Saturday, September 23, 2017

Makalah LGBT

Makalah LGBT - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :

 Makalah LGBT
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikantugas makalah ini dengan baik . Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni al-Qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Makalah ini adalah salah satu tugas mata kuliah Perilaku Organisasi dengan judul makalah yaitu “Pengaruh LGBT Terhadap Masyarakat“. Selanjutnya  penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bp. Dr.H.Wawan Prahlawan, SE.,M.M selaku dosen pembimbing mata kuliah Perilaku Organisasi  dan kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.
Akhirnya penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Serang , 19 Maret 2016

Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Kehadiran kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia, akhir-akhir ini semakin ramai dipersoalkan. Tidak hanya di media massa dan jejaring sosial, perbincangan seputar kelompok ini juga dilakukan di forum diskusi secara serius oleh berbagai organisasi sosial dan agama, majelis agama-agama, komisi-komisi negara, kampus, dan legislatif. Semuanya bertujuan untuk meletakkan persoalan LGBT ini pada tempat yang sebenarnya. Perilaku dan fenomena LGBT sudah lama terjadi di Indonesia maupun di belahan bumi lain. Namun LGBT menjadi isu dan topik diskusi yang melibatkan negara dan institusi internasional baru belakangan ini saja terjadi.

Tidak semua orang setuju dengan istilah LGBT atau GLBT.Contohnya, ada yang berpendapat bahwa pergerakan transgender dan transeksual tidak sama dengan lesbian, gay, dan biseksual (LGB).Argumen ini bertumpu pada gagasan bahwa transgender dan transeksualitas berkaitan dengan identitas gender yang terlepas dari orientasi seksual Isu LGB dipandang sebagai masalah orientasi atau rangsangan seksual. Pemisahan ini dilakukan dalam tindakan politik: tujuan LGB dianggap berbeda dari transgender dan transeksual, seperti pengesahan pernikahan sesama jenis dan perjuangan hak asasi yang tidak menyangkut kaum transgender dan interseks. Beberapa interseks ingin dimasukkan ke dalam kelompok LGBT dan lebih menyukai istilah "LGBTI", sementara yang lainnya meyakini bahwa mereka bukan bagian dari komunitas LGBT dan lebih memilih tidak diliputi dalam istilah tersebut.

Di sela- sela berbagai kontroversi dalam masyarakat, media juga ikut andil dalam menyuarakan berbagai pandangan dari sudut pro dan kontra, Setiap komunitas yang disebut  LGBT telah dan masih terus berjuang untuk mengembangkan identitasnya masing-masing,seperti apakah, dan bagaimana bersekutu dengan komunitas lain, konflik tersebut terus berlanjut hingga kini.

Besarnya respons yang diberikan oleh beragam komponen masyarakat bangsa ini, karena melihat semakin derasnya kampanye, advokasi dan propaganda yang dilakukan pelaku dan pendukung kaum ini.Tidak lagi sekadar menyuarakan perlindungan diskriminasi atau kekerasan, tetapi mulai mempengaruhi publik dengan mendalilkan bahwa perilaku LGBT adalah normal, tidak menular dan tidak berbahaya.Secara terang-terangan kelompok ini mendesak negara untuk mengakui kehadiran mereka sebagai bagian dari komunitas yang ada dalam masyarakat. Ujungnya, kaum LGBT dan para pendukungnya memperoleh legalitas dari negara melakukan pernikahan sejenis

Hal ini tentu nya menimbulkan pro dan kontra di berbagai kalangan, baik itu dikalangan politik, lembaga ataupun kalangan masyarakat. Bagi masyarakat Indonesia yang masih setia pada norma dan tradisi agama, sangat wajar kalau mereka menentang. Lebih dari itu, alasan mereka tidak saja norma agama, melainkan juga dikhawatirkan akan mempengaruhi pertumbuhan remaja yang masih dalam proses pencarian identitas diri, sehingga akan membawa mereka ke gaya hidup yang dianggap menyalahi adat dan kepantasan sosial.Sedangkan bagi pejuang pembela hak asasi manusia, LGBT itu hak seseorang yang mesti dihargai. Maka tak bisa dihindari munculnya pro-kontra baik mereka yang membahas dari sisi psikologis ilmiah, analisis teologi, maupun kebijakan publik yang mesti diambil pemerintah.

Berdasarkan fenomena tersebut, maka dari itu penulis mencoba untuk membahas lebih dalam bagaimana pengaruh LGBT tersebut terhadap masyarakat. Sehingga ini menjadi kajian yang akan dapat menjadi pertimbangan bagi para pembaca dalam menyikapi fenomena yang ada saat ini.  
                              

  
BAB II
PEMBAHASAN
  1. Sejarah LGBT
LGBT atau GLBT adalah akronim dari "lesbian, gay, biseksual, dan transgender". Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa "komunitas gay karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan.Akronim ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman "budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender".Kadang-kadang istilah LGBT digunakan untuk semua orang yang tidak heteroseksual, bukan hanya homoseksual, biseksual, atau transgender.Maka dari itu, seringkali huruf Q ditambahkan agar queer dan orang-orang yang masih mempertanyakan identitas seksual mereka juga terwakili (contoh."LGBTQ" atau "GLBTQ", tercatat semenjak tahun 1996).Istilah LGBT sangat banyak digunakan untuk penunjukkan diri. Istilah ini juga diterapkan oleh mayoritas komunitas dan media yang berbasis identitas seksualitas dan gender di Amerika Serikat dan beberapa negara berbahasa Inggris lainnya.

