Monday, September 18, 2017

Makalah Patient Safety

Makalah patient safety merupakan jenis tulisan tentang keselamatan pasien untuk meningkatan kapasitas suatu rumah sakit dan kepercayaan masyarakat.

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini tepat pada waktunya yang berjudul “Patient Safety”
Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Keselamatan pasien. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun sangat kami harapkan.
Akhir kata kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai semua usaha kita. Aamiin.

Bandung, Januari 2014


Penyusun


Daftar Isi
Kata Pengantar...................................................................................................................... 
Daftar Isi................................................................................................................................ 
BAB I Pendahuluan.............................................................................................................. 
A.    Pendahuluan........................................................................................................ 
B.     Latar Belakang..................................................................................................... 
C.     Tujuan.................................................................................................................. 
BAB II Pembahasan.............................................................................................................. 
A.    Mengapa Perlu Ada Patient Safety..................................................................... 
B.     Pengertian Patient Safety.................................................................................... 
C.     Tujuan Patient Safety.......................................................................................... 
D.    Manfaat Patient Safety........................................................................................ 
E.     Langkah Menuju Patient Safety.......................................................................... 
F.      Sembilan Solusi Keselamatan Pasien................................................................... 
G.    Tujuh Standar Keselamatan Pasien...................................................................... 
H.    Langkah Pelaksanaan Patient Safety.................................................................. 
BAB III Penutup................................................................................................................... 
Kesimpulan............................................................................................................................ 
Daftar Pustaka........................................................................................................................ 


 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    PENDAHULUAN
Keamanan adalah prinsip yang paling fundamental dalam pemberian pelayanan kesehatan maupun keperawatan, dan sekaligus aspek yang paling kritis dari manajemen kualitas. Keselamatan pasien (patient safety) adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman, mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi pengenalan risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut dan implementasi solusi untuk meminimalkan resiko (Depkes 2008).

Tujuan dilakukannya kegiatan Patient Safety di rumah sakit adalah untuk menciptakan budaya keselamatan pasien di rumah sakit, meningkatkan akuntabilitas rumah sakit, menurunkan KTD di rumah sakit, terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak diharapkan.

Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang penting dalam sebuah rumah sakit, maka diperlukan standar keselamatan pasien rumah sakit yang dapat digunakan sebagai acuan bagi rumah sakit di Indonesia.

B.     LATAR BELAKANG
Hampir setiap tindakan medic menyimpan potensi resiko. Banyaknya jenis obat, jenis pemeriksaan dan prosedur, serta jumlah pasien dan staf Rumah Sakit yang cukup besar, merupakan hal yang potensial bagi terjadinya kesalahan medis (medical errors). Menurut Institute of Medicine (1999), kesalahan medis didefinisikan sebagai: suatu Kegagalan tindakan medis yang telah direncanakan untuk diselesaikan tidak seperti yang diharapkan atau perencanaan yang salah untuk mencapai suatu tujuan (yaitu., kesalahan perencanaan). Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis ini akan mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien, bisa berupa Near Miss atau Adverse Event (Kejadian Tidak Diharapkan/KTD).

Near Miss atau Nyaris Cedera (NC) merupakan suatu kejadian akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi, karena keberuntungan (misalnya,pasien terima suatu obat kontra indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat), pencegahan (suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan, tetapi staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan), dan peringanan (suatu obat dengan overdosis lethal diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan antidotenya).
Adverse Event atau Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) merupakan suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), dan bukan karena “underlying disease” atau kondisi pasien.

Kesalahan tersebut bisa terjadi dalam tahap diagnostic seperti kesalahan atau keterlambatan diagnose, tidak menerapkan pemeriksaan yang sesuai, menggunakan cara pemeriksaan yang sudah tidak dipakai atau tidak bertindak atas hasil pemeriksaan atau observasi; tahap pengobatan seperti kesalahan pada prosedur pengobatan, pelaksanaan terapi, metode penggunaan obat, dan keterlambatan merespon hasil pemeriksaan asuhan yang tidak layak; tahap preventive seperti tidak memberikan terapi provilaktik serta monitor dan follow up yang tidak adekuat; atau pada hal teknis yang lain seperti kegagalan berkomunikasi, kegagalan alat atau system yang lain.

