Sunday, October 15, 2017

Makalah Rokok

Makalah Rokok - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perilaku merokok dan rokok sendiri bukanlah hal yang tabu lagi dikalangan masyarakat, diberbagai lapisan usia rokok sudah sangat merakyat, budaya merokok seakan menjadi suatu keharusan yang tidak boleh tidak dikerjakan, selain sangat mudah untuk didapatkan dimana-mana, siapa saja boleh memilikinya.
Rokok diketahui mengandung 4.000 bahan kimia berbahaya. Bahan-bahan tersebut menimbulkan berbagai macam penyakit seperti kanker paru, penyakit jantung, stroke, penyempitan pembuluh darah, impotensi, keguguran dan Berat Badan Lahir Rendah pada bayi yang ibunya perokok hingga gangguan kejiwaan, mulai dari ringan hingga berat.
Menurut WHO Indonesia merupakan negara terbesar kelima dalam konsumsi rokok dunia. Ada sekitar 1,1 milyar jiwa penduduk dunia yang merokok atau  1/3 penduduk dunia usia 15 tahun keatas telah merokok. Sedang kerugian akibat merokok mencapai 200 milyar dolar US dan sekitar 100 milyar dolar US diderita penduduk negara berkembang (Mackay & Eriksen, 2002). 
Angka kematian akibat kebiasaan merokok di dunia pada tahun 2000 telah mencapai 3 juta jiwa dan sekitar 1,1 juta jiwa terdapat dinegara berkembang. Rokok merupakan jembatan ke penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang (narkoba) yang amat memprihatinkan, 90 % pecandu narkoba bermula dari perokok. 


BAB II
PMBAHASAN
A.    Teori Rokok
a.      Defenisi Rokok
Dalam Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (995) rokok didefenisikan sebabai gulungan tembakau yang dibungkus dengan daun nipah, dibungkus dengan kertas berbentuk silinder, dengan ukurang 70-120 mm diameter 10mm, serta berwarna putih atau coklat (Widyawati, 2010).
Salah satu kandungan rokok yang paling mempengaruhi adalah nikotin. Nikotin adalah zat yang paling banyak dikonsumsi manusia selain alkohol, Psikoterapika, kafein atau zat adiktif lainnya. Nikotin tergolong kedalam katagori zat psikoaktif yang juga merupakan psikostimulan serta bersifat adiktif walaupun tidak sekuat heroin.
Nikotin dalam tembakau berkisar 1-4%. Satu batang rokok mengandung sekitar 1,1 mg nikotin, selain mengandung nikotin rokok juga mengandung zat organik lain dan bahan tambahan ( aditif ). Pada waktu rokok dihisap, tersedot pula hasil pembakaran ( pirolisis )  berupa CO2, CO, N2O, tar, ammonia, asetalhedid, dan senyawa lain, seluruhnya lebih dari 4000 macam. 
Pada waktu dibakar sebagian besar besar nikotin terbakar, namaun 1/7 - 1/3 masuk kedalam paru-paru dalam keadaan utuh, jadi setiap batang rokok yang dihisap terdapat nikotin sebanyak kurang lebih 0,25mg sampai ke paru (Satya Joewana, M.D, 180:2005).
Asap rokok mengandung 4000 banan kimia dengan 43 diantaranya bersofat karsinogen. Pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan berbagai macam peyakit, seperti kanker mulut, kanker faaring, kanker paru, kanker prostat, gangguan kehamilan dan janin, penyakit jantung koroner, pneumonia, dan lainnya (Sriamin, 2006).

b.      Tahapan Perilaku merokok pada remaja
Sitepoe (2002) mengklarifikasikan perilaku merokok menjadi empat tahap. Empat tahapan tersebut adalah :
1.      Tahap persiapan
Tahap ini berlangsung pada saat remaja belum pernah merokok. Pada tahap ini remaja mulai membentuk opini tentang rokok dan perilaku merokok, hal ini dikarenakan perkembangan sikap pada remaja hingga muncul tujuan mengenai rokok, dan citra perilaku merokok yang diperoleh remaja.
2.      Tahap inisiasi
Tahap ini merupakan tahap coba-coba untu merokok, remaja beranggapan bahwa dengan merokok, remaja akan terilihat dewasa, keren, gagah dan berani.
3.      Tahap menjadi seorang perokok
Remaja memberikan identitas pada dirinya sebagai seorang perokok.
4.      Tahap menjadi perokok
Tahap ini dipengaruhi oleh faktor psikologis dan biologis. Faktor psikologis yang mempengaruhi remaja untuk terus merokok, antara lain; kebiasaan, stress, depresi, kecanduan, menurunkan kecemasan, ketegangan, upaya untuk memiliki teman (Hedman et, al., 2007). Aditama (1997) memaparkan faktor biologis yang mempengaruhiremaja untuk menjadi perokok yaitu efek dan level dari nikotin yang dibutuhkan dalam aliran darah (Laily, 2007).

