Sunday, September 24, 2017

Makalah Sosiologi

Makalah Sosiologi - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :

Makalah Sosiologi
BAB  I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Sosiologi  sebagai  ilmu  yang  dikembangkan  pada  tahun  1700-an  pada dasarnya  merupakan  respons  atas  perubahan  tatanan  masyarakat  yang merupakan  akibat  adanya  serangkaian  revolusi  sosial  di  negara-negara Eropa.  Kejadian  tersebut    melahirkan  berbagai  pemikiran  dan  tawaran-tawaran  ide  yang  berusaha  merekonstruksi  ulang  di  samping  membentuk tatanan  sosial  baru  yang  dianggap  lebih  relevan  dengan  proses  perubahan sosial  yang  sedang  terjadi.  Respons  yang  di  kalangan  akademisi  ini selanjutnya  melahirkan  tokoh-tokoh  sosiologi  yang  ide-idenya  banyak dijadikan rujukan dalam pembahasan masalah sosial.

Sosiologi  sebagai  ilmu  yang  mempelajari  hubungan-hubungan  sosial yang  ada  dalam  masyarakat,  memfokuskan  kajiannya  pada  peran  dan kedudukan  individu  dalam masyarakat  serta  hubungan  di  antara  keduanya. Sehubungan dengan hal  ini beberapa pemikir  sosiologi pun  terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu mereka yang menekankan kajiannya pada 1) dominasi individu, 2) dominasi masyarakat, dan 3) saling pengaruh antara individu dan masyarakat.  Sebagai  ilmu  yang  mempelajari  hubungan-hubungan  sosial, sosiologi tidak bisa dipisahkan dari peranan ilmu sosial lainnya, seperti ilmu ekonomi, kesehatan, politik, komunikasi, antropologi, organisasi, hukum, dan lain-lain. Hal tersebut dikarenakan gejala social yang menjadi obyek kajian sosiologi  pada  dasarnya  bukan  gejala  tunggal  melainkan  sesuatu  yang mengandung  banyak  dimensi. Dengan  demikian maka  pada  perkembangan selanjutnya  dari  kajian  sosiologi  mulai  muncul  bidang-bidang  kajian  yang sifatnya  terapan,  seperti Sosiologi Ekonomi, Sosiologi Kesehatan, Sosiologi Hukum, Sosiologi Politik, Sosiologi Komunikasi, dan lain-lain.

Berdasarkan pemikiran dan pandangan yang dikemukakan di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul :
”Ruang lingkup Sosiologi, Proses Sosial dan Kelompok Sosial”.


1.2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis mengambil beberapa rumusan masalah yang akan dikembangkan dalam rangka penulisan ini, yaitu:
1.    Bagaimana pengertian, fungsi, konsep dan teori-teori Sosiologi?
2.    Bagaimana perkembangan Sosiologi di Indonesia?
3.    Apa yang di maksud dengan proses sosial dan interaksi sosial?
4.    Bagaimana pengertian dan tipe-tipe kelompok sosial?

1.3.  Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah :
1.    Untuk memahami pengertian, fungsi, konsep dan teori-teori Sosiologi.
2.    Untuk mengetahui perkembangan Sosiologi di Indonesia.
3.    Untuk mengetahui proses sosial dan interaksi sosial dalam kehidupan.
4.    Untuk memahami pengertian dan tipe-tipe kelompok sosial.

1.4.  Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat yang dapat diambil dalam penulisan ini antara lain dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa termasuk penulis untuk memahami pengertian, teori-teori dan perkembangan Sosiologi di Indonesia. Selain itu untuk dapat lebih mendalami mengenai interaksi sosial dan tipe-tipe kelompok sosial.

1.5.  Metode Penulisan
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

1.5.1.  Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data sekunder yang berasal dari literatur-literatur yang ada seperti buku, artikel, internet, dan tulisan lain yang terkait dengan topik pembahasan.

1.5.2.  Metode Pengolahan Data
Pengolahan data dan informasi yang diperoleh dilakukan dengan pendekatan deskriptif. Proses penyelesaian masalah yang ada dilakukan dengan cara mengidentifikasi masalah, menganalisis sumber penyebab masalah, kemudian menentukan solusi pemecahan masalah dengan studi komparatif terhadap data yang digunakan serta pengalaman lapangan yang dimiliki oleh penulis.

1.5.3.  Penarikan Kesimpulan
Tahap akhir penulisan ini adalah penarikan kesimpulan dari pembahasan, sehingga dapat menghasilkan intisari yang diperlukan berkaitan dengan permasalahan yang ada.
  

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.  Pengantar Sosiologi
Sosiologi berawal dari filsafat yang dianggap sebagai induk ilmu (Master scientiarum). Filsafat adalah ilmu mengenai pengetahuan, kritik, dan sistematika pengetahuan, penyimpulan ilmu pengetahuan empiris, pengajaran rasional, akal pengalaman, dan seterusnya. Sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti “kawan” dan kata Yunani logos yang berarti “kata” atau “berbicara”. Dapat dikatakan bahwa sosiologi berarti “berbicara mengenai masyarakat”. Menurut Auguste Comte (1798-1857) sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir perkembangan ilmu pengetahuan.