Dalam kenyataannya masalah medical error dalam sistem pelayanan kesehatan mencerminkan fenomena gunung es, karena yang terdeteksi umumnya adalah adverse event yang ditemukan secara kebetulan saja. Sebagian besar yang lain cenderung tidak dilaporkan, tidak dicatat, atau justru luput dari perhatian kita semua.
Mempertimbangkan betapa pentingnya misi rumah sakit untuk mampu memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik terhadap pasien mengharuskan rumah sakit untuk berusaha mengurangi medical error sebagai bagian dari penghargaannya terhadap kemanusiaan, maka dikembangkan system Patient Safety yang dirancang mampu menjawab permasalahan yang ada.

C.     TUJUAN
1.      Mengetahui tentang Patient Safety (Keselamatan Pasien)
2.      Mengetahui cara untuk mewujudkan keselamatan Pasien

BAB II
PEMBAHASAN
A.     MENGAPA PERLU ADA PATIENT SAFETY?
1.      Laporan WHO
-          Di Negara maju : 1 dari 10 pasien dirawat mengalami cedera
-          Di Negara berkembang lebih tinggi (risiko infeksi 20 kali lipat)
-          Setiap saat 1,4 juta orang di dunia menderita infeksi di Rumah Sakit
-          Minimal 50% peralatan medic di negara berkembang tidak layak
-          Setiap tahun 1,3 juta kematian disebabkan injeksi yang tidak aman
-          Di Penerbangan dan Nuklir keselamatan 1 : 1 juta tapi di Yankes rasio
2.      Di Amerika Serikat
-          Kesalahn pemberian obat di Amerika Serikat 34-56%
-          Kesalahan bedah 1: 50 pasien rawat
3.      Di Inggris
-          Tiap hari terjadi kesalahn medic
4.      Di Indonesia (di Yogya) menurut Iwan D. MMedSc., Phd:
-          Medication Errors di ICU mencapai 96% (tidak sesuai indikasi, tidak sesuai dosis, dll)
-          Medication di Puskesmas mencapai 80%
5.      Di Indonesia (di Jakarta tahun 2005)
-          Pidana : 48 kasus di Polda Metro
-          Perdata : 160 kasus di LBH Kesehatan
6.      Laporan Insiden ke KKPRS persi September 2006 sampai Agustus 2007
-          Asal provinsi yang melapor 9 provinsi dengan 3 terbanyak adalah DKI, Jateng, dan Yogya
-          Rincian kejadian:
a.       Fraktur fibula tidak terdeteksi, hanya hecting di UGD
b.      Salah tulis nama bayi, bayi tertukar
c.       Kasus multitrauma di CT scan tapi belum distabilkan sebagai pasien meninggal
d.      Perawat melakukan persiapan operasi (cukur buku mata), tapi dokter belum menentukan meta yang akan di Vitrektomi karena masih konsul ke dokter 1 dan dokter 2
e.       Gips tanpa jendela, sebagai kaki busuk
f.       Pasien TB diberi MDT, konsul ke paru di beri MDT juga (double MDT)
g.       Salah baca obat : Ottopan diberi OttopainTT
h.      Salah dosis : 1,5 mg menjadi 1,5 ml

B.     PENGERTIAN PATIEN SAFETY (KESELAMATAN PASIEN)
Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu system yang membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Sistem tersebut meliputi : Assesment Risiko, Identifikasi dan Pengelolaan Risiko (Laporan dan Analisa), Belajar dari Insiden (Tindak Lanjut dan Implementasi Solusi).

C.     TUJUAN PATIENT SAFETY
1.      Terciptanya budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit
2.      Meningkatnya akuntabilitas Rumah Sakit terhadap pasien dan masyarakat
3.      Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di Rumah Sakit
4.      Terlaksananya program-program pencegahansehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak diharapkan
5.      Menciptakan lingkungan yang aman bagi karyawan dan pengunjung Santosa Bandung International Hospital
6.      Mempertahankan reputasi Santosa Bandung International Hospital
7.      Memberikan pelayanan yang efektif dan efisien

D.     MANFAAT PATIENT SAFETY
1.      Budaya safety meningkat dan berkembang
2.      Komunikasi dengan pasien berkembang
3.      Kejadian tidak diharapakn (KTD) menurun
4.      Risiko klinis menurun
5.      Keluhan berkurang
6.      Mutu pelayan Rumah Sakit meningkat
7.      Citra Rumah Sakit dan kepercayaan masyarakat meningkat, diikuti dengan kepercayaan diri yang meningkat

