Saturday, January 13, 2018

Makalah Askep Difteri

Makalah Askep Difteri - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :


Makalah Askep Difteri

BAB I
PENDAHULUAN
                                    

A.    Latar Belakang
Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease). Penyakit ini  disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae, yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, nasofaring (bagian antara hidung dan faring/ tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui kontak hubungan dekat, melalui udara yang tercemar oleh karier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita.

Penderita difteri umumnya anak-anak, usia di bawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian. Selama permulaan pertama dari abad ke-20, difteri merupakan penyebab umum dari kematian bayi dan anak - anak muda. Penyakit ini juga dijumpai pada daerah padat penduduk dengan tingkat sanitasi rendah. Oleh karena itu, menjaga kebersihan sangatlah penting, karena berperan dalam menunjang kesehatan kita.



B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Makalah ini dimaksudkan agar mahasiswa/i dapat memahami asuhan keperawatan pada klien (anak) dengan gangguan difteri
2.      Tujuan Khusus
a)      Dapat memahami pengertian difteri
b)      Dapat memahami etiologi difteri
c)      Dapat memahami patofisiologi difteri
d)     Dapat memahami manifestasi klinis dari difteri
e)      Dapat memahami pemeriksaan medis dari difteri
f)       Dapat memahami penatalaksanaan medis dari difteri
g)      Dapat memahami komplikasi dari difteri
h)      Dapat memahami dan menerapkan asuhan keperawatan anak dengan gangguan difteri

C.    Manfaat Penulisan
Dengan adanya makalah ini diharapkan bagi pendidikan bisa menambah referensi dan pengetahuan, bagi tenaga medis khususnya keperawatan bisa memahami dan menerapkan asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan difteri.

D.    Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara sistematika dan dijabarkan dalam 3 BAB, yaitu :
BAB I          :Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan, ruang lingkup, metode penulisan dan sistematika penulisan
BAB II         :Tinjauan teoritis yang terdiri dari pengertian, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medis, pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
BAB III       :Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran










BAB II
TINJAUAN TEORITIS

I.       Konsep Dasar Medis
A.    Definisi
Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksik (racun) Corynebacterium diphteriae. (Iwansain.2008). Difteri adalah infeksi saluran pernafasan yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae dengan bentuk basil batang gram positif (Jauhari,nurudin. 2008). Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil racun Corynebacterium diphteriae. (Fuadi, Hasan. 2008).

Jadi kesimpulannya difteri adalah penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae.
B.     Etiologi
Penyebabnya adalah Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi  oleh bakteri. Biasanya bakteri ini berkembangbiak pada atau disekitar selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Pewarnaan sediaan langsung dapat dilakukan dengan biru metilen atau biru toluidin. Basil ini dapat ditemukan dengan sediaan langsung dari lesi.
C.  Patofisiologi (Ngastiyah, 1997)
Basil hidup dan berkembangbiak pada traktus respiratorius bagian atas terutama bila terdapat  peradangan kronis pada tonsil, sinus, dan lain-lain. Selain itu dapat juga pada vulva, kulit, mata, walaupun jarang terjadi. Pada tempat-tempat tersebut basil membentuk pseudomembran dan melepaskan eksotoksin. Pseudomembran timbul lokal kemudian menjalar kefaring, tonsil, laring, dan saluran nafas atas. Kelenjar getah bening sekitarnya akan membengkak dan mengandung toksin. Eksotoksin bila mengenai otot jantung akan menyebabkan miokarditis toksik atau jika mengenai jaringan saraf perifer sehingga timbul paralysis terutama otot-otot pernafasan. Toksin juga dapat menimbulkan nekrosis fokal pada hati dan ginjal, yang dapat menimbulkan nefritis interstitialis. Kematian pasien difteria pada umumnya disebabkan  oleh terjadinya sumbatan jalan nafas akibat pseudomembran pada laring dan trakea, gagal jantung karena miokardititis, atau gagal nafas akibat terjadinya bronkopneumonia.
Penularan penyakit difteria adalah melalui udara (droplet infection), tetapi dapat juga melalui perantaraan alat atau benda yang  terkontaminasi oleh kuman difteria.Penyakit dapat mengenai bayi tapi kebayakan pada anak usia balita. Penyakit Difteria dapat berat atau ringan bergantung dari virulensi, banyaknya basil, dan daya tahan tubuh anak. Bila ringan hanya berupa keluhan sakit menelan dan akan sembuh sendiri serta dapat menimbulkan kekebalan pada anak jika daya tahan tubuhnya baik.
Menurut Iwansain, 2008 :

Kuman difteri masuk dan berkembang biak pada saluran nafas atas, dan dapat juga pada vulva, kulit, mata.


Kuman membentuk pseudomembran dan melepaskan eksotoksin. Pseudomembran timbul lokal dan menjalar dari faring, laring, dan saluran nafas atas. Kelenjar getah bening akan tampak membengkak dan mengandung toksin.