2.2.  Ilmu Pengetahuan dan Sosiologi
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan (knowlage) yang tersusun sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, yang selalu dapat diperiksa dan ditelaah (dikontrol) oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya. Tidak semua pengetahuan merupakan suatu ilmu, hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis saja yang merupakan pengetahuan. Ilmu pengetahuan dapat timbul dari pelbagai cara, diantaranya:
a.    Penemuan secara kebetulan, artinya penemuan yang sifatnya tanpa direncanakan dan diperhitungkan terlebih dahulu.
b.    Hal untung-untungan, artinya penemuan melalui cara percobaan-percobaan dan kesalahan-kesalahan.
c.    Kewibawaan, yaitu berdasarkan penghormatan terhadap pendapat atau penemuan yang dihasilkan oleh seseorang atau lembaga tertentu yang dianggap mempunyai kewibawaan atau wewenang.
d.   Usaha-usaha yang besifat spekulatif, artinya dari sekian banyak kemungkinan, dipilih salah satu kemungkkinan walaupun pilihan tersebut tidak didasarkan keyakinan apakah pilihan tersebut merupakan cara yang setepat-tepatnya.
e.    Pengalaman, artinya berdasarkan pikiran kritis.
f.     Penelitian ilmiah, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala dengan jalan analisis dan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta-masalah.

2.2.1.  Ilmu-ilmu Sosial dan Sosiologi
Apabila istilah “sosial” pada ilmu-ilmu sosial menunjuk pada objeknya, yaitu masyarakat, sosiologi merupakan suatu ideology yang berpokok pada prinsip pemilikan umum. Sosiologi jelas merupakan ilmu social yang objeknya adalah masyarakat. Sosiologi merupakan suatu ilmu yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan yang ciri-cirinya adalah:
a.    Sosiologi bersifat empiris, bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan.
b.    Sosiologi besifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi.
c.    Sosiologi bersifat kumulatif, artinya teori-teori Sosiologi dibentuk berdasarkan teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama.
d.   Sosiologi bersifat nonetis, artinya yang dipersoalkan bukanlah baik-buruknya fakta tertentu, tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.
Masyarakat yang menjadi objek ilmu-ilmu sosial dapat dilihat sebagai sesuatu yang terdiri dari beberapa segi; ada segi ekonomi, ada segi kehidupan politik, dan lain-lain.

2.2.2.  Definisi Sosiologi dan Sifat Hakikatnya
Definisi Sosiologi dari beberapa ahli:
a.    Pitirim Sorokin mengatakan bahwa Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:
1.    Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala social.
2.    Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala social dan gejala nonsosial.
3.    Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala social.
b.    Roucek dan Warren mengemukakan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.
c.    William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf  berpendapat bahwa Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
d.   J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers berpendapat bahwa Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
e.    Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan bahwa Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial. Struktur Sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah social (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidpuan politik, antara segi kehidupan hukum dan segi kehidupan agama, antara segi kehidupan agama dan segi kehidupan ekonomi dan lain sebagainya.
Hakikat Sosiologi adalah sebagai berikut:
a.    Sosiologi adalah suatu ilmu sosial dan bukan merupakan ilmu pengetahuan
alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.
b.    Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif akan tetapi adalah suatu disiplin yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.
c.    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (apllied science).
d.   Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang konkrit.
e.    Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola
umum.
f.     Sosiologi merupakan pengetahuan yang empiris dan rasional.
g.    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan
ilmu pengetahuan yang khusus.


2.2.3.  Objek Sosiologi
Objek Sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar
manusia, dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat. Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama, bercampur untuk waktu yang cukup lama, adanya kesadaran bahwa mereka merupakan suatu kesatuan, mereka merupakan suatu system hidup bersama. Beberapa orang sarjana telah mencoba untuk memberikan definisi masyarakat (society) seperti berikut ini:
a.    Maclver dan Page mengatakan bahwa masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dan pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan social. Dan masyarakat selalu berubah.
b.    Ralph Linton menyatakan bahwa masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerjasama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.
c.    Selo Soemardjan mengatakan bahwa masyarakat  adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
d.    J.L.Gillin menyatakan masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang terikat oleh suatu tata cara (sistem) kebiasaan dan adat istiadat tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya.
Dari definisi-definisi di atas, unsur-unsur masyarakat sebagai berikut :
a.    Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama. Di dalam Ilmu Sosial tidak ada ukuran mutlak ataupun angka pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada. Akan tetapi secara teoretis angka minimnya adalah dua orang yang hidup bersama.
b.    Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Kumpulan dari manusia tidaklah
sama dengan kumpulan benda-benda mati seperti umpamanya kursi, meja dan
sebagainya. Oleh karena dengan berkumpulnya manusia akan timbul manusia-manusia baru. Manusia itu juga dapat bercakap-cakap, merasa dan mengerti;
mereka juga mempunyai keinginan untuk menyampaikan kesan-kesan atau
perasaan-perasaannya. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbulah sistem
komunikasi dan timbulah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara
manusia dalam kelompok tersebut.
c.    Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
d.   Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama
menimbulkan kebudayaan oleh karena setiap anggota kelompok merasa dirinya
terikat satu dengan lainnya.
Dua hasrat kuat dalam diri manusia :
a.    Keinginan untuk menjadi satu dengan sesamanya atau manusia lain
disekelilingnya (misalnya, masyarakat).
b.    Keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alam sekelilingnya Untuk dapat menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan diatas, manusia mempergunakan pikiran, perasaan dan kehendaknya.
Kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan masyarakat agar dapat terus hidup:
·      Adanya populasi dan population replacement
·      Informasi
·      Energi
·      Materi
·      Sistem Komunikasi
·      Sistem produksi
·      Sistem distribusi
·      Sistem organisasi social
·      Sistem pengendalian social
·      Perlindungan masyarakat terhadap ancaman-ancaman yang tertuju pada jiwa
dan harta bendanya.
Komponen-komponan dasar suatu masyarakat
1.    Populasi, yakni warga-warga suatu masyarakat yang dilihat dari setiap sudut pandangan kolektif. Secara sosiologis, maka aspek-aspek sosiologisnya yang diperlu dipertimbangkan adalah
-       aspek-aspek genetik yang konstan
-       variabel-variabel genetic
-       variabel-variabel demografis
2.    Kebudayaan, yakni hasil karya, cipta dan rasa dari kehidupan bersama yang mencakup :
-       sistem lambang-lambang
-       informasi
3.    Hasil-hasil kebudayaan materiil
4.    Organisasi social yakni jaringan hubungan antara warga-warga masyarakat yang bersangkutan, yang antara lain mencakup :
-       warga masyarakat secara individual
-       peranan-peranan
-       kelompok-kelompok social
-       kelas-kelas social
5.    Lembaga-lembaga sosial dan sistemnya.