E.      LANGKAH MENUJU PATIENT SAFETY
1.   Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien
2.   Memimpin dan mendukung staf untuk komitmen dan focus pada keselamatan pasien di Rumah Sakit
3.   Integrasikan manajemen risiko
4.   Sistem pelaporan di Rumah Sakit
5.   Komunikasi terbuka dengan pasien
6.   Belajar dan berbagi pengalaman keselamatan pasien
7.   Cegah cedera melalui implementasi keselamatan pasien

F.      SEMBILAN SOLUSI LIVE-SAVING KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT
WHO Collaborating Centre for Patient Safety pada tanggal 2 Mei 2007 resmi menerbitkan Nine Life Saving Patient Safety Solutions (Sembilan Solusi Life-Saving Keselamatan Pasien Rumah Sakit).
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) mendorong RS-RS di Indonesia untuk menerapkan Sembilan Solusi Life-Saving Keselamatan Pasien Rumah Sakit, atau 9 Solusi, langsung atau bertahap, sesuai dengan kemampuan dan kondisi RS masing-masing.
1.      Perhatikan Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip (Look-Alike, Sound-Alike Medication Names).
Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip (NORUM),yang membingungkan staf pelaksana adalah salah satu penyebab yang paling sering dalam kesalahan obat (medication error).
Solusi :
a.       NORUM ditekankan pada penggunaan protokol untuk pengurangan risiko
b.      Memastikan terbacanya resep, label, atau penggunaan perintah yang dicetak lebih dulu
c.       Pembuatan resep secara elektronik.

2.      Pastikan Identifikasi Pasien.
Kegagalan mengidentifikasi pasien àkesalahan pengobatan, transfusi , pemeriksaan, pelaksanaan prosedur yang keliru orang, penyerahan bayi kepada bukan keluarganya, dsb.
Rekomendasi :
a.       Verifikasi terhadap identitas pasien, termasuk keterlibatan pasien dalam proses ini
b.      Standardisasi dalam metode identifikasi di semua rumah sakit dalam suatu sistem layanan kesehatan
c.       Partisipasikan pasien dalam konfirmasi ini
d.      Penggunaan protokol untuk membedakan identifikasi pasien dengan nama yang sama.

3.      Komunikasi Secara Benar saat Serah Terima / Pengoperan Pasien.
Kesenjangan dalam komunikasi saat serah terima/ pengoperan pasien antara unit-unit pelayanan, dan didalam serta antar tim pelayananàterputusnya kesinambungan layanan, pengobatan yang tidak tepat, dan potensial dapat mengakibatkan cedera terhadap pasien.
Rekomendasi :
a.       Memperbaiki pola serah terima pasien termasuk penggunaan protokol untuk mengkomunikasikan informasi yang bersifat kritis
b.      Memberikan kesempatan bagi para praktisi untuk bertanya dan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan pada saat serah terima
c.       Melibatkan para pasien serta keluarga dalam proses serah terima.

4.      Pastikan Tindakan yang benar pada Sisi Tubuh yang benar.
Penyimpangan pada hal ini à pelaksanaan prosedur yang keliru atau pembedahan sisi tubuh yang salah. Sebagian besar adalah akibat dan miskomunikasi dan tidak adanya informasi atau informasinya tidak benar. Faktor yang paling banyak kontribusinya terhadap kesalahan-kesalahan macam ini adalah tidak ada atau kurangnya proses pra-bedah yang distandardisasi.
Rekomendasi :
a.       Mencegah jenis-jenis kekeliruan yang tergantung pada pelaksanaan proses verifikasi prapembedahan
b.      Pemberian tanda pada sisi yang akan dibedah oleh petugas yang akan melaksanakan prosedur
c.       Adanya tim yang terlibat dalam prosedur sesaat sebelum memulai prosedur untuk mengkonfirmasikan identitas pasien, prosedur dan sisi yang akan dibedah.