Seluk-beluk LGBT memang menarik untuk dibicarakan, terlepas dari apakah kita pro atau kontra, ada baiknya kita mengetahui dunia LGBT saat ini karena tidak sedikit pula LGBT yang mau menikah heterogen dengan pasangan di luar kaumnya. Bagi pasangan gay, harus ada yang berperan sebagai perempuan dan laki-laki di antara  mereka berdua, untuk gay yang berperan sebagai perempuan disebut bottom dan yang jadi laki-laki disebut top. Sedangkan, untuk lesbian yang berperan sebagai perempuan disebut femme dan yang menjadi laki-laki disebut buchi.Tidak melulu seorang lesbian hanya ingin berhubungan dengan wanita karena saat ini telah ada kasus di mana ada buchi yang hanya mau berhubungan dengan bottom.Si perempuan buchi itu menjadi laki-laki di kehidupan pernikahan, sementara si laki-laki bottom menjadi perempuan di kehidupan nyata.

Di negara maju seperti Amerika dan Eropa, keberadaan kelompok LGBT telah mendapat pengakuan dari negara.Ia tidak lagi dianggap sebagai perilaku yang abnormal. Perilaku LGBT dipandang sama seperti perilaku manusia lain dan itu dikategorikan sebagai hak asasi yang wajib dilindungi negara. Lebih jauh, legalitas aktivitas mereka sudah sampai pada pengakuan terhadap hidup bersama dalam sebuah ikatan pernikahan rumah tangga.

Derasnya kampanye, advokasi, dan propaganda komunitas LGBT di bumi nusantara ini, salah satunya ditopang oleh pendanaan yang besar dari UNDP (United Nations Development Programme). Satu organ badan dunia PBB ini mengucurkan dana sebesar 8 juta dolar AS (sekitar Rp 108 miliar) untuk empat negara yakni Indonesia, Cina, Filipina dan Thailand. Bantuan yang dimulai Desember 2014 hingga September 2017 mendatang, bertujuan agar kaum LGBT mengetahui hak-hak mereka dan mendapatkan akses ke pengadilan ketika melaporkan pelanggaran HAM yang dialami. Output yang diharapkan adalah kemampuan organisasi-organisasi LGBT semakin meningkat dalam melakukan mobilisasi dan berkontribusi diberbagai dialog kebijakan serta aktivitas pemberdayaan komunitas.

Tercatat sejauh ini telah ada 23 negara di dunia yang melegalkan pernikahan sejenis. Negara-negara tersebut adalah Belanda (1996), Belgia (2003), Spanyol dan Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Norwegia dan Swedia (2009), Portugal, Islandia, dan Argentia (2010), Denmark (2012), Brazil, Inggris dan Wales, Prancis, Selandia Baru dan Uruguay (2013), Skotlandia (2014), Luxemburg, Finlandia, Slovenia, Irlandia, Meksiko, serta Amerika Serikat (2015).

Terus bermunculanDi Indonesia, gerakan kaum LGBT sudah berlangsung lama. Kemunculan mereka secara terbuka dalam bentuk organisasi dengan nama Lambda Indonesia dilakukan pertama sekali pada 1982. Sampai 1990-an organisasi atau asosiasi sejenis terus bermunculan.Sampai sekarang diperkirakan 40-an organisasi LGBT telah berdiri di 33 provinsi. Beberapa asosiasi utama LGBT yang saat ini terus aktif melakukan kampanye dan advokasi di antaranya: Gaya Nusantara, Arus Pelangi, Ardhanary Institute, dan GWL INA.
  1. Pandangan Psikater dan Psikolog terhadap LGBT
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI) mengeluarkan pernyataan sikap atas berkembangnya isu Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGB-T) di Indonesia.Menurut Undang-undang No.18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa dan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)-III, LGBT merupakan istilah yang berkembang di masyarakat yang tidak dikenal dalam ilmu psikiatri. Sedangkan orientasi seksual antara lain meliputi heteroseksual, homoseksual dan biseksual.

Homoseksual merupakan kecenderungan ketertarikan secara seksual kepada jenis kelamin yang sama. Homoseksual meliputi lesbian dan gay.Sedangkan biseksual adalah kecenderungan ketertarikan secara seksual kepada kedua jenis kelamin. Transseksualisme merupakan gangguan identitas kelamin berupa suatu hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya, biasanya disertai perasaan tidak enak atau tidak sesuai dengan anatomi seksualnya.Dia juga menginginkan untuk memeroleh terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan.

Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dr Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ(K) bahwa Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) merupakan orang yang memiliki masalah fisik, mental dan sosial, pertumbuhan dan perkembangan dan kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. Dengan demikian, orang dengan homoseksual dan biseksual dapat dikategorikan sebagai ODMK, Sedangkan untuk menegakkan diagnosis transeksual, identitas mereka harus menetap selama minimal dua tahun. Dan perlu dicatat, transeksual bukan gejala dari gangguan jiwa seperti skizofrenia atau kelainan interseks, genetik atau kromosom seks sehingga mereka dikategorikan sebagai Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan menurutnya pula bahwa tidak semua ODKM akan berkembang menjadi ODGJ. Banyak faktor yang berkontribusi hingga muncul gangguan jiwa seperti faktor genetik, neurobiologik, psikologik, sosial, budaya dan spiritualitas.

