Friday, October 20, 2017

Makalah Diksi

Makalah Diksi - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :


Makalah Diksi 




KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “  DIKSI DALAM BAHASA INDONESIA ”.
Dalam menyelesaikan makalah ini, kami menemukan kesulitan-kesulitan.Hal ini disebabkan karena kurangnya ilmu pengetahuan kami. Namun berkat bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dalam waktu yang tepat. Dengan makalah ini kami berharap dapat memberikan informasi kepada para pembaca mengenai penggunaan diksi yang baik dan benar dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan.
 Makalah ini diharapkan bisa menambah wawasan bagi pembaca dan bagi yang masih peduli dengan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari  sempurna, oleh sebab itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk menyempurnakan  makalah ini.
                                   
Palopo,   Oktober 2013

      Tim Penyusun





DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................... 1
Daftar Isi ..................................................................................................... 2
Bab I Pendahuluan...................................................................................... 3
A. Latar Belakang............................................................................ 3
B. Rumusan Masalah....................................................................... 4
C. Tujuan ........................................................................................ 4
D. Manfaat ...................................................................................... 4
Bab II Pembahasan...................................................................................... 5
A. Pengertian Dan Fungsi Diksi ..................................................... 5
B. Kosa Kata................................................................................... 6
C. Nilai Kata.................................................................................. 10
D. Pengeseran Dan Tambahan Makna Kata.................................. 14
E. Gaya Bahasa.............................................................................. 18
Bab III Penutup ........................................................................................ 20
A. Kesimpulan .............................................................................. 20
B. Kritik ........................................................................................ 21
C. Saran......................................................................................... 21
Daftar Pustaka........................................................................................... 22




 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bahasa Indonesia dalam perkembangannya memang telah mengalami pasang surut.Pemakaian kata dan struktur ejaannya sering dikacaukan karena mengikuti perkembangan zaman.Bahkan atas nama modernisasi,orang jadi cenderung malu untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sehingga orang semakin mengesampingkan pentingnya  penggunaan bahasa,  terutama  dalam tata cara  pemilihan kata. Terkadang kita pun tidak mengetahui pentingnya penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga ketika kita berbahasa, baik lisan maupun tulisan, sering  mengalami  kesalahan  dalam  penggunaan  kata, frasa, paragraf,  dan wacana.
Agar tercipta suatu komunikasi yang efektif dan efisien, pemahaman penggunaan diksi atau pemilihan kata dirasakan sangat penting, bahkan mungkin  vital, terutama  untuk  menghindari   kesalapahaman  dalam berkomunikasi. Dengan demikian, kata-kata yang digunakan untuk berkomunikasi harus dipahami dalam konteks alinea dan wacana. Kata sebagai unsur bahasa, tidak dapat dipergunakan dengan sewenang-wenang. Akan tetapi, kata-kata tersebut harus digunakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang benar.
Diksi atau pemilihan kata merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam berkomunikasi. Diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan lebih mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
  1. Pengertian dan fungsi diksi
  2. Kosa kata
  3. Nilai kata
  4. Pengeseran dan tambahan makna kata
  5. Gaya bahasa
C.    Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui arti diksi atau pilihan kata dalam bahasa Indonesia. Dan mampu menggunakan bahasa yang tepat dalam berkomunikasi, sehingga menghasilkan makna yang tepat pada setiap gagasan yang ingin disampaikan.
D.    Manfaat
Adapun manfaat dari dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Mahasiswa dapat mengetahui penggunaan diksi yang baik dan benar dalam pengolahan kata.
  2. Menguasai berbagai macam kosakata dan mampu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang jelas, efektif dan mudah dimengerti
3.    Ketepatan diksi dalam menyampaikan suatu gagasan




