Friday, October 20, 2017

Makalah Bahasa Arab

Makalah Bahasa Arab - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :


Makalah Bahasa Arab


KATA PENGANTAR

      Puji beserta syukur tidak lupa kita panjatkan kehadirat Allah swt yang mana Allah telah melimpahkan rahmat, karunia, beserta hidayatnya sehingga kami mampu menyelesaikan tugas makalah Bahasa Arabic ini dengan baik dan lancar.
      Dengan adanya makalah ini kami sangat berharap dapat menambah pengetahuan  tentang penggunaan, tata cara, dan tata bahasa dalam bahasa Arab. Karena dari segi lainnya, bahasa Arab adalah bahasa yang ada dalam Al-Quran, sehingga untuk mengetahui isi Al-Quran membutuhkan pengetahuan lebih tentang bahasa Arab. Dan harapannya dengan adanya makalah ini bisa mempermudah kami dalam mengikuti proses belajar mengajar di kampus dan juga meningkatkan kepedulian kita akan pentingnya pembelajaran bahasa Arab bagi kita khususnya umat islam.
      Kami ucapkan terima kasih banyak atas pihak-pihak yang telah memotivasi dan membantu kami dalam menyelesaikan tugas makalah Bahasa Arab, terutama pada dosen pengampu mata kuliah, keluarga, dan teman kami semua. Mengingat makalah ini masih sangat jauh dari kata memuaskan kami mohon pemberian maafnya dan sedikit kritik agar kami bisa membuat makalh yang lebih baik lagi di kesempatan yang lain.
      Akhir kata kami ucapkan terima kasih banyak pada pembaca yang berkenan membaca tulisan ini. Semoga tulisannya bermanfaat untuk kita semua. Amin.


Meulaboh, 20 Maret

Penyusun


BAB I

PENDAHULUAN


A) Latar Belakang
Dalam kehidupan kita sehari-hari kita tidak pernah lepas dari yang namanya bahasa. Karena bahasa itu merupakan alat komunikasi kita dengan lawan bicara agar pendengar ataupun lawan bicara kita dapat memahami dan mengerti maksud yang kita ucapkan. Maka dari itu sangatlah penting bagi kita untuk bisa menguasai bahasa-bahasa tertentu agar kita bisa bersifat kritis dan mampu berbicara dengan orang lain dengan baik.
Jauh sebelum kita lahir, tepatnya berpuluh abad yang lalu Al-Quran diturunkan kepada Nabi kita Muhammad saw yang mana tulisan dalam Al-Quran itu dalam bentuk bahasa Arab. Kita sebagai umat islam sudah sepatutnya bisa sedikit atau banyaknya mengerti tentang bahasa Arab, karena itu akan menjadi alat kita untuk bisa membaca dan memahami Al-Quran dengan baik. Terlebih lagi Al-Quran itu sumber ilmu yang sangat banyak yang ayat-ayatnya itu masih bersifat umum. Maka dari itu, tugas kita untuk mendalami maksudnya dengan mempelajari bahasa Arab dengan tekun.
Pada awalnya ilmu tulis menulis Al-Quran itu belum ada pada zaman Nabi Muhammad. Barulah pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ilmu baris (ilmu nahwu) berkembang sehingga kita tahu cara penulisan Al-Quran dan membacanya.
Maka dari itu, untuk mempermudah kita dalam mempelajari bahasa Arab, mungkin makalah ini akan sedikit membantu kita dan memberikan sedikit pencerahan tentang bagian dalam ilmu bahasa Arab yaitu “NAAT WA MAN’UT”. Apa itu naat wa man’ut sedikitnya akan dijelaskan secara lebih mendetail pada BAB II Pembahasan. Termasuk juga conta-contohnya insyaAllah semua akan dikemas dengan baik dalam makalah ini.




B)    Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang dapat kita ambil dari makalah ini antara lain:
-          Pengertian naat wa man’ut
-          Kaidah naat dan man’ut
-          Contoh-contoh keduanyaa...
-           
C)    Metode Penelitian
Metode penelitian yang kami gunakan dalam membuat makalah ini adalah dengan mencari bahan dari buku-buku, majalah, koran, dan media-media lainnya seperti dari televisi, internet. Dan kami juga melakukan survey dengan mengunjungi perpustakaan dan mencari buku-buku yang berhubungan dengan makalah kami di sana.

