Tuesday, September 19, 2017

Makalah Konsep Gender

Makalah Konsep Gender - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :


      BAB I
PENDAHULUAN

A.           LATAR BELAKANG
Pembicaraan mengenai gender akhir-akhir ini semakin hangat dalam perbincangan mengenai kemajuan perkembangan kaum perempuan maupun posisi dan status perempuan dalam keseteraan dengan kaum pria. Pada satu sisi hubungan gender menjadi suatu persoalan tersendiri, padahal secara fakta persoalan emansipasi kaum perempuan masih belum mendapat tempat yang sepenuhnya bisa diterima. Secara konsep emansipasi telah diterima akan tetapi konsekuensi dari pelaksanaan emansipasi itu sendiri masih belumlah seideal yang diharapkan. Kaum perempuan diberi kebebasan untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan untuk bekerja tetapi mereka tetap saja diikat dengan norma-norma patriarkhi yang relatif menghambat dan memberikan kondisi yang dilematis terhadap posisi mereka. Kaum perempuan dibolehkan bekerja dengan catatan hanya sebagai penambah pencari nafkah keluarga sehingga mereka bekerja dianggap hanya sebagai “working for lipstic” belum lagi kewajiban utama mengasuh anak dibebankan sepenuhnya kepada perempuan. Secara kenyataan saja emansipasi masih menemukan persoalan tersendiri, apalagi gender yang merupakan konsepsi yang sangat mengharapkan kesetaraan hubungan yang serasi dan harmonis antara kaum perempuan dengan kaum pria. Dalam hal ini tentu saja sebelum gender itu diterima sebagai suatu konsep yang memasyarakat terlebih dahulu haruslah dipahami permasalahan emansipasi dan kesetaraan hak perempuan untuk memperoleh kesempatan dan kesetaraan hak perempuan untuk memproleh kesempatan dalam memperoleh pendidikan maupun dalam lingkungan dunia kerja.


B.            RUMUSAN MASALAH

v Apa pengertian konsep gender?
v Bagaimana eksistensi gender?
v Bagaimana gender dalam perspektif Al-Qur’an (Islam)?
v Bagaimana gender dalam perspektif  pendidikan?
v Bagaimana gender dalam perspektif sosial dan budaya?

C.           TUJUAN DAN KEGUNAAN MAKALAH
Adapun tujuan pembuatan makalah ini pembuatan makalah ini agar penulis dan pembaca lebih tahu akan pentingnya mengetahui Konsep Gender.

v Pembaca mengetahui pengertian tentang konsep gender
v Pembaca tahu tentang eksitensi gender
v Pembaca mengetahui tentang gender dalam perspektif pendidikan
v Pembaca mengetahui tentang gender dalam perspektif Al-Qur’an (Islam)
v Pembaca tahu mengenai gender dalm perspektif sosial dan budaya


BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP UMUM TENTANG GENDER

A.           PENGERTIAN GENDER
Dalam perkembangan, gender digunakan sebagai pisau analisis untuk memahami realitas sosial berkaitan dengan perempuan dan laki-laki.[1] Semakin lama sejak kemunculannya, akhir-akhir ini, beberapa analisis dipakai untuk membaca gender dengan berbagai perspektif sosial, ekonomi, politik bahkan agama.
          Feminisme dan perempuan merupakan kesan yang muncul ketika membicarakan gender. Padahal keduanya hanya merupakan bagian dari gender itu sendiri. Berbicara feminisme artinya membicarakan ideologi, bukan wacana.[2]   Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa feminisme adalah gerakan untuk melawan terhadap praktek-praktek kekerasan, diskriminasi, penindasan, hegemoni, dominasi dan ketidakadilan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok, dan juga sistem terhadap perempuan. Dinamakan gerakan feminsme (women) oleh karena adanya ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Tetapi kemudian makna feminisme mengalami perluasan sesuai perkembangan zaman, yaitu bukan zaman yaitu bukan hanya membela perempuan yang tertindas tetapi siapa saja yang mengalami ketidakadilan baik laki-laki maupun perempuan.    
Istilah gender,[3] belum ada dalam perbendaharaan kamus besar Bahasa Indonesia. Kata gender berasal dari Inggris, gender berarti jenis kelamin. [4] Gender dapat diartikan sebagai perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi
nilai dan perilaku. Secara kodrat, nilai dan perilaku. Secara kodrat, memang diakui adanya perbedaan (discrimination) antara laki-laki dengan perempuannya yaitu dalam aspek biologis. Perbedaan secara biologis antara laki-laki dengan perempuan yaitu senantiasa digunakan untuk menentukan dalam relasi gender, seperti pembagian status, hak-hak, peran, dan fungsi di dalam masyarakat. Padahal, gender yang dimaksud adalah mengacu kepada peran perempuan dan laki-laki yang dikontruksikan secara sosial. Dimana peran-peran sosial tersebut dikotruksikan secara sosial.[5] Dimana peran-peran sosial tersebut bisa dipelajari, berubah dari waktu ke waktu, dan beragam menurut budaya dan antar budaya.   
Berkenaan dengan pemaknaan gender, [6]Ann Oakley sebagaimana dikutip oleh Ahmad Baidowi,[7] mendifinisikan bahwa gender adalah perbedaan perilaku antara perempuan dan laki-laki yang dikonstruk secara sosial, diciptakan oleh laki-laki dan perempuan sendiri, oleh karena itu merupakan persoalan budaya. Gender merupakan perbedaan yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan. Perbedaan biologis adalah perbedaan jenis kelamin yang bermuara dari kodrat Tuhan. Perbedaan jenis kelamin yang bermuara dari kodrat Tuhan, sementara gender adalah perbedaan yang bukan kodrat Tuhan, tetapi diciptakan oleh laki-laki dan perempuan melalui proses sosial budaya yang panjang.

