Friday, October 6, 2017

Makalah Metodologi Penelitian

Makalah Metodologi Penelitian - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :


Makalah Metodologi Penelitian



KATA PENGANTAR 

Buku ajar ini diperuntukan bagi dosen, mahasiswa dan siapa saja yang berminat melakukan peneltiian sebagai bahan perkuliahan dengan penyajian yang lebih pratis, dimulai dengan uraian, penjelasan, contoh-contoh dan latihan-latihan. Buku ini bisa dipelajari dalam waktu yang relatif singkat, karena bahan disajika sedemikian rupa. 

Dengan buku ini pembaca bisa membedakan mana penelitian kuantitatif dan mana penelitian kualitatif, penelitian konvensional dan penelitian tindakan. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang berminat untuk menadakan riset dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

”Tiada gading yang tak retak”, buku ini masih perlu terus disempurnakan. 


Penulis, 

Suryana 


DAFTAR ISI 


DAFTAR ISI 
KATA PENGANTAR 
BAB I ILMU PENGETAHUAN 
1.1 Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan 
1.2 Komponen-komponen Ilmu 
1.3 Struktur Ilmu Pengetahuan 

BAB II METODE PENELITIAN 
2.1 Pengertian 
2.2 Pentingnya Kegiatan Penelitian 
2.3 Pendekatan Memperoleh Kebenaran 
2.4 Macam-macam Metode Penelitian 
2.5 Langkah-langkah Penelitian (Proses Kegiatan Ilmiah). 


BAB III PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN 
3.1 Latar Belakang Masalah 
3.2 Mengidentifikasi, Memilih/ Membatasi, dan Merumuskan Masalah 
3.3 Tujuan Penelitian 
3.4 Kegunaan Penelitian 

BAB IV KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 
4.1 Merumuskan Kerangka Pemikiran 
4.2 Merumuskan Hipotesis 

BAB V VARIABEL DAN CARA PENGUKURANNYA 
5.1 Vaiabel Penelitian 
5.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian : Variabel, dimensi (sub- variabel), indikator dan Pengukurannya. 
5.3 Macam-macam Variabel Penelitian dan Hubungan antar Variabel yang Diteliti 

BAB VI OBJEK DAN METODE PENELITIAN 
6.1 Objek Penelitian 
6.2 Populasi Penelitian 
6.3 Sampel Penelitian 
6.4 Metode Penelitian 

BAB VII SUMBER DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA 
7.1 Jenis dan Sumber Data 
7.2 Teknik Pengumpulan Data : Alat dan sakala Pengukuran 
7.3 Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian 

BAB VIII ANALISIS DATA DAN INTERPRESTASI 
8.1 Analisis Data 
8.2 Pengujian Hipotesis 
8.3 Interprestasi Hasil Penelitian 

BAB IX KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN 
9.1 Kesimpulan Penelitian 
9.2 Implikasi Penelitian 

BAB X PENULISAN LAPORAN PENELITIAN 
10.1 Susunan / Draf Laporan Penelitian 
10.2 Latar Belakang Masalah 
10.3 Identifikasi Masalah 
10.4 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 
10.5 Kerangka Pemikiran 
10.6 Asumsi/ Premis dan Postulat 
10.7 Perumusan Hipotesis 
10.8 Tinjauan Pustaka 
10.9 Objek dan Metode Penelitian 
10.10 Analisis Data dan Pembahasan 
10.11 Kesimpulan, Implikasi Penelitian dan Saran-saran 
10.12 Daftar Pustaka 

BAB XI PENELITIAN TINDAKAN (ACTION RESEARCH) 
11.1 Pengertian Penelitian Tindakan 
11.2 Cirir-Ciri Penelitian Tindakan 
11.3 Tujuan Penelitian Tindakan 
11.4 Manfaat Penelitian Tindakan 
11.5 Karakteristik Penelitian Tindakan 
11.6 Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan 
11.3 Langkah-Langkah dan Prosedur Penelitian Tindakan 





BAB I
PENDAHULUAN 


1.1 Ilmu Pengetahuan 
Ilmu pengetahuan ialah sekumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan runtut melalui metode ilmiah. Metode ilmiah atau disebut juga metode penelitian adalah prosedur atau langkah-langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan. Langkah-langkah sistematis tersebut meliputi: 

(1) Mengidentifikasi dan Merumuskan masalah, 

(2) Menyusun kerangka Pemikiran , 

(3) Merumuskan Hipotesis , 

(4) Menguji hipotesis , dan 

(5) Menarik kesimpulan . 

Dengan kata lain, metode ilmiah adalah cara memperoleh dan menyususun pengetahuan. Beda Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan terletak pada: “Pengetahuan” adalah bahan ilmu, dan baru bisa menjawab tentang apa, sedangkan “Ilmu Pengetahuan” menjawab tentang mengapa suatu kenyataan atau kejadian”. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan sekumpulan pengetahuan dalam bidang tertentu yang disusun secara sistematis, menggunakan metode keilmuan, dapat dipelajari dan diajarkan, dan memiliki nilai guna tertentu. 

Syarat ilmu pengetahuan adalah memiliki objek dan metode ilmiah, atau memiliki dimensi/aspek sebagai berikut: 

(1) Aspek Ontologis, yaitu berkenaan dengan apa yang dipelajari ilmu atau berkenaan dengan objek studi. Aspek ontologis berkenaan dengan apa yang ingin diketahui, apa yang dipikirkan atau yang menjadi masalah. Contoh : Aspek ontologis dalam ilmu ekonomi adalah perilaku manusia yang dihadapkan pada persoalan sumber daya manusia yang terbatas, dengan kebutuhan yang tidak terbatas. 

(2) Aspek Epistimologis, berkenaan dengan bagaimana ilmu mempelajari objek studinya dengan menggunakan metode tertentu, yaitu metode keilmuan atau metode ilmiah yang didukung oleh sarana berfikir ilmiah. Metode ilmiah pada dasarnya merupakan gabungan antara pola berpikir induktif (dari hal-hal yang khusus, dianalisis menjadi hal-hal yang umum) dan pola berpikir deduktif . (dari hal-hal yang umum kepda hal-hal yang khusus). Pola berpikir induktif dan deduktif disebut juga proses “ Logico-hypotetico-verifikatif atau “deducto-hypotetico-verifikatif”, yang terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: (1) Merumuskan masalah, (2) Menyusun kerangka berfikir (3) Merumuskan hipotesis, (4) Menguji hipotesis, dan (5) Menarik kesimpulan. 

(3) Aspek aksiologis , berkenaan dengan aspek gunalaksana atau manfaat ilmu. Nilai guna ilmu bisa dilihat secara positif dan normatif. Secara positif nilai guna ilmu adalah untuk mendeskripsikan, menjelaskan dan memprediksi berbagai fenomena yang sesuai dengan objek studi yang dipelajari. Sedangkan secara normatif, nilai guna ilmu adalah untuk mengendalikan berbagai fenomena kearah yang dinginkan. Secara normatif aspek aksiologis ilmu erat kaitannya dengan pertimbangan nilai, etika dan moral. Dalam penelitian aspek aksilogis digambarkan dalam saran-saraan atau rekomendasi hasil penelitian. 

Secaran garis besar, ilmu pengetahuan terbentuk melalui proses dan tahapan sebagai berikut: 

(a) Ilmu mempelajari fenomena. 

(b) Fenomena-fenomena itu diabstraksikan menjadi konsep dan variabel. 

(c) Konsep dan variabel itu dipelajari hubungannya berberntuk proporsi yang sifatnya berbentuk hipotesis-hipotesis. 

(d) Hipotesis diuji secara empirik menjadi fakta. 

(e) Jalinan fakta-fakta dalam kerangka penuh arti membentuk teori. Teori-teori nilah yang merupakan ilmu. 

Di atas telah dijelaskan, bahwa pokok masalah keilmuan adalah meliputi aspek ontologi, aspek epistimologi, dan aspek aksiologis. Kegiatan ilmiah diawali dengan perumusan masalah dan dan penyusunan kerangka berfikir yang didalamnya termasuk logika dan matematika yang kemudian menghasilkan khasanah pengetahuan ilmiah (di dalamnya termasuk teori dan hasil penelitian empiris). Dari kerangka berpikir tersebut, timbulah hipotesis untuk diuji dengan menggunakan data, analisis, teknik pengujian (statistik) dan dibuat kesimpulan statistis. Jika hipotesis tersebut diterima, maka akan menjadi khasanah pengetahuan ilmiah dan apabila ditolak akan kembali lagi kepada penyususnan kerangka berfikir untuk diulang lagi kehipotesis sampai kesimpulan akhirnya diterima. 

Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah Bagan Kegiatan Ilmiah Sebagai Suatu Proses dan Metode Keilmuan pada bagan (1.1 ) dan (1.2) sebagai berikut di bawah ini: 


Silahkan downloadn makalahnya dalam bentuk word untuk melihat gambar secara lengkap.

Ilmu pengetahuan berkembang melalui suatu proses Scientific Research, yang diawali dengan observasi, identifikasi masalah, perumusan kerangka pemikiran, permusan hipotesis, pengujian hipotesis, penguimpulan data, analisis dan interprestasi data, dan penarikan kesimpulan. Menurut Sekaran (2000:20), “Scientific research focus on the goal of problem solving and pursues a step-by-step logical, organized, and regiorious method to identify problems, gather data, analyze them, and draw valid conclusions therefrom”. 