Sementara itu Mu’tadin (2002) mengemukakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi perilaku meokok pada remaja, yaitu ;
1.      Pengaruh orang tua
Remaja yang tinggal dengan orang tua yang tidak memperhatikan anak dan adanya hukuman fisik yang keras dalam keluarga, akan lebih ,mudah untuk menjadi perokok, selain itu perilaku merokok orang tua juga dapat mempengaruhi anak.
2.      Pengaruh teman
Hedman et, al (2007) menyebutkan salah satu faktor pencetus remaja untuk merokok adalah memiliki teman-teman yang juga perokok.


3.      Faktor kepribadian
Salah  satu sifat kepribadian yang mempengaruhi remaja untuk merokok dan mengkonsumsi obat-obatan adalah sifat konformitas social (Widianti, 2007)
4.      Pengaruh iklan
Remaja tertarik untuk mengikutiperilaku seperti pada iklan rokok, baik dari media cetak maupun media eletronik yang menggambarkan bahwaperilaku merokok jantan dan gagah (Laily, 2007).

c.       Jenis Rokok
Yulianto, n.d membedakan rokok berdasarkan bahan pembungkus rokok menjadi :
1.      Klobot; rokok yang bahan pembungkusya berupa daun jagung
2.      Kawung; rokok yang pembungkusnya berupa daun aren
3.      Sigaret; rkok yang bahan pembungkusnya berupa kertas
4.      Crutu; rokok yang pembungkusnya berupa daun tembakau.
Sedangkan jenis rokok berdasarkan bahan baku atau isi rokok yaitu:
1.      Rokok putih; rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang diberi bahan tertentu untuk mendapat efek rasa dan arom tertentu.
2.      Rokok kretek; rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh yang diberi efek saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
3.      Rokok klembek; rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau, cengkeh, dan kemenyanyang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertantu.
Jenis rokok berdasarkan proses pembuatannya, terbagi menjadi dua, yaitu:
1.      Sigaret kretek tangan (SKT) ; rokok yang proses pembuatannya dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana.
2.      Sigaret kretek mesin (SKM) : rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin, dikatagorikan dalam 2 bagian;
a.       Sigaret kretek mesin full plavor (SKM FF) : rokok yang dalam proses pembuatannya ditambah aroma rasa yang khas. Contoh gudang garam filter internasional, djarum super, dan lain-lain.
b.      Sigaret kterek mesin light mild ( SKM LM) : rokok mesin yang menggunakan kandungan tar dan nikotin yang rendah, rokok ini jarang menggunakan aroma yang khas contoh; Mild, Class mild, Star Mild, U Mild, LA Light, dan lain-lain.