B.            GENDER DAN EKSISTENSINYA
Masih relatif terbatasnya jumlah posisi di dalam ranah pembangunan yang berhasil diraih kaum perempuan, seperti misalnya di bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif di tingkat lokal, regional maupun nasional, sering dijadikan indikasi mengenai besarnya kesenjangan antara perolehan status perempuan dan laki-laki di bidang pembangunan.
Dalam skala global, dikenal tiga pergeseran interpretasi peningkatan peran perempuan, sebagai berikut:
1.    Perspektif perempuan dalam konteks Women in Development membfokuskan pada bagaimana mengintegrasikan perempuan dalam berbagai bidang pembangunan, tanpa banyak mempersoalkan sumber-sumber yang menyebabkan mengapa posisi perempuan dalam masyrakat, bersifat interior, sekunder, dan dalam hubungan subordinasi terhadap laki-laki. Asumsinya, struktur sosial yang ada dipandang sudah given. Indikator integrasi perempuan dalam pembangunan diukur dengan indikator seperti partisipasi angkatan kerja, akses terhadap pendidikan, hak-hak politik dan kewarganegaraan, dan sebagainya. (Mosse, 1996: 205)\
2.    Menurut perspektif Women and Development, perempuan selalu menjadi pelaku penting dalam masyarakat sehingga posisi perempuan, dalam arti status, kedudukan, dan perannya, akan menjadi lsbih baik, bila struktur internasional menjadi lebih adil. Asumsinya, perempuan telah dan selalu menjadi bagian dari pembangunan nasional (Julia, 1996: 205)
3.    Berdasarkan kajian Gender and Development, konstruksi sosial yang membentuk persepsi dan harapan, serta mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan ,sering merupakan penyebab rendahnya kedudukan dan status perempuan, sering merupakan penyebab rendahnya kedudukan dan status perempuan, posisi inferior, dan sekunder relatif terhadap laki-lai (Julia, 1996: 205). Pembangunan berdimensi gender ditujukan untuk mengubah hubungan gender yang eksploitatif atau merugikan, menjadi hubungan yang seimbang, selaras, dan serasi.
Berkaitan dengan peran perempuan dalam pembangunan di Indonesia, telah mengamanatkan keikutsertaan (integrasi) perempuan dalam pembangunan nasional. Berbagai kebijakan dan program telah dirumuskan untuk pembangunan nasional. Berbagai perempuan dalam pembangunan. Dalam program pembangunan diarahkan padasasaran umum: meningkatnya kualitas perempuan dan tercipatanya iklim sosial budaya yang mendukung bagi perempuan untuk pengembangan diri dan meningkatkan perannya dalam berbagai dimensi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Salah satu indikator integrasi perempuan dalam pembangunan adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan. Dari sisi ini terlihat bahwa TPAK perempuan meningkat dari tahun ke tahun, dan diprediksi tetap naik pada tahun mendatang, seperti terlihat pada tabel berikut ini. Kendati demikian, masih ada kesenjangan antara partisipasi angkatan kerja laki-laki dan perempuan, terutama yang paling mencolok adalah pada kelompok umur 30-39 tahun dimana TPAK perempuan 59,82% dan laki-laki 97, 76%.
Tabel I : Tingkat Partisipsi Angkatan Kerja
TAHUB
PEREMPUAN
LAKI-LAKI
2004
2005
2006
39,4
41,2
43,7
60,6
58,8
56,3
Sumber: Data Primer

Ditinjau dari sisi TPAK, perempuan mempunyai peran yang makin meningkatkan dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, menjadi suatu hal yang menarik untuk meneliti di balik fenomena ini. Meskipun kuantitas kontribusi TPAK sudah menunjukkan angka yang meningkat, komposisi jenis pekerjaan mana yang menyumbangkan kenaikan total tadi. Hal ini dapat dicermati tentang indikator sosial perempuan Indonesia. Ditinjau dari statuspekerjaan utama, perempuan kebanyakan bekerja sebagai pekerja keluarga yang tiak dibayar (39,4 persen) dan buruh/karyawan swasta (22,3 persen). Fenomena ini menunjukkan bahwa masih banyak perempuan yang bekerja sebagai sambilan atau hanya membantu laki-laki. Ini berbeda dengan laki-lakia, yang sebagaian besar bekerja dengan status berusaha dibantu anggota rumah tangga (32,7 persen) dan hanya 10,5 persen yang berstatus pekerja keluarga.
Data juga memperlihatkan bahwa usaha yang paling banyak digeluti oleh perempuan adalah tenaga usaha pertanian, yang diikuti dengan tenaga penjualan, dan tenaga produksi. Dari tabel di bawah secara eksplisit terlihat bahwa jenis pekerjaana yang tidak memerlukan banyak kualifikasi (blue colar workers) masih cukup besar sumbangan perempuan terhadap total pekerjaan.
Disamping itu, jumlah jam kerja perempuan sebagian besar berkisar antara 10 hingga 59 jam seminggu. Secara umum, agaknya perempuan bekerja lebih pendek dibanding laki-laki, karena terdapat 68,2 persen laki-laki yangbekerja se4lama 35 jam atau lebih. Dengan kata lain, sebagian besar perempuan bekerja kurang dari 35 jam seminggu. Ini dapat berarti bahwa sektor informal perempuan yang berhubungan dengan microenterprise perempuan memang diduga masih menempati posisi kunci yang menentukan tinggi rendahnya TPAK danpada gilirannya akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan perempuan itu sendiri.
Tabel 2 : Indikator Sosial Perempuan dan Laki-laki (dalam persentase).
Indikatgor Berdasarkan
Perempuan
Laki-laki
Status Pekerjaan Utama
1.    Bekerja Sendiri
2.    Berusaha Dibantu Anggota RT
3.    Berusaha dengan Buruh
4.    Buruh/Karyawan Pemerintah
5.    Buruh/Karyawan Swasta
6.    Pekerja Keluarga

15,99
16,53
0,58
5,29
22,25
39,36



19,88
32,71
1,53
7,52
27,82
10,54

Jenis pekerjaan utama
1.    Tenaga profesional
2.    Tenaga kepemimpinan & ketatalaksanaan
3.    Tenaga pelaksana dan tata usaha
4.    Tenaga penjualan
5.    Tenaga usaha jasa
6.    Tenaga usaha pertanian
7.    Tenaga produsi
8.    Tenaga operator
9.    Pekerja kasar
10.             Lainnya