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Dan Fungsi Diksi
1.      Pengertian Diksi
Keterbatasan kosakata yang dimiliki seseorang dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat seseorang tersebut mengalami kesulitan mengungkapkan maksudnya kepada orang lain. Sebaliknya, jika seseorang terlalu berlebihan dalam menggunakan kosa kata, dapat mempersulit diterima
dan dipahaminya maksud dari isi pesan yang hendak disampaikan. Oleh karena itu, agar tidak terjadi hal demikian, seseorang harus mengetahui dan memahami bagaimana pemakaian kata dalam komunikasi. Salah satu yang harus dikuasai adalah diksi atau pilihan kata. Menurut Enre (1988: 101) diksi atau pilihan kata adalah penggunaan kata-kata secara tepat untuk mewakili pikiran dan perasaan yang ingin dinyatakan dalam pola suatu kalimat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti "pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)”.Pendapat lain dikemukakan oleh Keraf (1996: 24) yang menurunkan tiga kesimpulan utama mengenai diksi, antara lain sebagai berikut.
·      Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan gagasan, bagaimana membentuk pengelompokkan kata-kata yang tepat.
·      Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai atau cocok dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
·      Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa diksi adalah pemilihan dan pemakaian kata oleh pengarang dengan mempertimbangkan aspek makna kata yaitu makna denotatif dan makna konotatif sebab sebuah kata dapat menimbulkan berbagai pengertian.

2.      Fungsi Diksi
     Fungsi diksi ialah sebagai sarana mengaktifkan kegiatan berbahasa (komunikasi) yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan maksud serta gagasannya kepada  orang lain dan membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca serta mencegah perbedaan penafsiran agar tercapai komunikasi yang efektif.

B.  Kosa Kata
        Menurut kamus, diksi berarti pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau pembendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa
Masalah : Apakah kata-kata di bawah ini sudah tepat?
01. Mana yang artinya diam? A. Pasien itu tak bergeming. B. Pasien itu bergeming.
Pasien itu diam. Pasien itu tak bergerak sedikit pun.
02. Mana yang baik? A. Kita perlu hidup konsumerisme. B. Kita perlu mencegah konsumerisme.
Kita perlu hidup melindungi konsumen. Kita perlu gaya hidup.
03. Mana yang benar? A. Perilakunya yang baik itu boleh senonoh. B. Perilaku yang baik itu tidak senonoh.
Penjelasan:
1. geming; ge.ming
[Jk] , ber.ge.ming v tidak bergerak sedikit juga; diam 
2. konsumerisme; kon.su.mer.is.me
[n] (1) gerakan atau kebijakan untuk melindungi konsumen dengan menata metode dan standar kerja produsen, penjual, dan pengiklan; (2) paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dsb; gaya hidup yang tidak hemat: -- jangan sampai ditumbuhkan dalam masyarakat.
3. senonoh; se-no-noh. a. tidak ..., kurang ... tidak patut, tidak sopan, tentang perrkataan, perbuatan, tidak menentu, tidak manis dipandang.

Kesimpulan yang benar:
01. Yang artinya diam jawaban B.  A. Pasien itu tak bergeming. B. Pasien itu bergeming.
Pasien itu diam. Pasien itu tak bergerak sedikit pun.
02. Kalimat yang baik B.  A. Kita perlu hidup konsumerisme. B. Kita perlu mencegah konsumerisme.
Kita perlu hidup melindungi konsumen. Kita perlu gaya hidup.
03. Jawaban yang benar B.  A. Perilakunya yang baik itu boleh senonoh. B. Perilaku yang baik itu tidak boleh senonoh






