Wednesday, October 4, 2017

Makalah Perbankan Syariah tentang Giro

Makalah Perbankan Syariah - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :

Download

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar belakang
Berdasarkan Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah bahwa Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
Dan sebagaimana diketahui bahwa Bank Syariah memiliki tiga fungsi utama yaitu menghimpun dana dari masyarakat (funding) dalam bentuk titipan dan investasi, menyalurkan dana (financing) kepada masyarakat yang membutuhkan dana dari bank, dan juga memberikan pelayanan dalam bentuk jasa perbankan syariah (service).

Dalam makalah ini akan dibahas produk penyaluran dana Bank Syariah yang ditawarkan kepada masyarakat yaitu terdiri dari giro, tabungan, dan deposito yang kesemuanya dijalankan berdasarkan prinsip syariah. Yaitu berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan khususnya kepada penulis, semoga menjadi investasi penulis kelak di akhirat. Amien…. 

B.       Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian giro, landasan hukum giro, macam-macam giro serta prakteknya dalam bank syariah?
2.      Apakah pengertian tabungan, landasan hukum tabungan, macam-macam tabungan serta prakteknya dalam bank syariah?
3.      Apakah pengertian deposito, landasan hukum deposito, macam-macam deposito serta prakteknya dalam bank syariah?

C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian giro, landasan hukum giro, macam-macam giro serta prakteknya dalam bank syariah.
2.      Untuk mengetahui pengertian tabungan, landasan hukum tabungan, macam-macam tabungan serta prakteknya dalam bank syariah.
3.      Untuk mengetahui pengertian deposito, landasan hukum deposito, macam-macam deposito serta prakteknya dalam bank syariah.



BAB II
PEMBAHASAN
Bank sebagai suatu lembaga keuangan yang salah satu fungsinya adalah menghimpun dana masyarakat harus memiliki suatu sumber penghimpunan dana sebelum disalurkan ke masyarakat kembali. Dalam bank syariah, sumber dana berasal dari modal inti (core capital) dan dana pihak ketiga, yang terdiri dari dana titipan (wadi’ah) dan kuasi ekuitas (mudharabah account)[1].
Pengertian penghimpunan dana adalah suatu kegiatan usaha yang dilakukan bank untuk mencari dana kepada pihak deposan yang nantinya akan disalurkan kepada pihak kreditur dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai intermediasi antara pihak deposan dengan pihak kreditur.
Berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional prinsip penghimpunan dana yang digunakan dalam bank syariah ada dua yaitu prinsip wadiah dan prinsip mudharabah.  Prinsip wadiah dalam perbankan syariah dapat diterapkan pada kegiatan penghimpunan dana berupa giro dan tabungan. Di Indonesia, hampir semua Bank Syariah menerapkan prinsip wadiah pada tabungan giro.

Fungsi Bank Syariah secara garis besar tidak berbeda dengan bank konvensional, yakni sebagai lembaga intermediasi (intermediary institution) yang mengerahkan dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana-dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkannya dalam bentuk fasilitas pembiayaan. Perbedaan pokoknya terletak dalam jenis keuntungan yang diambil bank dari transaksi-transaksi yang dilakukannya. Bila bank konvensional mendasarkan keuntungannya dari pengambilan bunga, maka Bank Syariah dari apa yang disebut sebagai imbalan, baik berupa jasa (fee-base income) maupun mark-up atau profit margin, serta bagi hasil (loss and profit sharing)[3] tergantung dari produk yang dipilih nasabah.

A.  Pengertian Giro, Landasan Hukum Giro, Macam-macam Giro dan Prakteknya dalam Bank Syariah
*      Pengertian Giro
Giro adalah Simpanan berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah yang penarikannya dapat dilakukan  setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan perintah pemindahbukuan[4].
Adapun yang dimaksud dengan giro syariah adalah giro yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Dalam hal ini, Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa giro yang dibenarkan secara syariah adalah giro yang dijalankan berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah[5].

*      Landasan Hukum Giro
1.    Fatwa dewan syariah nasional No: 01/DSN-MUI/IV/2000 tentang Giro
2.     Firman allah Qs. an-Nisa 58
 إِنَّ اللهَ يَأمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruhmu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak”
3.    Hadist riwayat Abu Daud
“ Abu Hurairah meriwayatkan bahwa rasulullah SAW bersabda, sampaikanlah/ tunaikanlah amanat kepada yang berhak menerimanya dan jangan membalas khianat kepada orang yang telah menghianatimu”
4.    Ijma’
Bahwa telah terjadi kesepakatan dari para ulama terhadap legitimasi wadiah, mengingat kebutuhan manusia mengenai hal ini sudah jelas terlihat[6].