5.      Kendalikan Cairan Elektrolit Pekat (concentrated).
Sementara semua obat-obatan, biologics, vaksin dan media kontras memiliki profil risiko, cairan elektrolit pekat yang digunakan untuk injeksi khususnya adalah berbahaya. Rekomendasi :
a.       Membuat standardisasi dari dosis, unit ukuran dan istilah
b.      Pencegahan atas campur aduk / bingung tentang cairan elektrolit pekat yang spesifik.
6.      Pastikan Akurasi Pemberian Obat pada Pengalihan Pelayanan.
Kesalahan medikasi terjadi paling sering pada saat transisi / pengalihan. Rekonsiliasi (penuntasan perbedaan) medikasi adalah suatu proses yang didesain untuk mencegah salah obat (medication errors) pada titik-titik transisi pasien.
Rekomendasi:
a.       Menciptakan suatu daftar yang paling lengkap dan akurat dan seluruh medikasi yang sedang diterima pasien juga disebut sebagai “home medication list”, sebagai perbandingan dengan daftar saat admisi, penyerahan dan / atau perintah pemulangan bilamana menuliskan perintah medikasi
b.      Komunikasikan daftar tsb kepada petugas layanan yang berikut dimana pasien akan ditransfer atau dilepaskan.
7.      Hindari Salah Kateter dan Salah Sambung Slang (Tube).
Slang, kateter, dan spuit (syringe) yang digunakan harus didesain sedemikian rupa agar mencegah kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan) yang bisa menyebabkan cedera atas pasien melalui penyambungan spuit dan slang yang salah, serta memberikan medikasi atau cairan melalui jalur yang keliru.
Rekomendasi :
Menganjurkan perlunya perhatian atas medikasi secara detail / rinci bila sedang mengerjakan pemberian medikasi serta pemberian makan (misalnya slang yang benar), dan bilamana menyambung alat-alat kepada pasien (misalnya menggunakan sambungan & slang yang benar).

8.      Gunakan Alat Injeksi Sekali Pakai.
Salah satu keprihatinan global terbesar adalah penyebaran HIV, HBV, dan HCV yang diakibatkan oleh pakai ulang (reuse) dari jarum suntik.
Rekomendasi:
a.       Perlunya melarang pakai ulang jarum di fasilitas layanan kesehatan
b.      Pelatihan periodik para petugas di lembaga-lembaga layanan kesehatan khususnya tentang prinsip-pninsip pengendalian infeksi,edukasi terhadap pasien dan keluarga mereka mengenai penularan infeksi melalui darah.
c.       Praktek jarum sekali pakai yang aman.

9.      Tingkatkan Kebersihan Tangan (Hand hygiene) untuk Pencegahan lnfeksi Nosokomial.
Diperkirakan bahwa pada setiap saat lebih dari 1,4 juta orang di seluruh dunia menderita infeksi yang diperoleh di rumah-rumah sakit. Kebersihan Tangan yang efektif adalah ukuran preventif yang pimer untuk menghindarkan masalah ini.
Rekomendasi:
a.       Mendorong implementasi penggunaan cairan “alcohol-based hand-rubs” tersedia pada titik-titik pelayan tersedianya sumber air pada semua kran
b.      Pendidikan staf mengenai teknik kebarsihan tangan yang benar mengingatkan penggunaan tangan bersih ditempat kerja
c.       Pengukuran kepatuhan penerapan kebersihan tangan melalui pemantauan / observasi dan tehnik-tehnik yang lain.




G.     TUJUH STANDAR KESELAMATAN PASIEN

1.      Hak Pasien
Pasien & keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana & hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan).
Kriteria:
a.       Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan
b.      Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan
c.       Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas dan benar   kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya KTD

2.      Mendidik Pasien Dan Keluarga
RS harus mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.
Kriteria:
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dgn keterlibatan pasien adalah partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di RS harus ada system dan mekanisme mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien & keluarga dapat:
a.       Memberikan info yg benar, jelas, lengkap dan jujur
b.      Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab
c.       Mengajukan pertanyaan untuk hal yg tdk dimengerti
d.      Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan
e.       Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS
f.       Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa
g.       Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati

3.      Keselamatan Pasien Dan Kesinambungan Pelayanan
RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan.
Kriteria:
a.       Koordinasi pelayanan secara menyeluruh
b.      Koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya
c.       Koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi
d.      Komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan

4.      Penggunaan Metode-Metode Peningkatan Kinerja Untuk Melakukan Evaluasi Dan Program Peningkatan Keselamatan Pasien
RS harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yg ada, memonitor & mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif KTD, & melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta KP.