Perhatikanlah proses pengembangan ilmu di bawah ini: 













Silahkan downloadn makalahnya dalam bentuk word untuk melihat gambar secara lengkap.




GAMBAR 1.4 PENGEMBANGAN ILMU 

Fungsi ilmu , yaitu mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksi, dan mengendalikan. Ilmu melaksanakan fungsinya melalui teori yang dikandungnya. Teori ialah himpunan definisi, konsep dan hipotesis tentang hubungan antar variabel. Ciri utama teori, adalah mengandung makna “jika…, maka…”. Tujuan teori adalah menjelaskan dan membuat prediksi, sehingga memungkinkan untuk melakukan pengendalian. 

Sesuai dengan karakteristik ilmu , yaitu rasional, logis, objektif dan terbuka, maka seorang ilmuwan selain harus memiliki syarat-syarat: empirisme, rasionalisme, dan kritisme, juga harus memiliki sikap ilmiah sebagai berikut: 


(1) Sikap ingin tahu , yaitu memiliki sikap bertanya atau selalu penasaran terhadap sesuatu yang gelap, yang tidak wajar, dan kesenjangan. 
(2) Skeptik, yaitu bersikap ragu terhadap pernyataan-pernyataan yang belum kuat dasar pembuktiannya. 
(3) Kritis , yaitu cakap dalam menunjukkan batas-batas soal, mampu menunjukkan perbedaan-perbedaan (divergensi) dan persamaan- persamaan (konvergensi), serta cakap menempatkan pengertian- pengertian yang tepat. 
(4) Objektif , yaitu mementingkan objektivitas (tidak memihak). 
(5) Fre from etique , bahwa ilmu itu monologis, yaitu menilai apa yang benar dan apa yang salah, tetapi harus memperhatikan apa yang baik dan apa yang buruk bagi kemanusiaan. 


1.2 Komponen-Komponen Ilmu 

Ilmu pengetahuan pada hakekatnya memiliki beberapa komponen sebagai berikut: 

(1) Teori, yaitu generalisasi yang telah teruji kebenarannya secara ilmiah. 

(2) Fakta, keadaan sebenarnya (empirik) yang diwujudkan dalam jalinan dua konsep atau lebih. 

(3) Fenomena, yaitu gejala dan kejadian yang ditangkap dengan panca indera (penglihatan, pendengaran, penciuman ,perasaan, perabaan), kemudian dijadikan konsep (istilah atau simbul) yang mengandung pengertian singkat dari fenomena, 

(4) Konsep, yaitu istilah atau simbul yang mengandung pengertian singkat dari fenomena. 

Bila fakta yang satu mempengaruhi yang lain di sebut faktor. Hubungan antar faktor disebut proporsi. Proporsi inilah lazim disebut embrio teori. Bila sifat hubungan yang dimiliki proporsi telah diketahui, maka proporsi tersebut menjadi konsep lanjut (yang lebih tinggi dari konsep awal), yaitu menjadi teori hubungan. Bila teori itu sempat diuji berulang kali dan tetap bertahan, maka meningkat menjadi hukum atau dalil-dalil. Dalam bagan tampak sebagai berikut: 

Silahkan downloadn makalahnya dalam bentuk word untuk melihat gambar secara lengkap.

GAMBAR 1.5 JALINAN ANTARA KOMPONEN-KOMPONEN ILMU 


1.3 Struktur Ilmu Pengetahuan 

Silahkan downloadn makalahnya dalam bentuk word untuk melihat gambar secara lengkap.

GAMBAR 1.6 STRUKTUR ILMU PENGETAAHUAN 


1.4 Aparatur/Kelengkapan Ilmu 

Ilmu pengetahuan, selain memiliki komponen-komponen dan struktur , juga memiliki aparatur (kelengkapan-kelengkapan) seperti: 1). Axioma adalah pangkal dasar berfikir atau konsep dasar suau ilmu, 

Misal : konsep dasar ilmu pendidikan adalah bahwa setiap orang memiliki potensi yang dapat dikembangkan, konsep konsep dasar entrepreneurship adalah tantangan, konsep dasar ilmu ekonomi adalah suatu situasi dimana terdapat scarcity meants,. 

2). Data adalah fakta-fakta sebagai bukti empirik. Ada tiga macam data, yaitu: 

a. Faktor endowment , yaitu faktor yang dianggap lestari (tidak 

bisa diubah oleh suatu disiplin ilmu tertentu). 

b. Variabel yaitu setiap gejala yang bisa diukur ( ada gejala yang tidak bisa diukur misalnya selera). Semua variabel terukur menurjut objektivitas, realiabilitas ilmiah dan validitas ilmiah. 

c. Faktor Given , yaitu faktor yang dianggap relatif tetap(biasaanya dijadikan suatu asumsi dasar untuk keberlakuan hukum dalam ilmu pengetahuan). 

3). Metode Berfikir ( method of thinking) terdiri dari: 

(1) Deduksi, yaitu membahas dari hal-hal yang umum dianalisis sampai dengan hal-hal yang khusus. 

(2) Induksi, yaitu data-data dianalisis untuk mebuat generalisasi 

(3) Sistensis, yaitu paduan keduanya baik untuk verivikasi teori maupun untuk verifikasi dan generalisasi. 

Kelengkapan ilmiah lainnya,meliputi ; 

(1) Model-model, misal model fungsi, model persamaan, model tabel, model grafik, model diagram, dll. 

(2) Alat berfikir, misal grafis, diagramatis, statistis dan matematis. 

(3) Postulat ilmu terdiri dari hukum dasar yang jelas baik bersifat kausalitas maupun fungsionalitas. 

(4) Teknik penalaran (method or reasioning), misal dalam ilmu ekonomi dapat disajikan dalam bentuk verbal, diagramatis, matematis, statistis dan grafis. 

5) Objek ilmu, setiap ilmu memiliki objek yaitu suatu objek yang dipelajari ilmu. Misal cara/tindakan manusia dalam memperoleh dan menggunakan barang dan jasa yang terbatas, cara mengalokasikan sumber daya, cara mempelajari perilaku, cara mengatasi, cara mengendalikan. 

6) Fungsi ilmu, adalah menjelaskan, memprediksikan, mendeskripsikan, dan mengendalikan. Misal, fungsi ilmu ekonomi: 

(a) Menjelaskan , memprediksi dan mendeskripsikan tentang cara mencapai kemakmuran dan keadilan; 

(b) Menjelaskan dan mendeskripsikan cara memcahkan semua problematika ekonomi baik secara etis maupun etis. 

7) Problem, semua ilmu pengetahuan diawali dengan adanya problem. Misal, problem dalam ilmu ekonomi adalah sumberdaya yang terbatas sedangkan kebutuhan manusia tida terbatas. 


BAB II
KEGIATAN ILMIAH 



2.1 Pentingnya Penelitian 
Penelitian sebagai suatu kegiatan ilmiah merupakan asspek penting bagi kehidupan suatu manusaia. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut: 

(1) Tuntutan kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial terus berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan . 

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia selalu berusaha untuk mencoba menemukan, menghasilkan, dan menerapkan berbagai pengetahuannya termasuk penemuan dibidang teknologi dan inovasi. 

(2) Penemuan dibidang teknologi dan inovasi telah mendorong para ilmuwan untuk terus meneliti, mengembangkan penemuan- penemuannya. 

(3) Selain didorong oleh rasa ingin tahu, para peneliti juga didorong oleh adanya tuntutan praktis di lapangan . 

Eskalasi perkembangan tuntutan praktis dengan jelas tidak lepas dari invensi dan inovasi, serta kegiatan penelitian yang terus menerus. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong invensi-invensi-invensi. Inivensi-invensi inilah yang mendorong perkembangan inovasi dan telah menjadikan suatu bangsa semakin maju dan berkembang. Invensi-invensi (penemuan baru) timbul karena adanya dorongan untuk mengadakan penelitian-penelitian ilmiah. Penelitian-penelitian ilmiah itulah yang didorong oleh keingintahuan dan tuntutan praktis. 


2.2 Pendekatan Untuk Memeperoleh Kebenaran 
Filsafat ilmu merupakan pengetahuan tentang hakikat kebenaran suatu ilmu. Filsafat mempelajari akal budi manusia, yang salah satu cirinya adalah selalu ingin tahu terhadap berbagai hal dan persoalan yang belum diketahui dan difahaminya. Karena dorongan ingin tahu itulah, maka manusia selalu mengajukan berbagai pertanyaan-pertanyaan, seperti apa (what), mengapa (why), dan bagaimana (how). 

Untuk memperoleh jawaban dan kebenaran dari berbagai pertanyaan tersebut di atas, ada tiga cara atau pendekatan yang lazim digunakan, yaitu: 


(1) Penemuan kebenaran melalui Pendekatan Wahyu. 
Kebenaran yang didasarkan pada wahyu merupakan kebenaran mutlak (absolut), karena didasari oleh keyakinan dan kepercayaan. Kebenaran kitab suci ( misalnya Al-quran) bagi umat islam merupakan wahyu dari Allah yang kebenarannya mutlak. Karena kebenaran itu mutlak, maka kebenaran tersebut tidak perlu dipertanyakan dan diuji lagi. Misalnya, Allah itu ada, Esa, adil dan maha penguasa alam semesta. 

