Saturday, October 21, 2017

Makalah Flora dan Fauna

Dalam kesempatan kali ini saya akan membahasa tentang Makalah Flora dan Fauna. Tulisan dalam makalah ini bisa dijadikan sumber rujukan bagi teman-teman pembaca dalam menyelesaikan tugasnya.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis limpahkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul Flora dan Fauna dengan baik.
Untuk menyelesaikan makalah ini penulis mendapatkan bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada :
1.        Bapak Drs. Nurhadi, M.Si selaku dosen pengampu.
2.        Teman-teman Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahan baik dalam isi maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan wawasan penulis. Oleh sebab itu penulis berharap kepada berbagai pihak untuk memberikan saran dan kritik yang membangun demi perbaikan makalah ini kedepannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.






DAFTAR ISI

HALAMAN COVER.......................................................................................................     
KATA PENGANTAR......................................................................................................     
DAFTAR ISI....................................................................................................................     
BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang.........................................................................................................     
B.  Rumusan Masalah....................................................................................................     
C.  Tujuan......................................................................................................................     
BAB II PEMBAHASAN
A.  Persebaran Flora di Indonesia..................................................................................     
B.  Faktor Penyebab Adanya Perbedaan Flora di Indonesia........................................     
C.  Persebaran Fauna di Indonesia................................................................................     
D.  Faktor Penyebab Adanya Perbedaan Fauna di Indonesia.......................................     
E.   Upaya Pencegahan Punahnya Flora dan Fauna di Indonesia..................................     
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.............................................................................................................     
B.     Saran.......................................................................................................................     

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................     





BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah baik flora maupun fauna. Keanekaragaman flora dan fauna di Indonesia tidak terlepas dari dukungan kondisi di wilayah Indonesia itu sendiri. Ada tumbuhan dan hewan yang hanya dapat hidup di daerah yang beriklim tropis, dimana banyak curah hujan dan sinar matahari, dan ada yang hanya dapat tumbuh di daerah yang dingin, lembab ataupun kering. Proses migrasi pada tumbuhan dan hewan di pengaruhi oleh kemampuanya berevolusi, kemampuannya dalam menyesuaiakan dirinya untuk mempertahankan hidupnya, faktor lingkungannya baik itu biotik maupun abiotik, dan juga faktor geologis.
Dalam suatu wilayah tertentu selalu terjadi populasi, satu spesies dengan spesies lainya senantiasa terjdi suatu interksi baik secara langsung maaupun tidak langsung. Dengan demikian terjadilah suatu kehidupan komunitas atau kelompok suatu kehidupan. Jenis-jenis fauna tertentu dipengaruhi keberadaannya oleh keadaan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan tumbuh-tumbuhan dipengaruhi oleh iklim. Keadaan fauna di tiap-tiap daerah atau bioma tergantung pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan daerah tersebut untuk memberi makan.
Keberagaman flora fauna ini senantiasa memberikan keuntungan besar bagi masyarakat terutama dalam bidang ekonomi. Pemanfaatan sumber daya hayati yang teradi secara terus menerus dan terkadang tidak diimbangi dengan adanya pelestarian mengakibatkan jumlah populasi flora fauna semakin berkurang tiap tahunnya, bahkan mendekati punah. Oleh karena itu dalam makalah ini selain akan membahas tentang persebaran flora fauna juga faktor perebaran tersebut, juga akan dibahas bagaimana menjaga flora fauna itu untuk tetap lestari hingga anak cucu kita nanti juga masih dapat menikmatinya.

B.       Rumusan Masalah
1.         Bagaimana persebaran flora di Indonesia ?
2.         Apa faktor penyebab terjadinya persebaran flora di Indonesia ?
3.         Bagaimana persebaran fauna di Indonesia ?
4.         Apa faktor penyebab terjadinya persebaran fauna di Indonesia ?
5.         Bagaimana upaya untuk mencegah kepunahan flora fauna di Indonesia ?

