Monday, October 30, 2017

Makalah Thaharah (Wudhu, Mandi dan Tayamum)

Makalah Thaharah- Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :

Makalah Thaharah (Wudlu, Mandi dan Tayamum)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna dan dimuliakan, seperti tertera dalam surat At-Tien ayat 4 yang artinya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Karena manusia diciptakan oleh Allah bukan sekedar untuk hidup didunia ini kemudian meninggal tanpa pertanggung jawab, tetapi manusia diciptakan oleh Allah hidup didunia untuk beribadah.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (Q.S Adz-Dzaariyaat ayat 56). “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (Q.S Al-Bayyinah ayat 5). Karena Allah Maha Mengetahui tentang kejadian manusia, maka agar manusia terjaga hidupnya, taqwa, diberi kewajiban ibadah. Tegasnya manusia diwajibkan beribadah, agar manusia itu mencapai taqwa.
Isi pembahasan ibadah menurut Ibnu Abidin, membagi persoalan ibadah pada lima kitab, yakni : Sholat, Zakat, Shiyam, Hajji, dan Jihad. Umumnya Ulama memasukan soal Thaharah pada pembahasan ibadah. Prof.Hashbi dalam Pengantar Fiqh mengemukakan bahwa yang wajar, pembahasan ibadah itu meliputi : Thaharah, Shalat, Jinayah, Shiyam, Zakat, Zakat Fitrah, Hajji, Jihad, Nazar, Qurban, Dzabihah, Shaid, Aqiqah, makanan dan minuman.[1]
Pada isi pembahasan ibadah menurut Prof.Hashbi disebutkan yang pertama adalah pembahasan mengenai thaharah. Thaharah bagi umat muslim adalah hal yang sangat mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi pada kenyataannya masih banyak umat muslim yang masih minim pengetahuannya tentang thaharah. Untuk itu, makalah ini dapat dijadikan media pembelajaran dalam mempelajari thaharah yang sesuai dengan kaidah-kaidah islamiah.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Thaharah?
2.      Apa yang dimaksud dengan Wudlu, Mandi dan Tayamum?
3.      Bagaimana tata cara Wudlu, Mandi dan Tayamum?
C.    Tujuan Rumusan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian Thaharah.
2.      Mengetahui pengertian Wudlu, Mandi dan Tayamum.
3.      Menjelaskan tata cara Wudlu, Mandi dan Tayamum.



BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    Pengertian Thaharah
Ath-Thaharah, menurut bahasa, artinya kebersihan atau bersih dari berbagai kotoran, baik yang bersifat hissiyah (nyata), seperti najis berupa air seni dan yang selainnya, maupun yang bersifat maknawiyah, seperti aib dan perbuatan maksiat. At-Tathir bermakna tanzhif (membersihkan), yaitu pembersihan pada tempat yang terkotori.[2]
Menurut pengertian syari’at (terminologi), thaharah berarti tindakan menghilangkan hadats dengan air atau debu yang bisa menyucikan. Juga berarti upaya meglenyapkan najis dan kotoran. Berarti, thaharah menghilangkan sesuatu yang ada di tubuh yang menjadi penghalang bagi pelaksanaan shalat dan ibadah semisalnya.[3]
Ulama Fiqh menyatakan bahwa thaharah adalah membersihkan diri dari segala hal baik hadas maupun najis yang menghalangi seseorang untuk melakukan sholat, dengan menggunakan air atau tanah. Menurut Al-Hanafiah thaharah adalah bersih dari hadas dan najis. Pengertian thaharah pun dikemukakan oleh Al-Malikiyah yakni suatu sifat yang menurut pandangan syara membolehkan orang yang mempunyai sifat itu mengerjakan sholat dengan pakaian yang dikenakananya di tempat yang ia gunakan untuk mengerjakan sholat, sedangkan menurut Asy-Syafi’iah adalah suatu perbuatan yang membolehkan seseorang mengerjakan sholat seperti whudu, mandi dan menghilangkan najis serta hilangnya hadast, najis atau semisalnya seperti tayamum dan mandi sunah.