(2) Penemuan Kebenaran Melalui Pendekatan Non-Ilmiah . Peneman kebanaran pengetahuan tidak selalu melalui prosedur dan proses ilmiah, tetapi juga bisa lelui pendekatan non-ilmiah. Pendekatan kebenaran non-ilmiah diperoleh melalui akal sehat, kebetulan, intuitif, trial and error, otoritas dan kewibawaan. 

(3) Penemuan kebenaran melalui pendekatan akal sehat, Pendekatan ini biasanya kurang dapat diterima sebagai kebenaran ilmiah. Hal tersebut menurut Kerlinger (1992 : 4-8) disebabkan: (a) Penggunaan teori-teori dan konsep-konsep dalam pengertian yang longgar; (b) Hasil pengujian hipotesis secara selektif karena semata-mata cocok dengan hipotesisnya; 

(c) Kurang memperhatikan kendali atau kontrol terhadap sumber-sumber pengaruh di luar yang dipersoalkan; (d) Dalam menjelaskan hubungan antar fenomenaa-fenomena tidak begitu tajam dan kurang hati hati. Kebenaran yang diperoleh melalui akal sehat biasanya ditemukan dan digunakan dalam kehidupan praktis. Misalnya, kebenaran tentang pengaruh pendapatan seseorang terhadap tingkat konsumsinya. 

(4) Penemuan kebenaran melalui pendekatan kebetulan Penemuan kebenaran melalui pendekatan kebetulan bukanlah kebenaran yang diperoleh secara ilmiah, tetapi memang secara kebetulan menemukan, misalnya penemuan obat sakit malaria (pohon kina), yang secara kebetulan. Penemuan pohon kina sebagai obat malaria sebagai kebenaran telah diterima oleh kalangan masyarakat termsuk masyarakat ilmiah. 

(5) Penemuan kebenaran melalui pendekatan trial and error Penemuan kebenaran melalui pendekatan trial and error dilakkukan oleh manusia secara aktif dengan cara mengulang- ulang pekerjaannya sampai ditemukan suatu kebenaran tertentu. Dalam melakukan pekerjaan ini, manusia melakukan kegiatan tanpa adanya suatu tuntunan atau pedoman sistematis seperti pada penelitian ilmiah, tetapi secara untung-untungan menemukan kebenaran tertentu, misalnya seseorang yang menemukan cara mengajar yang paling efektif karena ia telah mengajar secara terus menerus. 


(6) Penemuan kebenaran melalui pendekatan intuitif , 
Penemuan kebenaran melalui pendekatan intukitif diperoleh melalui proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berfikir ilmiah. Penemuan kebenaran ini pada umumnya diperoleh sangat cepat. Misalnya, penemuan kebenaran. 

(7) Penemuan kebenaran melalui pendekatan otoritas dan kewibawaan , 
Penemuan kebenaran melalui pendekatan otoritas dan kewibawaan muncul dari pernyataan-pernyataan mereka yang memegang otoritas atau yang memiliki kewibawaan tertentu, misalnya pernyataan dari seorang ilmuwan dalam suatu forum ilmiah atau pernyataan seseorang yang menjadi kunci dalam kelompok tertentu. Pernyatan –pernyataan mereka diterima begitu saja tanpadiuji terlebih dahulu. 

(8) Penemuan kebenaran melalui Pendekatan Ilmiah 
Penemuan kebenaran melalui Pendekatan Ilmiah, yaitu kebenaran yang diperoleh dari proses berfikir dan prosesdur ilmiah seperti telah dikemukakan di bagian terdahulu, yaitu diawali dengan merumuskan masalah, merumuskan kerangka pemikiran, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan. 

Dalam penemuan kebenaran melalui metode ilmiah, ada beberapa kriteria metode ilmiah yang harus diperhatikan, diantaranya :1) Berdasarkan fakta, 2) Pertimbangan objektif, 3) Sifatnya kuantitatif, 4) Logika deduktif–hypotetik, 5) Logika hipotetik-generalisasi. 

Selain kriteria di atas, ada prinsip-prinsip kegiatan penelitian 

yang harus diperhatikan, yaitu: 

a. Kegiatan penelitian merupakan usaha sadar memalui proses berfikir ilmiah dalam mencari kebenaran. 

b. Kegiatan peneltian harus dilakukan secara hati-hati melalui prosedur kerja yang teratur, sistematis dan terkontrol sehingga kondisi ini akan menumbuhkan keyakinan kritis mengenai hasil penelitian. 

c. Kegiatan penelitian adalah suatu kegiatan yang mengkaitkan antara penalaran dan empiris atau atara teori , konsep, ilmu pengetahuan dengan empiris (kenyataan). 

d. Kegiatan Penelitian harus memperhatikan beberapa nilai seperti netralitas emosiaonal, universalisme, keterbukaan, kemandirian, dan kekuatannya terletak pada argumen. 

Silahkan downloadn makalahnya dalam bentuk word untuk melihat gambar secara lengkap.

GAMBAR 2.1 MODEL PENELITIAN 


2.3 Macam-Macam Bentuk Penelitian 
Pada umumnya penelitian dapat dibedakan kedalam dua jenis, yaitu penelitian menurut sifat masalahnya dan menurut tujuannya. 

2.3.1 Menurut sifat masalahnya (Dirjen Dikti, 1981): 

(1) Penelitian Historis ; bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau, secara sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi, dan mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta-fakta dan bukti-bukti guna memperoleh kesimpulan yang akurat. 

Contoh: * Studi tentang Praktek Bawon di Pulau Jawa. 

(2) Penelitian Deskriptif ; bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, dan sifat-sifat populasi daerah tertentu. Apabila, diambil beberapa sampelnya saja, diseebut survey deskriptif. 

Contoh: 

* Studi tentang kebutuhan pendidikan keterampilan di Daerah X. 

* Survey Pendapat Umum Tentang Sikap Berhemat Masyarakat. 

* Penelitian Tentang Daya Serap Siswa SMA dalam Pelajaran X. 

(3) Penelitian Perkembangan (Development Research ); bertujuan untuk menyelidiki pola urutan pertumbuhan atau perubahan sebagai fungsi waktu. 

Contoh: 

* Studi Longitudinal Pertumbuhan yang Mengukur Sifat-sifat Perubahan X. 

* Studi Cross-sectional Tentang Sifat-sifat Pertumbuhan X 

* Studi Kecenderungan Tentang Pola-pola Perubahan X. 

(4) Penelitian Kasus dan Penelitian Lapangan (Case Study and Field Research) ; bertujuan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial: Individu, kelompok dan masyarakat. Penelitian ini cirinya bersifat mendalam tentang suatu unit sosial tertentu yang hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisisir. 

Contoh: 

* Studi Kasus yang dilakukan Piaget tentang Perkembangan Kognitif pada Anak-anak 

* Studi Kasus tentang Pola Konsumsi Masyarakat Kota dan Pola- pola Kehidupannya. 

* Studi Lapangan yang tentang Kelompok Masyarakat Terpencil. 

(5) Penelitian Eksperimen ; bertujuan utnuk menyelidiki kemungkinan sebab akibat dengan cara mengenakan kepada suatu atau lebih kondisi perlakukan dan membandingkan hasilnya dengan sssuatu atau lebih kelompok kontrol. 

Contoh: * Eksperimen tentang gejala-gejala alam 

(6) Penelitian Korelasional , bertujuan untuk meneliti sejauhmana variasi-variasi pada suatu faktorberkaitan dengan variasi-variasi faktor lain berdasarkan koefisien korelasi. 

Contoh: * Studi tentang Hubungan antara Pola Belajar dengan Prestasi Belajar. 

(7) Penelitian Kausal Komparatif , bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan sebab akibat terjadinya suatu fenomena. 

Contoh :*Studi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas dan efisisensi perusahaan. 



(8) Penelitian Tindakan (action research ), yaitu bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keteraampilan baru atau cara-cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan cara penerapan langsung didunia kerja atau dunia aktual yang lain. 

Contoh: 

* Penelitian tentang Program “Inservice-Training” untuk melatih para Penyluh Pertanian Lapangan. 

(9) * Penelitian Tindakan Kelas oleh Guru-Guru di SMU 


2.3.2 Berdasarkan Tujuannya (Rusidi, 1991): 

(1) Penelitian Penjajagan (Eksploratif ), yaitu penelitian yang masih terbuka dan masih mencari unsur-unsur, ciri-ciri, sifat-sifat (UCS). Penelitian ini biasanya belum memiliki hipotesis dan kerangka pemikiran. Untuk mengalirkan fikiran peneliti, biasanya digunakan pendekatan masalah dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian, bukan kerangka pemikiran. 



(2) Penelitian Penjelasan (Eksplanatory) atau Confirmatory ) , yaitu penelitian yang menyoroti hubungan antar variabel dengan menggunakan kerangka pemikiran terlebih dahulu , kemudian dirumuskan dalam bentuk hipotesis. 