C.      Tujuan
1.         Mengetahui bagaimana persebaran flora di Indonesia.
2.         Mengetahui faktor penyebab terjadinya persebaran flora di Indonesia.
3.         Mengetahui bagaimana persebaran fauna di Indonesia.
4.         Mengetahui faktor penyebab terjadinya persebaran fauna di Indonesia.
5.         Mengetahui upaya untuk mencegah kepunahan flora fauna di Indonesia





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Persebaran Flora di Indonesia
Menurut Kusmana dan Hikmat, (2015:187) menjelaskan istilah flora diartikan sebagai samua jenis tumbuhan yang tumbuh di suatu daerah tertentu. Apabila istilah flora ini dikaitkan dengan life-form (bentuk hidup/habitus) tumbuhan, maka akan muncul berbagai istilah seperti flora pohon (flora berbentuk pohon), flora semak belukar, flora rumput, dsb. Apabila istilah flora ini dikaitkan dengan nama tempat, maka akan muncul istilah-istilah seperti Flora Jawa, Flora Gunung Halimun, dan sebagainya. Sesuai dengan kondisi lingkungannya, flora di suatu tempat dapat terdiri dari beragam jenis yang masing-masing dapat terdiri dari beragam variasi gen yang hidup di beberapa tipe habitat (tempat hidup). Oleh karena itu, muncullah istilah keanekaragaman flora yang mencakup makna keanekaragaman jenis, keanekaragaman genetik dari jenis, dan keanekaragaman habitat dimana jenis-jenis flora tersebut tumbuh.
Menurut Kusmana dan Hikmat, (2015:187) menjelaskan pola persebaran flora di Indonesia sama dengan pola persebaran faunanya yang berpangkal pada sejarah pembentukan daratan kepulauan Indonesia pada masa zaman es. Pada awal masa zaman es, wilayah bagian barat Indonesia (Dataran Sunda: Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan) menyatu dengan benua Asia, sedangkan wilayah bagian timur Indonesia (Dataran Sahul) menyatu dengan benua Australia. Dengan demikian, wilayah Indonesia merupakan daerah migrasi fauna dan flora antar kedua benua tersebut. Selanjutnya, pada akhir zaman es, dimana suhu permukaan bumi meningkat, permukaan air lautpun naik kembali, sehingga Pulau Jawa terpisah dari benua Asia, Kalimantan, dan Sumatera. Begitu pula pulau-pulau lainnya saling terpisah satu sama lain. Hasil penelitian biogeografi hewan oleh Wallace menunjukkan bahwa jenis-jenis hewan yang hidup di wilayah bagian barat Indonesia berbeda dengan jenis-jenis hewan di wilayah bagian timur Indonesia, batasnya kira-kira dari Selat Lombok ke Selat Makassar. Garis batas ini dikenal dengan Garis Wallace.
Menurut Kusmana dan Hikmat, (2015:188) Selain Wallace, peneliti berkebangsaan Jerman, Weber, mengadakan penelitian tentang biogeografi fauna di Indonesia, yang hasilnya mencetuskan Garis Weber yang menetapkan batas penyebaran hewan dari benua Australia ke wilayah bagian timur Indonesia. Berdasarkan hasil proses pembentukan daratan wilayah Indonesia serta hasil penelitian Wallace dan Weber, maka secara geologis, persebaran flora (begitu pula fauna) di Indonesia dibagi ke dalam 3 wilayah, yaitu:
1.         Flora Dataran Sunda yang meliputi Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali. Flora di pulau-pulau tersebut berada di bawah pengaruh flora Asia karena ciri-cirinya mirip dengan ciri-ciri flora benua Asia disebut juga flora Asiatis yang didominasi oleh jenis tumbuhan berhabitus pohon dari suku Dipterocarpaceae.
2.         Flora Dataran Sahul yang meliputi Papua dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Flora di pulau-pulau tersebut berada di bawah pengaruh benua Australia, biasa disebut flora Australis yang didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan berhabitus pohon dari suku Araucariaceae dan Myrtaceae.
3.         Flora Daerah Peralihan (Daerah Wallace) yang meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara yang berada di bawah pengaruh benua Asia dan Australia, yang mana jenis tumbuhan berhabitus pohonnya didominasi oleh jenis dari suku Araucariaceae, Myrtaceae, dan Verbenaceae. Dalam dunia tumbuhan, flora di wilayah Indonesia merupakan bagian dari flora Malesiana. Ditinjau dari wilayah biogeografi, setidaknya terdapat tujuh wilayah biogeografi utama Indonesia yang menjadi wilayah penyebaran berbagai spesies tumbuhan, yaitu Sumatra, Jawa dan Bali, Kalimantan, Sunda Kecil, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya.