Bila eksotoksin mengenai otot jantung akan mengakibatkan terjadinya miokarditis dan timbul paralysis otot-otot pernafasan bila mengenai jaringan saraf.


Sumbatan pada jalan nafas sering terjadi akibat dari pseudomembran pada laring dan trakea dan dapat menyebabkan kondisi yang fatal


D.  Manifestasi Klinis
1.      Demam, suhu tubuh meningkat sampai 38,9 derjat Celcius,
2.      Batuk dan pilek yang ringan.
3.      Sakit dan pembengkakan pada tenggorokan
4.      Mual, muntah , sakit kepala.
5.      Adanya pembentukan selaput di tenggorokan berwarna putih ke abu abuan kotor.
6.      Kaku leher

E.  Pemeriksaan Diagnostik
    1. Pemeriksaan laboratorium: Apusan tenggorok terdapat kuman Corynebakterium difteri (Buku kuliah ilmu kesehatan anak, 1999).
    2.  Pada pemeriksaan darah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan leukositosis polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit, dan kadar albumin. Pada urin terdapat albuminuria ringan (Ngastiyah, 1997).
    3. Pemeriksaan bakteriologis mengambil bahan dari membrane atau bahnan di bawah membrane, dibiak dalam Loffler, Tellurite dan media blood ( Rampengan, 1993 ).
    4. Lekosit dapat meningkat atau normal, kadang terkadi anemia karena hemolisis sel darah merah (Rampengan, 1993 )
    5. Pada neuritis difteri, cairan serebrospinalis menunjukkan sedikit peningkatan protein (Rampengan, 1993 ).
    6. Schick Tes: tes kulit untuk menentukan status imunitas penderita, suatu pemeriksaan swab untuk mengetahui apakah seseorang telah mengandung antitoksin.





F.     Penatalaksanaan Medis
Pengobatan umum dengan perawatan yang baik, isolasi dan pengawasan EKG yang dilakukan pada permulan dirawat satu minggu kemudian dan minggu berikutnya sampai keadaan EKG 2 kali berturut-turut normal dan pengobatan spesifik. Pengobatan spesifik untuk difteri :
1.    ADS (Antidifteri serum), 20.000 U/hari selama 2 hari berturut-turut dengan sebelumnya harus dilakukan uji kulit dan mata.
a.    TEST ADS
ADS 0,05 CC murni dioplos dengan aquades 1 CC.
Diberikan 0,05 CC à intracutan Tunggu 15 menit à indurasi dengan garis tengah 1 cm à (+)
b.   CARA PEMBERIAN
Test Positif à BESREDKA
Test Negatif à secara DRIP/IV
c.    Drip/IV
200 CC cairan D5% 0,225 salin. Ditambah ADS sesuai kebutuhan. Diberikan selama 4 sampai 6 jam à observasi gejala cardinal.
2.    Antibiotik, diberikan penisillin prokain 5000U/kgBB/hari sampai 3 hari bebas demam. Pada pasien yang dilakukan trakeostomi ditambahkan kloramfenikol 75mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis.
3.    Kortikosteroid, untuk mencegah timbulnya komplikasi miokarditis yang sangat membahayakan, dengan memberikan predison 2mg/kgBB/hari selama 3-4 minggu. Bila terjadi sumbatan jalan nafas yang berat dipertimbangkan untuk tindakan trakeostomi. Bila pada pasien difteri terjadi komplikasi paralisis atau paresis otot, dapat diberikan strikin ¼ mg dan vitamin B1 100 mg tiap hari selama 10 hari.





G.    Komplikasi
Racun difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, sistem saraf, ginjal ataupun organ lainnya:
1.      Miokarditis bisa menyebabkan gagal jantung
2.      Kelumpuhan saraf atau neuritis perifer menyebabkan gerakan menjadi tidak terkoordinasi dan gejala lainnya (timbul dalam waktu 3-7 minggu.
3.      Kerusakan saraf yang berat bisa menyebabkan kelumpuhan
4.      Kerusakan ginjal (nefritis).



II.   Konsep Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan Gangguan Difteri
A.    Pengkajian
1.    Biodata
a.       Umur : Biasanya terjadi pada anak-anak umur 2-10 tahun dan jarang ditemukan pada bayi  berumur dibawah 6 bulan dari pada orang dewasa diatas 15 tahun
b.      Suku bangsa : Dapat terjadi diseluruh dunia terutama di negara-negara miskin
c.       Tempat tinggal :  Biasanya terjadi pada penduduk di tempat-tempat pemukiman yang rapat-rapat, higine dan sanitasi jelek dan fasilitas kesehatan yang kurang
2.    Keluhan Utama
Klien marasakan demam yang tidak terlalau tinggi, lesu, pucat, sakit kepala, anoreksia, lemah
3.    Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengalami demam yang tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, sakit kepala, anoreksia
4.    Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengalami peradangan kronis pada tonsil, sinus, faring, laring, dan saluran nafas atas dan mengalami pilek dengan sekret bercampur darah
5.    Riwayat Penyakit Keluarga
Adanya keluarga yang mengalami difteri
6.    Pola Fungsi Kesehatan
a.    Pola nutrisi dan metabolism
Jumlah asupan nutrisi kurang disebabkan oleh anoraksia
b.    Pola aktivitas
Klien mengalami gangguan aktivitas karena malaise dan demam
c.    Pola istirahat dan tidur
Klien mengalami sesak nafas sehingga mengganggu istirahat dan tidur