(3) Penelitian Deskriptif (Dvelopmental), yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan sarana fisik tertentu atau frekuensi terjadinya sesuatu aspek fenomena sosial tertentu, dan untuk mendeskripsikan fenomena tertentu secara terperinci (Masri Singarimbun, 1982). Penelitian ini biasanya tanpa menggunakan hipotesis yang dirumuskan secara ketat, tetapi adakalanya ada yang menggunakan hipotesis tetapi bukan untuk diuji secara statistik. 


2.3.3 Menurut Pendekatannya (Masri Singarimbun (1982): 

(1) Penelitian Eksperimen 

(2) Penelitian Evaluasi 

(3) Penelitian Grounded Research 

(4) Analisis data Sekunder. 


BAB III
METODE PENELITIAN 

Metode penelitian atau metode ilmiah adalah prosedur atau lagkah- langkah dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Jadi metode penelitian adalah cara sistematis untuk menyususn ilmu pengetahuan. Sedangkan teknik penelitian adalah cara untuk melaksanakan metode penelitian. Metode penelitian biasanya mengacu pada bentuk-bentuk penelitian. 


3.1 Macam-macam Metode Penelitian 
Mengacu pada bentuk penelitian, tujuan, sifat masalah dan pendekatannya ada empat macam metode penelitian : 

(1) Metode Eksperimen (Mengujicobakan) , adalah penelitian untuk menguji apakah variabel-variabel eksperimen efektif atau tidak. Untuk menguji efektif tidaknya harus digunakan variabel kontrol. Penelitian eksperimenadalah untuk menguji hi[potesis yang dirumuskan secara ketat. Penelitian eksperimen biasanya dilakukan untuk bidang yang berssifat eksak. Sedangkan untuk bidang sosaial bisanya digunakan metode survey eksplanatory, metode deskriptif, dan historis. 


(2) Metode Verifikasi (Pengujiaan), yaitu untuk menguji seberapa jauh tujuan yang sudaah digariskan itu tercapai atau sesuaai atau cocok ddengan harapan atau teori yang sudah baku. Tujuan daari penelitian verifikasi adalah untuk menguji teori-teori yang sudah ada guna menyususn teori baru dan menciptakan pengetahuan-pengetahuan baru. Lebih mutaakhirnya, metode verifikasi berkembang menjadi grounded research, yaitu metode yang menyajikan suatu pendekatan baru, dengan data sebagai sumber teori (teori berdasarkan data). 

(3) Metode Deskriptif (mendeskripsikan), yaitu metode yang digunakan untuk mencari unsur-unsur, ciri-ciri, sifat-sifat suatu fenomena. Metode ini dimulai dengan mengumpulkan data, mengaanalisis data dan menginterprestasikannya. Metode deskriptif dalam pelaksanaannya dilakukan melalui: teknik survey, studi kasus (bedakan dengan suatu kasus), studi komparatif, studi tentang waktu dan gerak, analisis tingkah laku, dan analisis dokumenter. 

(4) Metode Historis (merekonstruksi), yaitu suatu metode penelitian yang meneliti sesuatu yang terjadi di masa lampau. Dalam penerapannya, metode ini dapat dilakkan dengan suatu bentuk studi yang bersifat komparatif-historis, yuridis, dan bibliografik. Penelitian historis bertujuan untuk menemukan generaalisasi dan membuat rekontruksi masa lampau, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta mensintesiskan bukti-bukti untuk enegakkan fakta-fakta dan bukti-bukti guna memperoleh kesimpulan yang kuat. 


3.2 Langkah-langkah Penelitian (Proses Kegiatan Ilmiah) 

Silahkan downloadn makalahnya dalam bentuk word untuk melihat gambar secara lengkap.

GAMBAR 3.1 LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN KUANTITATIF 


1. Mengidentikasi, Memilih dan merumuskan Masalah 

1.1 Mengidentifikasi Masalah 

(1) Mengidentifikasi masalah adalah mencari masalah yang paling relevan dan menarik untuk diteliti. 
(2) Masalah dapat dicari melalui “Pancaindera ”, yaitu pengamatan, pendengaran, penglihatan, perasaan, dan penciuman. 

(3). Permasalahan ada kalau ada kesenjangan (gap) antara das sollen dan das sein , yaitu ada perbedaan antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada dalam kenyataan, antara apa yang diperlukan dengan apa yang tersedia, antara harapan dan kenyataan. Masalah berkaitan dengan suatu kondisi yang mengancam, mengganggu, menghambat, menyulitkan, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. “A problem as any situation where a gap exist between the actual and the desire d ideal state (Sekaran, 1992). 

1.2 Sumber Masalah 

Masalah dapat diperoleh dari sumber-sumber sebagai berikut: 

(1) Bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan penelitian 

(2) Seminar, diskusi dan lain-lain pertemuan ilmiah 

(3) Pernyataan pemegang otoritas 

(4) Pengamatan sepintas 

(5) Pengalaman pribadi 

(6) Perasaan intuitif. 


1.3 Memilih Masalah/Pembatasan 

Dalam mengidentifikasi masalah biasanya dijumpai lebih dari satu masalah, dan tidak semua masalah dapat/layak diteliti. Oleh sebab itu perlu diadakan pemilihan/pembatasan masalah. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih masalah: 

(1) Masalaha tersebut layak atau tidaknya untuk diteliti, tergantung pada : 

* Ada/tidaknya sumbangan terhadap teori dan ada/tidaknya teori yang relevan dengan itu , 

* Ada/tidaknya kegunaan untuk pemecahan masalah-masalah praktis. 



(2) Managebility,yaitu Cukup dana, cukup waktu, cukup alat, cukup bekal kemampuan teoritis, dan cukup penguasaan metode yang diperlukan. 


1.4 Merumuskan Masalah 

Setelah masalah diidentifkasi dan dipilih/dibatasi, selanjutnya masalah tersebut hendaknya: 

(1) Dirumuskan dalam kalimat tanya (?) yang padat dan jelas. 

(2) Memberikan petunjuk tentang kemungkinan pengumpulan data guna menjawab pertanyaan dalam rumusan tersebut. 

Contoh: 

* Apakah diversifikasi usaha lebih lebih berhasil daripada intensifikasi usaha? 

* Bagaimana hubungan tingkat pendidikan dengan produktivitas kerja karyawan? 


2. Penyususnan Kerangka Pemikiran 
Kerangka pemikiran adalah konstruksi berfikir yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun. Menurut Rusidi (1993), kerangka berfikir berarti menduduk-perkarakan masalah dalam kerangka teoritis (theoritical framework) atau disebut juga proses deduktif. 

Untuk menyusun kerangka pemikiran, perhatikanlah hal-hal berkut ini: 
(1) Cari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang relevan untuk dijadikan landasan teoritis dalam penelitian. Teori- teori dan konsep-konsep tersebut berasal dari acuan umum yaitu dari kepustakaan seperti buku teks, ensiklopedia, monografh dan sejeneisnya. Sedangkan generalisasi dapat ditarik dari laporan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan masalah yang diteliti. Kriteria sumber bacaan adalah prinsip kemutakhiran (recency) dan relevansi. Menurut Rusidi (1993), tahap penguraian teori yang menjadi titik tolak berfikir untuk menjawab masalah kepada konsep-konsep yang mengabstraksikan fenomena, disebut tahap conceptioning. 



(2) Dari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi tersebut, lakukan perincian analisis melalui penalaran deduktif. Sedangkan dari hasil-hasil penelitian yang terdahulu dilakukan pemaduan (sistesis) dan generalisasi melalui penalaran induktif. Proses deduksi dan induksi itu dilakukan secara iteratif, sehingga dihasilkan jawaban yang paling mungkin terhadap masalah. Jawaban inilah yang dijadikan hipotesis penelitian. 


3. Perumusan Hipotesis 

· Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang jawabannya harus diuji. 

· Hipotesis dirangkum atau diturunkan dari kerangka pemikiran/kesimpulan teoritis. 

· Ada dua jenis hipotesis: 

(1) Hipotesis Deskriptif, yaitu hipotesis yang menunjukan pemaknaan suatu konsep dari sautu teori. 

(2) Hipotesis verivikatif, yaitu hipotesis yang mengubungkan atau mempetautan dua veriabel atau lebih untuk diuji. 

· Hipotesis verifikatif hendaknya menyatakan pertauatan dua variabel atau lebih. 

· Hipoteis dinyatakan dalam kalimat deklaratif/pernyataan yang jelas, padat dan spesifik. 

· Harus teruji/dapat diuji. 

4. Menguji Hipotesis Secara Empirik 
(1) Menguji dengan alat statistik inverensial dan statistik deskriftif, untuk membuktikan apakah teori-teori tersebut teruji secara meyakinkan (significant) atau tidak berdasarkan hasil uji fakta-fakta secara empirik (Penelitian Kuantitatif). 
(2) Menguji dengan tanpa statistis untuk mencari pemaknaan (Penelitian Kualitatif). 