Sedangkan jenis rokok berdasarkan penggunaan filter terbagi menjadi dua, yaitu :
1.      Rokok filter (RF) : rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.
2.      Rokok non filter (RNF) : rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus ( Yulianto, n.d).
d.      Cara Kerja
Nikotin adalah suatu senyawa amin tertier bercincin piridin dan pirolidin, bersifat alkalis lemah sehingga mudah larut dalam air maupun lemak. Menurut Benowitz, pada pH fisiologis, 31% nikotin tidak mengalami ionisasi dan mampu menembus membrane sel. Asap rokok sigaret sedikit asam sehingga tidak mudah menembus selaput lender rongga mulut. Nikotin yang berasal dari cerutu, cangklong, permen karet nikotin dan tembakau yang dikunyah, bersift lebih alkalis sehingga dapat diabsorsi tahap demi tahap melalui selaput lendir mulut.
Selain melalui paru dan selaput lender mulut, nikotin juga dapat diserap melalui saluran cerna dan permukaan kulit. Nikotin terdapat dalam tetesan tar asap rokok sigaret kedalam saluran nafas dan paru. Penyerapan nikotin dari paru kedalam darah berlangsung cepat sehingga dalam keadaan beberapa detik sudah sampai ke otak. Kadar nikotin dalam jaringan otak menurun dalam kurun waktu 20 – 30 menit, karena nikotin sudah diedarkan ke seluruh badan.
Penyerapan nikotin melalui lambung berlangsung lambat akibat pH dalam lambung yang asam, tetapi penyerapan di usus lebih cepat karena pH lebih alkalis. Walaupun demikian pada penggunaan tembakau yang dikunyah, hanya 30% nikotin yang sampai ke hati. Dalam keadaan normal, 80-90% nikotin dimetabolisme dihati, paru dan ginjal dengan waktu paruh mendekati dua jam.
Nikotin terikat juga pada reseptor kolinergik (C-6) dan nikotinik yang terdapat pada susnan saraf pusat, medulla grandula arenalis, sambungan neuromuskula, dan ganglia susunan saraf otonom. Menurut Benowitz, ikatan nikotin pada jaringan otak terkuat di hipotalamus, thalamus, mesensefalon, batang otak, korteks,  neuron dopaminergik pada nigrostriata dan mesolimbik, yang berkaitan dengan terjainya adiksi, ketergantungan, toleransi, dan putus zat nikotin. Nikotin juga mempengaruhi neurotrasmiter lain, terutama neuropineferin.
Aktivitas nikotin pada jaringan otak lain bersifat bifasik, yaitu dimulai dengan stimulasi yang hanya berlangsung sebentar, kemudian diikuti dengan sifat depresif. Pada dosis kecil terjadi simulasi pada ganglion susunan saraf otonom yang berlangsung sebentar, diikuti dengan efek penyekatan pada ganglion tersebut.
Benowitz memperkirakan paling sedikit seseorang membutuhkan sepuluh batang rokok tembakau ( yang setiap batangnya mengandung 1-2 mg nikotin ) agar memperoleh 10-40 mg nikotin perhari supaya mendapatkan efek yang diinginkan.
Nikotin menstimulasi pelepasan asetilkolon yang dapat dilihat pada perubahan EEG pada orang yang sedang merokok tembakau. Nikotin memacu pelepasan beta endorphin dan dopamine, kususnya di VTA dan NAc. Secara tidak langsung, nikotin menghambat MAO-B.