B.       Faktor Penyebab Adanya Perbedaan Flora di Indonesia
Menurut Rara, (2014: 158) menjelaskan persebaran makhluk hidup dipermukaan bumi tidak merata, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran flora dan fauna adalah :
1.         Faktor Abiotik
Faktor abiotik terdiri dari faktor klimatik (iklim), faktor edafik (tanah), dan faktor fisiografi (ketinggian tempat dan bentuk lahan). Menurut Rara, (2014: 159) menjelaskan faktor klimatik/iklim, yang mempengaruhi kehidupan antara lain yaitu suhu, kelembapan, angin, dan curah hujan. Kondisi iklim merupakan salah satu faktor dominan yang mempengaruhi pola persebaran flora dan fauna. Wilayah-wilayah dengan pola iklim yang ekstrim, seperti daerah kutub yang senantiasa tertutup salju dan lapisan es abadi, atau gurun yang gersang, sudah tentu sangat menyulitkan bagi kehidupan suatu organisme. Oleh karena itu, persebaran flora dan fauna pada kedua wilayah ini sangat minim baik dari jumlah maupun jenisnya. Sebaliknya, daerah tropis merupakan wilayah yang optimal bagi kehidupan flora dan fauna. Faktor-faktor iklim yang berpengaruh terhadap persebaran makhluk hidup di permukaan bumi ini, antara lain suhu, kelembapan udara, angin, dan tingkat curah hujan.
a.         Suhu Permukaan bumi mendapatkan energi panas dari radiasi matahari dengan intensitas penyinaran yang berbeda-beda di setiap wilayah. Daerah-daerah yang berada pada zona lintang iklim tropis, menerima penyinaran matahari setiap tahunnya relatif lebih banyak jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya. Selain posisi lintang, faktor kondisi geografis lainnya yang mempengaruhi tingkat intensitas penyinaran matahari antara lain kemiringan sudut datang sinar matahari, ketinggian tempat, jarak suatu wilayah dari permukaan laut, kerapatan penutupan lahan dengan tumbuhan, dan kedalaman laut. Perbedaan intensitas penyinaran matahari menyebabkan variasi suhu udara di muka bumi. Kondisi suhu udara sangat berpengaruh terhadap kehidupan hewan dan tumbuhan, karena berbagai jenis spesies memiliki persyaratan suhu lingkungan hidup ideal atau optimal, serta tingkat toleransi yang berbeda-beda di antara satu dan lainnya. Misalnya, flora dan fauna yang hidup di kawasan kutub memiliki tingkat ketahanan dan toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan suhu yang tajam antara siang dan malam jika dibandingkan dengan flora dan fauna tropis.
b.        Kelembapan udara selain suhu dalam Rara (2014: 159) menjelaskan, faktor lain yang berpengaruh terhadap persebaran makhluk hidup di muka bumi adalah kelembapan. Kelembapan udara yaitu banyaknya uap air yang terkandung dalam massa udara. Tingkat kelembapan udara berpengaruh langsung terhadap pola persebaran tumbuhan di muka bumi.
c.         Angin di dalam siklus hidrologi, angin dalam Rara (2014: 162) berfungsi sebagai alat transportasi yang dapat memindahkan uap air atau awan dari suatu tempat ke tempat lain. Gejala alam ini menguntungkan bagi kehidupan makhluk di bumi, karena terjadi distribusi uap air di atmosfer ke berbagai wilayah. Akibatnya, secara alamiah kebutuhan organisme akan air dapat terpenuhi. Gerakan angin juga membantu memindahkan benih dan membantu proses penyerbukan beberapa jenis tanaman tertentu.
d.        Curah hujan air dalam Rara (2014: 162) merupakan salah satu kebutuhan vital bagi makhluk hidup. Tanpa sumber daya air, tidak mungkin akan terdapat bentuk-bentuk kehidupan di muka bumi.Bagi makhluk hidup yang menempati biocycle daratan, sumber air utama untuk memenuhi kebutuhan hidup berasal dari curah hujan. Melalui curah hujan, proses pendistribusian air di muka bumi akan berlangsung secara berkelanjutan.
e.         Faktor tanah/ edafik, faktor tanah dalam Rara (2014: 162) disebut pula faktor edafik yang berasal dari kata edapos yang artinya tanah atau lapangan. Melihat pola persebaran vegetasi dengan faktor edafik berarti meninjau tanah dari sudut tumbuhan atau kemampuan menumbuhkan vegetasi. Faktor fisik dan kimiawi tanah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman antara lain tekstur, struktur, dan keasaman tanah.
f.         Faktor topografi dalam Rara (2014: 162) meliputi ketinggian dan kemiringan lahan. Ketinggian suatu tempat erat kaitannya dengan perbedaan suhu yang akhirnya menyebabkan pula perbedaan kelengasan udara. Diantara daerah yang mempunyai ketinggian yang berbeda, akan ditumbuhi oleh vegetasi yang jenisnya berbeda pula karena vegetasi tumbuhan maupun hewan mempunyai tingkat adaptasi yang berlainan.
2.         Faktor Biotik
Menurut Rara, (2014: 165) menjelaskan Faktor Biotik yang sangat berpengaruh terhadap persebaran flora dan fauna yaitu manusia. manusia dapat membudidayakan beberapa jenis flora dan fauna.
3.         Faktor Sejarah Geologi
Menurut Rara, (2014: 165) menjelaskan Diperkirakan 200 juta tahun yang lalu, di bumi ini hanya terdapat satu benua saja, kemudian benua itu mengalami keretakan dan bergeser. Pergeseran itu berlangsung secara lambat dan akhirnya terjadilah lima benua seperti yang kita alami sekarang ini yang berlangsung kira-kira dalam waktu 135 juta tahun. Jadi pergeseran dimulai pada zaman Mesozoikum sampai awal Kenozoikum hingga bentuknya yang sekarang. Pada zaman itu bumi telah dihuni oleh berbagai jenis ikan, reptile, burung sampai binatang-binatang menyusui serta hewan atau tumbuhan didaratan. Pergeseran menjadi anak benua itu, mengakibatkan makhluk hidup yang dibawanya mengalami perubahan lingkungan hidup, misalnya iklim yang berbeda menyebabkan hanya makhluk hidup yang tahan terhadap kondisi ini akan tetap bertahan hidup dan menyesuaikan diri, sehingga tidak musnah. Jadi, sejarah geologi ikut menentukan geografi kehidupan di bumi baik ditinjau dari persamaan maupun perbedaan makhluk hidup.