B.     Pengertian Wudlu
Wudlu merupakan sebuah rangkaian ibadah bersuci untuk menghilangkan hadas kecil. Wudlu merupakan syarat sah sholat, yang artinya seseorang dinilai tidak sah sholatnya jika dia melakukan tanpa berwudlu.[4]
Sementara menurut istilah fiqih, para ulama mazhab mendefinisikan wudhu menjadi beberapa pengertian. Mazhab Al-Hanafiah mendeskripsikan Wudlu adalah membasuh dan menyapu dengan air pada anggota badan tertentu. Al-Malikiah mendeskripsikan Wudlu adalah thaharah dengan menggunakan air yang mencakup anggota badan tertentu, yaitu empat anggota badan, dengan tata cara tertentu.[5] Sedangkan Asy-Syafi’iyah mendeskripsikan Wudhu’ adalah penggunaan air pada anggotabadan tertentu dimulai dengan niat.[6] Serta Hambaliyah mendeskripsikan Wudhu adalah penggunaan air yang suci pada keempat anggota tubuh yaitu wajah, kedua tangan,kepala dan kedua kaki, dengan tata cara tertentu seusai dengan syariah, yang dilakukan secara berurutan dengan sisa furudh.[7]
C.    Pengertian Mandi
Mandi merupakan aktivitas mengalirkan air pada seluruh anggota tubuh dengan niat tertentu.[8] Menurut arti syara’ mandi adalah sampainya air yang suci keseluruh badan dengan cara tertentu.
Sedangkan menurut ulama’ bermadzhab Sayafi’i mendefisikan mandi yaitu mengalirkan air keseluruh badan disertai dengan niat. Adapun ulama’ bermadzhab Maliki juga membuat suatu pengertian mandi yakni  sampainya air keseluruh badan disertai dengan proses menggosok dengan niat diperbolehkannya untuk melakukan sholat.
Adapun tujuan dari mandi itu sendiri yaitu selain kita melaksanakan suatu ‘ibadah yang berupa bersuci dari hadats besar, tapi kita juga membersihkan tubuh kita dari segala kotoran dan itu sangat dianjurkan oleh nabi seperti dalam hadist yang artinya “Kesucian adalah sebagian dari iman”.
D.    Pengertian Tayamum
Tayamum secara harfiah memiliki arti menyengaja. Sedangkan menurut syara, tayamum adalah menempelkan debu yang suci pada wajah dan tangan sebagai pengganti wudlu, mandi, atau membasuh anggota tubuh dengan syarat-syarat tertentu.[9]
Di dalam Kamus Istilah Fiqh pula mendefinisikan tayammum yaitu menyapukan debu atau tanah ke wajah dan kedua tangan hingga kedua siku dengan beberapa syarat, yang berfungsi sebagai pengganti wudlu atau mandi sebagai rukhsah (kemudahan) bagi mereka yang berhalangan atau tidak dapat menggunakan air.[10]





BAB III
ANALISIS
A.    Thaharah
Thaharah atau bersuci, dalam hukum islam soal bersuci dan segala seluk-beluknya termasuk bagian ilmu dan amalan yang penting, terutama karena diantara syarat-syarat shalat telah ditetapkan bahwa seseorang yang akan mengerjakan sholat diwajibkan suci dari hadas dan suci pula badan, pakaian, dan tempatnya dari najis.
Bersuci hukumnya wajib, berdasar firman Allah swt dan sunnah Nabi SAW. Adapun firman Allah swt dalam Q.S Al-Baqarah ayat 222 yang artinya “ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” Dan Sabda Rasulullah SAW yang artinya “Bersuci adalah separuh dari Iman.”