D)    Tujuan
Tujuan kami membuat makalah ini salah satunya untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Bahasa Arab II dan juga untuk memberikan sedikit pengetahuan tentang adawatul istifham wa adawatun nafhi secara lebih mendetail dan lebih jelas.





BAB II
PEMBAHASAN
A      Pengertian Naat dan Man’ut ﺍﻟﻨﻌﺕ ﻮﺍﻟﻣﻧﻌﻭﺕ ) )
Menurut bahasa naat adalah menerangkan suatu sifat. Sedangkan menurut istilah naat adalah isim tabi’yang menerangkan sifat dari lafadz yang diikutinya.semisal contohnya Budi anak yang rajin,kata rajin pada contoh ini dinamakan naat sedangkan budi dinamakan man’ut.
Contoh: ﻜﺮﯿﻢ ﺑﺮﺟﻞ ﻣﺭﺮﺖ Artinya saya bertemu seorang laki2 muliya. ﻣﺭﺮﺖ :adalah fiil madi yang bertemu dengan domir rofa’hukumnya adalah mabni sukun. ﺑﺮﺟﻞ :adalah man’ut,I’robnya adalah jer karna kemasukan huruf jer ba’. ﻜﺮﯿﻢ :adalah na’at I’robnya adalah jer karna mengikuti man’ut.
ﺍﺍﻧﻌﺖ ﺘﺍﺑﻊ ﻟﻠﻤﻨﻌﻭﺖ ﻓﻲ ﻭﺍﺤﺪ ﻤﻦ ﻋﺷﺭﺓ ﻭﻻ ﺘﺠﺗﻤﻊ ﻜﻟﮭﺍ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﻭﺍﺤﺪ ﺍﻵ ﺍﺮﺑﻌﺔ , ﺍﻻﻮﻝ ﻤﻦ ﺍﻮﺠﻪ ﺍﻻﻋﺮﺍﺐ ﺍﻠﺛﻟﺍﺛﺔ ﻮﮬﻮ ﺍﻠﺮﻓﻊ ﻮﺍﻠﻧﺻﺐ ﻮﺍﻟﺤﻓﺽ ﻭﺍﻟﺛﺍﻧﻲ ﻓﻲﻺﻓﺮﺍﺩ ﺍﻭﻟﺗﺛﻧﻳﺔ ﺍﻭﺍﻟﺠﻣﻊ ﻭﺍﻟﺛﺍﻟﺚ ﻓﻲﺍﻟﺗﺬﻛﻳﺮ ﺍﻭﺍﻟﻣﺆﻨﺚ ﻭﺍﻟﺮﺍﺑﻊ ﻓﻲﺍﻟﺗﻨﻜﯾﺮ ﺍﻭﺍﻟﻣﻌﺮﻓﺔ Na’at mengikuti man’ut dalam beberapa hal: 1.dalam hal I’rob Yaitu I’rob rofa’irob nasob dan irob jer. 2.dalam mufrod ,tasniah dan jama’. 3.didalam muzdakar dan muannas. 4.didalam ma’rifat dan nakiroh. Catatan: dalam I’rob naat harus mengikuti manut,apabila manut rofa’naat harus dirofa’bila man;ut nasob naat harus dinasob,bila man’ut dijer naat pun harus dijer.begitupun juga apabila man’ut mufrod na’at harus mufrod,bila man;ut tasniah na;at harus tasniah,bila man’ut jama’na’at harus jama’dan jika man’ut muzakar na’at harus muzakar,bila man’ut muanas na’at pun harus muanas,bila man;ut ma’rifat na;at juga ma’rifat,bila na’at nakiroh naat juga harus nakiroh.