2.3.  Gambaran Ringkas Tentang Sejarah Teori-teori Sosiologi
Suatu Teori pada hakekatnya merupakan hubungan antara dua fakta atau lebih, atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu. Fakta tersebut merupakan sesuatu yang dapat diamati dan pada umumnya dapat diuji secara empiris.
Teori merupakan hubungan dua variabel atau lebih, yang telah diuji kebenarannya.
Variabel merupakan karakteristik dari orang-orang, benda-benda atau keadaan yang
mempunyai nilai-nilai yang berbeda, misalnya usia, jenis kelamin, dan lain sebagainya.
Kegunaan Teori Sosiologi antara lain :
a.    Suatu teori atau beberapa teori merupakan ikhtisar daripada hal-hal yang telah
diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang dipelajari
sosiologi.
b.    Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada
seseorang yang memperdalam pengetahuannya di bidang sosiologi.
c.    Teori berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang
dipelajari oleh sosiologi.
d.   Suatu teori akan sangat berguna dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta,
membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi-definisi yang
penting untuk penelitian.
e.    Pengetahuan teoritis memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan
proyeksi sosial, yaitu usaha untuk dapat mengetahui kearah mana masyarakat
akan berkembang atas dasar fakta yang diketahui pada masa lampau dan pada
dewasa ini.
Masa Auguste Comte dipakai sebagai patokan, karena ilmuwan Perancis August Comte yang pertama sekali menggunakan istilah atau pengertian “Sosiologi” , sehingga sosiologi dikatan ilmu pengetahuan yang relatif muda usianya, karena baru mengalami perkembangan pada masa Comte tersebut. Walaupun sebenarnya perhatian dan pikiran terhadap masyarakat telah dimulai jauh sebelum Comte antara lain:
a.    Plato (429-329 S.M)
Seorang filosof Romawi bermaksud untuk merumuskan suatu teori tentang negara yang dicita-citakan, yang organisasinya didasarkan pada pengamatan kritis terhadap sistem-sistem sosisal yang ada pada zamannya. Dengan jalan menganalisis lembaga-lembaga didalam masyarakat maka Plato berhasil menunjukkan hubungan fungsional antara-lembaga-lembaga tersebut yang pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan yang menyeluruh yang mencakup bidang-bidang kehidupan ekonomi dan sosial.
b.    Aristoteles (384-322 S.M)
Di dalam buku politiknya, ia mengadakan suatu analisis mendalam terhadap lembaga-lembaga politik dalam masyarakat. Pengertian politik digunakan dalam arti luas mencakup juga berbagai masalah ekonomi dan social sebagaimana halnya dengan Plato. Perhatian Aristoteles terhadap Biologi menyebabkannya mengadakan suatu analogi antara masyarakat dengan organisme biologis manusia. Di samping itu ia menggariskan kenyataan bahwa basis masyarakat adalah moral.
c.    Ibn Khaldun (1332-1406)
Ibn Khaldun telah menghasilkan sekumpulan karya yang mengandung berbagai pemikiran yang mirip dengan sosiologi zaman sekarang, ia melakukan studi ilmiah tentang masyarakat, riset empiris, dan meneliti sebab-sebab fenomena social. Ia memusatkan perhatian pada berbagai lembaga social (misalnya Politik dan ekonomi) dan hubungan antar lembaga tersebut. Ia juga tertarik melakukan studi perbandingan antara masyarakat primitive dan modern. Ibnu Khaldun tidak berpengaruh secara dramatis terhadap sosiologi klasik , tetapi setelah sarjana muslim khususnya meneliti ulang karyanya ia mulai diakui sebagai sejarawan yang mempunyai signifikansi hiostoris.

d.    Zaman Reanissance (1200-1600)

-       Thomas More dan Campanella

Sangat terpengaruh oleh gagasan-gagasan terhadap adanya masyarakat yang ideal.

-       N. Machiavelli (bukunya Il Principe)

Menganalisis bagaimana mempertahankan kekuasaan. Untuk pertamakalinya politik dipisahkan dari moral, sehingga terjadi suatu pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Pengaruh ajaran Machiavelli antara lain, suatu
ajaran, bahwa teori-teori politik dan sosial memusatkan perhatian mekanisme pemerintahan.

e.    Hobbes(1588-1679)

Tulisannya berjudul The Leviathan. Inti ajarannya diilhami oleh hukum alam, fisika dan matematika. Dia beranggapan bahwa dalam keadaan
alamiah, kehidupan manusia didasarkan pada keinginankeinginan yang mekanis, sehingga manusia selalu berkelahi. Akan tetapi mereka mempunyai pikiran bahwa hidup damai dan tenteram adalah jauh lebih baik. Keadaan semacam itu
baru dapat tercapai apabila mereka mengadakan suatu perjanjian atau kontrak dengan pihak-pihak yang mempunyai wewenang, pihak mana akan dapat
memeliharaketenteraman. Supaya keadaan damai tadi terpelihara, maka orang-orang harus sepenuhnya mematuhi pihak yang mempunyai wewenang tadi. Dalam keadaan demikianlah masyarakat dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

f.      John Locke(1632-1704)