C.       Penyebaran Fauna di Indonesia
Secara geografis, persebaran fauna di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga wilayah, yaitu; wilayah fauna Indonesia Barat (bercorak Asia), wilayah fauna Indonesia Tengah dan wilayah fauna Indonesia Timur (bercorak Australia). Di Indonesia terdapat tidak kurang dari 254 jenis amfibi, 624 jenis reptil dan 650 jenis binatang menyusui. Persebaran fauna Indonesia Barat dibatasi oleh garis Wallace, persebaran fauna Indonesia Timur dibatasi oleh garis Weber. Dengan demikian, persebaran fauna Indonesia Tengah terletak di antara kedua garis tersebut (Susilawati, 2011:11).

 


Gambar 1 Peta Persebaran Fauna di Indonesia
Pada ketiga wilayah persebaran fauna di Indonesia masing-masing memiliki ciri khasnya. Menurut Susilawati (2011:12), jika diidentifikasi masing-masing perbedaannya maka fauna di Indonesia Barat umumnya terdiri dari binatang menyusui yang berukuran besar seperti gajah, orangutan, badak, banteng, dll. berbagai jenis kera banyak terdapat di sini. Demikian halnya dengan berbagai jenis ikan air tawar. Sedangkan untuk fauna di Indonesia Timur umumnya terdiri dari binatang menyusui berukuran kecil, binatang berkantung, dan berbagai jenis burung yang beraneka warna
Tabel 1 Perbedaan Jenis Fauna pada Tiga Wilayah di Indonesia
Kelas
Indonesia Bagian Barat
Indonesia Bagian Tengah
Indonesia Bagian Timur
Mamalia
Gajah, badak bercula satu, tapir, rusa,
banteng, kukang,
monyet, orangutan,
macan, beruang, kijang, kancil, landak
Anoa, babi rusa, ikan
duyung, kuskus,
monyet hitam, beruang,
tarsius, kuda, sapi,
banteng
Kangguru, wallabi,
beruang, landak,
oposum layang,
kuskus, kelelawar.
Reptil
Buaya, kura-kura,
kadal, ular, tokek,
biawak, bunglon
Biawak, komodo,kurakura,
buaya, ular
Buaya, biawak, ular,
kadal, kura-kura
Amfibi