Selanjutnya akan kami berikan contoh2nya : I’Rob (berubahnya akhir kalimah karna berbeda bedanya amil yang masuk)
 § Rofa’:ﺠﺍﺀ ﺰﯾﺫ ﻜﺭﯾﻢ o ﺍﺠﺍﺀ:adalah fiil madi mabniyun alal fatkhi. o ﺯﻳﺫ:adlah man’ut dirofa’ karna menjadi fail tandanya adalah dhommah. o ﻛﺭﻳﻢ:adalah na;at dirofa’karna mengikuti man’ut

§ Nasob :ﺭﺍﯾﺖ ﺯﯾﺫﺍ ﻋﺍﻟﻤﺍ o ﺭﺍﻳﺕ:adalah fiil madi mabni sukun karna bertemu dengan domir rofa. o ﺯﻳﺫﺍ:adalah man’ut dinasob karna menjadi maf;ul bih tandanya adalah fatha o ﻋﺍﺍ:adalah na’at dinasob karna mengikuti man’ut.
 § Jer : ﻓﻗﯾﮫ ﺑﺰﯾﺫ ﺍﻤﺭﺭﺖ o ﻣﺭﺭﺕ:adalah fiil madi mabni sukun karna bertemu dengan domir rofa’tandanya adalah kasroh. o ﺑﺯﻳﺫ:adalah man’ut dijer karna kemasukan huruf jer yaitu ba; o ﻓﻗﻳﻪ:adalah na’at dijer karna mengikuti man’ut.
 § .Mufrod: ﻋﺍﺮﻴﻑ ﺍﺴﺗﺍﺬ ﺟﺍﺀ Artinya :telah datang seorang ustad yang arif
§ .tasniah: ﺍﻟﻌﺍﻟﻣﺍﻦ ﺯﻳﺬﺍﻦ ﺠﺍﺀ Artinya :dua zaid yang berilmu teleh datang
 § jama’ : ﺍﻟﺼﺍﻟﺤﻭﻦ ﺍﻟﻣﺴﻟﻣﻭﻦ ﺠﺍﺀ artinya :kaum muslimin yang soleh telah datang
§ muzdakar: ﺻﺍﻟﺡ ﻮﻟﺪ ﻋﻟﻲ Artinya :ali anak yang pandai
§ muanas : ﺍﻟﻌﺍﻟﻣﺔ ﮪﻧﺩ ﺖ ﺠﺍﺀ Artinya :hindun yang berilmu teleh datang
§ Ma’rifat: ﺍﻟﺻﺍﺑﺭ ﺍﻟﺭﺠﻭﻝ ﻋﻣﺭﻭ Artinya :umar laki laki sabar
 § Nakirah : ﻋﺍﻘﻝ ﺭﺠﻝ ﺠﺍﺀ Artinya :laki laki berakal telah datang.
ﻭﺍﻟﻣﻌﻔﺔ ﺧﻣﺸﺔ ﺍﺸﯾﺍﺀ ﺍﻸﺴﻡ ﺍﻟﻣﺿﻣﺮﻧﺤﻭ ﺍﻧﺍﻭﺍﻧﺗﺍ ﻭﻸﺴﻡﺍﻟﻌﻟﻡﻧﺤﻭ ﺯﻴﺬ ﻭﻣﻜﺔ ﻭﻸﺴﻡ ﺍﻟﻣﺑﮭﻡ ﻧﺤﻭﮪﺬﺍﻭﮪﺬﮦ ﻭﻸﺴﻡﺍﻟﺬﯤ ﻓﯿﻪ ﻸﻟﻒ ﻭﻼﻡ ﻧﺤﻭﺍﻟﺮﺠﻝ ﺍﻟﻐﻟﺍﻡ ﻭﻣﺍﺍﻀﻴﻔﺍﺍﻟﻲﻲﻭﺍﺣﺪ ﻣﻦﻫﻨﻩﻸﺮﺒﻌﺔ ﻭﺍﻠﻧﻜﺮﺓ ﻜﻝﺍﺴﻡ ﺸﺍﺀﻊ ﻓﻲﺠﻧﺴﻪ ﻻﻴﺨﺗﺺ ﺒﻪ ﻮﺍﺤﺪ ﺩﻮﻥ ﺍﺨﺮ ﻮﺗﻗﺮﻴﺒﻪ ﻛﻝ ﻤﺍ ﺼﻟﺡ ﺩﺨﻮﻝﺍﻻﻟﻒ ﻮﻼﻢ ﻋﻠﻳﻪ ﻨﺤﻮﺍﻠﺮﺟﻞ ﻮﺍﻠﺮﺠﻝ