5,22
0,37
3,65
20,33
5,60
50,21
10,93
1,03
2,17
0,49

3,84
1,04
6,53
12,06
3,10
48,21
6,59
2,86
14,80
0,97

Jumlah jam kerja
0
1-9
10-24
25-34
35-44
45-59
60+
TT

2,85
4,26
27,92
19,81
21,77
14,88
8,48
0,03

Sumber: Data Primer

Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa pran perempuan dalam pembangunan, yang ditampilkan melalui Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), telah menunjukkan eksistensi yang signifikan, disamping masih terdapat aspek-aspek lain yang masih dipelukan upaya-upaya lebih lanjut. Hasil upaya-upaya termaksud, akan optimal, apabila perempuan dapat mengaktualisasikan potensi dirinya dalam ranah politik yang telah terbuka sejak adanya peraturan untuk memberikan porsi 30% bagi perempuan dalam pencalonan anggita legislatif serta susunan pengurus partai politik yang dalam perwujudannya telah tampil beberapa menteri, kepala daerah, dan pimpinan partai politik dari kaum perempuan.
Data tersebut di atas juga menunjukkan bahwa stratifikasi sosial di Indonesia, dalam perspektif perempuan, telah terbuka lebar. Stratifikasi tertutup, sudah tidak lagi terdapat di Indonesia bagi kaum perempuan. Untuk itu, peran sosialisasi gender menjadi sangat penting eksistensinya.

C.          GENDER DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN
a)             Problematika Gender dalam Pendidikan.
Rendahnya kualitas pendidikan diakibatkan oleh adanya diskriminasi gender dalam dunia pendidikan. Ada tiga aspek permasalahan gender dalam pendidikan yaitu:
1.             Akses
Yang dimaksud dengan akses adalah fasilitas pendidikan yang sulit dicapai. Misalnya, banyak sekolah dasar di tiap-tiap kecamatan namun untuk jenjang pendidikan selanjutnya seperti SMP dan SMA tidak banyak. Tidak setiap wilayah memiliki sekolah tingkat SMP dan seterusnya, hingga banyak siswa yang harus menempuh perjalanan jauh untuk mencapainya. Di lingkungan masyarakat yang masih tradisional, umumnya orang tua segan mengirimkan anak perempuannya ke sekolah yang jauh karena mengkhawatirkan kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu banyak anak perempuan “terpaksa” tinggal di rumah. Belum lagi beban tugas rumah tangga yang banyak dibebankan pada anak perempuan membuat mereka sulit meninggalkan rumah. Akumulasi dari faktor-faktor ini membuat anak perempuan banyak yang cepat meninggalkan bangku sekolah.
2.             Partisipasi
Aspek partisipasi dimana tercakup di dalamnya faktor bidang studi dan statistik pendidikan. Dalam masyarakat kita di Indonesia, dimana terdapat sejumlah nilai budaya tradisional yang meletakkan tugas utama perempuan di arena domestik, seringkali anak perempuan agak terhambat untuk memproleh kesempatan yang luas untuk menjalani pendidikan formal. Sudah sering dikeluhkan bahwa jika sumber-sumber pendanaan keluarga terbatas, maka yang harus didahulukan untuk sekolah adalah anak laki-laki. Hal yang harus didahulukan untuk sekolah adalah anak laki-laki. Hal ini umumnya dikaitkan dengan tugas pria kelak apabila sudah dewasa dan berumah tangga, yaitu bahwa ia harus menjadi kepala rumah tangga dan pencari nafkah.
3.             Manfaat dan Penguasaan
Pendidikan tidak hanya sekedar pembelajaran, tetapi merupakan salh satu “nara sumber” bagi segala pengetahuan karenanya ia instrumen efektif transfer nilai termasuk nilai yang berkaitan dengan isu gender. Dengan demikian pendidikan juga sarana sosialisasi kebudayaan yang berlangsung secara formal termasuk di sekolah. Perilaku yang tampak dalam kehidupan dalam kehidupan sekolah interaksi guru-guru, guru-murid, dan murid-murid, baik di dalam maupun luar kelas pada saat pelajaran berlangsung maupun saat istirahat akan menampakkan konstruksi gender yang terbangun selama ini. Selain itu penataan tempat duduk murid, penataan barisan, pelaksanaan upacara tidak terlepas dari hal tersebut. Siswa laki-laki selalu ditempatkan dalam posisi yang lebih menentukan, misalnya memimpin organisasi siswa, ketua kelas, diskusi kelompok, ataupun dalam penentuan kesempatan bertanya dan mengemukakan pendapat, memimpin organisasi siswa, ketua kelas, diskusi kelompok, ataupun dalam penentuan kesempatan bartanya dan mengemukakan pendapat. Hal ini menunjukkan kesenjangan gender muncul dalam proses pembelajaran di sekolah.
b)            Pendidikan Memandang Gender
Dalam deklarasi Hak-hak asasi manusia pasal 26 dinyatakan bahwa: “Setiap orang berhak mendapatkan pengajaran...Pengajaran harus mempertinggi rasa saling mengerti, saling menerima serta rasa persahabatan antar semua bangsa, golongan-golongan kebangsaan, serta harus memajukan kegiatan PBB dalam memelihara perdamaian dunia....”.
Terkait dengan deklarasi di atas, sesungguhnya pendidikan bukan hanya dianggap dan dinyatakan sebagai sebuah unsur utama dalam upaya pencerdasan bangsa melainkan juga sebagai produk atau konstruksi sosial, maka dengan demikian pendidikan juga memiliki andil bagi terbentuknya relasi gender di masyarakat.
Pendidika memang harus menyentuh kebutuhan dan relavan dengan tuntutan zaman, yaitu kualitas yang memiliki keimanan dan hidup dalam ketakwaan yang kokoh, mengenali, menghayati, dan menerapkan akar budaya bangsa, berwawasan luas dan komprehensif, menguasai ilmu pengetahuan, dan keterampilan mutakhir, mampu mengantisipasi arah perkembangan, berpikir secara analitik, terbuka pada hal-hal baru, mandiri, selektif, mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, dan bisa meningkatkan prestasi. Perempuan dalam pendidikannya juga diarahkan agar mendapatkan kualifikasi tersebut sesuai dengan taraf kemampuan dan minatnya.
Departemen Pendidikan Nasional berupaya menjawab isu tersebut melalui perubahan kurikulum dan rupanya telah terakomodasi dalam kurikulum. Dengan demikian, pendidikan seharusnya memberi mata pelajaran yang sesuai dengan bakat minat setiap individu perempuan, bukan hanya diarahkan pada pendidikan agama dan ekonomi rumah tangga, melainkan juga masalah pertanian dan ketrampilan lain. Pendidikan dan bantuan terhadap perempuan dalam semua bidang tersebut akan menjadikan nilai yang amat besar dan merupakan langkah awal untuk memperjuangkan persamaan sesungguhnya.
c)             Membangun Pendidikan Berperspektif Gender di Sekolah
Jika sekolah memilih jalan untuk tidak sekadar menjadi pengawet atau penyangga nilai-nilai, tetapi penyeru pikiran-pikiran yang produktif dengan berkaloborasi dengan kebutuhan zaman, maka menjadi salah satu tugas sekolah untuk tidak membiarkan berlangsungnya ketidakadilan gender yang selama ini terbungkus rapi dalam kesadaran-kesadaran palsu yang berkembang dalam masyarakat sekolah dan masyarakat di sekitarnya untuk mengubah/membongkar kepalsuan-kepalsuan tersebut sekaligus mentransformasikannya menjadi praktek-praktek yang lebih berpihak kepada keadilan sesama, terutama keadilan bagi kaum perempuan.
1.             Analisis Gender di Lembaga Sekolah
Untuk melakukan perubahan dalam suatu institusi pendidikan, kita tidak bisa melangkah berdasarkan asumsi-asumsi belaka, tetapi seyogyanya berdasarkan data-data yang lebih konkrit yang didapat dari pengamatan, penelitian dianalisis kritis terhadap lembaga sekolah. Data-data inilah yang kemudian akan dijadikan patokan untuk melangkah dan mengambil keputusan-keputusan strategis dalam melakukan perubahan-perubahan yang dibutuhkan. Pengamatan itu hendaknya diarahkan pada elemen-elemen yang biasanya tergenderkan dalam sebuah organisasi atau lembaga seperti misalnya: ideologi-ideologi dan tujuan-tujuannya, sistem nilai yang dikembangkannya, struktur-struktur yang dibangun, gaya manajemennya, pembagian tugas/pekerjaan, pengaturan/tata ruang kantornya, ungkapan-ungkapan, hubungan kekuasaan, lambang-lambang yang digunakan, yang semua itu dapat memberi sinyal sejauh mana lembaga sekolah tergenderkan.
2.             Guru/Pendidik sebagai Pilar
Guru harus diupayakan mendapatkan akses terhadap dasar-dasar pengetahuan dan pendidikan gender terlebih dahulu, untuk membukakan pikiran dan nurani akan adanya persoalan tersebut. Jika guru/pendidik sudah mendapatkan akses yang cukup terhadap pengetahuan gender, maka komitmen yang sangat penting untuk dijadikan landasan membangun gender, maka komitimen yang sangat penting untuk dijadikan landasan membangun pendidikan gender akan jauh lebih mudah dicapai.
Apabila guru memiliki sensitifitas gender maka akan memiliki itikat untuk menciptakan keadilan dan kesetaraan gender dengan sendirinya, melalui proses pembelajaran di kelas, dalam pembuatan soal dan dalam perlakuan di kelas
3.             Metode dan Materi Pembelajaran
Seperti diketahui metode pembelajaran yang pada umumnya dilakukan oleh sekolah adalah metode pembelajaran yang lebih menekankan transmisi keilmuan klasik, yang memungkinkan adanya penerimaan ilmu secara bulat (taken forgranted) yang tak terbantahkan, yang memberi ruang gerak yang sempit bagi adanya dialog dan diskusi kritis. Sementara itu, persoalan gender syarat dengan probematika kultural yang sulit diselesaikan tanpa adanya dialog dan diskusi-diskusi. Metode pembelajaran ini, jika diterapkan apa adanya, jelas tidak akan membuahkan hasil yang beik. Oleh sebab itu harus diupayakan kesempatan untuk terjadinya dialog dan diskusi-diskusi, agar konsep-konsep penting pendidikan gender dapat lebih mudah terserap oleh para siswa.
4.             Bahasa bukan Persoalan Sepele
Bahasa merupakan unsur yang sangat penting dalam pendidikan peka gender, karena di dalam bahasa, lewat pilihan kata,  tekanan-tekanan, konstruksi kalimat atau ujaran yang digunakan dalam komunikasi baik tertulis maupun lisan. Bahasa yang dimaksud juga tidak terbatas pada bahasa verbal tetapi termasuk bahasa non verbal, bahasa tubuh seperti cara bersalaman, memberi penghormatan, memandang atau mengerling menyiratkan makna yang mengandung muatan gender. Menyepelekan peran bahasa dalam pandidikan peka gender sama dengan mengabaikan unsur penting pendidikan.