Manusia pada dasarnya mempunyai hak-hak asasi yang berupa hak untuk hidup, kebebasan dan hak atas harta benda. Kontrak antara warga masyarakat dengan pihak yang mempunyai wewenang sifatnya atas dasar faktor pamrih. Bila pihak yang mempunyai wewenang tadi gagal untuk memenuhi syarat-syarat kontrak, maka warga-warga masyarakat berhak untuk memilih pihak lain.


g.    J.J. Rousseau(1712-1778)
Kontrak antara pemerintah dengan yang diperintah, menyebabkan tumbuhnya kolektivitas yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri, yaitu keinginan umum. Keinginan umum tadi berbeda dengan keinginan masingmasing individu.
h.    Saint Simon(1760-1825)
Manusia hendaknya dipelajari dalam kehidupan berkelompok. Dalam bukunya Memoirs sur la Science de I’home, dia menyatakan bahwa ilmu politik merupakan suatu ilmu positif. Artinya, masalah-masalah dalam ilmu politik
hendaknya dianalisis dengan metode-metode yang lazim dipakai terhadap gejala-gejala lain. Dia memikirkan sejarah sebagai suatu fisika sosial. Fisiologi sangat mempengaruhi ajaran-ajarannya mengenai masyarakat. Masyarakat
bukanlah semata-mata merupakan suatu kumpulan dari orang-orang belaka yang tindakan-tindakannya tidak mempunyai sebab, kecuali kemauan masing-masing.
Kumpulan tersebut hidup karena didorong oleh organorgani tertentu yang menggerakan manusia untuk melakukan fungsi-fungsi tersebut.
i.      Auguste Comte(1798-1853)
Auguste Comte yang pertama-tama mempergunakan istilah “sosiologi” adalah orang pertama yang membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ruang lingkup dan isi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Anggapannya sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu social statistics dan social dynamics. Sebagai social statistics sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Social dynamics meneropong bagaimana lembagalembaga tersebut berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa. Menurut Comte ada tiga tahap perkembangan intelektual;
1.    Tahap fiktif atau teologis
Suatu tahap dimana manusia menafsirkan gejala-gejala disekelilingnya secara teologis, yaitu dengan dikendalikan oleh kekuatan roh dewa-dewa atau tuhan yang maha kuasa.
2.    Tahap metafisik
Dimana manusia beranggapan bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan.

3.    Tahap positif
Dimana manusia masih terikat oleh cita-cita tanpa verifikasi karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realita tertentu dan tidaka ada usaha untuk menemukan hokum-hukum alam yang seragam.

Teori-teori sosiologi sesudah Comte diantaranya:
a.    Madzhab geografi dan lingkungan
-       Edward Buckle(1821-1862)
Karyanya Historyof Civilization in England Buckle meneruskan ajaran-ajaran sebelumnya tentang pengaruh keadaan alam terhadap masyarakat. Di dalam analisisnya, dia telah menemukan beberapa keteraturan hubungan antara keadaan alam dengan tingkah laku manusia. Misalnya, terjadinya bunuh diri adalah sebagai akibat rendahnya penghasilan, dan tinggi rendahnya pengahsilan tergantung keadaan alam. Taraf kemakmuran suatu masyarakat juga sangat tergantung pada keadaan alam di mana masyarakat hidup.
-       Le Play(1806-1888)
Dia menganalisis keluarga sebagai unit sosial yang fundamental dari masyarakat. Organisasi keluarga di tentukan oleh cara-cara mempertahankan kehidupannya yaitu cara mereka bermata pencaharian. Hal ini sangat
tergantung pada lingkungan yimbal balik antara faktorfaktor tempat, pekerjaan dan manusia (atau masyarakat). Atas dasar faktor-faktor tersebut, maka dapatlah diketemukan unsur-unsur yang menjadi dasar adanya
kelompok-kelompok yang lebih besar, yang memerlukan analisis terhadap semua lembaga-lembaga politik dan social suatu masyarakat.
-       E. Huntington Karyannya (tahun 1915) Civilization and climate
Menguraikan bahwa mentalitas manusia di tentukan oleh faktor iklim.

b.    Madzhab Oganis dan Evolusioner
-       Herbert Spencer(1820-1903)
Suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan dengan adanya diferensiasi antara bagian-bagiannya. Hal ini berarti adanya fungsi yang lebih matang antar bagian-bagiannya. Hal ini berarti adanya
organisasi fungsi yang lebih matang antara bagian-bagian organisme tersebut, dan integrasi yang lebih sempurna pula. Secara Evolusioner, maka tahap organisme tersebut akan semakin sempurna sifatnya. Dengan demikian maka
organisme tersebut ada kriterianya yakni kompleksitas, diferensiasi, dan integrasi. Kriteria mana akan dapat diterapkan dalam masyarakat. Evaluasi sosial dan perkembangan sosial pada dasarnya berarti bertambahnya
diferensiasi dan integrasi, peningkatan pembagian kerja, dan suatu transisi dari keadaan homogen ke keadaan yang heterogen.
-       W.G. Summer(1840-1910)
Salah satu karyanya Folkways. Folkways dimaksudkan dengan kebiasaan-kebiasaan social yang timbul secara tidak sadar dalam masyarakat,
kebiasaan-kebiasaan mana menjadi bagian dari tradisi. Hampir semua aturan-aturan kehidupan sosial, upacarasopan- santun, kesusilaan, dan sebagainya, termasuk dalam Folkways tersebut. Aturan-aturan tersebut merupakan
kaidah-kaidah kelompok yang masing-masing mempunyai tingkat atau derajat kekuatan yang berbeda-beda. Apabila kaidah-kaidah tadi dianggap sedemikian pentingnya, maka kaidah-kaidah tadi dinamakan tata kelakuan (mores).
Kaidah-kaidah tersebut tidaklah menjadi bagian dari suatu masyarakat secara menyeluruh, dan oleh karena itu summer membedakan antara kelompok sendiri (in-gropus) dengan kelompok luar (out-groups). Pembedaan ini ditujukan untuk
dapat memberikan petunjuk bahwa ada orang-orang yang diterima dalam suatu kelompok dan ada pula yang tidak. Pembedaan tersebut menimbulkan pelbagai macam antagonisme, pertentangan serta pertikaian.
-       Emile Durkheim(1855-1917)
Karyanya Division of labor dapat digolongkan dalam Mazhab ini.
Menurutnya unsur baku dalam masyarakat adalah faktor solidaritas. Dia membedakan antara masyarakatmasyarakat yang bercirikan faktor solidaritas mekanis dengan yang memiliki solidaritas organis. Pada masyarakat-masyarakat dengan solidaritas mekanis, warga masyarakat belum mempunyai diferensiasi dan pembagian kerja. Warga masyarakat mempunyai kepentingan bersama dan kesadaran yang sama pula. Masyarakat dengan solidaritas organis telah mempunyai pembagian kerja yang ditandai dengan derajat spesialisasi tertentu.