Pakar Psikolog menyatakan LGBT bisa disembuhkanAda beberapa hal yang mempengaruhi perilaku LGBT. Misalnya faktor biologis.Penelitian menyatakan bahwa homoseksual (gay dan lesbi) dan transgender disebabkan karena muncul dorongan dari dalam tubuh yang bersifat genetik. Penyimpangan genetik ini bisa diterapi dan disebuhkan dengan baik dengan cara medis maupun religi. Di samping itu, ada juga pengaruh lingkungan, keluarga, dan pengetahuan agama yang lemah.Dari pemilihan subjek dan objek inilah kemudian bisa ditentukan pendekatan seperti apa yang paling efektif dilakukan agar kaum dan pendukung LGBT menyadari kekeliruan yang mereka lakukan. Tidak hanya menggunakan instrumen hak asasi manusia yang universal semata tanpa memerhatikan nilai-nilai sosial, budaya dan agama yang hidup di masyarakat.Demikian pula sebaliknya.
  1. Pandangan KPAI dan KPI terhadap LGBT
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) selama Februari 2016 sudah mengeluarkan sekitar 6 sanksi teguran, terhadap televisi yang memiliki program-program yang secara tidak langsung, mempromosikan pelaku dan perilaku LGBT.Tidak dipungkiri bahwa publik figur seringkali menjadi pusat percontohan perilaku di kalangan penggemarnya.Penularan yang terlihat cepat di kalangan figur publik, khususnya artis, bisa jadi contoh paling gamblang, pelaku dan perilaku LGBT di kalangan publik figur secara langsung atau tidak langsung disebarluaskan secara massif oleh lembaga penyiaran, khususnya televisi.Bayangkan jika setiap hari ada beberapa televisi menampilkan pelaku dan perilaku LGBT dalam programnya, maka berapa juta warga masyarakat Indonesia yang terterpa pesan langsung dan tidak langsung tentang LGBT.

Kelompok LGBT juga membangun kesadaran bersama dan melakukan upaya bersama memperjuangkan pembenaran, eksistensi, sampai pengakuan hak-hak hukum atas disorientasi perilaku seksualnya.Tentu saja, kelompok LGBT secara sadar juga melakukan berbagai upaya untuk menambah jumlah pelaku dan menyebarluaskan perilaku mereka.Kampanye viral melalui media sosial saat ini dimanfaatkan secara maksimal bagi kelompok dan pendukung LGBT, untuk menyebarluaskan paham mereka. Juga menggalang dukungan dan menjaring pengikut baru di tengah tidak ada regulasi yang secara efektif mampu mengawasinya.

Sedangkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan, propaganda Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) dilarang masuk ke anak-anak.LGBT merupakan penyimpangan terhadap moral, agama dan undang-undang.Di dalam UU Perlindungan Anak dan KUHP, menjelaskan, kalau bersetubuh, pencabulan, pelecehan dengan anak itu adalah tindak pidana.Menurut KPAI propaganda LGBT dilarang keras masuk ke dalam anak-anak., Tentunya Hak Asasi Manusia (HAM) memang melekat dalam diri manusia.Namun tidak serta merta menjadi nomor satu. Menurutnya, HAM dibatasi hak-hak lain. Dia mengungkapkan, amanat UUD 45 sangat jelas.

Orang Indonesiamasih memiliki keyakinan bahwa perilaku LGBT tidak sesuai norma moral, agama dan sebagainya. Penyakit kelamin karena penyimpangan seks sangat tinggi meski kerap dibantah aktivis LGBT.Pada tahun 1950, tidak ada satu negara pun yang melegalkan perkawinan sesama jenis.Pada tahun 2015 terdapat 17 negara yang melegalkan perkawinan sesama jenis.Bagaimana 2050 atau 2100. Karena bumi ini akan musnah karena tidak terjadi reproduksi.

Disisi lain, Gerakan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) semakin berani di Indonesia, bahkan tak segan menuntut tujuh pejabat negara. Pejabat tersebut terdiri dari Mendikbub Anies Baswedan, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, anggota DPR M Nasir Djamil, Ketua MPR Zulkifli Hasan, termasuk penggiat dan Komisioner Perlindungan Anak Indonesia Erlinda.

Pihak KPAI mengemukakan bahwa Mereka salah karena mengampanyekan propaganda Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) kepada anak-anak. Padahal anak-anak itu sama sekali tidak boleh diberitahukan hal-hal buruk, yang bertentangan dengan usia dan masa pertumbuhan. Itu sudah diamanahkan langsung lewat UU pasal 56 atau lainnya. Sepaham dengan KPAI maka KPI pun mengeluarkan surat edaran yang berisi 7 poin yang harus diperhatikan oleh Lembaga Penyiaran dalam melaksakan peraturan dan Pedoman Perilaku Penyiaran serta Standar Program Siaran (P3 dan SPS) yang berisi pelarangan pria sebagai pembawa acara (host), talent maupun pengisi acara lainnya (baik pemeran utama maupun pendukung) dengan tampilan :
1.      Gaya berpakaian kewanitaan;
2.      Riasan (make up) kewanitaan;
3.      Bahasa Tubuh Kewanitaan, (termasuk namun tidak terbatas pada gaya berjalan, gaya duduk, gaya tangan maupun perilaku lainnya);
4.      Gaya Bicara Kewanitaan;
5.      Menampilkan pembenaran atau promosi seorang pria untuk berprilaku kewanitaan;
6.      Menampilkan sapaan terhadap pria dengan sebutan yang seharusnya diperuntukkan untuk wanita;
7.      Menampilkan istilah dan ungkapan khas yang sering digunakan kalangan pria kewanitaan.
  1. Pandangan Agama dan HAM tentang LGBT
Dari sisi agama, semua agama melarang adanya LGBT, Dalam Islam LGBT sangat di haramkan karena itu sudah tercantum dalam Al-Quran surat Al Aruf ayat 80 :84 yang dimana ayat ini mengisahkan tentang jaman nya nabi Luth yang pada masa itunabi Luth mengusir orang orang yang tidak taat kepada ajaran Allah SWT, mereka yang melakukan hubungan sesama jenis sehingga Allah membinasakan mereka dengan menghujani mereka dengan batu.