B       Isim marifat :
Isim marifat itu ada lima a.isim mudmar(ana waanta)b.isim alam/nama(zaidun ,makah)c.isim mubham,isim isaroh(hada ,hadihi,aladi)d.isim yang kemasukan al(algulamu)e.kalimah yang di idofahkan salah satu empat diatas. Isim nakiroh adalah isim mau menerima al tarif.lebih jelasnya ini dijelaskan dalam bab marifat nakiroh. Catatan :na;at dalam b indonesia biasa disebut dengan keterangan sifat Man’ut adalah orang atau benda yang yang disebutkan sifatnya.
 ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ﺍﻟﻜﺘﺍﺏ ﺍﺷﺗﺭﻳﺕ Saya membeli buku baru,kata baru(ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ) disamping adalah na’at, Kata buku(alkitaaba)adalah man’ut. Penutup Bahasa Arab adalah bahasa Agama Islam dan bahasa Al-Qur’an, seseorang tidak akan dapat memahami kitab dan sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bahasa Arab. Menyepelekan dan menggampangkan Bahasa Arab akan mengakibatkan lemah dalam memahami agama serta jahil (bodoh) terhadap permasalahan agama.

Sungguh sangat ironis dan menyedihkan, sekolah-sekolah dinegeri kita, bahasa Arab tersisihkan oleh bahasa-bahasa lain, padahal mayoritas penduduk negeri kita adalah beragama Islam, sehingga keadaan kaum muslimin dinegeri ini jauh dari tuntunan Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya.
Maka seyogyanya anda sekalian wahai penebar kebaikan… mempunyai andil dan peran dalam memasyarakatkan serta menyadarkan segenap lapisan masyarakat akan pentingya bahasa Al Qur’an ini, dengan segala kemampuan yang dimiliki, semoga Allah menolong kaum muslimin dan mengembalikan mereka kepada ajaran Rasul-Nya yang shohih. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Alloh Ta’ala. Segala puji hanyalah bagi Alloh Tuhan semesta alam.

Adapun Na’at adalah Tabi’ penyempurna lafazh sebelumnya dengan sebab menyifatinya (Na’at Haqiqi) atau menyifati lafazh hubungannya (Na’at Sababi). 

C         TABI’ / TAWABI
Pengertian Tabi’ (yang mengikuti) : adalah Isim yang bersekutu dengan lafazh sebelumnya di dalam i’robnya secara mutlak.
Penjelasan Definisi: Lafazh sebelumnya disebut Matbu’ (yang diikuti). Di dalam i’robnya secara mutlak dimaksudkan untuk semua keadaan i’rob Rofa’, Nashob dan Jar. Contoh:
جاء الرجلُ المهذبُ
JAA’A AR-ROJULU AL-MUHADZDZABU = Laki-laki yang baik itu telah datang
رأيت الرجلَ المهذبَ
RO’AITU AR-ROJULA AL-MUHADZDZABA = Aku melihat laki-laki yang baik itu
سلمت على الرجلِ المهذبِ
SALLAMTU ‘ALAA AR-ROJULI AL-MUHADZDZABI = Aku memberi salam pada laki-laki yang baik itu