Macam-macam Giro serta Prakteknya dalam Bank Syariah
1.      Giro Wadiah
Yang dimaksud dengan giro wadiah adalah adalah giro yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya menghendaki. Dalam konsep wadiah yad al-dhamanah, pihak yang menerima titipan boleh menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Hal ini berarti bahwa wadiah yad dhamanah mempunyai implikasi hukum yang sama dengan qardh, yakni nasabah bertindak sebagai pihak yang meminjamkan uang dan bank bertindak sebagai pihak yang dipinjami. Dengan demikian, pemilik dana dan tidak boleh saling menjanjikan untuk memberikan imbalan atas penggunaan atau pemanfaatan dana atau barang titipan tersebut[7].
Dalam kaitannya dengan produk giro, Bank Syariah menerapkan prinsip wadiah yad dhamanah, yakni nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada Bank Syariah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan Bank Syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi yang disertai hak untuk mengelola dana titipan dengan tanpa mempunyai kewajiban memberikan bagi hasil dari keuntungan pengelolaan dana tersebut. Namun demikian Bank Syariah diperkenankan memberikan insentif berupa bonus dengan catatan tidak disyaratkan sebelumnya.
Dari pemaparan diatas, dapat dinyatakan beberapa ketentuan umum Giro Wadiah sebagai berikut:
·      Dana wadiah dapat digunakan oleh bank untuk kegiatan komersial dengan syarat bank harus menjamin pembayaran kembali nominal dana wadiah tersebut.
·      Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana menjadi hak milik atau ditanggung bank, sedang pemilik dana tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian. Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik dana sebagai suatu insentif untuk menarik dana masyarakat tapi tidak boleh diperjanjikan di muka.
·      Pemilik dana wadiah dapat menarik kembali dananya sewaktu-waktu (on call), baik sebagian maupun seluruhnya.

2. Giro Mudharabah
             Yang dimaksud dengan giro adalah giro yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah[8].
             Dalam hal ini, Bank Syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola dana), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul mal (pemilik dana). Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, Bank Syariah dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain.
            Dengan demikian, Bank Syariah dalam kapasitasnya sebagai mudharib memiliki sifat sebagai wali amanah (trustee), yakni harus berhati-hati atau bijaksana serta beriktikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalainnya. Disamping itu, Bank Syariah juga bertindak sebagai kuasa dari usaha bisnis pemilik dana yang diharapkan dapat memperoleh keuntungan seoptimal mungkin tanpa melanggar berbagai aturan syariah.
            Dari hasil pengelolaan dana mudharabah, Bank Syariah akan membagihasilkan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang bukan disebabkan oleh kelalaiannya. Namun, apabila yang terjadi adalah mismanagement (salah urus), bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut.

B. Pengertian Tabungan, Landasan Hukum Tabungan, Macam-macam Tabungan dan Prakteknya dalam Bank Syariah

Selain giro, produk perbankan syariah di bidang penghimpunan dana (founding) adalah tabungan.
*      Pengertian Tabungan
Tabungan adalah Simpanan berdasarkan Akad wadi’ah atau Investasi dana berdasarkan Akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat dan ketentuan tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu[9].
Adapun yang dimaksud dengan tabungan syariah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Dalam hal ini, Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa tabungan yang dibenarkan adalah tabungan yang berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah[10].

*      Landasan Hukum Tabungan
1.      Fatwa dewan syariah nasional No: 02/DSN-MUI/IV/2000 tentang Tabungan
2.      Firman allah Qs. an-Nisa 58
 إِنَّ اللهَ يَأمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruhmu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak”
3.      Hadist diantaranya: Abbas bin Abdul muthalib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharibnya agar tidak mengarungi mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyartan di langgar, ia (mudharib) harus menanggung resikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan oleh Abbas itu di dengar Rasulullah, beliau membenarkanya” (HR. Tabrani dari ibnu abbas)
4.      Ijma’ diriwayatkan, sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang, mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tidak ada seorangpun mengingkari mereka. Karenanya halitu dipandang sebagai ijma”.
5.      Qiyas, transaksi mudharabah di qiyaskan sebagai transaksi musyaqoh
6.      Kaidah fiqh “ pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh kecuali ada dalil yang mengharamkanya”[11].