Selain itu diperjanjian baru surat Roma bab 1 ayat 26 27 bahwamereka menyatakan bahwa merekayang melakukan hubungan sexsesama jenis  akan mendapatkan gajaran yg setimpal degan dosanya, Sedangkan  ”Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa Allah merancang agar hubungan seks dilakukan hanya di antara pria dan wanita, dan hanya dalam ikatan perkawinan. (Kejadian 1:27, 28; Imamat 18:22; Amsal 5:18, 19) Alkitab mengutuk percabulan, yang mencakup perilaku homoseksual maupun heteroseksual terlarang.”*—Galatia 5:19-21.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram terhadap seluruh aktivitas lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT) pada 17 Februari 2016. Menyusul MUI, kini sejumlah organisasi keagamaan lain juga turut angkat bicaratentang LGBT, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI Najamudin Ramli, pimpinan-pimpinan Majelis Agama yang terdiri dari MUI, Konferensi Wali Gereja Indonesia, Perwakilan Umat Budha Indonesia, dan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia menimbang bahwa aktivitas LGBT bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama, Pancasila, UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 dan UU Nomer 1 tahun 1974 tentang pernikahan.

Mungkin bagi sebagian orang yang pro dengan LGBT menuntut agar pemerintah melegalkan perbuatan tersebut.Mereka sering berdalih dengan landasan hak asasi manusia (HAM) sebagai tameng utamanya. Bahkan Indonesia sebagai salah satu negara hukum memberikan jaminan kebebasan berekspresi diatur dalam UUD 1945 amandemen II, yaitu pasal 28 E ayat (2) yang menyatakan setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya. Ini adalah masalah bersama dilihat problem kejiwaan/problem sosial atau bukan, sehingga semua lapisan masyarakat dituntut agar memahaminya dengan baik dan segera dicari solusinya.Legalnya pernikahan sejenis di Indonesia pun akan melanggar UU No. 1 tahun 1974 tentang pernikahan yang menyebutkan bahwa pasangan mempelai adalah seorang wanita dan seorang pria.

Sekalipun mereka masih tetap teguh kepada pendirianya untuk melegalkan perbuatan ini.Maka hal yang harus dijadikan basis fundamental dan harus selalu diingat dalam kaitanya penegakkan hak asasi manusia adalah bahwa HAM berbanding lurus dengan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dengan demikian, setiap individu bebas dan berhak atas haknya masing-masing, namun pada saat yang sama ia harus memperhatikan hak-hak orang lain yang berada di lingkungannya. Sejauh pengamatan penulis sampai saat ini, pandangan kelompok ini baru sampai pada taraf menuntut hak-haknya saja.Dalam hal ini, Peran pemerintah benar-benar sangat diperlukan untuk merumuskan kerangka kode etik sosial.
  1. Perkembangan  LGBT di Indonesia
Aktivis hak-hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) Dede Oetomo menyebut jumlah gay di Indoneia ada ratusan ribu orang.Bahkan ada yang memperkirakan 3 persen dari penduduk Indonesia adalah kaum LGBT.Data itu dia peroleh dari rilis Kementerian Kesehatan di tahun 2006.Jumlah gay saat itu 760 ribuan orang.Sementara waria 28 ribu orang.Dede menjelaskan bahwa angka ini ketika dicari di internet juga tidak ada.Kalau lesbi tidak ada data.Soal jumlah pasti tidak ada yang tahu.Ada yang bilang 3 persen dari jumlah penduduk Indonesia.Hanya saja menurut Dede tidak ada jumlah pastinya, karena tidak pernah bisa dihitung.Ini disebabkan mereka masih menutup diri dan bersembunyi.Lantaran hukum dan sosial Indonesia masih tidak menerima keberadaan mereka.Bagi yang pro LGBT, ini faktanya:
1.    Tiga lembaga kesehatan sangat kredibel yang melakukan riset intensif menyimpulkan LGBT itu bukan mental disorder, bukan penyakit, tapi sekedar varian orientasi seksual orang-orang yang sehat belaka.Ketiganya adalah Asosiasi Psikiater Amerika  (tahun 1970an), diikuti Asosiasi Psikologi Amerika dan Lembaga Kesehatan Dunia PBB (WHO)
2.     Tahun 2014, melalui voting, Persatuan Bangsa Bangsa membuat resolusi bahwa LGBT itu adalah bagian sentral dari hak asasi manusia. Ia adalah pilihan individu dan identitas sosial yang punya hak hidup, dan tak boleh didiskriminasi, sebagaimana agama, suku, ras, gender
3.     Umumnya penentang LGBT menggunakan alasan agama. Namun kini sudah muncul interpretasi progresif dari banyak agama yang ikut mendukung LGBT. Untuk dunia muslim, misalnya Gerakan Muslim Progresive values. Ini pertarungan interpretasi terhadap agama.
Menjadi LGBT adalah sebuah pilihan yang bebas dipilih oleh siapapun berdasarkan cara pikirnya sendiri. Cara pikir setiap orang tentu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor mulai dari proses perkembangan seseorang hingga faktor lingkungan di luar dirinya. Memang, saat ini semua orang belum dapat menerima kehadiran LGBT, selalu ada pro dan kontra terhadap sesuatu hal.Untuk masalah LGBT, ada dua macam sikap kontra yang terlihat.Pertama, kontra tetapi dapat menerima untuk hidup berdampingan dengan LGBT dan yang kedua, kontra untuk melibas.Masalah pro kontra disini jangan hanya dikaitkan dengan kaum straight dan non-straight. Ada banyak kasus dimana LGBT ingin kembali menjadi straight dengan cara  mencoba berhubungan dengan lawan jenis atau kaum straight yang akhirnya memilih untuk menjadi LGBT. Kembali, itu adalah sebuah pilihan setiap orang berhak memaknai kehidupannya sendiri.