e.       Pengaruh terhadap pengguna
Pengaruh nikotin bagi susunan saraf pusat atau perilaku antara lain meningkatkan kewaaspadaan, mengurangi ketegangan mental pada waktu stress, meningkatkan daya ingat jangka pendek, mengurangi rasa lapar dan karenanya mengurangi  berat badan, serta meningkatkan perhatian.
Nikotin juga meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, aliran darah koroner, stroke volume dan cardiac output walaupun sifatnya hanya sesaat (transient). Nikotin dalam jangka panjang mengurangi aliran darah koroner, menurunkan suhu ulit, menyebabkan vasokontriksi siskemik, meningkatkan aliran darah ke otot, meingkatkan sirkulasi asam lemaak bebas, laktat dan gliserol. Nikotin juga meningkatkan aktivitas trombosit, meningkatkan produksi sputum, menyebabkan batuk, nafas berbunyi, dan tangan gemetar.
Gejala keraunan nikotin pada mulanya adalah mual, muntah, berliur, nyeri perut, denyut jantung cepat, tekanan darah naik, napas cepat, miosis, kebingungan, dan agitatif. Kemudian, diikuti dengan denyut jantung lambat, tekanan darah menurun, nafas lambat, midriasis, letergi, kejang dan koma.
Gejala putus tembakau berupa denyut jantung bertambah cepat, tangan gemetar, suhu kulit meningkat, keinginan yang kuat untuk merokok lagi, mudah marah, tekanan darah sedikit menurun, otot berdenyut, nyeri kepala, cemas, tidak suka makan, gangguan pemusatan perhatian, iritabel, ansietas, depresi dan perlambatan EEG. Gejala ini berlangsung sekitar dua sampai tiga minggu. gangguan tidur berupa insomnia dan bertmbahnya nafsu makan berlangsung lebih lama bahkan bisa bertahan hingga enam bulan.
B.     Asumsi
1.      Pengetahuan tentang Risiko Kesehatan
Salah satu argumen tentang konsumsi tembakau adalah bahwa perokok sendirilah yang membuat keputusan untuk membeli rokok berdasarkan pengetahuan yang cukup yang telah dimilikinya (informed decision). Argumen ini didasarkan pada teori ekonomi yang mengatakan bahwa konsumen mempunyai kedaulatan tentang bagaimana membelanjakan uangnya atas dasar pengetahuan tentang biaya dan manfaat yang akan diperoleh dari pembelian tersebut dan bahwa konsumen sendirilah yang akan menanggung beban akibat pembeliannya. Kedua asumsi ini tidak berlaku bagi konsumen produk tembakau dan berbeda dalam tiga hal dengan produk konsumen lainnya.
-          Konsumen tidak sepenuhnya sadar akan resiko penyakit dan kematian dini akibat keputusannya membeli produk tembakau. Ini merupakan biaya terbesar yang harus dibayar.
-          Beberapa faktor penyebab, antara lain karena tenggang waktu 20-25 tahun sejak orang mulai merokok dan timbulnya gejala penyakit. 
-          Sebagian besar perokok pemula adalah remaja yang belum mempunyai kemampuan untuk menilai dengan benar informasi dampak merokok. Tidak kalah pentingnya adalah kecenderungan perokok pemula untuk menyepelekan biaya yang kelak akan ditanggung akibat adiksi nikotin. Mereka menganggap bahwa biaya tersebut disebabkan karena kelemahan perokok dewasa untuk memutuskan berhenti merokok ketika masih remaja. Mereka tidak menyadari efek adiktif nikotin yang sangat kuat yang akan mengikat dan menyebabkan orang sulit berhenti merokok.
-          Orang lain menanggung beban akibat pembelian dan konsumsi rokok oleh perokok.   Disamping dampak fisik dan ekonomi pada bukan perokok (perokok pasif), dampak ekonomi yang harus ditanggung oleh keluarga perokok adalah biaya rutin yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan adiksinya dan biaya sakit akibat merokok. Pada keluarga miskin, beban ekonomi ini dilakukan dengan mengalihkan pengeluaran makanan, pendidikan dan kesehatan untuk membeli rokok. Beban tidak langsung pada keluarga miskin adalah hilangnya produktifitas pencari nafkah utama karena sakit atau kematian dini yang berdampak pada turunnya pendapatan keluarga.
-          Studi tentang faktor Studi tentang faktor pengaruh perilaku merokok pada remaja usia 13-21 tahun di Jawa Timur menunjukkan keragaman pengetahuan tentang bahaya mengonsumsi tembakau.



Hanya 15% yang mengetahui adanya 4000 bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam rokok; Walaupun secara umum (87%) mereka mengatakan merokok menyebabkan penyakit, hanya 68% yang mengetahui bahwa nikotin di dalamnya mengakibatkan ketagihan. Umumnya paham bahwa merokok mengakibatkan penyakit, tetapi menyangkal bahwa hal tersebut akan mengenai dirinya. Delapan dari 10 remaja tahu manfaat berhenti merokok, tetapi 43% menganggap tidak sulit untuk berhenti merokok. Dampak ketagihan nikotin kurang disadari diantara remaja. Alasan lain yang diberikan tentang mengapa mereka merokok adalah karena harga rokok cukup murah; separuh perokok remaja membeli rokok secara batangan.
Merokok juga dianggap sebagai hal yang biasa dan normal. Sebagian perokok mengaku mendapat rokok dari keluarga atau temannya dengan mudah tanpa perlu membeli. Sebanyak 70% mengatakan bahwa guru mereka merokok di sekolah bahkan ketika sedang mengajar. Walaupun 89% mengatakan ada peraturan larangan, tetapi pelanggaran tidak pernah ditindak.
Tiga dari 4 pelajar memiliki teman-teman yang merokok dan mengatakan tidak keberatan dengan hal tersebut.  
Industri tembakau memasuki pasar ketika resiko penggunaannya belum diketahui. Pada saat dampak konsumsi tembakau ditemukan, telah banyak anggota masyarakat yang kecanduan. Faktor adiksi inilah yang sangat menyulitkan pemerintah di berbagai negara untuk menghilangkan produk tersebut dari pasar. Sementara masyarakat telah teradiksi, industri tembakau meneruskan kampanyenya dengan meyakinkan legislator dan masyarakat melalui strategi normalisasi produk tembakau: sebagai industri legal mereka berhak memasarkan produk normal yang legal seperti layaknya industri lain. Normalisasi ini diwujudkan dengan menggencarkan iklan, promosi, pemberian sponsor, pendanaan program pendidikan dalam etika bisnis, bahkan mendanai unit pelayanan paliatif di Rumah Sakit dimana separuh tempat tidurnya diisi korban produk industrinya. Pemasaran industri tembakau berlindung dibalik penormalan produk dan merasionalisasikan epidemi tembakau dengan retorika keliru tentang “pilihan bebas”.