BAB IV
KOMPONEN-KOMPONEN DAN SISTEMATIKA DALAM PENULISAN SKRIPSI/TESIS 

Dalam penulisan Skrips/Tesis ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan, antara lain: 

(1) HALAMAN JUDUL 

(2) LEMBAR PENGESAHAN 

(3) ABSTRAC 

(4) ABSTRAK 

(5) KATA PENGANTAR 

(6) DAFTAR ISI 

(6) DAFTAR TABEL 

(7) DAFTAR GAMBAR 


(9) BABI PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang Masalah 

1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah 

1.3 Tujuan Penelitian 

1.4 Kegunaan Penelitian 

(10) BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS/PENDEKATAN MASALAH*) 

2.1 Kajian Pustaka 

2.2 Kerangka Pemikiran 

2.3 Hipotesis/ Pendekatan Masalah*) 

(11) BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 

3.1 Objek Penelitian 

3.2 Metode dan Disain Penelitian 

3.3 Operasionalisasi Variabel/Lanagkah-langkah Penelitian*) 

3.4 Sumber Data dan Alat Pengumpulan Data 

3.5 Teknik Pengolahan Data 

(12) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 

4.1. Hasil Penelitian 

4.1.1 Tinjauan Umum Objek Penelitian 

4.1.2 Deskripsi Variabel Yang Diselidiki/Aspek-aspek yang Diteliti*) 

4.1.3 Hasil Pengujian / Hasil Penelitian dan Pemaknaan 

4.2 Pembahasan 

(13) BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 

5.1 Kesimpulan 

5.2 Saran-saran/ Implikasi Manajerial 

(14) DAFTAR PUSTAKA 

(15) LAMPIRAN-LAMPIRAN 

(16) RIWAYAT PENULIS 


(1) HALAMAN JUDUL 

(1) Halam judul memuat Nomor Daftar Program, Judul Skripsi/Tesis, Tulisan Skripsi/Tesis, Tujuan Penulisan, Nama dan Nomor Induk Mahasiswa,Logo Universitas, Nama Program Studi , Nama Universitas, dan Tahun Penulisan. 

(2) Judul Skripsi/Tesis minimal mengandung satu variabel anteseden (indevendent) dan satu variabel konsekuensi (dependent), yang dirumuskan dalam kalimat pernyataan secara jelas dan ringkas( maksimal 10 kata) (lihat contoh format). 

(3). LEMBAR PENGESAHAN 

Memuat tentang Judul Skripsi/Tesis, Tanggal Pengesahan, Nama dan NIP Komisi Pembimbing I dan Pembimbing II, Nama dan NIP Ketua Program, Nama dan NIRM Mahasiswa (lihat contoh format). 

(4). ABSTRAK 
Memuat tentang Judul Skripsi/Tesis, Nama Mahasiswa, Topik /masalah yang diteliti, objek penelitian, metode, dan hasil penelitian. 

(1) Abstrak ditulis satu setengah spasi maksimal 1/2-3/4 halaman. 

(2) Abstrac harus diterjemahkan kedalam bahasa Inggris 



(5) KATA PENGANTAR 

(1) Berisi ucapan syukur kepada Tuhan YME, dan uraian yang mengantarkaan para pembaca skripsi kepada permaslahan/topik yang diteliti. 

(2) Memuat ucapan terimakasih dan penghargaan kepada yang telah berjasa membantu penyelesaian studi dan penulisan Skripsi/Tesis, yaitu: 

(a) Pimpinan/Ketua/Rektor Universitas 

(b) Direktur/Dekan/Ketua Program 

(c) Komisi Pembimbing I dan II. 

(d) Dosen serta staf TU Program Pascasarjana 

(e) Pemegang otoritas objek yang diteliti 

(f) Orang Tua dan Keluarga Peneliti 

(g) Kerabat/teman dekat yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. 


(6). DAFTAR ISI 

Terdiri dari komponen dan susunan seperti dalam contoh Format pada lampiran 

(7) DAFTAR TABEL 

Nomor dan nama tabel disusun sesuai dengan nomor urut tabel dan halaman, serta Bab dimana tabel itu dimuat 


(8) DAFTAR GAMBAR 

Nomor dan Nama Gambar disusun sesuai dengan nomor urutan gambar dan halaman dimana gambar tersebut dimuat. 


(9) BAB I PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang Penelitian 

(1) Pada bagian ini mensinyalir tentang adanya suatu gejala/masalah yang kemudian diuraikan tentang topik atau masalah yang menjadi issu sentral penelitian atau gejala penelitian sebagai informasi awal untuk diteliti, berdasarkan fakta-fakta atau data-data (hasil dari pra-penelitian/ Biro Pusat Statistik/Badan Resmi lainnya), atau informasi yang berasal dari referensi ilmiah (seperti jurnal, hasil-hasil penelitian sebelumnya,seminar lokakarya, pendapat pemegang otoritas), dan instuisi atau pengalaman pribadi. Informasi awal tersebut, sebutkan sumber referensinya. Data- data, fakta-fakta, dan referensi lainnya harus ada dalam latar belakang masalah untuk menunjukan bahwa gejala atau fenomena itu disinyalir ada memang berdasarkan fakta, pengalaman dan referensi yang ditangkap dengan panca indera bukan khayalan atau bukan persepsi penulis yang tanpa fakta dan bukan uraian kajian pustaka). 

Misalnya,isu utama ( problem issu) yang akan diteliti adalah: 

a. Berdasarkan pengamatan/observasi awal/laporan : Ada data yang menhunjukkan kinerja guru sekolah atau prestasi siswa menurun dari tahun ketahun. 

b. Ketika seminar pendidikan: Dilontarkan tentang kurangnya minat siswa ke sekolah kejuruan . 

c. Berdasarkan pengalaman: Perkembangan sekolah tidak menunjukkan peningkatan yang positif. 

Problem utama tersebut harus berdasarkan fakta yang disajikan dalam bentuk tabel atau kutipan dari sumber yang syah, tidak dipersepsi atau dikarang atau diperkirakan sendkiri. 



(2) Memuat tentang mengapa kejadian/gejala itu dianggap masalah dan mengapa penting diteliti, dan apa dampaknya apabila masalah ini dibiarkan, apakah mengancam, mengganggu, menghambat dan menyulitkan sehingga menimbulkan kesenjangan. Termasuk implikasi masalah terhadap berbagai aspek. 

Misalnya: 

Bila masalah kinerja sekolah itu rendah dan tidak diatasi, maka akan mengancam pada citra sekolah, dan akan berdampak pada menurunnya minat siswa untuk melanjutkan kesekolah tersebut. Selain dapat mengganggu proses perkembangan sekolah, kinerja sekolah juga akan menyulitkan sekolah dalam mencapai prestasi belejar siswa, yang pada akhirnya akan menyulitkan siswa untuk masuk perguruan tinggi dan dunia kerja. 


Contoh di atas sesuai dengan karakateristik masalah yaitu mengganggu, mengencam, menyulitkan, dan menghambat yang kesemuanya tidak dikehendaki. 



(3) Menguraikan bagaimana masalah tersebut seharusnya dipecahkan (pendekatan pemecahan masalah), untuk apa masalah ini dipecahkan dan diteliti dan apa manfaat hasil penelitian ini bagi kehidupan prakis dan perkembangan ilmu pengetahuan. 

Misalnya: 

Untuk meningkatkan kinerja sekolah, pemerintah telah berusahan melalui serangkaian kebijakannya seperti BOS, perbaikan sistem kurikulum, ... , dan UU pendidikan. Secara praktis telah banyak dilakukan usaha yang telah dilakukan seperti diatas, namun kinerja sekolah tetap saja masih rendah sehingga pertanyaaanya adalah mengapa kinerja sekolah tetap rendah. 

Secara teoritis, memang banyak faktpor penyebabnya, seperti dikemukakan oleh .............., bahwa untuk meningkatkan kinerja sekolah sangat ditentukan oleh faktor- faktor lingkungan, fasilitas, latar belakang, dsb. Demikian pula menurut ahli pendidikan, bahwa kinerja sekolah sangat tergantung pada sistem, sumberdaya sekolah, dan kebijakan pemerintah. 

Untuk mendapatkn jawaban secara teoritis penulis sangat tertarik untuk meneliti mengapa kinerja sekolah rendah? Apakah latar belakang profesional guru dan budaya sekolah berpengaruh terhadap kinerja sekolah? Bila hal tersebut benar dan meyakinkan maka hasil penelitian ini akan sangat berguna bagi perbaikan kinerja sekolah dan sistem pendidikan secara praktis dan meningkatkan kebenaran ilmu pengetahuan secara teoritis. 


(10) Identifikasi dan Perumusan Masalah 

(1) Dalam bagian ini,mula-mula kemukakan semua faktor atau variabel yang teridentifikasi sebagai masalah yang menyebabkan terjadinya suatu masalah utama berdasarkan referensi (literatur) atau hasil penelitian tertentu.Tentu saja banyak faktor penyebab yang merupakan masalah dan menyebabkan masalah lain, tetapi yang diidentifikasi adalah faktor-faktor dan masalah masalah yang terjangkau dan dikuasai peneliti saja. 

Misalnya: 

Masalah yang menyebabkan ”rendahnya kinerja” diidentifikasi karena fasilitas belajar, rendahnya kompetensi guru, tidak baiknya budaya kerja, kurang kndusipnya iklim kerja, dan rendahnya kemampuan kepemimpinan yang menyebabkan kinerja rendah. 