Memilih menjadi kaum LGBT tentu mendatangkan risiko yang tidak sedikit, contoh paling sederhana adalah bully.Bentuk bully-nya sama seperti orang kebanyakan yang merasa superior. Mereka menganggap LGBT adalah kaum inferior. Kasus bully sendiri justru terjadi juga di kaum LGBT sendiri seperti misalnya, White Gay People menolak berhubungan dengan Asian gay, sissy, old, dan lain-lain. Sementara untuk dorongan seksual,  ada kaum gay ada yang hiperseksual dan pasif. Bahkan banyak kaum LGBT yang masih menjaga "kemurnian" mereka dengan tidak melakukan penetrasi saat seks atau bahkan tidak melakukan seks sama sekali. Banyak LGBT yang juga percaya konsep true love.

Mengambil pilihan untuk menjadi LGBT membuat seseorang juga harus menerima berjuta risiko dalam satu paket.Salah satu risikonya adalah berkaitan dengan transmisi HIV/AIDS.Kelompok transmisi tertinggi hingga beberapa tahun lalu di Indonesia itu LSL (Lelaki Seks Lelaki atau MSM-Men Sex Men). Sekitar awal tahun 1981, dari kaum gay pula lah yang ditemukan pertama kali mengidap penyakit tersebut (sumber: Centers for Diseases Control-CDC, Los Angeles). Selanjutnya gaya hidup yang bebas seperti ini malah cukup menimbulkan  kekhawatiran semakin meningkatnya angka kejadian penyakit tersebut.

Belum lagi dengan melakukan hubungan homoseksual membuat mereka tidak dapat menghasilkan keturunan.Untuk masalah menghasilkan keturunan, di negara barat, kita bisa ambil Ricky Martin dan Neil Patrick Harris yang masing-masing dengan pasangannya memutuskan untuk beranak pinak dengan konsep surrogate mother (meminjam rahim kepada wanita pendonor). Bahkan melalui surrogate mother mereka bisa memrogram ingin punya anak dengan jenis kelamin apa, kembar, dan sebagainya.

Secara default hanya ada pria dan wanita.LGBT itu pilihan karena merasa tidak nyaman dengan kondisi defaultnya.Masalah LGBT muncul karena memodifikasi kondisi default.Kondisi default manusia adalah wanita untuk pria dan sebaliknya. Secara fisiologis pun demikian. Alat reproduksi pun demikian.Desain alat kelamin dan tubuh lainnya pun saling melengkapi.Jadi ada kondisi membutuhkan lawan jenis.Bahkan di LGBT sendiri ada fungsi gender pria dan wanita. Karena ada ketidaknyamanan atau ada dorongan emosi dan protes terhadap kondisi default maka memilih menjalani LGBT.

6.      LGBT dan Pengaruhnya Terhadap Sebuah Bangsa dan Masyarakat
Pro dan kontra terus mengemuka dengan pelbagai argumennya yang tentu sama-sama diklaim valid.Merujuk pada penelitian PEW research center, negara-negara yang religius memang memiliki toleransi yang minimal terhadap perilaku LGBT.Semakin religius sebuah negara, semakin besar kecenderungan penolakannya atas LGBT.Indonesia, dalam riset tersebut, dikategorikan sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat religiusitas tinggi, sehingga wajar saja nuansa penolakannya jauh lebih besar dibanding negara-negara yang dikategorikan kurang religious semisal Kanada, Spanyol, Jerman dan UK.  Akan tetapi, dengan nuansa debat berbasis moral dan religi tanpa basis data yang ajeg, pihak yang berdebat pun pada gilirannya memiliki definisi kebenaran dan kepatutan yang berbeda yang hampir mustahil bertemu sapa.Bagaimana pengaruh dari sikap pro LGBT sebuah negara terhadap pertumbuhan ekonominya?Dilihat dari beragam variabel dalam sebuah survey ada tiga variabel yang paling relevan, diantaranya adalah: i) dukungan figur publik (baik politikus maupun artis); ii) dukungan pemerintah dan; iii) dukungan pemuka agama. Model yang dibangun didasarkan pada teori pertumbuhan ekonomi klasik, di mana ekonomi dapat tumbuh dengan dengan bantuan modal dan tenaga kerja, di mana kecenderungan LGBT yang semakin besar di sebuah negara akan berdampak kepada kondisi kependudukan yang memburuk. Hal ini dapat dijelaskan dari fakta terang benderang bahwa pasangan LGBT tidak dapat menghasilkan keturunan.