Katak pohon, katak
terbang, katak air
Katak pohon, katak
terbang, katak air
Burung
Burung hantu, elang,
jalak, merak, kutilang
Burung dewata, maleo,
nuri, mandar, raja
udang, kakatua,
merpati, angsa,
rangkong
Nuri, raja udang,
cendrawasih, kasuari,
namudur
Ikan Air Tawar
Pesut



D.      Faktor Penyebab Adanya Perbedaan Fauna di Indonesia
Keanekaragaman fauna menjadi aset utama dalam pendayagunaan fauna. Bila kekhasan dan kekhususan masing-masing komponennya dapat diungkapkan, pendayagunaan ini akan mencapai keefektifan yang tinggi. Keanekaragaman spesies fauna terjadi karena beberapa faktor, sehingga terbentuk keanekaragaman yang terpolakan dalam distribusinya, yang tergolong dalam dua aspek, yaitu spatial (berdasarkan ruangan/tempat), yang disebabkan oleh faktor geografi dan/atau oleh faktor ekologi, serta temporal, dengan dimensi waktu). Faktor-faktor ini terserap ke dalam setiap spesies dan terkembang untuk membentuk ciri dan sifat masing-masing spesies (Adisoemarto, 2005:88-91).
1.         Pola Distribusi Spatial Geografi
Kondisi geografi Indonesia memungkinkan tingginya tingkat keanekaragaman spesies fauna di negara ini. Dengan bentangan dari sisi timur Benua Asia sampai sisi barat Benua Australia Indonesia memiliki tiga kawasan fauna yang masingmasing mengandung kekhasannya. Region Oriental di sebelah barat, Region Australian di timur dan Kawasan Wallacea diantaranya telah membentuk keanekaragaman fauna yang tinggi tarafnya dan unik susunannya. Keberadaan ketiga kawasan ini juga merupakan keunikan, karena tiada satu pun negara di dunia yang memiliki lebih dari satu kawasan fauna, bahkan beberapa negara terletak di dalam satu kawasan. Perbedaan faktor dalam ekosistem di masing-masing region menyebabkan terjadinya keanekaragaman spesies yang menghuninya. Faktor-faktor yang telah diidentifikasi di antaranya adalah kendala lingkungan untuk mengkoloni suatu kawasan (Acevedo et al. 2005), hukum pulau yang menentukan ukuran tubuh (Lomolino 2005), gradasi ketinggian seperti yang terdapat pada artropoda tanah (Jing et al. 2005), dan pengaruh faktor abiotik (Pidwirny, 2001), yang meliputi kolonisasi dan pemapanan termasuk kepunahan lokal, serta uraian klasik mengenai distribusi geo-grafi biota (Smith 2005). Secara lengkap faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan binatang terdapat di ketiga kawasan tersebut, termasuk penggabungan faktor-faktor dari daratan Asia dan dari daratan Australia. Itulah sebabnya keanekaragaman binatang di ketiga kawasan tersebut sangat tinggi.
2.         Keanekaragaman sebaran temporal
Berbagai faktor dapat mendorong terjadinya keanekaragaman spesies dengan dimensi waktu/tempo. Dinamika populasi suatu spesies adalah salah satu ciri dalam keanekaragaman sebaran temporal (Korpimäki 2005). Dalam konteks dimensi tempo, spesies mem-punyai kemampuan dalam hal :
a.         Mengatasi pengaruh musuh alami dan ketersediaan pakan sebagai faktor pengatur fluktuasi.
b.        Mengatasi invasi pemangsa asing dan kembalinya pemangsa puncak.
c.         Bervariasi secara alami dan tanggapan terhadap perubahan yang disebabkan oleh ulah manusia dalam ekosistem hutan dan ekosistem pertanian.
d.        Seleksi habitat, pilihan diet dan mobilitas pemangsa.
e.         Keputusan reproduktif dalam lingkungan yang bermacam-macam.
f.         Mengatasi imuno kompentensi, parasit dan status kesehatan.
g.        Pentingnya visi ultraviolet dalam mencari pakan dan berkomunikasi.