D.           KONSEP KESETARAAN GENDER DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Hal mendasar dalam Al-Qur’an tentang konsep kesetaraan tentang konsep kesetaraan gender adalah klaim bahwa manusia antara laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan sebagai hamba. [8] Salah satu tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah kepada Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam Q.S Az-Zariyat ayat 56 yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku”.
Berdasarkan hal itu, tidak ada alasan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam kapasitas manusia sebagai hamba. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba yang ideal. Barometer yang digunakan Tuhan dalam menilai tingkat ideal manusia diukur dari aspek ketakwaannya. Oleh karena itu, untuk mencapai derajat muttaqin, tidak di kenal adanya perbedaan jenis kelamin, warna kulit, ras, suku bangsa atau etnis tertentu.
Ajaran-ajaran yang paling mendasar dalam Al-Qur’an membentuk karakteristik kesetaraan gender dalam Islam dan menggugurkan gagasan perbedaan biologis dan hierarki gender. Gagasan perbedaan biologis dan hierarki gender terjadi pada kaum muslim yang membaca ptriarki dan ketidaksetaraan gender dalam Al-Qur’an berdasarkan ayat-ayat tertentu maupun perlakuan Al-Qur’an yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan dalam masalah nikah, cerai, aqikah, saksi, serta waris. Berdasarkan ayat-ayat tersebut mereka menyimpulkan bahwa laki-laki dan perempuan bukan saja berbeda secara biologis, tetapi juga tidak setara dan bertolak belakang. Dalam pandangan ini mencerminkan sebuah klaim bahwa prinsip-prinsip maskulin dan feminin juga dibedakan secara ketat dalam Islam.
Menurut pembacaan kaum konservatif,[9] superioritas laki-laki bersifat alamiah, karena perempuan dianggap tercipta dari atau setelah laki-laki dan untuk kesenangan laki-laki serta bersifat universal maupun sosial. Tuhan dipandang lebih mendahulukan laki-laki dari segi kesempurnaan kecakapan mental dan kebijakan, serta kemampuan penuh dalam melaksanakan kewajiban dan mengemban perintah Tuhan. Oleh karena itu laki-laki mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada perempuan dan menjadikan mereka sebagai pelindung bagi perempuan.
Disisi lain, kaum konservatif menganggap perempuan sebaagai makhluk yang menyedihkan. Dimana fungsi seksual dan psikologinya tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan atau aktivitas apa pun kecuali melahirkan keturunan. Hal itu terjadi dengan alasan karena perbedaan fungsi dan kapasitas biologis maupun mental menjadi faktor pembeda kedua jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Sebab alasan itu juga yang menjadi pembenaran terhadap pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, dimana perempuan harus tunduk kepada laki-laki yang bertanggung jawab menjalankan sistem kehidupan, baik itu suami, ayah, maupun saudara laki-lakinya.
Bagaimanapun, pembacaan-pembacaan yang bersifat misoginis (membenci perempuan) terhadap Islam semacam itu tidak bersumber dari ajaran Al-Qur’an, melainkan dari upaya para mufasir untuk melegitimasi adat kebiasaan pada zaman mereka dengan merincikannya dalam tafsir kitab suci.
Mahmud Syaltut (Syekh al-Azhar) sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab menjelaskan bahwa manusia antara laki-laki dan permpuan mempunyai tabiat kemanusiaan hampir sama. Allah telah menganugerahkan sesuatu kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan sesuatu kepada laki-laki. Keduanya dianugerahkan potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab. Hal ini menjadikan kedua jenis kelamin dapat melaksanakan berbagai aktivitas yang bersifat publik ataupun domestik. Karena itu hukum-hukum syari’at pun meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Di satu pihak laki-laki menjual dan membeli, melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan, demikian juga pada perempuan, dapat menjual dan membeli, melanggar dan dihukum, maupun menuntut dan menyaksikan.[10]
 Ajaran-ajaran yang paling mendasar dalam Al-Qur’an, yang membentuk karakteristik penciptaan manusia. Ada beberapa perspektif tentang asal-usul manusia sebagai makhluk biologis. Pertama, sebagaimana makhluk biologis lainnya, manusia berasal-usul dari air. Sebagaimana dikelaskan dalam Al-Qur’an, yakni surat Al-Anbiya’ ayat 30, Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 99, dan Al-Qur’an surat An-Nur ayat 45, salah satu bunyi ayat tersebut yang artinya:
 “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air”. (Q.S. An-Nur, ayat 45).[11]
Sebagaian ulama berpendapat bahwa awal penciptaan manusia dilakukan di surga yang digambarkan berada di luar planet bumi. Dengan demikian, bagaimana relitas manusia sekarang yang secara indrawi diciptakan di planet bumi. Dalam hal ini Abu Al-Qosim Al-Balkhi dan Abu Muslim Al-Ishfahani sebagaimana dikutip Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa surga yang secara harfiah berarti taman tempat manusia diciptakan, tetap di dalam planet bumi.[12] Dengan alasan tidak tepat diciptakan manusia di dalam surga yang sekaligus merupakan tempat pembalasan segala amal kebajikan.
Dari sini terlihat tidak ada persoalan antara laki-laki dan perempuan, karena asal-usul kejadian makhluk biologis secara genetika tidak dibedakan. Laki-laki dan perempuan diciptakan dan berasal dari unsur yang sama. Kedua, manusia sebagai salah satu jenis makhluk biologis asal-usulnya berasal dari tanah. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, yakni Q.S. Nuh ayat 17-18, Q.S. Thaha ayat 55, Q.S. Hud ayat 61, Q.S. Al-Hajj ayat 5, Q.S. Al-An’am ayat 2, Q.S. As-Shofat ayat 11, Q.S. Ar-Rohman ayat 14, Q.S Al-Hijr ayat 26, Q.S. Al-Mukminun ayat 12, Q.S. Al-Furqon ayat 54, Q.S. An-Nisa ayat 1, Q.S. Al-A’raf ayat 11, Q.S. Al-Hijr ayat 28-29, Q.S. Al-Infithar ayat 7-8, dan Q.S. Ath-Thin ayat 4. Salah satu bunyi ayat tersebut yang artinya:
 “ Dia telah menciptakan kalian dari bumi (Tanah)”. (Q.S. Hud ayat 61).
Menurut ayat tersebut bahwa manusia sebagaimana halnya makhluk biologis lainnya berasal dari jenis tanah tertentu, bukannya berasal dari air. Namun, tidak berarti manusia tidak termasuk makhluk bniologis yang menjadikan air sebagai sumber kehidupan vital. Tanah yang merupakan asal-usul kejadian manusia, bertempat di salah satu dengan sendirinya tercakup unsur air di dalamnya. Air sebagai sumber vital dalam kehidupan dijelaskan lebih jelas di dalam proses reproduksi manusia. Jadi tidak terdapat perbedaan secara substansial dan secara struktural antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, secara lamiah dalam proses keberadaan laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan.[13]
Menurut Asghar Ali Engineer, ada beberapa alasan untuk menunjukkan bahwa posisi laki-laki dan perempuan dalam agama adalah setara. Al-Qur’an memberikan tempat yang sangat terhormat kepada seluruh manusia baik laki-laki membela prinsip-prinsip kesetaraan laki-laki dan perempuan. Al-Qur’an (An-Nisa ayat 23), membenci tradisi masyarakat Arab yang tidak menghargai kelahiran anak perempuan, atau bahkan mengubur mereka hidup-hidup (Q.S. Al-Takwir ayat 9) dan melarang praktik-praktik tersebut. Baik melalui janji pahala bagi yang memperlakukan perempuan dengan baik serta mengancam dengan siksa bagi mereka yang memperlakukan mereka secara tidak adil maupun dengan memberikan hak-hak kepada perempuan yang sebelumnya diabaikan dalam masyarakat jahiliyah. Kedua, banyak ayat Al-Qur’an yang mempertegas kesetaraan gender antara laki-laki dan permpuan, seperti pernyataan bahwa yang membedakan dari setiap individu adalah ketakwaannya
(Q.S. Al-Hujurat ayat 13), pahala seseorang tergantung pada amal baiknya (Q.S. An-Nisa’ ayat 24) dan lain-lain.[14]
Sedangkan pendapat Asghar Ali Engineer mengenai kesetaraan status yang merupakan implikasi dari nilai keadilan gender tercermin pada dua hal, yaitu: pertama, dalam pengertiannya yang umum, kesetaraan status berarti penerimaanmartabat kedua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) dalam ukuran yang setara. Kedua, laki-laki dan perempuan memiliki hak yang setara dalam bidang sosial dan politik. Jadi antara kedunya memilik hak yang setara untuk mengembangkan diri dalam kehidupan.[15]
Dengan kata lain, Al-Qur’an tidak membedakan perilaku moral dan sosial antara laki-laki dan perempuan. Bahkan Al-Qur’an memberikan pengertian bahwa laki-laki dan perempuan bersumber dari diri yang satu, memiliki sifat-sifat yang sama dan merupakan pasangan bagi yang lainnyta.
Tema bahwa laki-laki dan perempuan berasal dari diri yang satu dan merupakan pasangan merupakan bagian yang menyeluruh dan diulang-ulang dalam berbagai konteks: “Dan, Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya” (Q.S. Al-A’raf: 189): “Allah menjadika begi kammu pasangan dari jenis kamu sendiri” (Q.S An-Nahl: 72): “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya” (Q.S. Ar-Ruum: 21): “Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal” (Q.S. Al-Hujarat: 13): “Dia menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan” (Q.S. An-Najm: 45): “Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan” (Q.S. Ar-Ruum:21): (Q.S. Ar-Ruum:21): (Q.S. Al-Qiyamah:39): “Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan” (Q.S. An-Nabaa’:8); “Kamu hamparkan bumi....dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman serta berpasangan” (Q.S Qaaf:7) “Dan segala sesuatu Kami jadikan secara berpasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Q.S. Adz-Dzariyat: 49). Menurut Al-Qur’an, alasan kesetaraan dan keserupaan kedua jenis kelamin ini menandakan bahwa kedunya diciptakan untuk hidup bersama dalam kerangka saling mencintai dan mengakui satu sama lain.[16]
Al-Qur’an bukan hanya tidak mendukung pandangan tentan jenis kelamin atau perbedaan gender seperti yang dianut oleh sistem ptriarkhi, tapi Al-Qur’an juga memperlakukan perbedaan itu secara berbeda dari pada yang dilakukan oleh sistem ptriarkhi. Ringkasan Al-Qur’an mengakui adanya perbedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan , tetapi perbedaan tersebut bukanlah pembedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan, tetapi perbedaan teriminatinsebut bukanlah pembedaan (discrimination) yang menguntungkan satu pihak bukanlah pembedaan (discrimination) yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Sebaiknya, menurut Al-Qur’an perbedaan laki-laki dan perempuan merupakan mitra.[17]
Laki-laki dan merupakan mitra sejajar yang saling melengkapi, saling tergantung dan saling membutuhkan. Harkat dan martabat dapat dicapai melalui perjuangan yang gigih dan bersungguh-sungguh baiklaki-laki maupun perempuan tanpa tergantung satu sama lain. Dengan biologis antara laki-laki dan perempuan tidak dimaksudkan untuk membangun hierarki yang didasarkan pada ras, jenis kelamin, kebangsaan, maupun kelas. Karena di mata Tuhan, yang menjadikan ketakwaan sebagai nilai pembeda dan bagi kaum mukmin, perspektif Tuhan ini merupakan satu-satunya perspektif yang benar.
Jadi satu-satunya fungsi perbedaan menurut Al-Qur’an adalah untuk membedakan antara keimanan dan kekafiran.[18] Islam hanya membuat perbedaan antara mereka yang memenuhi tuntutan Tuhan dan mereka yang tidak memenuhinya. Hierarki yang menunjukkan pada jenis kelamin, ras atau ekonomi. Dalam kaitan ini keadilan gender meniscayakan kesamaan kepada laki-laki dan perempuan baik dalam hak maupun kewajiban.