Disini masalah utamanya adalah produktivitas yang rendah yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebabnya. Dengan demikian faktor-faktor penyebabnyalah yang harus diidentifikasi, dan sangat banyak faktornya sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki. 

(2) Apabila semua faktor yang menyebabkan terjadinya masalah tersebut sudah teridentifikasi(terdeteksi), kemudian pilihlah beberapa faktor yang terjangkau oleh kemampuan ilmu peneliti dan menarik untuk diteliti (tahap inilah yang disebut tahap pembatasan masalah). 

Misalnya peneliti akan memilih dan memabatasi pada dua factor penyebabnya saja yaitu iklim dan kompetensi yang menyebabkan kinerja rendah. Dalam contoh di atas, faktor kepemimpinan tidak dipilih karena mungkin menurut peneliti tidak menarik untuk diteliti atau tidak memiliki cukup ilmu pengetahuan untuk meneliti masalah penyebabnya itu. 



(3) Setelah beberapa faktor tersebut dipilih (dibatasi) untuk diteliti, kemudian masalah tersebut dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya (?) yang opera sional, terukur, observable, padat, jelas dan tegas. 

Misalnya : 
Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi siswa, diantaranya fasilitas belajar, kompetensi profesional guru, budaya sekolah, iklim pembelajaran, kemampuan manajerial kepala sekolah, dsb. ( Jam’an, 2008: 2). Dari berbagai factor yang mempengaruhi prestasi siwa, penulis sangat tertarik untuk meneliti tentang kompetensi professional guru dan budaya kerja sekolahl. Persoalan ini cukup menantang dan sangat menarik untuk diteliti, karena selain belum ada yang meneliti masalah ini cukup aktual dan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang penulis miliki. Oleh sebab itu pertanyaan yang ingin di jawabi adalah: 

(a) Bagaimana pengaruh konpetensi professional guru terhadap kinerja guru ? 

(b) Sejauhmana pengaruh budaya kerja sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru? 

Rumusan masalah sebaiknya diakhiri dengan tanda Tanya sebab diawali dengan kata tanya. 


(11) Tujuan dan Gegunaan Penelitian 

(1) Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian merupakan pernyataan mengenai apa yang akan dihasilkan atau dicapai oleh peneliti. 

Misalnya: 

(1) Untuk mengevaluasi pengaruh latar belakang profesional dan budaya verja terhadap kinerja sekolah. 

(2) Untuk mengetahui faktor-faktor yang paling dominan yang mempengaruhi kinerja sekolah. 

(3) Untuk menemukan, untuk mengeksplorasi, untuk mengevaluasi, dsb. 

Tujuan penelitian tergantung pada njenis penelitian dan masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu, tujuan penelitian harus konsisten dengan masalah yang telah dirumuskan. 

(2) Kegunaan Penelitian 
Kegunaan penelitian berkenaan dengan manfaat ilmiah dan praktis dari hasil penelitian 

2.1 Kegunaan Ilmiah , yaitu untuk memberi sumbangsih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang ada relevansinya dengan bidang ilmu yang sedang dipelajari. Misalnya; 

Untuk memberikan sumbangan pemikiran atau menambah informasi bagi perkembangan ilmu manajemen pendidikan tentang factor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru. 

2.2 Kegunaan Praktis , yaitu kegunaan penelitian bagi dunia praktis dilapangan. 

Misalnya :untuk mengatasi persoalan menurunya kinerja seklah dan perbaikan sistem pendidikan, dsb. 


(12) BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS/PENDEKATAN MASALAH *) 


Pada bagian ini ada tiga sub-bagian , yaitu: 

2.1 Kajian Pustaka 

· Diuraikan konsep-konsep, pengertian-pengertian, penjelasan, jenis-jenis, faktor-faktor, dimensi-dimensi, indikator-indikator , unsur-unsur, ciri-ciri, langkah-lamgkah, aturan-aturan, hukum- hukum, perundang-undangan teori-teor,hukum-hukum, dalil- dalil yang ada hubungannya dengan variabel yang diteliti berdasarkan referensi kepustakaan yang mendukung. Kutipan kajian pustaka bisa dikutip penuh atau hasil dari kristalisasi penulis. 

· Disamping hasil teori-teori, dalil-dalil, hukum-hukum dalam bagian ini juga berisi hasil kajian empirik dari hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan untuk disintesiskan dengan teori-teori yang ada. Hindari teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang berkontribusi kecil. 


2.2 Kerangka Pemikiran/Pendekatan Masalah *) 

(1) Kerangka pemikiran merupakan uraian tentang bagaimana peneliti mengalirkan jalan pikiran secara logis dalam rangka mecahkan masalah yang telah dirumuskan. 

(2) Dalam kerangka pemikiran diuraikan polapikir peneliti, dalil- dalil hukum hukum, kaidah-kaidah, dan ketentuan-ketentuan dari kepustakaan, dan generalisasi-generalisasi dari hasil penelitian terdahulu, kemudian tarik benang merahnya menurut jalan pikiran peneliti, sehingga membentuk 

model alur berpikir. Sebaiknya, dalam kerangka pemikiran ini ada suatu grand theory yang membantu menjawab permasalahan. Sumber bacaan dan hasil penelitian yang dipilih harus yang mutakhir dan relevan. 

(3) Tariklah benang merah dari terori-teori tersebut untuk dibuat suatu model/ bagan penelitian yang menggambarkan hubungan antara konsep yang ada dalam teori, sehingga membentuk alur hubungan antar klonsep yang merupakan benang merah dari teori-teori . 

Silahkan downloadn makalahnya dalam bentuk word untuk melihat gambar secara lengkap.
Gambar 4.1 Hbungan Antar Variabel 



(4) Hubungan/bagan/model alur peneltiian ini untuk memudahkan menyusun hipotesis. 

--------- 

*) Untuk penelitian studi kasus (deskriptif), biasanya digunakan Pendekatan masalah bukan kerangka pemikiran. 

(5) Pendekatan masalah (dalam peneltian deskriptif) adalah berupa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah. 



2.3. Perumusan Hipotesis 

· Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian. 

· Hipotesis diturunkan dari kerangka pemikiran (yang memuat teori-teori, dalil-dalil, hukum-hukum, dan penelmuan- penemuan terdahulu) yang harus diuji secara empirik. 

· Bukan 

· Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun hipotesis, yaitu: 

(1) Menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih. 

(2) Dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan yang jelas, padat, dan spesifik. 

(3) Hipotesis harus dapat diuji. 

· Ada dua jenis hipotesis, yaitu 

(1) Hipotesis deskriftif, yaitu jawaban sementara yang berupa pernyataan deskriptif. Untuk itu, lihat rumusan masalahnya apakah memerlukan jawaban deskritif atau tidak: 

Misal : 

Rumusan Masalah: Bagaimana gambaran latar belakang professional guru di SMP X? 

Hipotesis: Guru SLTP pada umumnya berlatar belakang sarjana yang sudah memiliki kompetensi yang sesuai dengan profesionalisasinya. 

(2) Hipotesis Eksplanatif, yaitu jawaban sementara terhadap permasalahan yang menghubungkan dua variable atau lebih.Contoh: 

Rumusan masalah: 

(a) Bagaimana pengaruh konpetensi professional guru terhadap kinerja guru ? 

(b) Sejauhmana pengaruh budaya kerja sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru? 



Hipotesis: 

(a) Latar belakang kompetensi profesional berpengaruh positif terhadap kinerja sekolah. 
(b) Budaya sekolah berpengaruh positif terhadap kinerja sekolah. 

· Bila variabel yang dihipotesiskan tersebut memiliki sub variabel, maka harus dibuat hipotesis mayor dan hipotesis minor. 

· Misal variabel Latar Belakang Kompetensi Guru ada dua sub- variabel yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional, maka hipotesisnya sebagai berikut: 

(a) Hipotesis Mayor: 

”Kompetensi Guru berpengaruh positif terhadap kinerja sekolah”. 

(b) Hipotesis minor: 

(1) Kompetensi pedagogik berpengaruh positif terhadap kinerja sekolah. 

(2) Kompetensi profesional berpengaruh positif terhadap kinerja sdekolah. 

· Bila variabel itu terpisah dan bukan merupakan sub-variabel tidak perlu menggunakan hipoteis minor. 

· Dalam hipotesis tempat penelitian atau obejek penelitian tidak usah dicantumkan karena tidak disebutkan dalam teorinya. 


(13). BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 

13.1 Objek Penelitian/Subjek Penelitian 

· Objek penelitian memuat tentang variabel-variabel penelitian beserta karakteritik-karakteristik/unsur-unsur yang akan diteliti, populasi penelitian, sampel penelitian, unit sampel penelitian dan tempat penelitian. Dalam bagian ini termasuk cara melakukan penarikan sampel. 

· Objek peniltian memuat tentang apa, siapa, dimana, kapan 


13.2 Metode dan Pendekatan Penelitian 
Ada empat jenis metode penelitian yang dapat digunakan, yaitu: 1.Metode Historis, untuk merekonstruksi kejadian 
2.Metode Deskriptif atau Survey Deskriptif, untuk menggambarkan mengapa ada fenomena itu terjadi 
3.Metode Explanatoiy atau Survey Eksplanatory/Verivikatif, untuk menguji teori. 
4.Metode Experiment, untuk menguji atau menyelidiki kelompok perlakukan dan kelompok kontrol. 