Perokok remaja berpendapat bahwa merokok adalah menarik, memudahkan pergaulan, mudah konsentrasi dan membuat hidup lebih mudah. Alasan yang sama seperti citra yang disampaikan oleh industri tembakau melalui iklan rokok. Tehnik pengiklanan menggunakan subliminal advertising yaitu mengekspos individu pada gambaran produk, nama dagang atau rangsangan produk dagang lainnya dimana individu tidak menyadari bahwa dirinya terekspos. Tehnik ini antara lain ditandai dengan pemanfaatan unsur emosi yang kuat dan pembentukan hubungan yang irasional antara diri dengan produk yang diiklankan.



C.     Solusi yang ditawarkan
1.      Program Pendidikan di Sekolah
Hampir 80% perokok di Indonesia mulai merokok ketika usianya belum mencapai 19 tahun[i]. Perokok remaja adalah calon perokok jangka panjang dan menempatkan mereka pada kerusakan kualitas generasi dan kematian dini yang sebenarnya dapat dicegah.
Pemerintah dan sistem pendidikan di dunia pada umumnya memiliki kurikulum anti tembakau berbasis sekolah[ii]. Di banyak Negara, terutama yang memiliki keterbatasan sumber daya dan dana untuk pendidikan kesehatan, industri tembakau telah memanfaatkan peluang dengan menjual citra tanggung jawab sosialnya melalui program pencegahan merokok bagi remaja (Youth Smoking Prevention Program). Program ini tidak efektif, bahkan mendorong remaja untuk mencoba-coba merokok karena memposisikan merokok sebagai kebebasan dan kedewasaan yang sebaiknya tidak dilakukan oleh anak-anak (smoking as an “adult choice”
Di Indonesia, belum ada kurikulum khusus tentang masalah berhubungan dengan tembakau. Informasi bahaya merokok dimasukkan sebagai salah satu topik dalam mata ajaran Biologi dan Pendidikan Jasmani. Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2006 melaporkan 7 dari 10 siswa SMP di Indonesia mendapat pelajaran bahaya merokok. Sementara hampir 80% (78,2%) mahasiswa Fakultas Kedokteran mengaku tidak ada kurikulum khusus berhenti merokok, walaupun 82% sudah memasukkan pertanyaan tentang kebiasaan merokok pada pasien ketika membuat riwayat penyakit dan 57% memberikan penyuluhan agar pasien perokok berhenti merokok.
 Program pencegahan dan pelarangan merokok pada anak dan remaja tidak efektif. Program ini sejalan dengan promosi industri tembakau yang mengatakan bahwa “merokok adalah untuk orang dewasa” yang akibatnya justru membuat merokok jadi lebih menarik bagi remaja.
2.       Program Pencegahan Merokok Bagi Remaja
a.       Effektif versus Tidak Efektif.
b.      Kampanye yang disponsori industri tembakau cenderung tidak efektif.
EFFEKTIF
Bila dikemas dalam Program Pengendalian Tembakau yang komprehensif
TIDAK EFEKTIF
Pencegahan dan pendidikan remaja sebagai kegiatan yang berdiri sendiri
Tidak memposisikan konsumsi tembakau sebagai kegiatan berkaitan dengan kedewasaan, tetapi sesuatu yang mengenai semua umur