E.            GENDER DALAM PERSPEKTIF SOSIAL DAN BUDAYA
Konsep gender menyangkut perbedaan psikologis, sosial dan budaya antara laki-laki dan perempuan, yaitu makna panjang yang diberikan masyarakat pada kategori biologis laki-laki dap perempuan. Hal ini dipertegas dengan pernyataan:
The entire sociological perspective began to shift as a growing member of schoolar abandoned gender-biased research. Thus, male centeredness, of approaching sociological problems from an exclusively male perspective, is now less common than it used to be. (Brym & Lie, 2007: 58).
Gender tidak bersifat biologis, melainkan dikonstruksikan secara sosial. Gender tidak dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari melalui sosialisasi. Oleh sebab itu, gender dapat berubah. Proses sosialisasi yang membentuk persepsi diri dan aspirasi, dalam sosiologi dinamakan sosialisasi gender.
Sosialisasi gender sangat penting dalam konteks peningkatan eksistensi gender dalam pembangunan. Perempuan mempunyai kemampuan yang sama dengan laki-laki, bahkan tidak perlu diragukan kemampuan yang sama dengan laki-laki, bahkan tidak perlu diragukan kemampuan dalam kepemimpinan. Perempuan mampu sebagai pemimpin yang efektif, seperti halnya laki-laki. Pernyataan ini dipertegas oleh statement yang dikemukakan seperti dibawah ini :
First, social science research largely supports the gender similarities hypothesis, that is, males and females are very similar to one another in terms of psychological properties. Second, research leaves no doubt that both women and men can be equally effective as leaders (Scehermehorn, 2008, 335).
Apakah statement tersebut diatas dapat dijadikan kenyataan di Indonesia, atau sekedar khayalan, oleh karena itu untuk dapat mewujudkan sangat ditentukan oleh efektivitas proses sosialisasi gender sedini mungkin dengan approprate dalam tujuan pembangunan bangsa Indonesia.
Konsep gender menyangkut “the psychological, social and cultural differences, between males and females” – perbedaan psikologis, sosial dan budaya antara laki-laki dan perempuan. Gender sebagai “the significance a society attache to biological categories of female and male” (Matsunoto and Linda 2008: 155), sebagai makna penting yang diberikan masyarakat pada kategoris biologis laki-laki dan perempuan. Gender juga dapat diartikan sebgai “the knowledege and awarness, whether conscious or unconscious, that one belongs to one sex and not other”. – pada pengetahuan dan kesadaran, baik secara sadar ataupun tidak, bahwa diri seseorang tergolong dalam suatu jenis kelamin tertentu dan bukan dalam jenis kelamin lain.
Disamping penekanan pada perbedaan psikologis, sosial dan budaya antara laki-laki dan perempuan, perbedaan dapat dikonstruksikan secara sosial, perbedaan seseorang. Dari berbagai perumusan tersebut, dapat dilihat bahwa konsep gender tidak mengacu pada perbedaan biologis perempuan dan laki-laki, melainkan perbedaan psikologis, sosial dan budaya yang dikaitkan masyaraka antara laki-laki dan perempuan (Philips, 1979: 200).
Contoh mengenai perbedaan gender ini dapat dilihat, antara lain pada suku Chambuli. Perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan pada suku Chambuli berlawanan dengan apa yang biasanya dijumpai pada masyarakat Barat. Kaum laki-laki Chambuli bila berhadapan dengan orang laki-laki lebih tua dalam keluarganya, seperti orang tua atau kakaknya, perasaan mereka sangat peka. Bilamana perasaan mereka tersinggung, mereka akan cenderung mengundurkan diri dari klannya, dan pindah ke tempat tinggal kerabat klan lain. Ciri lain kaum laki-laki Chambuli ialah bahwa mereka pada umumnya merupakan seniman yang menguasai berbagai cabang kesenian, seperti seni tari, seni rupa, seni rias, seni musik dan seni pertunjukan. Merekan menganggap kesenian sebagai bagian terpenting dalam hidupnya. (Philips 1979: 200).
We are born male or female, but we learn to be masculine or feminine. Gender tidak bersifat biologis melainkan dikonstruksikan secara sosial. Gender tidak dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari melalui sosialisasi. Oleh sebab itu, gender dapat berubah. Contohnya: baik laki-laki maupun perempuan dapat bekerja sebagai guru, buruh, insinyur, dapat mengasuh anak dan merawat orang usia lanjut. Proses sosialisasi yang membentuk persepsi diri dan aspirasi semacam ini, dalam sosiologi dinamakan sosialisasi gender (gender socialization). Sebagaimana halnya dalam sosialisasi pada umumnya, maka sosialisasi gender sangat penting.
                                   