-       Ferdinad Tonnies(1855-1936)
Bagaimana warga suatu kelompok mengadakan hubungan dengan sesamanya.
Dasar hubungan tersebut disatu pihak adalah factor perasaan, simpati pribadi dan kepentingan bersama. Di pihak lain dasarnya adalah kepentingan-kepentingan rasional dan ikatan-ikatan yang tidak permanen sifatnya.
Bentuk-bentuk sosial yang pertama dinamakannya paguyuban (gemeinschaft), sedangkan yang kedua adalah patembayan (gesellschaft).

c.    Madzhab Formal
-       Georg Simmel(1858-1918)
Elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk yang mengatur hubungan antara elemenelemen tersebut. Pelbagai lembaga di dalam masyarakat terwujud dalam bentuk superioritas, subordinasi dan konflik. Semua
hubungan-hubungan sosial, keluarga, agama, peperangan, perdagangan, kelas-kelas dapat diberi karakteristik menurut salah satu bentuk diatas atau ketiga-ketiganya. Menurutnya, seseorang menjadi warga masyarakat untuk
mengalami proses individualisasi dan sosialisasi. Tanpa menjadi warga masyarakat tak akan mungkin seseorang mengalami proses interaksi antara individu dengan kelompok. Dengan perkataan lain, apa yang memungkinkan
masyarakat berproses adalah bahwa setiap orang mempunyai peranan yang harus dijalankannya. Maka, interaksi individu dengan kelompok hanya dapat dimengerti dalam kerangka peranan yang dilakukan oleh individu.
-       Leopold von Wiese(1876-1961)
Sosiologi harus memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan manusia tanpa mengaitkannya dengan tujuantujuan atau kaidah-kaidah. Sosiologi harus mulai dengan pengamatan terhadap perilaku kongkrit tertentu. Ajarannya bersifat empiris dan dia berusaha untuk mengadakan kuantifikasi, terhadap proses-proses sosial yang terjadi. Proses sosial merupakan hasil perkalian dari sikap dan keadaan, yang masing-masing dapat diuraikan ke adalam unsur-unsurnya secara sistematis.
-       Alfred Vierkandt(1867-1953)
Sosiologi menyoroti situasi-situasi mental. Situasi-situasi tersebut tak dapat dianalisis secara tersendiri, akan tetapi merupakan hasil perilaku yang timbul sebagai akibat interaksi antar individu-individu dan kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dengan demikian, tugas sosiologi adalah untuk menganalisis dan mengadakan sistematika terhadap gejala sosial dengan jalan menguraikannya ke dalam bentuk-bentuk kehidupan mental. Hal itu dapat ditemukan
dalam gejala-gejala seperti harga diri, perjuangan, simpati, imitasi dan lain sebagainya. Itulah prekondisi suatu masyarakat yang hanya dapat berkembang penuh dalam kehidupan kelompok atau dalam masyarakat setempat (community). Oleh karena itu sosiologi harus memusatkan perhatian terhadap kelompok-kelompok sosial.

d.   Madzhab Psikologi
-       Gabriel Tarde(1843-1904)
Dia memulai dengan suatu dugaan atau pandangan awal bahwa gejala sosial mempunyai sifat psikologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu, dimana jiwa tersebut terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan. Bentuk-bentuk utama dari interaksi mental individu-individu adalah imitasi, oposisi dan adaptasi atau penemuan baru. Imitasi seringkali berhadapan
dengan oposisi yang menuju pada bentuk adaptasi baru. Dengan demikian mungkin terjadi perubahan sosial yang disebabkan oleh penemuan-penemuan baru. Hal ini menimbulkan imitasi, oposisi penemuan-penemuan baru,
perubahan-perubahan dan seterusnya. Tarde berusaha untuk menjelaskan gejala-gejala sosial di dalam kerangka reaksi-reaksi psikis seseorang.
-       Albion Small(1854-1926)
Mengadakan analisis terhadap reaksi-reaksi individu terhadap individu, maupun kelompok terhadap kelompok lainnya. Small merupakan orang yang pertama membuka departemen sosiologi pada Universitas Chicago, dan menerbitkan American Journal of Sociology.
-       Horton Cooley(1864-1924)
Individu dan masyarakat saling melengkapi,di mana individu hanya akan menemukan bentuknya di dalam masyarakat. Di dalam karyanya Social Organization dia mengambangkan konsep kelompok utama (primary group), yang ditandai dengan hubungan antar pribadi yang dekat sekali. Dalam kelompok-kelompok tadi perasaan manusia akan dapat berkembang dengan leluasa.
-       L.T. Hobhouse(1864-1929)
Sangat tertarik pada konsep-konsep pembangunan dan perubahan sosial. Dia menolak penerapan prinsip-prinsip biologis terhadap studi masyarakat manusia; psikologi dan etika merupakan kriteria yang diperlukan untuk mengukur perubahan sosial.

