akan lebih sejahtera dan makmur.

Berdasar uraian di atas dapatdikemukakan, bahwa dalam mengatasi masalah kemiskinan diperlukan kajian yangmenyeluruhsehingga dapat dijadikan acuan dalam merancang program pembangunankesejahteraan sosial yang lebih menekankan pada konseppemberdayaan danpengentasan, bukanpertolongan.

Pada konsep pemberdayaan, pemberdayaan dapatdiartikan sebagai upaya untuk menggerakkan masyarakatyang lemah atau tidak berdayauntuk berusahaagar mampu baik secara fisik, mental dan pikiran untuk mencapai kesejahteraan sosial hidupnya. Dalam konteks ini, mereka dipandangsebagai aktor yang mempunyai peran penting untuk mengatasi masalahnya.

3.2 Saran
kebijakan pemerintah hendaknya diarahkan pada peningkatan pertumbuhanekonomi yang disertai pemerataan, penguatan sistem pendidikan nasional yangberorientasi pada penciptaan lapangan kerja, mengatur pembangunan suatukelembagaan perlindungan sosial bagi warga negara, dan kebijakan yangmemungkinkan adanya akses untuk menyuarakan aspirasi dan pendapat dari kalanganmiskin.

  
  

DAFTAR PUSTAKA
http://andist.wordpress.com/2008/03/21/pengertian-kemiskinan/ http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Pelaku-Pelaku_Ekonomi_Dalam_Sistem_Perekonomian_Indonesia_8.2_%28BAB_15%29http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan-01jul11.pdf http://www.scribd.com/doc/40227855/MAKALAH-Masalah-Kemiskinan-Di-Indonesiahttp://carapedia.com/masalah_ketenagakerjaan_pengangguran_kemiskinan_indonesia_info3017.htmlhttp://www.bappenas.go.idhttp://semangatku.com/239/sosial-budaya/berbicara-tentang-masyarakat-miskin-di-indonesia/ :http://us.suarapembaca.detik.com/read/2010/02/22/081829/1303963/471/indonesia-dan-problem-kemiskinanhttp://carapedia.com/masalah_ketenagakerjaan_pengangguran_kemiskinan_indonesia_info3017.html

Demikianlah materi tentang Makalah Kemiskinan yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah LGBT yang telah kami posting sebelumnya. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.


EmoticonEmoticon