Pola-pola distribusi spatial dan distribusi temporal hanya dapat dikenal berdasarkan informasi taksonomi yang dikumpulkan dari spesies-spesies yang terlibat dalam pembentukan pola distribusi. Spesies-spesies penentu pola yang terbentuk mencerminkan kekhasan dan kekhususan keaneka-ragaman hayati di masing-masing pola keanekaragaman, yang pada taraf spesies terdiri atas tiga tingkatan, yaitu alpha, atau keanekaragaman spesies dalam satu habitat, beta,keanekaragaman spesies dalam dua habitat atau lebih, gamma, keanekaragaman spesies yang ada dalam suatu region yang lebih luas (beberapa kawasan), dan global untuk seluruh dunia (Lecture 10, 2001 dalam Hartoto, 2006:91)
Keanekaragaman dunia hewan cukup menarik berbagai para ahli. Indonesia, telah banyak ahli melakukan penelitian terhadap dunia hewan antara lain Alfred Russel Wallace (Inggris) yang telah melakukan penyelidikan mengenai flora dan fauna, Weber (Jerman) menyelidiki jenis ikan tawar, Sarasin (Swiss) menyelidiki hewan di Sulawesi, dan Dammerman (Belanda) menyelidiki jenis-jenis hewan di Pulau Jawa. Dari hasil penyelidika tersebut dapat diketahui bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran fauna di Indonesia, antara lain (Banowati, 2012:135-137) :
1.         Pengaruh Perubahan Geologis
Perubahan gelgis yang terjadi pada masa lampau menyebabkan perubahan daratan dan laut telah banyak mempengaruhi persebaran jenis fauna tertentu. Laut merupakan penghambat persebaran fauna darat, ikan airtawar, serta jenis-jenis burung tertentu. Pada masa daratan Indonesia bagian barat masih bergabung menjadi satu dengan Benua Asia serta Indonesia bagian timur bergabung dengan Benua Australia (zaman pleistosen), banyak fauna dari kedua benua tersebut yang menyebar di Indonesia. Fauna yang berasal dari Asia menyebar di Indonesia bagian barat, sedang fauna yang berasal dari Australia menyebar di Indonesia bagian Timur. Setelah berakhirnya zama es (holosen) maka sebagian daerah dangkalan Sunda dan Sahul digenangi air dan menjadi laut. Sejak peristiwa ini, penyebaran fauna juga terhenti kecuali fauna tertentu.
2.         Pengaruh Keadaan Iklim suatu Daerah
Curah hujandan temperatur, sangat berpengaruh terhadap dunia tumbuh-tumbuhan. Keadaan ini secara tidak langsung mempengaruhi jenis-jenis fauna tertentu. Oleh sebab itu, baik secara langsung maupun tidak langsung, keadaan iklim suatu daerah berpengaruh terhadap persebaran fauna, perkembangan, serta kelangsungan hidup hewan sangat tergantung pada tersedianya jenis pakan yang diperlukan, hal ini sangat tergantung pada kondisi lingkungan di daerah setempat, terutama keadaan curah hujan dan temperatur.
3.         Pengaruh Kegiatan Manusia
Kegiatan manusia berperan dalam penyebaran fauna, baik melalui pembuatan keadaan lingkungan yang sesuai maupun dengan cara-cara lainnya. Makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi makin tampak sekali pengaruh tersebut. Misalnya dengan mendatangkan ternak ataupun unggas yang dipandang produktif dari negara lain untuk dikembangbiakkan di Indonesia, sehingga dapat diperoleh jenis-jenis unggul. Upaya bersifat untuk pembibitan, penyilangan, maupun lainnya.
Kegiatan manusia yang dimaksud pada paragraf di atas adalah kegiatan yang bersifat positif. Selain itu, ada pula kegiatan manusia yang berpengaruh negatif, misalnya perburuan terhadap jenis fauna tertentu, baik karena dianggap merugikan kehidupan manusia maupun ada sebab lain. Akibat dar kegiatan semacam ini menyebabkan perubahan penyebaran secara alamiah, dapat pula berakibat semakin berkurangnya jumlah (populasi) jenis fauna tertentu. Adanya usaha-usaha untuk melestarikan jenis fauna tertentu , terutama yang telah dianggap langka, merupakan upaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan hidup yang makin lama tampak semakin rusak.