Pen dekatan penelitian meliputi : 
a. Pendekatan Kualitaif atau disebut juga penelitian kualitatif 
b. Pendekatan kuantitatif atu disebut juga penelitian kualitatif. 


13.3 Disain Penelitian 
Disain penelitian merupakan tife penyelidikan yang akan dilakukan dan tergantung pada tife masalah. Ada beberapa disain penelitian, diantaranya disain korelasional, disain kausal komparatif, disain penelitian kasus dan penelitian lapangan, disain penelitian eksperimen dan disain peneltian tindakan (action research). 

3.5 Operasionalisasi Variabel 

1. Variabel dan hubungan Anatar Variabel 

· Variabel adalah karakteristik yang bisa diduplikasikan ke dalam sekurang-kurangnya dua klasifikasi atau indicator. 

· Dilihat dari klasifikasi pengukurannya ada dua jenis variable: 
(1) Variabel kuantitatif, yaitu variable yang keadaannya dapat dinyatakan secara numeric. 
(2) Variabel kualitatif , yaitu variable yang keadaanya tidak dapat dinyatakan secara numeric 

· Dilihat dari peran dan posisinya, ada tiga: 
1) Variabel bebas (independent variable) atau disebut juga antecedent variable, adalah variable penjelas, variable predictor/variable penentu/ variable penduga. 
2) Variable terikat (dependent variable), ádalah variabel kosekuensi atau akibat. 
3) Variabel intevening adalah variabel penghubung. 

· Contoh : Model/fungsi hubungan antar variabel 

Independen Intervening Dependenl 

Silahkan downloadn makalahnya dalam bentuk word untuk melihat gambar secara lengkap.

Gambar 4.2 Hubungan Antar Variabel Independen, Enitervening 

dan Variabel Dependen 


2. Mengoperasionalisasikan Variabel 
(1) Jabarkan variabel teoritis ke dalam konsep empirik dan konsep analitis dalam bentuk indikator-indikator yang terukur. 
(2) Jabarkan variabel-variabel tersebut kedalam bentuk dimensi atau sub-variabel. Dimensi merupakan fokus/sudut pandang peneliti dari sisi mana peneliti tertarik untuk membidik konsep variabel terebut. 
(3) Jabarkan dimensi/sub variabel tersebut dalam bentuk indikator-indikator yang terukur dalam bentuk skala, misalnya skala nominal, skala ordinal, skala i nterval dan skala rasio. 

Ada empat macam skala pengukuran data, yaitu: 

1. Skala Nominal, yaitu skala yang didasarkan atas penggolongan atau kategori. Ada uda jenis skala nominal, yakni: 

a) Diskrit (unik) , yaitu skala yang memiliki keistimewaan yang sangat kontras, misal: Laki-laki dan perempuan, siang dan malam. 

b) Mutual eklusif , yaitu sama-sama penting kedudukannya (tidak ada yang lebih penting) yang ada adalah perbedaan. Misalnya: Islam-kristen-protestan- hindu, atau dalam pekerjaan seperti Petani, Pegawai Negeri, Karyawan swasta, TNI/POLRI, dan Guru. Dalam penelitian ekonomi dan manajemen yang menggunakan alat statistik parametrik data-data-data yang berskala nominal, hendaknya dirubah menjadi 

skala ordinal dengan menggunakan variabel dummy (dummy vriables), dengan lambang skala 1 (satu) dan 0 (nol). Misalnya: 

Jika Laki-laki =1, dan perempuan =0 atau sebaliknya. Jika Petani = 1, dan yang lainnya selain petaani = 0. 

2. Skala Ordinal, yaitu suatu skala yang disusun berdasarkan jenjang atau ranking (kurang atau lebih). Misal: 

* Skala Tingkat Pendidikan : 

SD = 1, SLTP = 2, SLTA= 3 Perguruan TinggiS1= 4, PT 

S2= 5. 

* Skala Pengetahuan/kompetensi : 

Sangat mengusai = 5, Menguasai = 4, kurang menguasai 

= 3, tidak menguasai = 2, sangat tidak menguasai=1. 

* Sikap sikap : 

Sangat setuju = 5, Setuju = 4, kurang stuju = 3, tidak setuju = 2, dan sangat tidak setuju = 1. 

* Skala Perilaku : 

Selalu = 5, sering = 4, kadang-kadang = 3, jarang = 2, dan tidak pernah =1. 

(Dalam penelitian ekonomi yang menggunakan alat statistik parametrik, data-data-data yang berskala ordinal, hendaknya dirubah menjadi skala interval dengan menggunakan succesive method). 

3. Skala Interval, yaitu suatu skala yang dihasilkan dari pengukuran yang mamiliki satuan pengukuran yang sama. Dalam skala ini nilai angka nol (0) tidak mutlak (angka nol masih bermakna). 

Misal : 
* Prestasi belajar, umur/usia, dan lain sebaginya. 

(4) Skala rasio, yaitu suatu skala yang secara kuantitatif memiliki angka nol (0) mutlak. Misal: * Pendapatan, konsumsi, investasi, harga, suhu, dll. 

(5) Indikator-indikator ini harus dapat terukur secara empirik dan dugunakan sebagai sumber untuk membuat instrumen peneltiian. 

Contoh: Operasionalisasi Variabel 

Silahkan downloadn makalahnya dalam bentuk word untuk melihat gambar secara lengkap.

Tabel 4.1 Operasionalisasi Variabel 

Variabel 

Dimensi / Sub -variabel 

Indikator 

Kemampuan Manajerial 
a. Skill Perencanaan 
b. Skill Pengorganisasian 
c. Semua unsur manajejemen 
a. Skala kejelasan tujuan 
b. Skala kejelasan jadwal 
c. Rinci/tidak Unsur program. 
d. Rencana aksi 

a. Skala kejelaan wewenang dan tanggung jawab/ 

b. Skala ada tidaknya struktur yang jelas. 

c. Skala kejelasan Tufoksi. d.SemuaUnsur Pengorganisasian 


Pelatihan 
a. Sistem Pelatihan 
b. Pengalaman pelatihan 
a. Kejelasan analisis kebutuhan. 
b. Kejelasan tujuan pelatihan 
c. Ketepatan materi pelatihan
d.Ketepatan metode pelatihan e.Ketepatan nstruktur 

Pelatihan 
a. Lamanya pelatihan 
b. Jenis pelatihan 

Motif Berprestasi 
a. Perspektif 
b. Kemauan tinggi 
a. Pandangan ke depan 
b. Berorientsi hasil 
c. Tidk puas terhadap hasil 



a. Selalu ingin unggul 

b. Semangat berinovasi 


Kinerja Guru 

1. Proses 

1. Semangat 

2. Disiplin 

3. Kreatif 

4. Inovatif 

5. Loyalitas 




2. Hasil 

1. Prestasi siswa 

2. Capaian kurikulum 

3. Ketuntasan belajar 

4. Banyaknya diktat 

5. Karya tulis ilmiah 

6. Jumlah kegiatan seminar 












3.5 Sumber Data dan Alat Pengumpulan Data 

Ada dua sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder, yang masing-masing dapat dikumpulkan dengan alat : 

1. Angket/ Kuesioner, 2. Pedoman Wawancara, 3. Observasi, dan 

4. Dokumentasi 



3.6 Teknik Analisis Data 

Dalam bagian ini dikemukakan tentang jenis alat statistik yang akan digunakan dan rumusan hipotesis statistiknya. Jelaskan pula mengenai alasan mengapa alat statistik itu digunakan, dan persyaratan apa yang harus dipenuhi dalam menggunakan alat statistik tersebut. 



(14). BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 

14.1 Hasil Penelitian 

Bagian ini merupakan tahap reduksi data, yaitu proses memfokuskan dan mengabstraksikan data menjadi informasi yang bermakna. 

4.1.1 Tinjauan Umum Objek penelitian 

Dalam bagian ini dikemukakan gambaran menyeluruh tentang objek yang diteliti termasuk potensi dan aspek- aspek yang dapat mengakses terhadap pemecahan masalah yang akan dikaji. Bila yang dikaji maslah-maslah manajemen, maka yang ada kaitannya dengan maanajemen saja, dan yang bisa dikendalikan oleh ilmu manajemen saja. Misal, input manajemen seperti sumberdaya manusia, budaya kerja, sumberdaya alam, sarana prasarana, teknologi,informasi, financial dapat dikendalikan. Sedangkan yang tidak dapat dikendalikan seperti sejarah singkat, letak geografis dan iklim tidak dapat dikendalikan oleh ilmu manajemen (disebut faktor given). 



4.1.2 Deskripsi Variabel yang Diteliti 

Uraikan deskripsi objek/ gambaran setiap variabel yang diteliti, dan sajikan data dalam bentuk tabel, matrik, diagram atau bentuk lain dan bunyikan data tersebut dalam bentuk naratif. 

Untuk membuat table dan grafik, serta banyaknya table yang diperlukan peneliti harus melihat variable, dimensi, dan indicator dalam operasionalisasi variable yang diteliti. 