e.    Mazhab Ekonomi
-       Karl Marx (1818-1883)
Marx telah mempergunakan metode-metode sejarah dan filsafat untuk membangun suatu teori tentang perubahan yang menunjukkan perkembangan masyarakat menuju suatu keadaan dimana ada keadilan sosial.
Manurutnya, selama masyarakat masih terbagi atas kelaskelas, maka pada kelas yang berkuasalah akan terhimpun segala kekuatan dan kekayaan, Hukum, filsafat, agama, dan kesenian merupakan refleksi dari status ekonomi kelas
tersebut. Namun demikian, hukum-hukum perubahan berperanan dalam sejarah, sehingga keadaan tersebut dapat berubah baik melalui suatu revolusi maupun secara damai. Akan tetapi selama masih ada kelas yang berkuasa, maka
tetap terjadi eksploitasi terhadap kelas yang lebih lemah. Oleh karena itu selalu timbul pertikaian antara kelas-kelas tersebut, pertikaian mana akan berakhir apabila satu-atu kelas (yaitu kelas proletar) menang, sehingga terjadilah masyarakat tanpa kelas.
-       Max Weber (1864-1920)
Semua bentuk oranisasi sosial harus diteliti menurut perilaku warganya, yang motivasinya serasi dengan harapan warga-warga lainnya. Untuk mengetahui dan menggali hal ini perlu digunakan metoe pengertian (Verstehen). Tingkah
laku individu-individu dalam masyarakat dapat diklasifikasikan menurut empat tipe ideal aksi sosial, yakni:
1.    Aksi yang bertujuan, yakni tingkah laku yang ditujukan untuk mendapatkan hasil-hasil yang efisien.
2.    Aksi yang berisikan nilai yang telah ditentukan, yang diartikan sebagai perbuatan untuk merealisasikan dan mencapai tujuan.
3.    Aksi tradisional yang menyangkut tingkah laku yang melaksanakan suatu aturan yang bersanksi.
4.    Aksi yang emosional, yaitu yang menyangkut perasaan seseorang.
Atas dasar hal-hal tersebut diataslah maka timbul hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat.

f.     Mazhab Hukum
-       Emile Durkheim
Ajaran-ajaran Durkheim menggunakan banyak pendekatan termasuk pendekatan hukum. Menurutnya hukum adalah kaidah-kaidah yang bersanksi yang berat ringannya tergantung pada sifat pelanggaran, anggapan-anggapan serta keyakinan masyarakat tentang baik-buruknya suatu tindakan. Di dalam masyarakat terdapat dua macam sanksi kaidahkaidah hukum yaitu sanksi yang refresif (hukum pidana) dan sanksi yang restitutif (hukum perdata, hukum dagang, hukum acara, hukum administrasi dan hukum tata negara setelah dikurangi dengan unsur-unsur pidananya).
-       Max Weber
Weber mempunyai latar belakang pendidikan hukum, dia mempelajari pengaruh faktor-faktor politik, agama dan ekonomi terhadap perkembangan hukum. Menurut Weber ada empat tipe ideal hukum :
1.    Hukum irasional dan materiil, yaitu dimana pembentuk undang-undang dan hakim mendasarkan keputusan-kepurtusannya semata-mata pada nilai-nilai emosional tanpa menunjuk pada suatu kaidahpun.
2.    Hukum irasional dan formal, yaitu dimana pembentuk undang-undang dan hakim berpedoman pada kaidah-kaidah di luas akal, oleh karena didasarkan pada wahyu atau ramalan.
3.    Hukum rasional dan materiil, di mana keputusankeputusan para pembentuk undang-undang dan hakim menunjuk pada suatu kitab suci, kebijaksanaan-kebijaksaan penguasa dan ideologi.
4.    Hukum rasional dan formal yaitu di mana hokum dibentuk semata-mata atas dasar konsep-konsep abstrak dari ilmu hukum.


2.4.  Metode-metode dalam sosiologi

Terdapat dua metode, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif.

-       Metode kualitatif mengutamakan bahan yang sukar dapat diukur dengan angka-angaka atau ukuran-ukuran lain yang bersifat eksak, walaupun bahan-bahan tersebut ada dengan nyata dalam masyarakat. Dalam metode kualitatif termasuk metode historis dan metode komparatif. Metode historis menggunakan analisis atas peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk menetukan prinsip-prinsip umum. Metode komparatif mementingkan perbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbadaan dan persamaan-persamaaan serta sebab-sebabnya.

-       Metode kuantitatif mengutamakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka, sehingga gejala yang diteliti dapat diukur dengan skala-skala, indeks, table, formula, yang semuanya menggunakan ilmu pasti.

Dan dua metode lainnya yaitu:

-       Metode deduktif: berdasarkan hal-hal yang bersifat umum kemudian ditarik ke hal-hal yang lebih khusus.

-       Dan metode induktif: berdasarkan hal yang khusus kemudian diambil generalisasinya.

 

2.5.  Perkembangan Sisiologi di Indonesia

Berawal dari ajaran wulan reh yang diciptakan oleh sri paduka mangkunegoro IV dari Surakarta antara lain mengajarkan tata hubungan antara masyarakat jawa yang berasal dari golongan yang berbeda banyak mengandung aspek sosiologi. Kemudian setelah perang dunia kedua, sisiologi di Indonesia banyak mengalami perkembangan yang pesat, diantaranya dikuliahkannya sosiologi sebagai ilmu penegtahuan dalam jurusan pemerintahan dalam negri, hubungan luar negri dan publisistik.