                                                  BAB III
                                                PENUTUP

A.           KESIMPULAN

1.             Gender adalah suatu konsep yang mengkaji tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari pembentukan kepribadian yang berasal dari masyarakat (kondisi sosial, adat-istiadat dan kebudayaan yang berlaku).
2.             Pandangan beberapa tokoh mengenai gender yaki merupakan perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Adapun karakteristik laki-laki dan perempuan tersebut berdasarkan dimensi sosial kultural yang tampak dari niali dan tingkah laku.
3.             Perempuan dalam konsep Islam adalah perempuan sebagai individu yang memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki dan memiliki peran masing-masing. Memiliki hak-hak ekonomi dan kewajiban menuntut ilmu.
4.             Alasan biasnya gender yaitu karena ketidaktahuan perempuan akan kebebasan yang dimilikinya, sehingga menghalangi dalam gerak langkahnya.
5.             Kesetaraan gender bagi perempuan sangat diperjuangkan. Hal ini terlihat dari sejarah perjuangan perempuan menuju kesetaraan baik di dunia internasional maupun nasional (Indonesia). Di dunia internasional perjuangan perempuan dibuktikan dengan dihsilkannya The Millenium Development Goals’ (MDGs) pada konferensi PBB tahun 2000 yang mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sebagai cara efektif untuk memerangi kemiskinan, kelaparan, dan penyakit serta menstimulasi pembangunan yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Di Indonesia perjuangan perempuan dipelopori oleh R.A Kartini dengan surat-suratnya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Selain itu juga banyak organisasi-organisasi perempuan yang ditujukan untuk membantu proses kemerdekaan RI, contohnya seperti Kowani (Kongres Wanita Indonesia Indonesia) dan KPI (Kongres Perempuan Indonesia) yang mendiskusikan tentang RUU Perkawinan yang berkeadilan.
6.             Konsep gender menurut Islam memiliki pandangan yang berbeda-beda. Laki-laki diciptakan dengan kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh wanita. Kelebihan ini selanjutnya menjadi tanggung jawab laki-laki untuk membela dan melindungi wanita. Namun segala kekurangan yang ada dalam wanita tidak menjadi alasan wanita kehilangan derajatnya dalam kesetaraan gender. Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan dalam berbagai hak. Akan tetapi, dalam kesamaan hak tersebut perempuan tetap harus mengingat kodratnya sebagai perempuan, yakni sebagai ibu dari anan-anaknya.
7.             Kesetaraan gender menurut Islam dipandang dari segi sosiobiologis dan tingkat ketaqwaan. Secara biologis dan sosiokultural laki-laki dan perempuan saling memerlukan sehingga ada peran maing-masing diantara keduanya. Sementara itu, kesetaraan gender juga dilihat dari tingkat pengabdian dan ketaqwaannya kepada Allah, bahwa Allah tidak membedakan-bedakan antara laki-laki dan perempuan melainkan dari tinggi rendahnya kualitas pengabdian dan ketaqwaan hambanya.