Thaharah menurut bahasa artinya bersih dan suci. Menurut istilah (ahli fikih) berarti membersihkan diri dari hadas atau najis, seperti mandi, berwudlu atau tayamum. Thaharah sendiri secara harfiah juga memiliki arti sisa air yang telah digunakan (musta’mal) karena berfungsi sebagai pembersih untuk bersuci.[11] Banyak para ahli atau ulama mendefinisikan thaharah, namun dapat disimpulkan bahwa Thaharah adalah tindakan membersihkan atau menyucikan diri dari hadast dan najis.
Air yang dapat digunakan untuk bersuci secara sah atau benar dikategorikan ke dalam 7 macam, antara lain:
·         Air hujan
·         Air laut atau air asin
·         Air sungai
·         Air sumur
·         Air sumber
·         Air es atau salju
·         Air embun
Ketujuh air tersebut terbagi menjadi dua golongan, yaitu air yang turun dari langit dan air sumber yang keluar dari bumi. Air dapat dibagi menjadi empat macam, yakni air mutlak, air suci yang menyucikan, air suci yang tidak bisa digunakan untuk bersuci, dan air najis (mutanajjis).[12]
Air Mutlak adalah air yang keberadaannya suci dan dapat dipakai untuk bersuci, serta dapat menyucikan benda lain. Atau dengan kata lain air mutlak adalah air yang menyucikan dan tidak makruh untuk bersuci. Air mutlak ini bisa untuk menghilangkan hadas dan najis. Contoh air mutlak adalah air hujan, air salju dan air es, air laut, dan air zamzam.
Air suci yang menyucikan. Jika digunakan untuk menyucikan badan hukumnya bisa berubah menjadi makruh. Namun jika digunakan untuk menyucikan pakaian, hukumnya tidak makruh. Air ini adalah air musyammas, yaitu air yang panas akibat terkena sinar matahari. Hukum makruh ini menggunakan dasar bahwa air ini berbahaya untuk kesehatan manusia. Namun, menurut Imam Nawawi menjelaskan bahwa air panas yang akibat terkena sinar matahari, hukumnya mutlak dan tidak makruh, kecuali air itu dalam keadaan terlalu panas atau terlalu dingin.
Air suci yang tidak bisa digunakan untuk bersuci, disebut air musta’mal. Air musta’mal adalah air sisa yang mengenai badan manusia karena telah digunakan untuk wudlu dan mandi. Apabila air itu tidak bertambah jumlahnya setelah digunakan, air itu tetap suci namun tidak bisa digunakan untuk bersuci.
Air najis (mutanajjis) adalah air yang hukumnya najis dan jelas tidak bisa digunakan untuk bersuci. Air yang sedikit atau banyak yang terkena najis sehingga berubah warna dan baunya. Kalau air itu sedikit, menjadi najis sebab bercampur dengan najis, baik berubah atau tidak. Tetapi kalau air itu banyak, menjadi najis sebab bercampur dengan najis sampai berubah rasa atau baunya. Yang dimaksud air yang sedikit ialah air yang kurang dari dua kulah, dan air banyak adalah kalau sudah sampai dua kulah. Ukuran dua kulah kurang lebih 200 liter.[13]
B.     Wudlu
Wudlu, menurut bahasa berarti baik dan bersih. Menurut istilah syara’, wudlu ialah membasuh muka, dan kedua tangan sampai siku, mengusap sebagian kepala dan membasuh kaki yang sidahului dengan niat dan dilakukan dengan tertib.[14]
Wudlu merupakan sebuah rangkaian ibadah bersuci untuk menghilangkan hadas kecil. Wudlu merupakan syarat sah sholat, yang artinya seseorang dinilai tidak sah shalatnya jika dia melakukan tanpa berwudlu.[15] Syarat sah wudlu ada 5 perkara, yaitu islam,tamyiz[16], airnya suci, tidak ada halangan bathin (seperti akal tidak sehat), tidak ada halangan dari agama (seperti sedang haid, nifas, dan lain-lain. Fardhu wudhu meliputi enam perkara, yakni :
1.      Niat didalam hati, yang dilakukan diawal membasuh muka, bukan sebelum membasuh muka. Ketika membasuh muka, dalam hati niatkan berwudlu untuk menghilangkan hadas kecil, sehingga wudlunya menjadi benar atau sah. Apabila dalam berwudlu tidak disertai niat, wudlu itu menjadi tidak sah.