d.   Pola eliminasi
Klien mengalami penurunan jumlah urin dan feses karena jumlah asupan nutrisi kurang disebabkan oleh anoreksia
7.    Pemeriksaan fisik
a.    Pada diptheria tonsil – faring
                                                  1)     Malaise
                                                  2)     Suhu tubuh < 38,9 º c
                                                  3)     Pseudomembran ( putih kelabu ) melekat dan menutup tonsil dan
                                                  4)     dinding faring
                                                  5)     Bulneck
b.    Diptheriae laring
                                                  1)          Stridor
                                                  2)          Suara parau
                                                  3)          Batuk kering
                                                  4)          Pada obstruksi laring yang berat terdpt retraksi suprasternal, sub costal dan supraclavicular
c.    Diptheriae hidung
                                                  1)          Ringan
                                                  2)          Sekret hidung serosanguinus à mukopurulen
                                                  3)          Lecet pada nares dan bibir atas
                                                  4)          Membran putih pada septum nasi

B.     Diagnosa Keperawatan (Doengoes, E Marylin,2000)
1.    Pola nafas napas tidak efektif b/d edema laring.
2.    Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia.
3.    Nyeri akut b/d proses inflamasi.






C.    Intervensi

Diagnosa
Intervensi
Rasional
Pola nafas napas tidak efektif b/d edema laring.

.      Mandiri
1.      Observasi tanda – tanda vital.
2.      Posisikan pasien semi fowler.
3.      Anjurkan pasien agar tidak terlalu banyak bergerak.
Kolaborasi
4.      Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi Oxygen


1.      untuk mengetahui keadaan umum pasien
2.      Agar  pasien merasa lebih nyaman
3.      Agar sesak tidak bertambah

4.      Mempertahankan kebutuhan oksigen yang maksimal bagi pasien

Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia
Mandiri
1.      Monitor intake kalori dan kualitas konsumsi makanan
2.      Berikan porsi kecil dan makanan lunak/lembek.
3.      Berikan makan sesuai dengan selera.
4.      Timbang BB tiap hari

1.      Untuk mengetahui pemasukan atau intake makanan.
2.      Makanan dalam porsi kecil mudah dikonsumsi oleh klien dan mencegah terjadinya anoreksia.
3.      Meningkatkan intake makanan.

4.      Mengetahui kurangnya BB dan efektifitas nutrisi yang diberikan
Nyeri akut b/d proses inflamasi
Mandiri
1.    Lakukan pengkajian nyeri secara menyeluruh meliputi lokasi, durasi, frekuensi, kualitas, keparahan nyari dan factor pencetus nyeri
2.    Observasi ketidaknyamanan non verbal
3.    Ajarkan untuk menggunakan teknik non farmakologi misal relaksasi, guided imageri, terapi musik dan distraksi







4.    Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan misal suhu, lingkungan, cahaya, kegaduhan.
Kolaborasi:
5.    pemberian analgetik sesuai indikasi

1.      untuk mengetahui lokasi nyeri dan derajat nyeri, sehingga dapat dilakukan pengobatan yang tepat.
2.      Agar dapat mengetahui tingkat nyeri pada pasien.
3.      Relaksasi dapat merelaksasi otot – otot sehingga nyeri dapat berkurang dan pasien bisa rileks.




4.      Lingkungan yang tenang dapat menjadikan pasien dapat istirahat.
5.      Agar nyeri berkurang dan pasien cepat sembuh


D.    Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien

E.     Evaluasi Keperawatan
1.    Pola napas efektif
2.    Nyeri berkurang atau hilang






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksik (racun) Corynebacterium diphteriae.

B.     Saran
1.      Bagi Mahasiswa/i
Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam memberikan pelayanan keperawatan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Bagi petugas Kesehatan
Diharapkan dengan makalah ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang keperawatan sehingga dapat memaksimalkan kita untuk memberikan health education untuk mencegah infeksi















DAFTAR PUSTAKA


Stephen S. tetanus edited by.Behrman, dkk. Dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson Hal.1004-07. Edisi 15-Jakarta : EGC, 2000
Merdjani, A., dkk. 2003. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis.Badan Penerbit IDAI, Jakarta.
Dr. Rusepno Hasan, dkk. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid II. Hal 568-72.. Cetakan kesebelas Jakarta: 2005


Demikianlah materi tentang Makalah Askep Difteri yang sempat kami berikan dapat bermanfaat. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak Makalah Asuransi Syariah yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.


EmoticonEmoticon