DAFTAR PUSTAKA

Baldridge, J. V. 1975. Sociology: A Critical Approach to Power. Conflict, and Change. First Edition. New York : John Wiley & Sons, Inc

Bryn, Robert J. And John Lie. 2007. Sociology: Your Compass for New
World. Third Edition, International Edition. Balmont: Thomson Higher Education

Byars, Leoyd L. And Leslie W. Rue. 2008. Human Resource Management. Ninth Edition, Intrenationak Edition . New York: McGraw-Hill/lowin

Julia, M.C. 1996. Gendr dan Pembangunan. Rifka Annisa Women’s center dan Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Matsunoto, D. And Linda J. 2008. Culture & Psycology, Fourth Edition, Internaional Editiom. Belmont: Thomson Higher Education

Philips, B. 1979. Sociology. From Concepts to Practise. First Edition New York: McGraw-Hill, Inc

Ryckman, Ricard M. 2008. Theories of Personality. Ninth Edition, International Edition. Belmont: Thomson Higher Education

Schermerhorn. Jr. J. R.2008. Management. Ninth Edition, New Jersey: John Wiley & Sons, Inc

Soekamto, S. 2007. Sosiologi, Suatu Pengantar. Edisi Baru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Setiawan, H. 1999. Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia. Jakarta: Graha Budaya dan Kalyanamitra.

Heroepoetri, A dan Valentina, R. 2004. Percakapan Tentang Feminisme VS Neoliberalisme, Jakarta: DebtWATCH.

Makalah Pelatihan. 2005 “Cefil, Civic Education and Future Indonesia Leaders”. Di Satunama Yogyakarta: 1-30 Agustus

Umar, N. 2001. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an, Jakarta: Paramadina

Istibsyaroh. 2004, Hak-Hak Perempuan, Relasi Jender Menurut Tafsir Al-Sya’rawi, Jakarta: Teraju

Sodik, M dan Inayah. 2003(eds), Perempuan Tertindas, Kajian Hadits-hadits “Misoginis”, Yogyakarta:PSW IAIN Sunan Kalijaga

Baidowi, A. 2005. Tafsir Feminis, Kajian Perempuan dalam Al-Qur’an dan Para Maufasir Kontemporer, Bandung: Nuansa

Modul Pelatihan. 2003, Kumpulan Materi Pendidikan Gender, Blora, 20-23 Februari

Fakih, M. 1997, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Mansour

Handayani, S dan Setiyo (eds). 1997,  Merekontruksi Realitas, Dengan Perspektif Gender, Yogyakarta : SBPY.
.





[1] Penemuan bahwa kategori “perempuan” dan “laki-laki” bukan merupakan fenomena biologis, tetapi konstruksi-kostruksi kultural sehingga karenanya pada dasarnya tidak mantap, mempunyai konsekuensi-konsekuensi teoritis yang yang penting. Lihat Hesri Setiawan, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Jakarta: Graha Budaya dan Kalyanamitra, 1999, hlm. 38.
[2] Bahwa prinsip feminis itu ideologi (bukan wacana) karena bersifat gabungan dari proses kegiatan mata, hati, dan tindakan, yaitu dengan menyadari, melihat, mengalami, adanya penindasan, hegemoni, diskriminasi, dan penindasa yang terjadi pada perempuan, mempertanyakannya, menggugat, dan mengambil aksi untuk mengubah kondisi tersebut. Lihat Arimbi Heroepoetri dan R. Valentina, Percakapan Tentang Feminisme VS Neoliberalisme, Jakarta: DebtWATCH, 2004, hllm. 5-6.

[3] Sebagai suatu konsep (belum menggunakan istilah gender), pertama kali dituliskan oleh Antropolog permpuan, Margaret Mead. Perilaku laki-laki dan perempuan adalah produksi budaya, dalam bukunya Sex & Temperament in 3 Primitive Societies (1935). Lihat dalam makalah pelatihan, “Cefil, Civic Education and Future Indonesian Leaders”, di Satunama Yogyakarta: 1-30
[4] Nasaruddin Umar, Argument Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an, Jakarta: Paramadina, 2001, hlm. 33.
[5] Istibsyaroh, Hak-Hak Perempuan: Relasi Jender menurut Tafsir Al-Sya’rawi, Jakarta: Teraju, 2004, hlm. 3.
[6] Heddy Shri Ahimsa membedakan pemaknaan gender menjadi beberapa pengertian, yakni (1) gender sebagai sebuah istilah asing dengan makna tertentu; (2) gender sebagai suatu fenomena sosial budaya ; (3) gender sebagai suatu kesadaran sosial ; (4) gender sebagai suatu persoalan sosial budaya; (5) gender sebagai sebuah konsep untuk analisis; dan (6) gender sebagai sebuah perspektif untuk memandang kenyataan. Lihat Mochamad Sodik dan Inayah Rohmaniyah (eds), Perempuan Tertindas; Kajian Hadits-hadits “Misoginis”, Yogyakarta; PSW IAIN Sunan Kalijaga, 2003, hlm. 22.
[7] Anne Oakley, ahli sosiologi Inggris, adalah orang yang mula-mula membedakan istilah “seks” dan “ gender”. Ahmad Baidowi, Tafsir Feminis; Kajian Perempuan dalam Al-Qur’an dan Para Maufasir Kontemporer, Bandung: Nuansa, 2005, hlm. 30.
[8] Nasaruddin Umar, Op. Cit. Hlm. 248.
[9] Yang dimaksud dengan kaum konservatif adalah kaum muslim yang menganut pandangan tentang tertutupnya pintu ijtihad dan yang tidak menghendaki perkembangan baru dalam pengetahuan keagamaan.

[10] Quraish Shihab, Membunyikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1994, hlm 269-270.
.
[11] Nasaruddin Umar, Op. Cit, hlm. 210.
[12] Ibid, hlm. 211.

[13] Ibid, hlm. 209-218.
[14]Asghar Ali Engineer, The Right of Women in Islam, terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Assegaf, Hak-hak Perempuan dalam Islam, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1994, hlm. 59.
.
[15]Ibid. Hlm. 57..
[16] Asma Barlas, Cara Qur’an Membebaskan Perempuan, Jakarta; Serambi Ilmu Semesta, 2003, hlm. 241.

[17] Mitra sering digunakan sebagai suatu istilah untuk mencapai tujuan bersama kawan kerja dalam hal mencapai tujuan bersama antara laki-laki dan perempuan.

[18] Asma Barlas, Op. Cit, hlm. 258

Demikianlah materi tentang Makalah Konsep Gender yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Sistem Politik Islam yang telah kami posting sebelumnya. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.


EmoticonEmoticon