2.      Membasuh seluruh bagian muka secara merata. Batas bagian muka dimulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala sampai dagu bagian bawah dan antara telinga kanan dan telinga kiri. Hal ini berarti pada janggut yang tertutup oleh jenggot tipis yang terlihat yang nyata kulitnya oleh orang yang diajak bicara, maka wajib dibasuh pada bagian kulitnya, yakni tempat tumbuhnya jenggot tersebut. Wajib membasuh satu kali dan sunnah membasuh kebanyak tiga kali.
3.      Membasuh kedua tangan sampai dengan siku serta wajib membasuh apa saja yang ada pada tangan seperti bulu-bulu, lipatan-lipatan, dan kotoran yang mencegah masuknya atau meresapnya air, termasuk kotoran yang ada pada kuku.
4.      Mengusap kepala dengan tangan yang dibasahi air. Sedang dalam mengusap kepala dapat difahami tidak seluruh kepala, tetapi dengan mengusap sebagiannya cukup. Atau cukup mengusap sebagian rambut sebatas kepala. Namun dalam hal ini banyak hadist yang berbeda memberikan pengertian dalam menyapu kepala, ada yang berpendapat hanya sebagian dan ada pula yang menyatakan seluruh bagian kepala. Seperti Hadist yang ditakhrijkan (berasal dari kata takhrij[17]) oleh Imam Bukhari dan muslim dan Al-Mughirah bin Syu’bah yang bertentangan dengan Hadist yang diriwayatkan oleh Al-Jam’ah dari Abdullah bin Zaid.
5.      Membasuh kedua kaki sampai dengan mata kaki, berdasar firman Allah swt yang artinya “Dan (basuhlah) kakimu beserta kedua mata kaki.”. Bagi umat yang memakai muzah (sepatu) maka wajib membasuh kedua muzah dan membasuh kedua kaki. Membasuh kedua kaki ini juga termasuk membasuh bulu bulu, jari-jari dan lipatannya, seperti ketentuan pada membasuh tangan diatas.
6.      Tertib atau berurutan sesuai urutan ketentuan rukun atau fardhunya wudlu yang telah ditetapkan. Apabila seseorang lupa bahwa wudhunya tadi tertib atau tidak, maka wudlunya harus di ulang. Demikian juga ketika seseorang sakit dan diwudlukan oleh empat saudaranya secara bersamaan, masing-masing membasuh muka, tangan, sebagian kepala, dan kaki. Maka yang dianggap sah dalam ketentuan tertib berwudlu adalah yang membasuh muka.
Wudlu juga memiliki sunnah dalam menjalankannya, diantaranya adalah :
a.       Membaca Basmallah ketika mulai berwudlu.
b.      Mencuci kedua telapak tangan sampai pergelangan terlebih dahulu sebelum memasukkan kedua tangan kedalam air dua kulah yang akan dipergunakan untuk berwudlu.
c.       Berkumur, setelah mencuci kedua telapak tangan.
d.      Memasukan air ke hidung, juga beralasan pada amal Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari dan muslim.
e.       Mengusap seluruh bagian kepala dengan air. Untuk yang berkerudung atau memakai surban cukup diusap sebagian tanpa membukanya.
f.       Mengusap dua telinga, yaitu daun telinga bagian luar dan dalam dengan air yang baru diambil, bukan dengan air bekas basuhan muka atau kepala. Caranya adalah dengan memasukan jari telunjuk ka bagian dalam telinga. Kedua jari ini dijalankan untuk membersihkan telinga bagian dalam dan bagian luar. Yang terakhir, kedua telapak tangan digosok-gosokkan ke telinga sampai terasa bersih.