Kata Baku
Tidak baku
apotek
atlet
bus  
cenderamata
konkret
sistem
telepon
pertanggungjawaban
pelanggan
utang
hakikat
kaidah
dipersilakan
anggota
pihak
disahkan
lesung pipi
mengubah
mengesampingkan
kualitas
universitas
teater
struktur
monarki
devaluasi
abstrak
akomodasi
legalisiasi
diagnosis
hipotesis
deputi
kultur
sekuritas
aktivitas
relatif
repertoar
kongres
Apotik
atlit
 bis
cinderamata
 konkrit-kongkrit
  sistim
tilpon-telpon
pertanggung jawaban
langganan
 hutang
  hakekat
kaedah
dipersilahkan
anggauta
fihak
disyahkan
lesung pipit
merubah
mengenyampingkan
kwalitas
university
theatre
structure
monarkhi
defaluasi
abstrac
akomodir
legalisir 
diadnosa
hipotesa 
culture
deputy
Security
aktifitas
relative
repertoire
konggres
C.  Nilai  Kata
Jika kita menulis atau berbicara, kita itu selalu menggunakan kata. Kata tersebut dibentuk menjadi kelompok kata, klausa, kalimat, paragraph dan akhirnya sebuah wacana.
Di dalam sebuah karangan, diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita. Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya
1.      Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang terkandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan misalnya, bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah, dan ditelan. Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.
Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.
2.      Makna Umum dan Khusus
Kata ikan memiliki acuan yang lebih luas daripada kata mujair atau tawes. Ikan tidak hanya mujair atau tidak  seperti gurame, lele, sepat, tuna, baronang, nila, ikan koki dan ikan mas. Sebaliknya, tawes pasti tergolong jenis ikan demikian juga gurame, lele, sepat, tuna, dan baronang pasti merupakan jenis ikan. Dalam hal ini kata acuannya lebih luas disebut kata umum, seperti ikan, sedangkan kata yang acuannya lebih khusus disebut kata khusus, seperti gurame, lele, tawes, dan ikan mas.
3.    Kata abstrak dan kata konkret.
Kata yang acuannya semakin mudah diserap pancaindra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap pancaindra, kata itu disebut kata abstrak, seperti gagasan dan perdamaian. Kata abstrak digunakan untuk mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang sifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata abstrak terlalu diobral atau dihambur-hamburkan dalam suatu karangan. Karangan tersebut dapat menjadi samar dan tidak   cermat.
4.    Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Kita ambil contoh cermat dan cerdik kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata tersebut tidak persis sama benar. Kesinoniman kata masih berhubungan dengan masalah makna denotatif dan makna konotatif suatu kata.
5.      Kata Ilmiah dan kata popular
 Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunakan oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, serta diskusi-diskusi khusus.
Yang membedakan antara kata ilmiah dengan kata populer adalah bila kata populer digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan, kata-kata ilmiah digunakan pada tulisan-tulisan yang berbau pendidikan. Yang juga terdapat pada penulisan artikel, karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis maupun desertasi.
     Agar dapat memahami perbedaan antara kata ilmiah dan kata populer, berikut daftarnya:
Kata Ilmiah
Kata popular
Analogi
Kiasan
Final
Akhir
Diskriminasi
perbedaan perlakuan
Prediksi
Ramalan
Kontradiksi
Pertentangan
Format
Ukuran
Anarki
Kekacauan
Biodata
biografi singkat
Bibliografi
daftar pustaka

6.      Kata Serapan
Kata serapan adalah kata yang di adopsi dari bahasa asing yang sudah sesuai dengan EYD. Kata serapan merupakan bagian perkembangan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia telah banyak menyerap terutama dalam unsur kosa kata. Bahasa asing yang masuk dan memberi pengaruh terhadap kosa kata bahasa Indonesia antara lain dari bahasa Sansekerta, bahasa Belanda, bahasa Arab, bahasa Inggris dan ada juga dari bahasa Tionghoa. Analogi dan Anomali kata serapan dalam bahasa Indonesia. Penyerapan kata ke dalam bahasa Indonesia terdapat 2 unsur, yaitu: 
-   Keteraturan bahasa (analogi) : dikatakan analogi apabila kata tersebut memiliki bunyi yang sesuai antara ejaan dengan pelafalannya.
-   Penyimpangan atau ketidakteraturan bahasa (anomali) : dikatakan anomali apabila kata tersebut tidak sesuai antara ejaan dan pelafalannya.
7.    Analogi
 Analogi adalah keteraturan bahasa, tentu saja lebih banyak berkaitan dengan kaidah-kaidah bahasa, bisa dalam bentuk sistem fonologi, sistem ejaan atau struktur bahasa. Ada beberapa contoh kata yang sudah sesuai dengan sistem fonologi, baik melalui proses penyesuaian ataupun tidak, misalnya :
                       