2.6.  Proses Sosial Dan Interaksi Sosial

Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentu-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbale-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum, dan seterusnya. Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interkasi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama.

 

2.7.  Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial

Bentuk umum proses sosial adalah interaksi social (yang juga dapat dinamakan sebagai proses sosial) karena interasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi anatara kelompok tersebut sebagai suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.


Dalam kamus Bahasa Indonesia Innteraksi didifinisikan sebagai hal saling melalkukan akasi, berhubungan atau saling mempengaruhi. Dengan demikian  interaksi adalah hubungan timbale balik (social) berupa aksi salaing mempengaruhi antara indeividu dengan individu, antara individu dankelompok dan antara kelompok dengan dengan kelompok.


Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi pula di dalam masyarakat. Interaksi tersebut lebih mencolok ketika terjadi benturan antara kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok. Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi terhadap dua belah pihak. Interaksi sosial tak akan mungkin teradi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem syarafnya, sebagai akibat hubungan termaksud.

Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada pelbagai faktor :

-       Imitasi

Imitasi adalah pembentukan nilai melalui dengan meniru cara- cara orang lain. Contoh : Seorang anak sering kali meniru kebiasan – kebiasan orang tuanya .

-       Sugesti

Adalah suatu ide yang didasari oleh kepercayaan diri, inisiatif, atas dasar ilham, egosentris, atau wawasan pengetahuan, kemudian diterima oleh pihak lain baik secara otoriter ataupun karena berwibawa dan berpengaruh.

-       Identifikasi

Identifikasi adalah menirukan dirinya menjadi sama dengan orang yang ditirunya. Contoh : Seorang anak laki – laki yang begitu dekat dan akrab dengan ayahnya suka mengidentifikasikan dirinya menjadi sama dengan ayahnya.

-       Simpati

Adalah rasa tertarik seseorang terhadap orang lain, hal tersebut didasari oleh penghormatan karena mempunyai kelebihan, kemampuan, yang patut dijadikan contoh. Rasa simpati keluar dengan sendirinya tanpa adanya paksaan, kemudian timbul rasa untuk memahami pihak lain dan keinginan untuk bekerjasama.

 

2.8.  Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok. Dua syarat terjadinya interaksi sosial :

1.    Adanya kontak sosial (social contact)

yang dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu antar individu, antar individu dengan kelompok, antar kelompok. Selain itu, suatu kontak dapat pula bersifat langsung maupun tidak langsung.

2.    Adanya Komunikasi

yaitu seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.

Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya menyentuh). Arti secara hanafiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak baru terjadi apabila terjadinya hubungan badaniah. Sebagai gejala seosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah, karena dewasa ini dengan adanya perkembangan teknologi, orang dapat menyentuh berbagai pihak tanpa menyentuhnya. Dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah bukanlah syarat untuk terjadinya suatu kontak. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu sebagai berikut,

1.    Antara orang-perorangan

Kontak sosial ini adalah apabila anak kecil mempelajari kebiasaan- kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui sosialisasi, yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana dia menjadi anggota.

2.    Antara orang-perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya

Kontak sosial ini misalnya adalah apabila seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat atau apabila suatu partai politik memkasa anggota-anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan ideologi dan programnya.

3.    Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya

Umpamanya adalah dua partai politik mengadakan kerja sama untuk mengalahkan parpol yang ketiga di pemilihan umum.

Terjadinya suatu kontak tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tanggapan terhadap tindakan tersebut. Kontak sosial yang bersifat positif mengarah pada suatu kerja sama, sengangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan atau bahkan sama seali tidak menghasilkan suatu interaksi sosial.

Suatu kontak dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak perimer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka. Kontak sekunder memerlukan suatu perantara. Sekunder dapat dilakukan secara langsung. Hubungan-hubungan yang sekunder tersebut dapat dilakukan melalui alat-alat telepon, telegraf, radio, dan seterusnya.

Arti terpenting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gera-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.

Dengan adanya komunikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan suatu kelompok manusia atau perseorangan dapat diketahui oleh kelompok lain atau orang lainnya. Hal itu kemudian merupakan bahan untuk menentukan reaksi apa yang dilakukannya.

 

2.9.  Kehidupan yang Terasing

Pentingnya kontak dan komunikasi bagi terwujudnya interaksi sosial dapat diuji terhadap suatu kehidupan yang terasing (isolation). Kehiduapan terasing yang sempurna ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengadakan interaksi sosial dengan pihak-pihak lain. Kehidupan terasing dapat disebaban karena secara badaniah seseorang sama sekali diasingkan dari hubungan dengan orang-orang lainnua. Padahal perkembangan jiwa seseorag banyak ditentuan oleh pergaulannya dengan orang lain.

Kehidupan terasing dapat disebabkan karena secara badaniah seseorang sama sekali diasingkan dari hubungan dengan orang-orang lainnya. Terasingnya seseorang dapat pula disebabkan oleh karena cacat pada salat-satu indranya. Dari beberapa hasil penelitian, ternyata bahwa kepribadian orang-orang mengalami banyak penderitaan akibat kehidupan yang terasing karena cacat indra itu. Orang-orang cacat tersebut akan mengalami perasaan rendah diri, karena kemungkinan-kemungkinan untuk mengembangkan kepribadiannya seolah-olah terhalang dan bahkan sering kali tertutup sama sekali.

Pada masyarakat berkasta, dimana gerak sosial vertikal hampir tak terjadi, terasingnya seseorang dari kasta tertentu (biasanya warga kasta rendahan), apabila berada di kalangan kasta lainnya (kasta yang tertinggi), dapat pula terjadi.