Kondisi kependudukan yang memburuk tersebut pada gilirannya akan menghambat ekonomi untuk terus tumbuh. Negara-negara besar di Eropa seperti Jerman dan Perancis, misalnya, memiliki kecenderungan pertumbuhan populasi yang negatif sehingga pada tahun 2060, negara-negara ini akan kehilangan hampir setengah penduduknya karena kondisi rapid aging society. Selanjutnya hasil bercerita bahwa persentase dukungan figur publik terhadap LGBT yang semakin besar ternyata tidak berdampak signifikan tehadap pertumbuhan ekonomi.Dari sini, tersirat bahwa meski figur publik berkoar-koar mendukung LGBT, hanya sedikit dari masyarakatnya yang betul-betul terpengaruh sehingga efek tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi tidak terlalu kentara.Namun jika melihat faktor pemerintah, setiap 1 persen kenaikan kecenderungan pro LGBT, maka terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.1 persen.Di sini, dapat dilihat bahwa peran pemerintah selaku pembuat kebijakan adalah cukup krusial, baik itu bersifat pro maupun kontra terhadap LGBT.Dari sini pula, kita dapat melihat bahwa kebijakan pemerintah yang memiliki kecenderungan pro terhadap LGBT dapat meng-constraint pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, pengaruh yang lebih besar didapat dari faktor pemuka agama, yaitu setiap 1 persen kenaikan kecenderungan pemuka agama yang pro terhadap LGBT maka pertumbuhan ekonomi akan turun sebesar 0.12 persen dengan tingkat signifikansi yang lebih besar dari dua faktor yang disebut sebelumnya. Temuan ini tentunya menyiratkan bahwa pemuka agama adalah gerbang terakhir penjagaan sebuah negara terhadap LGBT. Jika para pemuka agama kontra terhadap LGBT, sebagian besar masyarakat akan taat dan kecenderungan masyarakat yang berketurunan akan semakin banyak. Hal ini tentu pada gilirannya akan mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sebaliknya, semakin banyak pemuka agama yang pro LGBT, atau bahkan menjadi pelaku LGBT itu sendiri, maka potensi 'hilang generasi' akan semakin besar.
  1. Pengaruh LGBT terhadap masyarakat Indonesia
Melihat betapa cepatnya pertumbuhan organisasi, tingginya aktivitas serta semakin beraninya promosi yang mereka lakukan, sangatlah wajar bila  disikapi secara serius. Jangan sampai keberadaan LGBT yang oleh mayoritas masyarakat dianggap menyimpang itu, memancing reaksi mereka untuk bersikap dengan cara mereka sendiri. Sebab masyarakat punya logika berfikir dan cara bertindak sendiri, manakala hal-hal yang dianggap menyimpang tidak disikapi oleh pemerintah dengan tegas.
Mayoritas masyarakat tidak setuju pada LGBT. Namun, dari dulu masyarakat juga sudah tahu adanya praktik LGBT, tapi tidak membuatnya heboh karena LGBT dilakukan secara terbatas, diam-diam, tidak show off dan melakukan kampanye, serta tidak memiliki jaringan dengan komunitas LGBT negara lain.Dengan hadirnya media sosial berbasis internet, dunia memang terasa semakin plural dan warna-warni.Mereka yang merasa sebagai kelompok minoritas yang terkucilkan, kesepian dan tertindas, sangat aktif dan efektif menggunakan fasilitas media sosial untuk memperkenalkan diri, mencari  teman seideologi, dan senasib.
 Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid mengatakan bahwa fenomena LGBT, seks bebas atau pernikahan sesama jenis sangat merisaukan seluruh warga bangsa. Fenomema negatif tersebut dikhawatirkan membawa pengaruh buruk dan menular di kalangan generasi muda.Para orang tua pun sangat mengkhawatirkan dampak buruk tersebut.Hidayat pun mewanti-wanti agar seluruh elemen bangsa berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan agar pengaruh buruk jangan sampai masuk ke rumah dan merusak moral anak-anak.
Sikap Majelis Agama tetap menolak segala bentuk propaganda, promosi, dan dukungan terhadap upaya legislasi serta perkembangan LGBT di Indonesia.
serta melarang segala bentuk dukungan dana yang diperuntukkan bagi kampanye dan sosialisasi serta dukungan terhadap aktivitas LGBT di Indonesia yang dilakukan oleh pihak mana pun, termasuk oleh organisasi internasional dan perusahaan internasional.  Juga mewaspadai gerakan atau intervensi pihak mana pun dengan dalih apapun, termasuk dalih hak asasi dan dalih demokrasi untuk mendukungLGBT.
  1. Tindakan  masyarakat dalam menyikapi LGBT di  Indonesia
Gerakan LGBT, begitu cepat menjadi gosip nasional berkat media sosial dan kondisi masyarakat kita yang tengah memasuki tahapan puber demokrasi, serta gagap menghadapi gelombang modal asing serta budaya yang menyertai.Sekarang ini masyarakat mudah sekali melontarkan hate speech lewat media sosial, yang hanya dalam hitungan menit bisa tersebar ke ratusan ribu followers. Orang mudah melakukan labelisasi yang berimplikasi pada terciptanya segregasi sosial.Ketika seseorang atau kelompok sudah diberi label sesat dan menyimpang, seakan mereka sah untuk dimusuhi atau diusir karena telah melawan agama dan Tuhan. Dan mereka yang memusuhi kelompok kecil yang menyimpang ini seakan sudah berada di jalan  kebajikan, padahal mereka hanya berhenti pada memusuhi,  tanpa berupaya melakukan dialog dan upaya menyelesaikan problem yang tengah dihadapi.