g.      Mengusap air ke sela-sela jenggot dengan jari diletakkan ke sela-sela jenggot. Hal ini ditujukan untuk lebih memudahkan kulit tempat tumbuh jenggot terbasuh oleh air ketika membasuh seluruh muka.
h.      Mengusap sela-sela jari dan membasahinya.
i.        Mendahulukan bagian yang kanan dan mengakhirkan bagian yang kiri.
j.        Mengulang tiga kali pada setiap anggota yang dibersihkan dan diusap.
k.      Bersambung antara membasuh anggota yang satu dan anggota yang berikutnya, dalam artian tidak berhenti antara keduanya.
l.        Menjaga agar percikan air itu jangan kembali ke badan.
m.    Menggosok anggota wudlu agar menjadi lebih bersih.
n.      Membaca dua kalimat syahadat dan menghadap kiblat ketika wudlu.
o.      Berdoa sesudah selesai wudlu.
p.      Membaca dua kalimat syahadat sesudah selesai wudlu.
Selain sunnah dalam menjalankan wudlu, apa pula hal-hal yang dapat merusak wudlu atau disebut juga hal-hal yang menyebabkan hadas kecil. Diantaranya adalah lima perkara sebagai berikut :
1)        Adanya sesuatu yang keluar dari jalan depan (qubul) atau jalan belakang (dubur) orang yang memiliki wudlu, yang berbentuk nyata, baik air maupun feses atau yang menyerupainya seperti darah dan batu, atau hewan kecil dan air mani.
2)        Tidur, Kecuali tidur itu dalam keadaan duduk di tanah atau lantai yang apabila ia terbangun masih dalam posisi yang tetap.
3)        Hilangnya ingatan akibat mabuk, gila, kambuhnya ayan, pingsan dan lain-lain.
4)        Seorang pria yang menyentuh wanita yang bukan mahramnya walaupun yang dipegangnya itu adalah mayat.
5)        Memegang farji atau alat vital dengan telapak tangan, baik pria maupun wanita.
C.    Mandi
Mandi berarti mengguyur air ke seluruh badan. Berdasarkan firman Allah dalam Q.S Al-Maidah ayat 6 yang artinya : “Dan jika kamu junub maka mandilah”. Pengertian lain mengenai mandi adalah aktivitas mengalirkan air pada seluruh tubuh dengan niat tertentu.[18]  Adapun sebab-sebab yang mewajibkan mandi, yakni :
1. Bersetubuh, berdasar Q.S Al-Maidah ayat 6 yang artinya “Apabila kamu sekalian dalam keadaan junub maka mandilah.” Dalam hal ini, baik keluar mani atau tidak tetap diwajibkan mandi.(Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim).
2. Mengeluarkan mani dalam mimpi bersetubuh (ihtilam). Yakni keluarnya sperma dari penis (laki-laki) atau vagina (bagi perempuan), baik disertai kenikmatan yang nyata maupun yang tidak nyata, misalnya orang mimpi basah yang mendapati kemaluannya basah namun tidak merasakan syahwat. Kewajiban ini berdasarkan hadits narasi Abu Sa’id[19], ia berkata : Rasulullah bersabda , yang artinya:”Sesungguhnya air (mandi wajib) karena keluarnya air (sperma)”.
3.  Selesainya haid dan nifas. Wanita yang datang bulan atau melahirkan anak, apabila telah berhenti tidak lagi mengeluarkan darah, maka ia wajib mandi. Adapun kewajiban mandi bagi wanita yang selesai nifas didasarkan pada ijma’ sahabat bahwa nifas sama dengan haid.
4. Persalinan Tanpa Pendarahan. Kalangan ulama mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’I menyatakan kewajiban mandi atas perempuan yang melahirkan, meskipun ia tidak melihat adanya bercak darah. Hal ini demi sikap kehati-hatian, karena tidak mungkin perempuan melahirkan tanpa disertai bercak darah. Sedangkan Imam Abu Yusuf, Muhammad Asy-Syaibani (keduanya dari mazhab Hanafi), dan ulama-ulama mazhab Hanbali berpendapat bahwa tidak dijumpai bercak darah maka tidak wajib mandi, sebab dalam hal ini tidak ada nash maupun yang semakna dengan nash yang menyatakan kewajiban demikian.