 

3.0.  Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Pertikaian mungkin akan mendapatkan suatu penyelesaian, namun penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi. Ini berarti kedua belah pihak belum tentu puas sepenunya. Suatu keadaan dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial. Keempat bentuk poko dari interaksi sosial tersebut tidak perlu merupakan suatu kontinuitas, di dalam arti bahwa interaksi itu dimulai dengan kerja sama yang kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi pertikaian untuk akhirnya sampai pada akomodasi. Gillin dan Gillin mengadakan penggolongan yang lebih luas lagi. Menurut mereka, ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial :

1.    Proses-proses yang Asosiatif

a.    Kerja Sama (Cooperation)

Suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat digerakan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima. Dalam perkembangan selanjutnya, keahlian-keahlian tertentu diperlukan bagi mereka yang bekerja sama supaya rencana kerja samanya dapat terlaksana dengan baik. Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (yaitu in-group-nya) dan kelompok lainya (yang merupakan out-group-nya). Kerja sama akan bertambah kuat jika ada hal-hal yang menyinggung anggota/perorangan lainnya.

Fungsi Kerjasama digambarkan oleh Charles H.Cooley sebagai berikut ”kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta penting dalam kerjasama yang berguna”

Dalam teori-teori sosiologi dapat dijumpai beberapa bentuk kerjasama yang biasa diberi nama kerja sama (cooperation). Kerjasama tersebut lebih lanjut dibedakan lagi dengan :

-       Kerjasama Spontan (Spontaneous Cooperation): Kerjasama yang sertamerta

-       Kerjasama Langsung (Directed Cooperation): Kerjasama yang merupakan hasil perintah atasan atau penguasa

-       Kerjasama Kontrak (Contractual Cooperation): Kerjasama atas dasar tertentu

-       Kerjasama Tradisional (Traditional Cooperation): Kerjasama sebagai bagian atau unsur dari sistem sosial.

Ada lima bentuk kerjasama, yaitu sebagai berikut:

1.    Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.

2.    Bargaining, yaitu pelaksana perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih.

3.    Kooptasi (cooptation), yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.

4.    Koalisi (coalition), yakni kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi, karenamaksud utama adalah untuk mencapat satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnnya adalah kooperatif.

5.    Joint venture, yaitu kerjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pertambangan batubara, perfilman, perhotelan, dan seterusnya.

b.    Akomodasi (Accomodation)

Istilah Akomodasi dipergunakan dalam dua arti : menunjuk pada suatu keadaan dan untuk menujuk pada suatu proses. Akomodasi menunjuk pada keadaan, adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai suatu proses akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha manusia untuk mencapai kestabilan.

Menurut Gillin dan Gillin, akomodasi adalah suatu perngertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan adaptasi dalam biologi. Maksudnya, sebagai suatu proses dimana orang atau kelompok manusia yang mulanya saling bertentangan, mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.

Tujuan Akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu:

1.    Untuk mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham. Akomodasi di sini bertujuan untuk menghasilkan suatu sintesa antara kedua pendapat tersebut, agar menghasilkan suatu pola yang baru.

2.    Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau secara temporer.

3.    Memungkinkan terjadinya kerjasama antara kelompok sosial yang hidupnya terpisah akibat faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan, seperti yang dijumpai pada masyarakat yang mengenal sistem berkasta.

4.    Mengusahakan peleburan antara kelompok sosial yang terpisah, misalnya lewat perkawinan campuran atau asimilasi dalam arti luas.

Akomodasi sebagai suatu proses mempunyai beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut:

a.    Coercion (penggunaan paksaan atau kekerasan),

Adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan.

 

b.    Compromise (kompromi),

Adalah suatu bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.

c.    Arbritation (perwasitan),

Adalah suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri.

d.   Mediation (mediasi)

Penyelesaian sengketa yang menyerupai arbritation, tetapi pihak ketiga hanya sebagai perantara dan tidak mempunyai kewenangan mengambil prakarsa.

e.    Conciliation (konsiliasi),

Suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.

f.     Toleration (toleransi),

Merupakan bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya.

g.    Stalemate, suatu akomodasi dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada satu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.

h.    Adjudication, Penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.

Hasil-hasil Akomodasi adalah sebagai berikut:

a.    Akomodasi dan Intergrasi Masyarakat

Akomodasi dan intergrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan masyarakat dari benih-benih pertentangan laten yang akan melahirkan pertentangan baru.

b.    Menekankan Oposisi

Sering kali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu dan kerugian bagi pihak lain.

c.    Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda

Hal ini tampak dengan jelas apabila dua orang, misalnya bersaing untuk menduduki jabatan pimpinan suatu partai politik.

d.    Perubahan lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang berubah

e.    Perubahan-perubahan dalam kedudukan

Akomodasi menimbulkan penetapan baru terhadap kedudukan orang-perorangan dan kelompok-kelompok manusia. Pertentangan telah menyebabkan kedudukan-kedudukan tersebut goyah dan akomodasi akan mengukuhkan kembali kedudukan-kedudukan tersebut.

f.      Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi

Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih saling mengenal dan dengan timbulnya benih-benih toleransi mereka lebih mudah untuk saling mendekati.

Asimilasi (Assimilation)

Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap, dan proses-proses mental dengan memerhatikan kepentingan dan tujuan bersama. Proses Asimilasi timbul bila ada :

1.    kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya;

2.    orang-perorangan sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama sehingga;

3.    kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.

Beberapa bentuk interaksi sosial yang memberi arah ke suatu proses asimilasi (interaksi yang asimilatif) bila memilii syarat-syarat berikut ini:

1.    Interaksi sosial tersebut bersifat suatu pendekatan terhadap pihak lain, dimana pihak yang lain tadi juga berlaku sama.

2.    Interaksi sosial tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan

 


Demikianlah materi tentang Makalah Sosiologi yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Pergaulan Bebas yang telah kami posting sebelumnya. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.


EmoticonEmoticon