*      Macam-macam Tabungan dan Prakteknya dalam Bank Syariah
1.      Tabungan Wadiah
Tabungan wadiah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni  titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setia saat sesuai dengan kehendak pemiliknya[12].
Secara umum terdapat dua jenis wadiah: wadiah yad al-amanah dan wadiah yad adh-dhamanah.
a.      Wadiah Yad al-Amanah (Trustee Depository)
Wadiah jenis memiliki karakteristik sebagai berikut:
·      Harta atau barang yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan dan digunakan oleh penerima titipan.
·      Penerima titipan hanya berfungsi sebagai penerima amanah yang bertugas dan berkewajiban untuk menjaga barang yang dititipkan tanpa boleh memanfaatkannya.
·      Sebagai konsepsi, penerima titipan diperkenankan untuk membebankan biaya kepada yang menitipkan.
·      Mengingat barang atau harta yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan oleh penerima titipan, aplikasi perbankan yang memungkinkan untuk jenis ini adalah jasa penitipan atau safe deposit box[13].

Silahkan download makalahnya dalam bentuk microsof word untuk melihat gambar secara lengkap dan teratur. link download berada diawal dan akhir artikel.


1.    Titip barang


2.   
Bebankan biaya penitipan
Keterangan:
Dengan konsep wadiah yad al-amanah, pihak yang menerima titipan tidak boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Pihak penerima titipan dapat membebankan biaya kepada penitip sebagai biaya penitipan.

b.      Wadiah Yad adh-Dhamanah (Guarante Depository)
Wadiah jenis ini memiliki karakteristik berikut ini:
·      Harta dan barang yang dititipkan boleh dan dapat dimanfaatkan oleh yang menerima titipan.
·      Karena dapat dimanfaatkan, barang dan harta yang dititipkan tersebut tentu dapat mengahasilkan manfaat. Sekalipun demikian, tidak ada keharusan bagi penerima titipan untuk memberikan hasil pemanfaatan kepada si penitip.
·      Produk perbankan yang sesuai dengan akad ini yaitu giro dan tabungan.
·      Bank konvensional memberikan jasa giro sebagai imbalan yang dihitung berdasarkan presentase yang telah ditetapkan. Adapun pada Bank Syariah, pemberian bonus (semacam giro) tidak boleh disebutkan dalam kontrak ataupun dijanjikan dalam akad, tetapi benar-benar pemberian sepihak sebagai tanda terimakasih dari pihak bank.
·      Jumlah pemberian bonus sepenuhnya merupakan kewenangan manajemen bank syariah karena pada prinsipnya dalam akad ini penekanannya adalah titipan.
·      Produk tabungan juga menggunakan akad wadiah karena pada prinsipnya tabungan mirip dengan giro, yaitu simpanan yang bias diambil setiaap saat. Perbedaannya, tabungan tidak dapat ditarik dengan cek atau alat lain yang dipersamakan[14].

Keterangan:
Dengan konsep al-wadiah yad adh-dhamanah, pihak yang menerima titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Tentu, pihak bank dalam hal ini mendapatkan hasil dari pengguna dana. Bank dapat memberikan insentif kepada penitip dalam bentuk bonus.

2.    Tabungan Mudharabah
Yang dimaksud dengan tabungan mudharabah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan akad mudharabah. Seperti yang telah dikemukakan bahwa mudharabah mempunyai 2 bentuk yaitu, mudharabah muthlaqah dan mudharabah muqayyadah, yang perbedaan utama diantara keduanya terletak pada atau tidaknya persyaratan yang diberikan pemilik dana kepada bank dalam mengelola hartanya. Dalam hal ini, bank syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola dana), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul mal (pemilik dana). Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, Bank Syariah dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak lain. Namun di sisi lain, Bank Syariah juga memiliki sifat sebagai wali amanah (trustee), yakni harus berhati-hati atau bijaksana serta beriktikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalainnya. Disamping itu, Bank Syariah juga bertindak sebagai kuasa dari usaha bisnis pemilik dana yang diharapkan dapat memperoleh keuntungan seoptimal mungkin tanpa melanggar berbagai aturan syariah.

                   Dari hasil pengelolaan dana mudharabah, Bank Syariah akan membagihasilkan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang bukan disebabkan oleh kelalaiannya. Namun, apabila yang terjadi adalah mismanagement (salah urus), bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut[15].

C.  Pengertian Deposito, Landasan Hukum Deposito, Macam-macam Deposito dan Prakteknya dalam Bank Syariah
Selain giro dan tabungan, produk perbankan syariah yang termasuk dalam kategori penghimpunan dana (funding) adalah deposito.
*      Pengertian Deposito
Deposito adalah Investasi dana berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan Akad antara Nasabah Penyimpan dan Bank Syariah dan atau UUS[16].
Adapun yang dimaksud dengan deposito syariah adalah deposito yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah. Dalam hal ini, Dewan Syariah Nasional MUI telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa deposito yang dibenarkan adalah deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah[17].