5. Meninggal Dunia. Para ulama sepakat bahwa hukumnya fardhu kifayah bagi orang-orang yang hidup untuk memandikan mayat muslim yang yang tidak dilarang untuk dimandikan.
6. Masuk islam. Jika orang kafir masuk islam maka ia wajib mandi , sebab ketika beberapa orang sahabat masuk islam , mereka disuruh Nabi mandi. Menurut hadis,”Dari Qais bin Asim. Ketika ia masuk islam , Rasulullah SAW menyuruhnya mandi dengan air dan daun bidara.”
v Hal-hal yang diharamkan bagi orang junub
Orang yang sedang dalam keadaan junub tidak diperbolehkan dan diharamkan melakukan hal-hal sebagai berikut:
1.              Shalat
2.              Thawaf
3.              Menyentuh dan membawa mushaf (Al-Qur’an)
4.              Membaca Al-Qur’an
5.              Berdiam diri dimasjid

v Mandi-mandi sunnah
Mandi sunnah adalah mandi yang dilakukan orang mukallaf maka ia mendapatkan pujian atas tindakannya , dan jika meninggalkan maka ia tidak terkena celaan atau hukuman.
Adapun yang termasuk mandi sunnah adalah sebagai berikut:
1.    Mandi hari jum’at
Mandi hari jum’at disunatkan bagi orang yang bermaksud akan mengerjakan shalat jum’at, agar bau yang kurang enak tidak mengganggu orang disekitar tempat duduknya.
2.    Mandi Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Kurban
3.    Mandi orang gila apabila ia sembuh dari gilanya, karena ada kemungkinan ia keluar mani.
4.    Mandi tatkala hendak ihram haji atau umrah
5.    Mandi sehabis memandikan mayat.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Yang artinya : “Barang siapa memandikan mayat, hendaklah ia mandi, dan barang siapa yang membawa mayat, hendaklah ia berwudhu.” (riwayat Tirmidzi dan dikatakan Hadits Hasan).
6.    Mandi seorang kafir setelah memeluk agama Islam, sebab ketika beberapa orang sahabat masuk islam, Nabi menyuruh mereka untuk mandi.
v Fardu (rukun) Mandi
1.      Niat. Orang yang junub hendaklah berniat (menyengaja) menghilangkan hadas junubnya, perempuan yang baru selesai haid atau nifas hendaklah berniat menghilangkan hadas kotorannya.
2.      Mengalirkan air ke seluruh badan.
3.      Bagi orang yang bernajis pada bagian tubuhnya, maka wajib menghilangkan najisnya terlebih dahulu, baru kemudian berniat mandi untuk menghilangkan hadas.
4.      Membasahi seluruh rambut dan kulit diseluruh tubuh dengan air.

v Sunah-sunah Mandi
1.         Membaca basmallah pada permulaan mandi.
2.         Berwudhu sebelum mandi.
3.         Menggosok-gosok seluruh badan dengan tangan.
4.         Mendahulukan yang kanan daripada yang kiri.
5.         Berurutan.

D.    Tayamum
Apabila seseorang junub atau seseorang akan mengerjakan sembahyang, orang tadi tidak mendapatkan air untuk mandi atau untuk wudlu, maka sebagai ganti untuk menghilangkan hadast besar atau kecil tadi dengan melakukan tayamum.
Tayamum menurut bahasa sama dengan Qasad artinya menuju. Secara harfiah memiliki arti menyengaja, sedangkan menurut syara, tayamum adalah menempelkan debu yang suci pada wajah dan tangan sebagai pengganti wudlu, mandi, atau membasuh anggota tubuh dengan syarat-syarat tertentu.