Menurut taraf integrasinya unsur pinjaman ke dalam bahasa asing dapat dibagi dua golongan. Pertama unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia. Unsur seperti ini di pakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi penulisan dan pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua unsur pinjaman yang pengucapan dan tulisannya telah di sesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
8.    Anomali
Indonesia
Aslinya
bank   
bank (Inggris)
Intern
intern (Inggris)
jum’at 
jum’at (Arab)

Kata-kata di atas merupakan beberapa contoh kata serapan dengan unsur anomali. Bila kita amati, maka akan dapat di simpulkan bahwa lafal yang kita keluarkan dari mulut dengan ejaan yang tertera, tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Hal yang tidak sesuai adalah : bank=(nk), jum’at=(’).
Kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia secara utuh tanpa mengalami perubahan penulisan memiliki kemungkinan untuk di baca bagaimana aslinya, sehingga timbul anomali dalam fonologi. Contoh :
Indonesia
Aslinya
Expose
Expose
Export
Export
exodus
Exodus

Kata kadang-kadang tidak hanya terdiri dari satu morfem, ada juga yang terdiri dari dua morfem atau lebih. Sehingga penyerapannya dilakukan secara utuh. Misalnya :
Indonesia
Aslinya
Federalisme
federalism (Inggris)
Bilingual
bilingual (Inggris)
Dedikasi
dedication (Inggris)
Edukasi
education (Inggris)
                                               
D.  Pengeseran Dan Tambahan Makna Kata
Bahasa berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat pemakainya. Pengembangan diksi terjadi pada kata. Namun, hal ini berpengaruh pada penyusunan kalimat, paragraph, dan wacana. Pengembangan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi. Komunikasi kreatif berdampak pada perkembangan diksi, berupa penambahan atau pengurangan kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu, bahasa berkembang sesuai dengan kualitas pemikiran pemakainya. Perkembangan dapat menimbulkan perubahan yang mencakup perluasan, penyempitan, pembatasan, pengaburan, dan pergeseran makna.
Faktor penyebab perubahan makna:
1.       Kebahasaan
Perubahan makna yang ditimbulkan oleh factor kebahasaan meliputi perubahan intonasi, bentuk kata, dan bentuk kalimat.
a.    Perubahan intonasi adalah perubahan makna yang diakibatkan oleh perubahan nada, irama, dan rekanan. Kalimat berita Ia makan. Makna berubah jika intonasi kalimat diubah, misalnya: Ia makan? Ia makan? Ia maakaaan. Perbedaan kalimat berikut ini diakibatkan oleh perubahan intonasi.
Paman teman saya belum menikah.
Paman, teman saya belum menikah.
Paman, teman, saya belum menikah.
Paman, teman, saya, belum menikah.
b.    Perubahan struktur frasa: kaleng susu ( kaleng bekas tempat susu) susu kaleng (susu yang dikemas dalam kaleng), dokter anak (dokter spesialis penyakit anak) anak dokter (anak yang dilahirkan oleh orang tua yang menjadi dokter)
c.    Perubahan bentuk kata adalah perubahan makna yang ditimbulkan oleh perubahan bentuk.
tua  (tidak muda)jika ditambah awalan ke- menjadi ketua., makna berubah menjadi pemimpin; sayang ( cinta) berbeda dengan penyayang (orang yang mencintai) memukul (orang yang memukul) berbeda dengan dipukul  (orang yang dikenai pukulan).
d.    Kalimat akan berubah makna jika strukturnya berubah. Perhatikan kalimat berikut ini:
(1)     Ibu Rina menyerahkan laporan itu lantas dibacanya.
(2)     Karena sudah diketahui sebelumnya, satpam segera dapat meringkus pencuri itu.
Kalimat pertama: salah bentuk kata sehingga menghasilkan makna Ibu ratna dibaca setelah menyerahkan surat. (Aneh bukan?) kesalahan terjadi pada kesejajaran bentuk kata menyerahkan dan diserahkan, seharusnya menyerahkan dibentuk pasif menjadi diserahkan.
2.    Kesejarahan
Kata perempuan pada zaman penjajahan Jepang digunakan untuk menyebut perempuan penghibur. Orang menggantinya dengan kata wanita. Kini setelah orang melupakan peristiwa tersebut menggunakannya kembali, dengan pertimbangan, kata perempuan lebih mulia dibanding kata wanita. Perhatikan penggunaan kata yang bercetak miring pada masa lalu dan bandingkan dengan pemakaian pada masa sekarang.
Prestasi orang itu berbobot. (sekarang berkualitas)
Prestasi kerjanya mengagumkan. (Sekarang kinerja)
3.    Kesosialan
Masalah social berpengaruh terhadap perubahan makna. Kata gerombolan yang pada mulanya bermakna orang berkumpul atau kerumunan. Kemudian kata itu tiak digunakan karena berkonotasi dengan pemberontak, perampok, dan sebagainya.  Perhatikan kata-kata berikut:
Petani kaya disebut petani berdasi
Militer disebut baju hijat
Guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa
4.    Kejiwaan
Perubahan makna karena faktor kejiwaan ditimbulkan oleh pertimbangan:
a.    Rasa takut
b.    Kehalusan ekspresi
c.    Kesopanan
Misalnya pada masa Orde Baru, orang takut (khawatir) banyak utang (komersial) merupakan kinerja buruk bagi pemerintah, kata tersebut diganti dengan bantuan atau pinjaman . Padahal, utang (komersial) dan bantuan berbeda makna. Demikian pula, kata korupsi diganti dengan menyalahgunakan jabatan. Perhatikan contoh berikut:
a.    Tabu:
Pelacur disebut tunasusila atau penjaja seks komersial (PSK)
Germo disebut hidung belang
b.    Kehalusan (pleonasme)
Bodoh disebut kurang pandai
Malas disebut kurang rajin
c.    Kesopanan
Kekamar mandi disebut ke belakang
Sangat baik disebut tidakburuk
5.    Bahasa Asing
Perubahan makna karena faktor bahasa asing, misalnya: tempat orang terhormat diganti dengan VIP.  Perhatikan cotoh berikut ini:
Jalur kereta khusus disebut busway
Kereta api satu rel disebut monorel
6.    Kata Baru
Kreativitas pemakai bahsa berkembang terus sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan tersebut memerlukan bahasa sebagai alt ekspresidan komunikasi. Kebutuhan tersebut mendorong untuk menciptakan istilah baru bagi konsep baru yang ditemukannya, misalnya: chip, server, download, website, dvd dan, sebagainya