E.       Upaya Pencegahan Punahnya Flora dan Fauna di Indonesia
Beberapa jenis flora dan fauna kini semakin sulit ditemui karena banyak diburu untuk tujuan tertentu (dimakan, untuk obat, perhiasan) maupun tempat hidupnya dirusak manusia misalnya untuk dijadikan lahan pertanian, perumahan, industri, dan sebagainya. Flora dan fauna yang jumlahnya sangat terbatas tersebut dinyatakan sebagai flora dan fauna langka. Untuk mencegah semakin punahnya flora dan fauna ini maka dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
1.         Ditetapkan tempat perlindungan bagi flora dan fauna agar perkembangbiakannya tidak terganggu. Tempat-tempat perlindungan ini berupa cagar alam bagi flora dan suaka margasatwa bagi fauna.
2.        Membangun beberapa pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan hewan tertentu, seperti :
a.         Pusat rehabilitasi orang utan di Bohorok dan Tanjung Putting di Sumatera.
b.        Daerah hutan Wanariset Samboja di Kutai, Kalimantan Timur.
c.         Pusat rehabilitasi babi rusa dan anoa di Sulawesi.
3.        Pembangunan yang berwawasan lingkungan, berarti pembangunan harus memperhatikan keseimbangan yang sehat antara manusia dengan lingkungannya.
4.        Menetapkan beberapa jenis binatang yang perlu dilindungi seperti : soa-soa (biawak), komodo, landak semut Irian, kanguru pohon, bekantan, orang utan (Mawas), kelinci liar, bajing terbang, bajing tanah, siamang, macan kumbang, beruang madu, macan dahan kuwuk, pesut, ikan duyung, gajah, tapir, badak, anoa, menjangan, banteng, kambing hutan, sarudung, owa, sing puar, peusing.
5.        Melakukan usaha pelestarian hutan, antara lain:
a.         Mencegah pencurian kayu dan penebangan hutan secara liar.
b.        Perbaikan kondisi lingkungan hutan.
c.         Menanam kembali di tempat tumbuhan yang pohonnya di tebang.
d.        Sistem tebang pilih.
6.        Melakukan usaha pelestarian hewan, antara lain :
a.         Melindungi hewan dari perburuan dan pembunuhan liar.
b.        Mengembalikan hewan piaraan ke kawasan habitatnya.
c.         Mengawasi pengeluaran hewan ke luar negeri.
7.        Melakukan usaha pelestarian biota perairan, antara lain :
a.         Mencegah perusakan wilayah perairan.
b.        Melarang cara-cara penangkapan yang dapat mematikan ikan dan biota lainnya, misalnya dengan bahan peledak.
c.         Melindungi anak ikan dari gangguan dan penangkapan.         
Sejak tahun 1980, beberapa kawasan cagar alam atau suaka margasatwa telah diubah statusnya menjadi Taman Nasional. Dewasa ini terdapat 320 tempat untuk Taman Nasional dan Hutan Lindung, antara lain di Sumatera, Irian Jaya, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Taman nasional dan hutan lindung mempunyai fungsi sebagai:
1.         Perlindungan sistem penyangga kehidupan.
2.         Pengawetan jenis tumbuhan dan hewan.
3.         Pelestarian pemanfaatan sumber daya hayati dan tata lingkungan.
Tabel 2 Beberapa Taman Nasional, Suaka Alam, Dan Margasatwa di Indonesia.
No.
Nama
Propinsi
Keterangan
1
Gunung Leuser
DI Aceh
Taman Nasional*
2
Ujung Kulon
Jawa Barat
Taman Nasional*
3
Gedung Pangrango
Jawa Barat
Taman Nasional*
4
Baluran
Jawa Timur
Taman Nasional*
5
Pulau Komodo
NTT
Taman Nasional*
6
Kerinci Seblat
Sumatera
Taman Nasional*
7
Bukit Barisan Selatan
Sumatera
Taman Nasional*
8
Pulau Seribu
Jakarta (Lepas Pantai)
Taman Nasional**
9
Bali Barat
Bali
Taman Nasional**
10
Tanjung Puting
Kalimantan
Taman Nasional**
11
Kutai
Kalimantan Timur
Taman Nasional**
12
Lore
Sulawesi
Taman Nasional**
13
Dumoga
Sulawesi
Taman Nasional**
14
Manu Selawang Nua/Waymual
Maluku
Taman Nasional**
15
Bromo - Semeru - Tengger
Jawa Timur
Taman Nasional**
16
Meru Betiri
Jawa Timur
Taman Nasional**
17
Langkat Barat
Sumatera Utara
Suaka Margasatwa
18
Langkat Selatan
Sumatera Utara
Suaka Margasatwa
19
Kerumutan
Riau
Suaka Margasatwa
20
Berbak
Jambi
Suaka Margasatwa
21
Way Kambas
Lampung
Suaka Margasatwa
22
Pangandaran
Jawa Barat
Suaka Margasatwa
23
Gunung Rinjani
NTB
Suaka Margasatwa
24
Beringin Sati
Sumatera Barat
Cagar Alam
25
Panaitan
Jawa Barat
Cagar Alam
26
Gunung Palung
Kalimantan Barat
Cagar Alam
27
Kota Waringin/Sampit
Kalimantan Tengah
Cagar Alam
28
Gunung Lorens
Irian Jaya
Cagar Alam
Keterangan :
*   : Ditetapkan sejak tahun 1980
** : Ditetapkan sejak tahun 1982




BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Secara geologis, persebaran flora (begitu pula fauna) di Indonesia dibagi ke dalam 3 wilayah, antara lain flora Dataran Sunda, flora Dataran Sahul , dan flora Daerah Peralihan (Daerah Wallace). Faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran flora dan fauna adalah : faktor abiotik, faktor biotik, dan faktor sejarah geologi. Persebaran fauna Indonesia Barat dibatasi oleh garis Wallace, persebaran fauna Indonesia Timur dibatasi oleh garis Weber. Keanekaragaman spesies fauna terjadi karena beberapa faktor, sehingga terbentuk keanekaragaman yang terpolakan dalam distribusinya, yaitu aspek spatial. Faktor yang mempengaruhi penyebaran fauna di Indonesia, yaitu pengaruh perubahan geologis, pengaruh keadaan iklim suatu daerah, dan pengaruh kegiatan manusia. Untuk mencegah semakin punahnya flora dan fauna ini maka dilakukan upaya-upaya, antara lain dengan ditetapkan tempat perlindungan bagi flora dan fauna agar perkembangbiakannya tidak terganggu, membangun beberapa pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan hewan tertentu, pembangunan berwawasan lingkungan, menetapkan beberapa jenis binatang yang perlu dilindungi, melakukan usaha pelestarian hutan, melakukan usaha pelestarian hewan, dan melakukan usaha pelestarian biota perairan.

B.       Saran
Cara untuk meminimalisir punahnya flora dan fauna di Indonesia dapat dimulai dari anak-anak dimana mereka diberi pengetahuan melalui flora dan fauna langka di Indonesia melalui pendidikan. Di samping itu, perlu diadakan penyuluhan tentang pelestarian satwa oleh lembaga-lembaga tertentu seperti lembaga pemerintah, dinas kehutanan, dan sebagainya. Kemudian, masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya flora dan fauna bagi ekosistem kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Adisoemarto, Soenartono. 2005. Penerapan dan Pemanfaatan Taksonomi untuk Mendayagunakan Fauna Daerah: Zoo Indonesia Vol. 15(2): 87 – 100.
Banowati, Eva. 2012. Geografi Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Christanto, Indrayanti.2013. Flora dan Fauna. Diakses pada hari Jumat, 31 Maret 2017 pukul 12.32 di www.geografikoe.com
Kusmana,Cecep dan Hikmat, Agus. 2015. Keanekaragaman Hayati Flora Di Indonesia. Bogor: diakses pada www.journal.ipb.ac.id  tanggal 03 April 2017.
Rara, Miede Emirilda. 2014. Materi Biosfer. Lampung: diakses pada www.digilib.unila.ac.id tanggal 03 April 2017.
Susilawati. Regional Indonesia : Kondisi Fisik Wilayah Indonesia. Diakses pada hari Rabu, 29 Maret 2017 pukul 19.08 WIB di www.file.upi.edu.com



Demikianlah materi tentang Makalah flora dan fauna yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan bermanfaat dan  dapat membantu menambah wawasan pembaca. 


EmoticonEmoticon