Pada tiga contoh diatas, lafazh AL-MUHADZDZAB (Tabi’) mengikuti lafazh AR-ROJUL (Matbu’) di dalam tiga bentuk i’robnya masing-masing.
Keluar dari definisi Tabi’ adalah Khobar dari Mubtada’ dan Haal dari Isim Manshub.
Contoh Khobar dari Mubtada’ :
الدنيا متاع
AD-DUNYA MATAA’UN = Dunia itu perhiasan.
Contoh Haal dari Isim Manshub :
لا تشرب الماء كدراً
LAA TASYROB! AL-MAA’A KADIRON = jangan kamu minum air dalam keadaan keruh!
Dua lafazh Khabar dan Haal pada contoh diatas tidak disebut Tabi’ karena tidak bersekutu dengan lafazh sebelumnya secara mutlak pada semua keadaan i’robnya, namun hanya pada sebagian keadaan i’rob saja.
Isim-isim Tabi’ atau dijamak Tawabi’ menurut pokoknya ada empat: Na’at, Taukid, ‘Athaf dan Badal. InsyaAllah akan dijelaskan nanti secara rinci untuk semua bentuk-bentuk tawabi’ pada bab-bab selanjutnya.
Menurut yang masyhur : Matbu’ tidak boleh diakhirkan dari Tabi’nya yakni dengan sebab mengedepankan Tabi’nya, demikian mafhum dari perkataan Mushannif pada Bait diatas “AL-ASMAA’IL-AWWALI”.
Penjelasan definisi: Tabi’ adalah nama jenis yang mencakup semua Tabi. Sebagai penyampurna matbu’ dengan sebab menjelaskan sifatnya, untuk membedakan dengan bentuk-bentuk tabi’ lain yang tidak menunjukan sifat Matbu’ ataupun sifat yang berta’alluq pada Matbu’. Dengan demikian Na’at harus berupa Isim Musytaq untuk melaksanakan penunjukan suatu makna sekaligus si empunya makna.

Diambil dari definisi Na’at tersebut, maka Na’at terbagi dua macam:
1. Na’at Hakiki:
Adalah Na’at yang menunjukkan sifat bagi Isim sebelumnya. Contoh:
أقمت في المنزل الفسيح
AQIMTU FIL-MANZILIL-FASIIHI = saya tinggal di rumah yang luas
Lafazh AL-FASIIHI = Na’at Hakiki yang menunjukkan sifat bagi Isim yang ada sebelumnya (AL-MANZILI). Dan disebut Na’at Kakiki karena yang punya sifat AL-FASIIHI (luas) hakikatnya adalah Man’ut sendiri yaitu lafazh AL-MANZILI (tempat tinggal/rumah).
Ciri-ciri Na’at Haqiqi adalah: menyimpan dhamir mustatir yang merujuk pada Man’ut.
2. Na’at Sababi
Adalah Na’at yang menunjukkan sifat bagi Isim yang mempunyai irthibat/ikatan dengan Matbu’. Contoh:
أقمت في المنزل الفسيح فناؤه
AQIMTU FIL-MANZILIL-FASIIHI FINAA’U HUU = saya tinggal di rumah yang luas halamannya
Lafazh AL-FASIIHI disebut Na’at, akan tetapi bukanlah Na’at bagi lafazh Matbu’ AL-MANZILI, karena AL-FASIIHI bukan sifat bagi AL-MANZILI. Hanya saja sifat tersebut diperuntukan bagi Isim yang mempunyai ikatan dengan Isim Matbu’ yaitu lafazh FANAA’U HUU/halamannya. Oleh karena itu disebut Na’at Sababi.
AL-FASIIHI = Na’at, majrur dengan tanda jar kasroh. FANAA’U = Fa’ilnya, dirofa’kan oleh sifat dengan tanda rofa’ dhammah. HUU = Mudhaf Ilaih, Dhamir Bariz Muttashil yang merujuk pada Matbu’ sebagai robit/pengikat antara isim zhahir dan matbu’.
Ciri-ciri Na’at Sababi: yakni setelah Na’at didatangkannya Isim Zhahir yang dirofa’kan oleh Na’at dan mencakup ada dhamir yang kembali pada Man’ut.