E.  Gaya Bahasa
Gaya bahasa ditentukan oleh ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Kalimat, paragraf, atau wacana menjadi efektif jika dieksprikan dengan gaya bahasa yang tepat. Gaya bahasa mempengaruhi terbentuknya suasana, kejujuran, kesopanan, kemenarikan, tingkat keresmian, atau realita. Gaya resmi misalnya dapat membawa pembaca/ pendengar ke dalam suasana serius dan penuh perhatian. Suasana tidak resmi mengarahkan pembaca/ pendengar ke dalam situasi rileks tapi efektif. Gaya percakapan membawa suasana ke dalam situasi realistis.
Selain itu, pilihan dan kesesuaian kata yang didukung dengan tanda baca yang tepat dapat menimbulkan nada kebahasaan, yaitu sugesti yang terekspresi melalui rangkaian kata yang disertai penekanan mampu menghasilkan daya persuasi yang tinggi. Gaya bahasa berdasarkan nada yang dihasilkan pilihan kata ini ada tiga macam, yaitu:
1.    Gaya bahasa bernada rendah (gaya sederhana) menghasilkan ekspresi pesan yang mudah dipahami oleh berbagai lapisan pembaca, misalnya dalam buku-buku pelajaran, penyajian fakta, dan pembuktian.
2.    Gaya bahasa bernada menengah, rangkaian kata yang disusun berdasarkan kaidah sintaksis dengan menimbulkan suasana damai dan kesejukan, misalnya: dalamseminar, kekeluargaan, dan kesopanan.
3.    Gaya bahasa bernada tinggi mengekspresikan maksud degnan penuh tenaga, menggunakan pilihan kata yang penug vitalitas, energi, dan kebenaran universal. Gaya ini menggunakan kata-kata yang penuh keagungan dan kemuliaan yang dapat menghanyutkan emosi pembaca dan pendengarnya. Gaya ini sering digunakan untuk  menggerakkan massa dalam jumlah yang sangat banyak.






BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Diksi adalah pemilihan dan pemakaian kata oleh pengarang dengan mempertimbangkan aspek makna kata yaitu makna denotatif dan makna konotatif sebab sebuah kata dapat menimbulkan berbagai pengertian.
Fungsi diksi yaitu untuk mencegah kesalapahaman / perbedaan penafsiran dan membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual
Makna umum adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang luas dari kata yang lain.  Makna khusus adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang sempit dari kata yang lain.
Kata konkreat adalah kata yang acuannya semakin mudah diserap pancaindra  Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang sifat teknis dan khusus.
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan.
Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Yang membedakan antara kata ilmiah dengan kata populer adalah bila kata populer digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Kata serapan adalah kata yang di adopsi dari bahasa asing yang sudah sesuai dengan EYD.  Analogi adalah keteraturan bahasa
Faktor-faktor penyebab pengeseran dan makna kata yaitu kebahasaan, kesejarahan,   kesosialan, kejiwaan,  bahasa asing, dan kata baru.
Gaya bahasa ditentukan oleh ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Gaya bahasa mempengaruhi terbentuknya suasana, kejujuran, kesopanan, kemenarikan, tingkat keresmian, atau realita. Gaya resmi misalnya dapat membawa pembaca/ pendengar ke dalam suasana serius dan penuh perhatian.
B.     KRITIK
Di zaman modern sekarang masyarakat sering terdikte oleh aturan-aturan tata bahasa yang salah sehingga menggunakan kata dengan tidak tepat atau bahkan salah. Dampaknya ialah komunikasi antara kedua belah pihak terhambat di karenakan kesalahpahaman penafsiran.
C.    SARAN
Dengan berpedoman pada EYD, khususnya cara pelafalan huruf hendaknya mengikuti aturan yang sudah dibakukan. Masyarakat juga harus mahir dalam memilah mana kata yang tepat dan tidak tepat dengan mempelajari diksi secara lebih luas. 





DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Aziz. 2009. Diksi atau Pilihan Kata. http://azizturn.wordpress.com/2009/10/18/diksi-atau-pilihan-kata/. diakses pada tanggal 29 September 2013
http://tugasmanajemen.blogspot.com/2011/04/pengertian-fungsi-dan-elemen-elemen.html  diakses pada tanggal 29 September 2013
http://mettamustika.wordpress.com/2010/12/16/diksi/ diakses pada tanggal 29 September 2013
http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196711031993032-NOVI_RESMINI/DIKSI_ATAU_PILIHAN_KATA_power_point.pdf  diakses pada tanggal 29 September 2013
http://makulbi.blogspot.com/2012/08/diksi-kosa-kata-bahasa-Indonesia-baku.html diakses pada tanggal 29 September 2013
http://evimazyulianti.blogspot.com/2013/01/makalah-diksi-dan-gaya-bahasa.html diakses pada tanggal 29 September 2013
http://susandi.files.wordpress.com/2010/11/kata-dan-diksi.ppt diakses pada tanggal 29 September 2013
http://joystikrusakbgt.blogspot.com/2011/10/pengertian-diksi-atau-pilihan-kata-gaya.html diakses pada tanggal 29 September 2013
http://pelitaku.sabda.org/menentukan_pemilihan_kata_diksi diakses pada tanggal 29 September 2013
http://eprints.uny.ac.id/8251/3/BAB%202-05210144010.pdf diakses pada tanggal 29 September 2013





Demikianlah materi tentang Makalah Diksi yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Bahasa Arab yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.


EmoticonEmoticon