Kriteria:
a.       Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang baik, sesuai dengan  ”Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit”.
b.      Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja
c.       Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif
d.      Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis

5.      Peran Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Keselamatan Pasien
Standar:
a.       Pimpinan dorong & jamin implementasi progr KP melalui penerapan “7 Langkah Menuju KP RS ”.
b.      Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif identifikasi risiko KP & program mengurangi KTD.
c.       Pimpinan dorong & tumbuhkan komunikasi & koordinasi antar unit & individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang KP
d.      Pimpinan mengalokasikan sumber daya yg adekuat utk mengukur, mengkaji, & meningkatkan kinerja RS serta tingkatkan KP.
e.       Pimpinan mengukur & mengkaji efektifitas kontribusinyadalam meningkatkan kinerja RS & KP.
Kriteria:
a.       Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.
b.      Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program meminimalkan insiden,
c.       Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi
d.      Tersedia prosedur “cepat-tanggap” terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.
e.       Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden,
f.       Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden
g.       Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelola pelayanan
h.      Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan
i.        Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien

6.      Mendidik Staf  Tentang Keselamatan Pasien
Standar:
a.       RS memiliki proses pendidikan, pelatihan & orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan KP secara jelas.
b.      RS menyelenggarakan pendidikan & pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan & memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.

Kriteria:
a.       Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien
b.      Mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.
c.       Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.

7.      Komunikasi Merupakan Kunci Bagi Staf  Untuk Mencapai Keselamatan Pasien
Standar:
a.       RS merencanakan & mendesain proses manajemen informasi KP untuk memenuhi kebutuhan informasi internal & eksternal.
b.      Transmisi data & informasi harus tepat waktu & akurat.
Kriteria:
a.       Disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien.
b.      Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada

H.     LANGKAH LANGKAH KEGIATAN PELAKSANAAN PATIENT SAFETY ADALAH

1.      Di Rumah Sakit
a.       Rumah sakit agar membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit, dengan susunan organisasi sebagai berikut: Ketua: dokter, Anggota: dokter, dokter gigi, perawat, tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan lainnya.
b.      Rumah sakit agar mengembangkan sistem informasi pencatatan dan pelaporan internal tentang insiden
c.       Rumah sakit agar melakukan pelaporan insiden ke Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) secara rahasia
d.      Rumah Sakit agar memenuhi standar keselamatan pasien rumah sakit dan menerapkan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit.
e.       Rumah sakit pendidikan mengembangkan standar pelayanan medis berdasarkan hasil dari analisis akar masalah dan sebagai tempat pelatihan standar-standar yang baru dikembangkan.

2.      Di Provinsi/Kabupaten/Kota
a.       Melakukan advokasi program keselamatan pasien ke rumah sakit-rumah sakit di wilayahnya
b.      Melakukan advokasi ke pemerintah daerah agar tersedianya dukungan anggaran terkait dengan program keselamatan pasien rumah sakit.
c.       Melakukan pembinaan pelaksanaan program keselamatan pasien rumah sakit

3.       Di Pusat
a.       Membentuk komite keselamatan pasien Rumah Sakit dibawah Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia
b.      Menyusun panduan nasional tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit
c.       Melakukan sosialisasi dan advokasi program keselamatan pasien ke Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota, PERSI Daerah dan rumah sakit pendidikan dengan jejaring pendidikan.
d.      Mengembangkan laboratorium uji coba program keselamatanpasien.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hal yang dapat kita simpulkan adalah bahwa untuk mewujudkan patient safety butuh upaya dan kerjasama berbagai pihak, pasien safety merupakan upaya dari seluruh komponen sarana pelayanan kesehatan.


Daftar Pustaka
marsenorhudy.wordpress.com/2011/01/07/patient-safetiy-keselamatan-pasien-rumah-sakit/
ansharbonassilfa.wordpress.com/2010/08/20/patient-safety-di-rumah-sakit/
adhikurniawan.wordpress.com/8/
https://www.google.com/search?q=materi+tentang+patient+safety&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a#q=risiko+atau+resiko&rls=org.mozilla:en-US:official



Demikianlah materi tentang Makalah Patient Safety yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan bermanfaat.


EmoticonEmoticon