Sebab / Alasan Melakukan Tayamum adalah :
·         Dalam perjalanan jauh
·         Jumlah air tidak mencukupi karena jumlahnya sedikit
·         Telah berusaha mencari air tapi tidak diketemukan
·         Air yang ada suhu atau kondisinya mengundang kemudharatan.
·         Air yang ada hanya untuk minum.
·         Air berada di tempat yang jauh yang dapat membuat telat shalat
·         Pada sumber air yang ada memiliki bahaya
·         Sakit dan tidak boleh terkena air
Adapun Syarat Sah Tayamum adalah sebagai berikut :
·      Telah masuk waktu sholat.
·      Memakai tanah berdebu yang bersih dari najis dan kotoran.
·      Memenuhi alasan atau sebab melakukan tayamum.
·      Sudah berupaya / berusaha mencari air namun tidak ketemu.
·      Tidak haid maupun nifas bagi wanita / perempuan.
·      Menghilangkan najis yang yang melekat pada tubuh
Selain Syarat sah Tayamum, ada pula Sunah etika melaksanakan Tayamum :
·         Membaca basmalah
·         Menghadap ke arah kiblat
·         Membaca doa ketika selesai tayamum
·         Medulukan kanan dari pada kiri
·         Meniup debu yang ada di telapak tangan
·         Menggodok sela jari setelah menyapu tangan hingga siku

Rukun Tayamum, meliputi :
·           Niat Tayamum
·           Menyapu muka dengan debu atau tanah.
·           Menyapu kedua tangan dengan debu atau tanah hingga ke siku.
Hal-hal yang membatalkan tayamum, antara lain :
1.         Segala sesuatu yang membatalkan wudlu, berlaku pula pada tayamum.
2.         Melihat air. Bagi orang yang bertayamum karena kesulitan mendapatkan air lalu melihat air sebelum masuk waktu sholat maka tayamumnya batal. Apabila seorang yang bermukim bertayamum dan sedang sholat, dan dia melihat air, sholat itu harus diulang. Namun, bila orang itu adalah musafir, sholatnya tidak harus diulang. Apabila seorang bertayamum  karena sakit kemudian ia melihat air, tayamumnya tidak batal dan tetap sah sholatnya.[20]
3.         Murtad, artinya terputus Islamnya.
Bagi orang yang sakit, jika tangannya diperban maka cukup perbannya saja yang diusap debu. Setiap bertayamum hanya berlaku satu kali sholat fardhu, atau satu kali tawaf.



BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pengertian Thaharah adalah tindakan membersihkan atau menyucikan diri dari hadast dan najis. Thaharah atau Bersuci beberapa macam-macamnya adalah wudlu, mandi, dan tayamum.
Wudlu merupakan sebuah rangkaian ibadah bersuci untuk menghilangkan hadas kecil. Wudlu merupakan syarat sah sholat, yang artinya seseorang dinilai tidak sah shalatnya jika dia melakukan tanpa berwudlu. Yang didalamnya ada ketentuan atau syarat-syarat serta rukun dan hal-hal yang merusak wudlu.
Mandi adalah aktivitas mengalirkan air pada seluruh tubuh dengan niat tertentu. Sedangkan tayamum adalah mengusapkan tanah ke muka dan kedua tangan sampai siku dengan beberapa syarat. Tayamum adalah pengganti wudlu atau mandi, sebagai rukhsah (keringanan) untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan (uzur), yaitu Uzur karena sakit, karena dalam perjalanan dan karena tidak ada air.
B.     Saran
1.  Dalam kehidupan sehari-hari tentu umat muslim tidak terlepas dari thaharah atau bersuci yang didalamnya terdapat macam-macamnya seperti wudlu, mandi dan tayamum, untuk itu aplikasikan ilmu sesuai dengan syariat islam, dan tentunya menyempurnakan ibadah kita terhadap Allah swt.