*      Landasan Hukum Deposito
1.    Fatwa dewan syariah nasional No: 03/DSN-MUI/IV/2000 tentang Deposito
2.    Firman Allah SWT
وَأخَرُوْنَ يَضْرِبُوْنَ فِى الأَرْضِ يَبْتَغُوْنَ مِنْ فَضْلِ اللهِ (المزمل : 20)
“ ... dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah...”
3.    Al-Hadits
Diantara hadist yang berkaitan dengan dengan mudharabah adalah hadist yang diiriwayatkan oleh Ibn Majah dari Shuhaib bahwa Nabi SAW bersabda:
ثَلَاثٌ فِيْهِنَّ البَرَكَةُ : البَيْعُ إِلَى أَجَلٍ وَالمُقَارَضَةُ وَخَلْطُ البُرَّ بِالشَّعِيْرِ لِلْبَيْتِ لَا لِلْبَيْعِ
 (رواه ابن ماجه عى صهيب)
"Tiga perkara yang mengandung berkah adalah jual beli yang ditangguhkan, melakukan qiradh (memberi modal kepada orang lain), dan yang mencampurkan gandum dengan jelas untuk keluarga, bukan untuk diperjualbelikan. (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).
4.      Ijma’
Diantara ijma’ dalam mudharabah, adanya riwayat yang menyatakan bahwa jamaah dari sahabat menggunakan harta anak yatim untuk mudharabah. Perbuatan itu tidak ditantang oleh sahabat lainnya.
5.      Qiyas
Mudharabah diqiyaskan kepada al-musyaqah (menyuruh seseorang untuk mengelola kebun). Selain diantara manusia, ada yang miskin dan ada pula yang kaya. Di satu sisi, banyak orang kaya yang tidak dapat mengusahakan hartanya. Di sisi lain, tidak sedikit orang miskin yang mau bekerja, tetapi tidak memiliki modal. Dengan demikian, adanya mudharabah ditujukan antara lain untuk memenuhi kebutuhan kedua golongan diatas, yakni untuk kemaslahatan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka[18].

*      Macam-macam Deposito dan Praktiknya dalam Bank Syariah
1.      Mudharabah Muthlaqah (Unrestricted Investment Account, URIA)
Dalam prinsip ini hal utama yang menjadi cirinya adalah Shahibul Mal tidak memberikan batasan-batasan atas dana yang diinvestasikannya atau dengan kata lain, Mudharib diberi wewenang penuh mengelola tanpa terikat waktu, tempat, jenis usaha, dan jenis pelayanannnya. Aplikasi perbankan yang sesuai dengan akad ini adalah tabungan dan deposito berjangka[19]. Namun menurut Syafie Antonio, aplikasi perbankan yang sesuai dengan akad ini adalah time deposit biasa.


Dalam skema mudharabah muthlaqah terdapat beberapa hal yang sangat berbeda secara fundamental dalam hal nature of relationship between bank and customers pada bank konvensional:
·      Penabung atau deposan di bank syariah adalah investor dengan sepenuh-penuhnya makna investor. Dia bukan lender atau creditoe bagi bank bukan seperti halnya di bank umum. Dengan demikian, secara prinsip, penabung entitled untuk risk dan return dari hasil usaha bank.
·      Bank memiliki dua fungsi: kepada deposan atau penabung, ia bertindak sebagai pengelola (mudharib), sedangkan kepada dunia usaha, ia berfungsi sebagai pemilik dana (shahibul mal). Dengan demikian, baik ke kiri maupun ke kanan, bank harus sharing risk dan return.
·      Dunia usaha berfungsi sebagai pengguna dan pengelola dana yang harus berbagi hasil dengan pemilik dana, yaitu bank. Dalam pengembangannya, nasabah pengguna dana dapat juga menjalin hubungan dengan bank dalam bentuk jual beli, sewa, dan fee based services[20].
           