Memposisikan konsumsi tembakau sebagai “dewasa” dan dilarang. Pesan-pesannya adalah:
”Remaja dilarang merokok”
”Merokok adalah pilihan orang dewasa”
”Hanya orang dewasa yang boleh merokok” (Boleh merokok setelah dewasa)
”Patuhilah aturan”
”Katakan tidak”
Dukungan terhadap peningkatan cukai (dan harga)
Tidak menyebut sama sekali tentang pentingnya peningkatan cukai (dan harga)
EFFEKTIF
Dukungan terhadap larangan total dari iklan rokok
TIDAK EFEKTIF
Menekankan pengaruh teman sebagai penyebab utama merokok pada remaja tanpa menjelaskan pengaruh iklan dan promosi rokok yang menargetkan remaja
Dukungan terhadap Kawasan Tanpa Rokok
Mengabaikan Kawasan Tanpa Rokok
Larangan pemajangang (display) produk tembakau dan membatasi rantai penjualan
Menekankan pembatasan akses remaja melalui bukti KTP, tanda larangan penjualan untuk anak, kebijakan tentang pembatasan umur untuk merokok
Menekankan bahwa nikotin adalah adiktif
Menggambarkan bahwa merokok adalah ”pilihan dewasa”
Mendiskusikan resiko merokok bagi semua umur
Menggambarkan bahwa ”remaja merokok” merupakan masalah utama
Mendorong berhenti merokok pada semua perokok, tua dan muda
Tidak mendorong berhenti merokok pada umur berapapun

3.      Program Pendidikan Masyarakat.
Banyak diantara program pendidikan masyarakat yang terjadi di luar lingkungan sekolah: melalui media, film, pertunjukan seni dan internet. Media merupakan sarana yang penting untuk menyampaikan informasi kepada publik dan mempromosikan perlunya pengendalian tembakau.
Salah satu sarana pendidikan masyarakat yang efektif dan tidak memerlukan biaya dari pemerintah adalah Peringatan Kesehatan berbentuk gambar di Bungkus Rokok (lihat Bab 8 tentang Label Peringatan Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau) :
-          Menjangkau segala lapisan
-          Efek repetitif: dilihat hampir 6000 kali/tahun oleh perokok yang merokok 1 bungkus/hr @ 16 batang per bungkus
-          Biaya produksi menjadi tanggungan industri rokok, bukan dana pemerintah
-          Sebuah gambar yang jelas, kuat dan besar adalah sejuta kata
-          Mudah dipahami oleh kelompok masyarakat berpendidikan rendah dan buta huruf
-          Studi membuktikan terjadi perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku perokok setelah penerapan kebijakan peringatan kesehatan berbentuk gambar 

4.      Keuntungan Berhenti Merokok
Berhenti merokok pada usia berapapun selalu menguntungkan. Semakin cepat berhenti merokok, fungsi paru akan menjadi semakin baik, kematian dan kecacatan karena penyakit akibat rokok dapat dicegah.
Pada perokok tetap yang rentan terhadap dampak merokok, fungsi parunya menurun lebih cepat pada umur yang lebih dini dibandingkan bukan perokok.



BAB III
PNUTUP
A.    Kesimpulan
Rokok diketahui mengandung 4.000 bahan kimia berbahaya. Bahan-bahan tersebut menimbulkan berbagai macam penyakit seperti kanker paru, penyakit jantung, stroke, penyempitan pembuluh darah, impotensi, keguguran dan Berat Badan Lahir Rendah pada bayi yang ibunya perokok hingga gangguan kejiwaan, mulai dari ringan hingga berat.
Menurut WHO Indonesia merupakan negara terbesar kelima dalam konsumsi rokok dunia. Ada sekitar 1,1 milyar jiwa penduduk dunia yang merokok atau  1/3 penduduk dunia usia 15 tahun keatas telah merokok. Sedang kerugian akibat merokok mencapai 200 milyar dolar US dan sekitar 100 milyar dolar US diderita penduduk negara berkembang (Mackay & Eriksen, 2002). 
Angka kematian akibat kebiasaan merokok di dunia pada tahun 2000 telah mencapai 3 juta jiwa dan sekitar 1,1 juta jiwa terdapat dinegara berkembang. Rokok merupakan jembatan ke penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang (narkoba) yang amat memprihatinkan, 90 % pecandu narkoba bermula dari perokok. 



Demikianlah materi tentang Makalah Sejarah Kemaritiman Indonesia yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Sejarah Kemaritiman Indonesia yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.


EmoticonEmoticon