2.  Dalam kehidupan tidaklah semuanya sefaham, dalam ilmu fiqh pun mengenal beberapa mazhab yang terkenal seperti Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’I dan Mazhab Hanbali. Hal ini menyebabkan beberapa perbedaan didalam mazhabnya termasuk perbedaan dalam fiqh ibadah, namun semua itu kembali pada diri setiap individu umat muslim mana yang dipilihnya, karena setiap mazhab sama-sama bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist, dan dibantu pula dengan Ijma’ dan Qiyas.




[1] Djamal Murni, Ilmu Fiqh, Jakarta, 1983, hlm.9.
[2] Allubab Syarh al-Kitab (1/10); dan ad-Dur al-Mukhtar (1/79)
[3] kitab al-Mughni (II/12) karya Ibnu Qudamah dan kitab Taudhiihul Ahkam min Buluughil Maraam karya Abdullah al-Basam (I/87)
[4] Yahya Marjuqi, Panduan Fiqih Imam Syafi’i Ringkasan Kitab Fathul Qarib Al-Mujib, Jakarta, Al-Maghfirah, 2012, hlm. 7.
[5] Al-Ikhtiar jilid 1 halaman 7.
[6] Asy-Syarhushshaghir wal hasyiatu alaihi jilid 1 halaman 104.
[7] Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 47.
[8] Yahya Marjuqi, Panduan Fiqih Imam Syafi’i Ringkasan Kitab Fathul Qarib Al-Mujib, Jakarta, Al-Maghfirah, 2012, hlm. 13.
[9] Yahya Marjuqi, Panduan Fiqih Imam Syafi’i Ringkasan Kitab Fathul Qarib Al-Mujib, Jakarta, Al-Maghfirah, 2012, hlm. 18.
[10] M. Abd. Mujieb, Mabruri Tholhah, Syafi'iyah Am. 1997: 382-383
[11] Yahya Marjuqi, Panduan Fiqih Imam Syafi’i Ringkasan Kitab Fathul Qarib Al-Mujib, Jakarta, Al-Maghfirah, 2012, hlm. 2.
[12] Yahya Marjuqi, Panduan Fiqih Imam Syafi’i Ringkasan Kitab Fathul Qarib Al-Mujib, Jakarta, Al-Maghfirah, 2012, hlm. 3.
[13] Abdul Fatah Idris, abu ahmadi, Fikih Islam Lengkap,Jakarta, Rineka Cipta, hlm.4.
[14] Ilmu Fiqh, Pembina Perguruan Tinggi Agama Islam, 1982, hlm. 40.
[15] Yahya Marjuqi, Panduan Fiqih Imam Syafi’i Ringkasan Kitab Fathul Qarib Al-Mujib, Jakarta, Al-Maghfirah, 2012, hlm. 7.
[16] Bisa membedakan atau sudah berakal.
[17] kata takhrij berasal dari kata kharaja-yukhariju-takhrijan yang artinya menampakkan, mengeluarkan, menerbitkan, menyebutkan, dan menumbuhkan. Maksudnya, menampakkan sesuatu yang tidak atau sesuatu yang masih tersembunyi. Penampakan dan pengeluaran di sini tidak mesti berbentuk fisik, tetapi mencakup nonfisik yang hanya memerlukan tenaga dan pikiran seperti makna kata istikhraj yang berarti mengeluarkan hukum dari nash al-Qur’an dan hadits.
[18] Yahya Marjuqi, Panduan Fiqih Imam Syafi’i Ringkasan Kitab Fathul Qarib Al-Mujib, Jakarta, Al-Maghfirah, 2012, hlm. 13.
[19] HR. Imam Muslim, dalam shahih Muslim, Kitab Al-Haidh, dalam bab Bayan Anna Al-Ghusla Yajibu bi Al-Jima’
[20] Yahya Marjuqi, Panduan Fiqih Imam Syafi’i Ringkasan Kitab Fathul Qarib Al-Mujib, Jakarta, Al-Maghfirah, 2012, hlm. 20.

Demikianlah materi tentang Makalah Thaharah yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak Makalah Wakaf  yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.


EmoticonEmoticon