Sekarang ini banyak forum pelatihan parenting bagi pasangan orangtua dan suami-isteri yang disajikan oleh para ahli.Ini penting diikuti untuk menambah wawasan dan bertukar pengalaman dalam membesarkan anak-anak.Karena kesibukannya, banyak orangtua yang mengalami kesulitan dan kebingungan menghadapi anak-anaknya, karena oleh anaknya mereka sekedar dianggap orang tua yang menyediakan fasilitas materi, tetapi bukan teman curhat yang mengasyikkan dan terpercaya.Orangtua sekarang mesti belajar menjadi pendengar dan teman diskusi yang baik. Semakin tambah usia anak, semakin melebar pergaulannya, dan semakin sulit bagi orangtua untuk memahami dunia mereka. Kecuali orangtua yang juga menjadi teman berbagi rasa dan pikiran.

Adapun negara mesti memberi perlindungan pada warga negara yang oleh sebagian masyarakat  dianggap berperilaku menyimpang, atau mereka yang dianggap mengikuti ajaran sesat. Bagaimana pun, mereka adalah sesama manusia dan warga negara yang berhak mendapatkan perlindungan hukum dan rasa aman.Kalaupun LGBT dipandang sebagai kelainan, kita mesti bersimpati dan berempati bagaimana membantu menyembuhkan. Jika LGBT sebagai pilihan sadar dan gaya hidup karena berbagai alasan yang melatarbelakangi, maka masing-masing pihak yang pro dan kontra mesti duduk dan bicara baik-baik bagaimana menemukan formula solusi win-win.Sebagai warga negara kaum LGBT pantas untuk dilindungi dari tindakan kekerasan dan sesegera mungkin untuk disembuhkan dan direhabilitasi.

Terhadap isu LGBT ini, masing-masing pihak yang pro-kontra mesti memahami posisi dan argumen masing-masing.Andaikan pro LGBT tetap aktif agresif melakukan kampanye, mesti siap menghadapi respons balik dari yang kontra mengingat Indonesia bukanlah Barat.Tetapi yang pasti, tidak bijak kalau sampai terjadi pengusiran dan tindakan fisik terhadap LGBT sebagaimana yang menimpa kelompok minoritas yang dianggap sesat.

Bagi organisasi keagamaan, pasantren dan para juru dakwah, keberadaan kaum LGBT ini menjadi tanda tangan dakwah tersendiri.Bagaimana dakwah yang disampaikan tidak hanya berfungsi sebagai penyampai pesan kebenaran, tetapi juga bisa menjadi terapi jiwa yang sarat dengan muatan religi.Pendekatan baru dalam menyampaikan pesan Ilahi terhadap bahaya LGBT tidak ditangkap sebagai sebaran kebencian dan hujatan yang dibalut firman Tuhan.
Pada akhirnya, agar pro-kontra keberadaan LGBT di bumi Khatulistiwa ini bisa diakhiri, sudah saatnya pemerintah atas nama negara bersikap tegas. Yang perlu diingat bahwa seluruh bidang keahlian telah memberikan pernyataan terkait LGBT ini.Begitu pula berbagai disiplin ilmu dan teori telah digunakan untuk meneliti, mengkaji dan mengalisisnya.Semua umat beragama bahkan menyatakan perbuatan LGBT terlarang dan haram.Jangan membiarkan keresahan masyarakat menggumpal. Sebab, terlalu mahal ongkos yang ditanggung, jika LGBT dibiarkan berkembang biak di negeri yang beradab dan berketuhanan ini.

9. Perkembangan LGBT dimancanegara
Golongan LGBT ini menggeliat dan kian mendapat tempat baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Tercatat sudah 14 negara di dunia yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Pernikahan sesama jenis pertama kali dilegalkan di Belanda, pada 2001. Menyusul Kanada, Afrika Selatan, Belgia, dan Spanyol. Kemudian Argentina, Denmark, Islandia, Norwegia, Portugal, dan Swedia serta terakhir Perancis.
Mahkamah Agung Amerika Serikat melegalkan pernikahan sejenis di seluruh Negara Bagian, dengan demikian pernikahan sejenis dilindungi oleh undang-undang Negara. Keputusan ini merupakan langkah besar bagi komunitas LGBT di USA dimana mereka sudah lama sekali memperjuangkan legalitas pernikahan sejenis di seluruh Negara.
Di Negara Israel, Negara ini memang belum melegalisasi pernikahan sejenis karena lembaga-lembaga keagamaan di sana menentangnya. Tapi bila ada warga yang menikah sesama jenis di luar negeri, Negara akan mencatatkannya, untuk kepentingan administrasi kependudukan dan kepentingan anak bila dikemudian hari pasangan ini memiliki anak. Tahun 2009 melalui polling didapatkan bahwa 61% warga Israel menyatakan menyetujui pernikahan sejenis, 31% menentang, dan 8% abstain. Kita juga ketahui, Israel adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang memberi kebebasan bagi warganya merayakan LGBT pride.
Negara-negara yang menganggap LGBT sebagai kriminal tercatat baru 3 negara yaitu Russia, Ugandan, dan Macedonia. Sisanya, sebanyak 78 negara lebih termasuk negara negara berpenduduk Islam seperti, negara-negara Timur Tengah, Indonesia, Brunai dan Malaysia tidak mempunyai undang-undang anti LGBT sehinggga negara-negara tersebut bisa dianggap negara yang membolehkan LGBT, walaupun tidak melegalkan pernikahan sesama jenis.
Seiring dengan maraknya aktifitas kaum LGBT di negara-negara berpenduduk muslim seperti Arab Saudi, Lebanon, Syria, Malaysia bahkan Indonesia, mereka semakin memberanikan diri untuk menunjukan identitas. Masyarakat yang mayoritas penduduknya muslim pun digiring kepada opini yang menganngap bahwa perilaku tersebut adalah wajar dan harus dilindungi dari tekanan-tekanan pihak-pihak yang menolaknya. 