4.1.3 Hasil Uji Hipotesis 

Ungkapkan hasil uji hipotesis secara statistik, misalnya dengan mengemukakan hasil uji–t atau hasil uji lainnya. Penyajian hasil uji statistik bisa dalam bentuk model 





matematik, tabel, bagan , grafis atau diagram. Kemudian buat kesimpulan-kesimpulan statistiknya atau kesimpulan hasil pengujian hipotesis statistik. 



4.2 Pembahasan Hasil Penelitian 

(1) Dalam bagian ini berisi pembahsan hasil penelitian baik secara teoritis maupun empiris, yang kemudian disintesiskan dengan hasil penelitian terdahulu untuk mencari konvergensi dan divergensinya. Apakah hasil penelitian tersebut menyokong keberlakuan suatu teori, memodifikasi, atau bahkan menggugurkan teori. Dalam bagian ini merupakan proses berpikir sintesis antara deduksi dan induksi. 



(2) Kemukakan Temuan-temuan penelitian, termasuk fenomena baru yang mungkin muncul selama penelitian, bila ada. 





(15). BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 

5.1 Kesimpulan 

· Harus menjawab terhadap masalah yang dirumuskan 

· Kesimpulan harus konsisten dengan masalah yang dirumuskan dan yang ingin dijawab, tujuan dan keguanaan penelitian, hipotesis, hasil penlitian dan pembahasan. 

· Kesimpulan penelitian bukan ringkasan atau inti sari tetapi merupakan kaitan logis dari konsep berpikir deduktif ke arah generalisasi. 

· Menguraikan kesimpulan Penelitian bukan kesimpulan statistis. 



5.2. Saran-saran/Implikasi Hasil Penelitian 

· Merupakan resep dalam rangka pemecahan masalah. Oleh sebab itu, saran-saran menggambarkan kegunaan prakis (follow up) dari implikasi hasil penelitian (dimensi aksiologis ilmu). 

· Merupakan implikasi dari kesimpulan yang harus dapat dioperasionalkan dalam kehidupan praktis, nyata dan bukan angan-angan atau khayalan. 

· Uraian praktis dari saran-saran bersumber dari indikator-indikator yang diteliti, bukan di luar hasil penelitian. 

· Harus di dasarkan pada kesimpulan 

· Harus memberi kesempatan pada peneliti lain yang akan mengungkapkan secara mendalam. 





BAB V PENELITIAN KUALITATIF 



(1) Metode kualitatif dinamakan metode baru karena popularitasnya belum lama. Disebut juga metode postpositivistik karena berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Disebut juga metode artistik karena proses penelitian lebih bersifat artistik. Disebut juga metode interpretative research. 

Sedangkan metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena sudah cukup lama/mentradisi digunakan. Metode kuantitatif disebut juga metode positifistik, karena berlandaskan pada filsafat positisme. Disebut juga metode medtodel ilmiah/scienific, karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah, yaitu kongkrit/empiris, , objektif, terukur, rasional, dan sistematis. Disebut juga metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. Disebut kuantitatif karena data-data berupa angka-angka dan menggunakan statistik. 

(2) Metode Kualitatif, digunakan untuk meneliti pada kondisi objektif yang alamiah (lawannya adalah metode experimen). 



(3) Dalam metode kualitatif instrumennya adalah orang, yaitu peneliti itu sendiri. Peneliti adalah sebagai instrumen kunci, untuk dapat menjadi instrumen, maka peneliti harus memiliki wawasan dan bekal teori yang luas sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret, dan mengkontruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna. 



(4) Pengambilan sampel sumberdata dilakukan secara purposif dan snowball. 

(5) Teknik pengumpulan data bersifat triangulasi I(gabungan), yaitu menggunakan berbagai teknik pengumpulan data secara gabungan/simultan. 

(6) Analisis data bersifat induktif/kualitatif berdasarkan fakta -fakta yang ditemukan di lapangan kemudian dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori. 



(7) Hasil penelitian kualitatif lebih bersifat makna daripada generalisasi. Dengan kata lain, penelitian kualitatif tidak menekankan pada generaliasi, tetapi lebih menekankan pada makna. Generalisasi dalam penelitian kualtaitf dinamakan transferability. 



(8) Meode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam dan mengandung makna, yaitu data yang sebenarnya dan data pasti. 




(9) Metode Kualitatif diguanakan bila masalah masih remang-remang, sehingga peneliiti melakukan eksplorasi terhadap suatu objek. Untuk memahami makna dibalik data yang tampak. 



(10) Teknik pengumpulan data dalam peneltiian kualitatif digunakan teknik wawancara secara mendalam ) in dept interview, observasi berperan serta, dan dokumentasi. 



PERBEDAAN PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF 

Perbedaan mendasar teletak pada aksioma, proses penelitian, dan karakteristik. 




AKSIOMA DASAR 

MET. KUANTITATIF 

MET. KUALITATF 


Sifat Realitas 

Dapat diklasifikasikan, kongkrit, teramati, 

terukur 

Ganda , holistik, dinamis, hasil kontruksi dan 

pemahaman. 


Hubungan 

Peneliti dengan yang diteliti 

Independen supaya terbangun objektivitas 

Interaktif dengan sumberdata supaya memperoleh makna. 


Hubungan variabel 

Sebab akibat (kausal) 



X Y 

Timbal balik 

X Y 





Kemungkinan Generalisasi 

Cenderum membuat generalisasi 

Transferability (hanya mungkin dalam ikatan 

konteks dan waktu) 


Peranan nilai 

Cencerung bebas nilai 

Terikat nilai-nilai yang dibawa 

peneliti 


KARAKSTERIS 

TIK 

MET. KUANTITATIF 

MET. KUALITAITF 


a. Desain: 

a. Spesifik, jelas, rinci. b.Ditentukan secara 

mantap sejak awal. c.Menjadi pegangan 

langkah demi langkah 

a. umum 

b. Fleksibel 

c. Berkembang dan muncul dalam proses penelitian. 


b. Tujuan 

a. Menunjukkan hubungan antar variabel. 

b. Menguji teori. 

c. Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif. 

a. Menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif. 

b. Menemukan teori. 

c. Menggambarkan realitas yang kompleks. 

d. Memeperoleh pemahaman makna.


c.Teknik 

pengumpulan data. 

Kuesioner, observasi dan wawanara tersrukur 

a. Participant observation. 

b. In dept interview 

c. Dokumentasi. 

d. Triangulasi 


d. Instrumen penelitian. 

a. Test, angket, dan wawancara terstruktur. 

b. Instrumen yang ditelaan terstandar. 

a. Peneliti sebagai itsrument (human instrument) 

b. Buku catatan, tape recorder, camera, 

handycam dll. 

e. Data 
a. Kuantitatif 
b. Hasil pengukuran variabel yang dioperasikan 
a. Deskriptif kualitaitf 
b. Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan tindakan resnponden, dokumen dan lain-lain. 


Proses Penelitian Kualitatif 

1. Tahap pertama adalah tahap Orientasi atau deskripsi dengan grand tour question. Pada tahap ini peneliti mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan ditanyakan. Peneliti biasanya baru mengenal sepintas informasi yang diperolehnya . Dalam tahap deskripsi data yang diperoleh cukup banyak, bervariasi dan belum tersusun secara jelas. 

2. Tahap kedua adalah tahap reduksi/fokus, peneliti mereduksi segala informasi yang telah diperoleh pada tahap pertama untuk memfokuskan pada masalah tertentu. Memilih data mana yang menarik, penting dan berguna, serta baru. Kemudian data tersebut dikelompokan dalam dikategori yang ditetapkan sebaga fokus peneltian. Misalnya dalam dunia pendidikan fokus pada masalah PBM saja. 

3. Tahap ketiga adalah tahap selection. Pada tahap ini peneliti menguraikan fokus yang telah ditetapkan menjali lebih rinci. Misalnya dalam pendidikan adalah PBM saja, maka yang lebih rinci adalah nyengkut perencanaannya, menyangkut actionnya, menyangkut evaluasinya, menyangkut materinya, menyangkut metodenya dsb. 



(Proses Penelitian Kualittatif lihat hal 30) 

1. Tahap Deskripsi: Memasuki situasi sosial: ada tempat, aktor dan situasi sosial. Kesmpulan-penemuan : Informasi deskriptif. 

2. Tahap Reduksi : Menetukan fokus :memilih diantara yang telah di 

deskripsikan. Kesimpulan-penemuan :Informasi komparatif. 

3. Tahap Seleksi: Mengurai fokus: Menjadi komponen yang lebih rinci. Kesimpulan-menemukan: Informasi assosiatif. 

Silahkan downloadn makalahnya dalam bentuk word untuk melihat gambar secara lengkap.



DAFTAR PUSTAKA 

1. Bogdan , Research Method 
2. Kerlinger, Resecrh Method for Social Studies 
3. Moleong, Qualitatif Research 
4. Rusidi, Bahan Perkuliahan Metodologi Penelitian, Pascasarjana UNPAD 
5. Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif 
6. Suharsimi Arikunto, Metode Penelitian.

Demikianlah materi tentang Makalah Metodologi Penelitian yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Talak yang telah kami posting sebelumnya. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.


EmoticonEmoticon