2.      Mudharabah Muqayyadah (Resticted Investment Account, RIA)
Berbeda halnya dengan deposito Mudharabah Muthlaqah (URIA), dalam deposito Mudharabah Muqayyadah (RIA), pemilik dana memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada bank syariah dalam mengelola investasinya, baik yang berkaitan dengan tempat, cara, maupun objek investasinya. Dengan kata lain, Bank Syariah tidak mempunyai hak dan kebebasan sepenuhnya dalam meginvestasikan dana RIA ini ke berbagai sector bisnis yang diperkirakan akan memperoleh keuntungan[21].
      Aplikasinya dalam perbankan adalah special investment based on restricted mudharabah. Model ini dirasa sangat cocok pada saat krisis dimana sector perbankan mengalami kerugian menyeluruh. Dengan special investment, investor tertentu tidak perlu menanggung overhead bank yang terlalu besar karena seluruh dananya masuk ke proyek khusus dengan return dan cost yang dihitung khusus pula[22].
  

Keterangan
Dalam investasi dengan menggunakan konsep mudharabah muqayyadah, pihak bank terikat dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh shahibul maal, misalnya:
·      Jenis investasi,
·      Waktu dan tempat[23].
  

BAB III
KESIMPULAN
Dalam melakukan penghimpunan dana, bank syariah menjalankan tiga kegiatan yaitu giro, tabungan dan deposito syariah.
1.      Giro adalah simpanan berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah yang penarikannya dapat dilakukan  setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan perintah pemindahbukuan.
Landasan hukumnya berdasarkan Fatwa dewan syariah nasional No: 01/DSN-MUI/IV/2000 tentang Giro. Ada 2 macam giro dalam perbankan syariah yaitu giro wadiah dan giro mudharabah.
2.      Tabungan adalah Simpanan berdasarkan Akad wadi’ah atau Investasi dana berdasarkan Akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat dan ketentuan tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.
Landasan hukumnya berdasarkan Fatwa dewan syariah nasional No: 02/DSN-MUI/IV/2000 tentang Tabungan. Ada 2 macam tabungan dalam perbankan syariah yaitu tabungan wadiah dan tabungan mudharabah.
3.      Deposito adalah Investasi dana berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan Akad antara Nasabah Penyimpan dan Bank Syariah dan atau UUS. Landasan hukumnya berdasarkan Fatwa dewan syariah nasional No: 03/DSN-MUI/IV/2000 tentang Deposito. Ada 2 deposito dalam perbankan syariah yaitu Mudharabah Muthlaqah (Unrestricted Investment Account, URIA) dan Mudharabah Muqayyadah (Resticted Investment Account, RIA).


DAFTAR PUSTAKA
Antonio Syafi’I Muhammad, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, Jakarta: Gema Insani, 2001.
Dewi Gamala, Aspek-aspek Hukum dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2006.
Karim A. Adiwarman, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan,  Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2013.
Mahmud Amir dan Rukmana, BANK SYARIAH Teori Kebijakan dan Studi Empiris di Indonesia, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010.
Syafei Rachmat, Fiqih Muamalah, Bandung: Pustaka Setia,2001.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah.
http://enyiesaibani.blogspot.com/2013/03/produk-perbankan-syariah-di-bidang.html
http://www.badilag.net/data/ARTIKEL/Penerapan%20prinsip%20syariah%20di%20bank%20syariah.pd




[1] Amir Mahmud dan Rukmana, BANK SYARIAH Teori Kebijakan dan Studi Empiris di Indonesia, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010), 26.
[2] http://enyiesaibani.blogspot.com/2013/03/produk-perbankan-syariah-di-bidang.html
[3]http://www.badilag.net/data/ARTIKEL/Penerapan%20prinsip%20syariah%20di%20bank%20syariah.pdf
[4] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah Pasal 1 Butir ke 23.
[5] Fatwa DSN No. 01/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Giro
[6] http://enyiesaibani.blogspot.com/2013/03/produk-perbankan-syariah-di-bidang.html
[7] Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2013), 352. 
[8] Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2013), 354. 

[9] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah Pasal 1 Butir ke 21.
[10] http://enyiesaibani.blogspot.com/2013/03/produk-perbankan-syariah-di-bidang.html

[11] http://enyiesaibani.blogspot.com/2013/03/produk-perbankan-syariah-di-bidang.html
[12] Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2013), 357.
[13] Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2001),148.
[14] Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2001),148.
[15] Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2013), 357.
[16] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah Pasal 1 Butir ke 22.
[17]Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 03/DSN-MUI/IV/2000.
[18] Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah (Bandung: Pustaka Setia,2001), 226.
[19] Gamala Dewi, Aspek-aspek Hukum dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006),83.
[20] Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2001),151.
[21] Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2013), 367.
[22] Gamala Dewi, Aspek-aspek Hukum dalam Perbankan dan Perasuransian Syariah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006),84.
[23] Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2001),152. 

Demikianlah materi tentang Makalah Perbankan yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Karbon yang telah kami posting sebelumnya. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.

Download


EmoticonEmoticon