BAB III
KESIMPULAN

1.      Dilihat dari berbagai sudut pandang lembaga seperti KPAI, KPI, ahli psikiater dan psikolog  begitu juga dari  sudut pandang ke agamaan dan HAM masalah LGBT ini sangat besar pengaruh nya terhadap masyarakat dan memang semuanya berpendapat sama bahwa LGBT adalah hal yang tidak bisa di terima atau di akui ke legalitasan nya di lingkungan masyarakat  mengingat bangsa indonesia merupakan bangsa yang beragama , memiliki budaya, norma dan aturan yang berbeda dengan negara yang lain khususnya bangsa barat.
2.      Menghadapi fenomena LGBT, sikap orangtua dan keluarga sebaikya lebih bijak, peduli, dan mau belajar bagaimana mendidik dan mendampingi anak-anaknya agar tumbuh secara sehat baik fisik, mental, maupum spiritualnya.
3.      Sebagai masyarakat bangsa yang berketuhanan, yang menolak perilaku LGBT hidup dan tumbuh subur di negara ini. Pelaku LGBT tidak boleh mempromosikan orientasi seksual yang menyimpang itu kepada orang lain untuk mempengaruhi dan menerimanya sebagai sebuah kewajaran. Cukup menjadi hak diri pribadi seorang, atau paling jauh sampai batas komunitasnya saja.
4.      Masyarakat harus menyikapi perilaku LGBT lah yang harus dijadikan musuh bersama sekaligus dicarikan cara menyelesaikannya. Tidak cukup dengan menyalahkan apalagi sampai mengisolasi mereka. Sebab perilaku orientasi seks menyimpang bukan bawaan lahir terlebih lagi dihukum sebagai takdir ilahi. Ada beragam faktor penyebab menjadikan seseorang yang tadinya laki-laki tetapi cenderung bersikap dan berkepribadian perempuan, atau sebaliknya. Seseorang yang awalnya mempunyai orientasi seksnya normal, tetapi berubah karena banyak sebab.
5.      Walaupun begitu Pelaku LGBT perlu dilindungi hak untuk hidup, bebas dari rasa takut, bisa bekerja, berpendapat, berkelompok dan beragama. Negara berkewajiban memberikan jaminan terhadap hak-hak tersebut.
6.      Bahwa perilaku LGBT bisa menghambat pertumbuhan ekonomi suatu Negara, karena kaum LGBT tidak dapat menghasilkan keturunan sedangkan kondisi masyarakat dan perekonomian semakin berkembang.
7.      Sistem hukum di  Indonesia, termasuk peraturan perundang-undangannya, mesti tegasdan jelas mengatur tentang pelaku dan perilaku LGBT ini. Rusia, Singapura, dan Filipina, misalnya, sudah punya perundang-undangan yang jelas dan tegas tentang pelarangan LGBT.
8.      Inilah saatnya peran tokoh-tokoh agama dan ormas agama lebih berperan aktif membendung pengaruh buruk tersebut dengan menanamkan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur bangsa kepada generasi muda secara massif. Jadi, para tokoh agama, ormas agama jangan berpangku tangan harus proaktif.


                                               DAFTAR PUSTAKA

 http://www.liputan6.com/tag/lgbt
https://id.wikipedia.org/wiki/LGBT
http://aceh.tribunnews.com/2016/02/24/semua-agama-haramkan-lgbt?page=3
https://www.google.com/search?q=jurnal+tentang+lgbt&revid=885872386&sa=X&ved=0ahUKEwjM7rfWmr3LAhVWBI4KHa2SDngQ1QIIaCgE&biw=1280&bih=673
http://www.e-jurnal.com/2015/08/realitas-lesbian-gay-biseksual-dan.html
http://www.academia.edu/5661698/Pelanggaran_Hak_Asasi_Manusia_Terhadap_Kaum_Homoseksual_Biseksual_dan_Transgender_di_Indonesia
http://www.suara.com/news/2015/07/06/060400/berapa-jumlah-gay-lesbian-di-indonesia
http://www.bintang.com/tag/lgbt
https://www.google.com/search?q=pendapat+KPAI+terhadap+lgbt&ie=utf-8&oe=utf-8#q=pandangan+HAM+terhadap+LGBT
http://www.academia.edu/5661698/Pelanggaran_Hak_Asasi_Manusia_Terhadap_Kaum_Homoseksual_Biseksual_dan_Transgender_di_Indonesia
http://www.kpai.go.id/berita/propaganda-lgbt-dilarang-masuk-dunia-anak-anak/
http://www.kpai.go.id/
http://www.dakwatuna.com/2016/01/25/78632/kpai-propaganda-lgbt-terhadap-anak-adalah-kejahatan-berat/#axzz42rPXiGUx
http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/1102011149
https://www.selasar.com/ekonomi/lgbt-dan-kegagalan-sebuah-bangsa
http://www.arrahmah.com/kajian-islam/wabah-lesbian-gay-biseksual-transgenderwaspadalah.html#sthash.Q8gRcma9.dpuf
https://apaja.wordpress.com/2015/06/28/mengapa-pernikahan-sejenis-harus-dilegalkan/



Demikianlah materi tentang Makalah LGBT yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Manajemen yang telah kami posting sebelumnya. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.


EmoticonEmoticon