D.    Faidah-faidah Na’at sebagai penyempurna faidah lafaz sebelumnya, yang masyhur adalah sebagai berikut :
1. Faidah IDHAH (menjadikan jelas) apabila Man’utnya berupa Isim Ma’rifah.
Yakni: menghilangkan isytirok lafzhiy (persekutuan lafazh) di dalam lafazh Isim ma’rifah, dan menghilangkan ihtimal ma’nawiy (kemungkinan makna) yang mengarah kepada makna Isim ma’rifah. Contoh:
حضر خالد التاجر
HADHARA KHAALIDUN AT-TAAJIRU = Khalid yang pedagang itu telah hadir.
2. Faidah TAKHSHISH (penghususan) apabila Man’utnya berupa isim Nakirah.
Yakni: mengurangi Isytirok makna di dalam makna isim nakirah dan mempersempit bilangan jumlah yang mencakupinya. Contoh:
جاء رجل واعظ
JAA’A ROJULUN WAA’IZHUN = seorang lelaki penasehat telah datang.
3. Faidah MUJARRODUL-MADAH (pujian khusus). Contoh:
رضي الله عن عمرَ بنِ الخطابِ الشاملِ عدلُه الرحيمِ قلبُه
RODHIYALLAAHU ‘AN UMAROBNIL-KHOTHTHOOBI ASY-SYAAMILI ‘ADLUHUU AR-ROHIIMI QOLBUHUU = semoga Allah memberi Rahmat pada Umar bin Khaththab yang keadilannya luas dan hatinya penuh kasih .
4. Faidah MUJARRODUDZ-DZAMM (celaan khusus). Contoh:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
A’UUDZU BILLAAHI MINASY-SYAITHOONIR-ROJIIMI = aku berlindung kepada Allah dari Syetan yang terkutuk.
5. Faidah TAROHHUM (menaruh belas kasih). Contoh:
اللهم ارحم عبدك المسكين
ALLAHUMMA IRHAM ‘ABDAKA AL-MISKIINA = ya.. Allah, kasihanilah hambaMu yang miskin.
6. Faidah TAUKID (pengokohan). Contoh dalam Ayat Al-Qur’an:
فإذا نفخ في الصور نفخة واحدة
FA IDZAA NUFIKHO FISH-SHUURI NAFKHOTUN WAAHIDATUN = Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup (QS. Al-haaqqah:13)
Lafazh WAAHIDATUN = Na’at yang berfaidah sebagai Taukid, sebab makna wahidah sudah dimafhumi dari Man’ut lafazh NAFKHOTUN yang berupa Isim Murroh.
فاسلك فيها من كل زوجين اثنين
FASLUK FIIHAA MIN KULLIN ZAUJAINI ITSNAINI = maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis) (QS. Al-Mu’minun:27)
Lafazh ITSNAINI = Na’at yg berfaidah sebagai Taukid, dari lafazh man’ut ZAUJAINI.
Membedakan ‘Hal’ (الحال) dalam Bentuk Jumlah dan ‘Na’at’ (النعت) Dalam Bentuk Jumlah man’ut .
Hal, adalah diantara jenis isim manshub, yang menjelaskan keadaan (hal) dari shohibul-hal-nya.
 Isim ini WAJIB manshub dan NAKIROH. AdapunNa’at adalah diantara isim Taabi’ yang I’robnya :
mengikuti Matbu’. JadiNa’at, bisasaja marfu’, atau manshub atau majruur. Dalamh l nakirohdan ma’rifat nyapun, na at mengikuti man’ut nya.Hal dan na’at,
seperti juga khobarnya mubtada dapat
berbentuk mufrod,jumlah (ismiyah maupun fi’liyyah) dan syibhu jumlah (susunan jar – majruur dan dzorof – madzruuf)
Jika Haal dalam bentuk mufrod, insyaaAllah masih mudah dibedakan dengan na’at mufrod. Tapi jika hal sudah berbentuk jumlah, kalau tidak jeli, bisa tertukar tukar.. Coba lihat contoh contoh berikut ini:


Yang bergaris bawah di bagian (أ) itu semuanya hal; ada yang mufrod ada juga yang dalam bentuk jumlah. Dan yang bergaris bawah di bagian (ب) ituna’at semua, ada yang bentuk mufrod ada juga yang  jumlah. Coba perhatikan yang bentuk jumlah. Mirip-mirip kan?
Di bagian (أ) adalah hal. Perhatikan bahwa shohibul haal nya semuanya dalam bentuk ma’rifat. Di nomer 1, hal nya mufrod. Sedangkan nomer 2 dan 3, hal nya dalam bentuk jumlah. Adapun nomor 4 dan 5, maka hal nya dalam bentuk syibhu jumlah. Dan hal semuanya nashob atau fii mahalli nashbin pada hal jumlah.
Di bagian (ب), na’at. Di nomer 1, na’atnya marifat (الخُزَاعيُّ) karenaman’utnya (أبو معبد) juga ma’rifat. Sedangkan di nomer 2, kita lihat na’atnya (كريمة) nakiroh karena man’utnya (امرءَةٌ) juga nakiroh. Adapun nomer selanjutnya yang na’atnya berupa jumlah, ternyata man’ut nya seluruhnyanakiroh baik dina’at berupa jumlah (contoh nomor 3, خلَّفها الهزال)maupun yang berupa syibhul jumlah (nomer 4 “في الفناء”  dan 5 “في خيمة وسط الصحراء”).Bandingkan dengan shohibul hal yang WAJIB ma’rifat. Nahh ini kuncinya!



Maka, man’ut dapat berupa ma’rifat atau nakiroh jika na’atnya mufrod;karena naat mengikuti man’utnya dalam
hal nakiroh – ma’rifat. Seperti contoh nomer 1 dan 2. Adapun jika na’atnya berupa jumlah atau syibhu jumlah maka man’utnya WAJIB nakiroh.



D              Kaidah
1. Hal berupa isim nakiroh jika dia dalambentuk mufrod. Sedangkan na’atmufrod mengikuti man’ut dalam hal nakiroh
ma’rifat nya.

2. Shohibul hal selalu ma’rifat. Sedangkan na’at, bisa nakiroh atauma’rifat, tergantung man’utnya jika na’at dalam bentuk mufrod. Adapun jika na’at berupa jumlah atau syibhu jumlah, maka man’ut harus nakiroh.
3. Hal itu selalu manshub. Sedangkan na’at maka ia mengikuti I’rob man’utnya dalam hal rofa, nashob atau jarrnya.




BAB III

PENUTUP


A) Kesimpulan
Perbedaannya jelas sekarang: Yang satu (shohibul hal) mesti nakiroh, yang satu (man’ut) mesti ma’rifat
naat adalah menerangkan suatu sifat. Sedangkan menurut istilah naat adalah isim tabi’yang menerangkan sifat dari lafadz yang diikutinya
Isim marifat itu ada lima a.isim mudmar(ana waanta)b.isim alam/nama(zaidun ,makah)c.isim mubham,isim isaroh(hada ,hadihi,aladi)d.isim yang kemasukan al(algulamu).
Pengertian Tabi’ (yang mengikuti) : adalah Isim yang bersekutu dengan lafazh sebelumnya di dalam i’robnya secara mutlak.


B) Saran

Sangat disarankan bagi para pembaca yang telah membaca makalah ini agar terus memperbanyak pengetahuan kita akan adawatul istifham dan adawatul jazmi, kita bisa mendalami pengetahuan kita akan bahasa arab. Bukan hanya dari segi pengetahuan saja, tapi sisi positif lainnya kita dapat mendalami Al-Quran dan makna-makna yang tersimpan di dalam Al-Quran.




Daftar pustaka

Sonhaji Iman,Matan jurniah Sofwan Solihuddin,Makosidun Nahwi jus tsani :2002 Anwar Muhammad,Ilmu Nahwu,1992 Copy and WIN : http://ow.ly/KfYkt


2006. Al-Qur’an Terjemah Indonesia. Kudus: Penerbit Menara Kudus.

Al-Hasyim, Ahmad. 2005. Jawahir al-Balaghah. Kairo: Penerbit Maktabah Al-Adab. Cetakan kedua.
Anwar, Abu. 2005. Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar. Pekanbaru: Penerbit Amzah. Cetakan kedua.
Chirzin, Muhammad. 1998.  Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Jakarta: Penerbit Dana Bhakti Prima Yasa. Cetakan pertama.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progressif, 1997. Cetakan keempat belas.



Demikianlah materi tentang Makalah Bahasa Arab yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Budaya Politik yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.


EmoticonEmoticon