Friday, January 5, 2018

Makalah Bullying

Makalah Bullying - Jika dalam postingan ini, anda kurang mengerti atau susunanya tidak teratur, anda dapat mendownload versi .doc makalah berikut :



Makalah Bullying
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan izin dan kekuatan kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Bullying di Kalangan Remaja” tepat pada waktunya.
Tugas ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata pelajaran Sosiologi. Dan juga saya mengucapkan terimakasih kepada:
1.      Bu Tinuk selaku pembimbing dalam penyusunan karya ilmiah sosiologi.
2.      Orang tua yang selalu mendukung dalam pengerjaan karya ilmiah.
3.      Teman-teman dan semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu yang membantu kelancaran dalam penyusunan karya ilmiah ini.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan wawasan saya. Oleh sebab itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan makalah ini. Saya berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat. Amin.


Sidoarjo, 13 Juni 2014


Savira Sanya K A






DAFTAR ISI

1.      KATA PENGANTAR………………………………………………………….......
1
2.      DAFTAR ISI……………………………………………………………………….
2
3.      BAB I (PENDAHULUAN)………………………………………………………..
3
1.1.      Latar Belakang………………………………………………………………..
3
1.2.      Tujuan…………...……………………………………………………………
3
4.      BAB II (LANDASAN TEORI)..…………………………………………………...
4-11 
2.1.      Pengertian Bullying……….………………………………………………….
4-5
2.2.      Cyberbullying………………………….……………………………………..
5-6
2.3.      Penyebab Bullying……………………………………………………………
6
2.4.      Dampak Bullying……………………………………………………………..
7-8
2.5.      Cara Mengatasi Bullying……………………………………………………..
8-10
2.6.      Pentingnya Bimbingan Konseling di Sekolah………………………………..
10-11
5.      BAB III (PEMBAHASAN)………………………………………………………...
12-13
6.      BAB IV (PENUTUP)………………………………………………………………
14
4.1.      Kesimpulan…………………………………………………………………...
14
4.2.      Usul dan Saran………………………………………………………………..
14
5.      DAFTAR PUSTAKA….…………………………………………………………...
15
6.      LAMPIRAN………………………………………………………………………..
16-18




BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Akhir-akhir ini kasus akibat kekerasan makin sering ditemui, seperti perkelahian atau tawuran antar pelajar. Selain tawuran antar pelajar, sebenarnya ada bentuk-bentuk perilaku kekerasan oleh siswa yang tidak begitu mendapat perhatian, seperti pengucilan teman dan pemalakan terhadap teman, yang biasa disebut dengan bullying. Bullying ini dapat dilakukan secara fisik maupun non fisik. Bullying juga dapat dilakukan melalui apa saja, media social maupun dilakukan secara langsung. Hal ini dapat mengakibatkan pelajar malas atau trauma untuk pergi ke sekolah dan berinteraksi karena takut akan hal-hal seperti itu. Hal ini sangat berbahaya karena dapat merugikan korban bullying dan bahkan dapat menyebabkan korban bunuh diri atau kematian terhadap korban. Sehingga, masalah bullying yang marak terjadi sekarang ini seharusnya mendapat perhatian khusus.

1.2. TUJUAN
1.   Mempengaruhi masyarakat untuk tidak melakukan bullying.
2.   Menyadarkan masyarakat untuk memberikan perhatian khusus terhadap aksi bullying.




BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. PENGERTIAN BULLYING
Bullying berasal dari kata bully yang berarti menggertak dan mengganggu. Riauskina, Djuwita, dan Soesetio mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif kekuasaan terhadap siswa yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/kelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa lain yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebut.
Bullying kemudian dikelompokkan menjadi 5 kategori, antara lain :
1.      Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimliki orang lain).
2.      Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name–calling), sarkasme, merendahkan (put-down), mencela/mengejek, mengintimidsi, mengejek, menyebarkan gosip).
3.      Perlaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal).
4.      Perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
5.      Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Definisi lain tentang bullying dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.       Bullying adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok, sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya.
b.      Bullying sebagai penggunaan agresi dalam bentuk apapun yang bertujuan menyakiti ataupun menyudutkan orang lain secara fisik maupun mental. Bullying dapat berupa tindakan fisik,verbal, emosional, dan juga seksual.
c.       Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikologis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih lemah oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersiakannya lebih kuat.
Terjadinya bullying di sekolah menurut Salmivalli dan kawan-kawan merupakan proses dinamika kelompok dan di dalamnya ada pembagian peran. Peran-peran tersebut adalah bully, asisten bully, reinfocer, defender, dan outsider.
Bully yaitu siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin, berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying.
Asisten bully, juga terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun ia cenderung bergantung atau mengikuti perintah bully.
Rinfocer adalah mereka yang ada ketika kejadian bullying terjadi, ikut menyaksikan, mentertawakan korban, memprofokasi bully, mengajak siswa lain untuk menonton dan sebagainya.
Defender adalah orang-orang yang berusaha membela dan membantukorban, sering kali akhirnya mereka menjadi korban juga.
Outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak melaukan apapun, seolah-olah tidak peduli.

2.2. CYBERBULLYING
Cyber bullying adalah segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia cyber atau internet. Cyber bullying adalah kejadian manakala seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet, teknologi digital atau telepon seluler. Bentuk dan metode tindakan cyber bullying amat beragam. Bisa berupa pesan ancaman melalui e-mail, mengunggah foto yang mempermalukan korban, membuat situs web untuk menyebar fitnah dan mengolok-olok korban hingga mengakses akun jejaring sosial orang lain untuk mengancam korban dan membuat masalah. Motivasi pelakunya juga beragam.Ada yang melakukannya karena marah dan ingin balas dendam, frustrasi, ingin mencari perhatian bahkan ada pula yang menjadikannya sekedar hiburan pengisi waktu luang.Tidak jarang, motivasinya kadang-kadang hanya ingin bercanda.
Cyber bullying yang berkepanjangan bisa mematikan rasa percaya diri anak, membuat anak menjadi murung, khawatir, selalu merasa bersalah atau gagal karena tidak mampu mengatasi sendiri gangguan  yang menimpanya. Bahkan ada pula korban cyber bullying yang berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena tak tahan lagi diganggu! Remaja korban cyber bullying akan mengalami stress yang bisa memicunya melakukan tindakan-tindakan rawan masalah seperti mencontek, membolos, lari dari rumah, dan bahkan minum minuman keras atau menggunakan narkoba.
Anak-anak atau remaja pelaku cyber bullying biasanya memilih untuk menganggu anak lain yang dianggap lebih lemah, tak suka melawan dan tak bisa membela diri. Pelakunya sendiri biasanya adalah anak-anak yang ingin berkuasa atau senang mendominasi.Anak-anak ini biasanya merasa lebih hebat, berstatus sosial lebih tinggi dan lebih populer di kalangan teman-teman sebayanya. Sedangkan korbannya biasanya anak-anak atau remaja yang sering diejek dan dipermalukan karena penampilan mereka, warna kulit, keluarga mereka, atau cara mereka bertingkah laku di sekolah. Namun  bisa juga si korban cyber bullying justru adalah anak yang populer, pintar, dan menonjol di sekolah sehingga membuat iri teman sebayanya yang menjadi pelaku.
Cyber bullying lebih mudah dilakukan daripada kekerasan konvensional karena si pelaku tidak perlu berhadapan muka dengan orang lain yang menjadi targetnya. Mereka bisa mengatakan hal-hal yang buruk dan dengan mudah mengintimidasi korbannya karena mereka berada di belakang layar komputer atau menatap layar telelpon seluler tanpa harus melihat akibat yang ditimbulkan pada diri korban. Peristiwa cyber bullying juga tidak mudah diidentifikasikan orang lain, seperti orang tua atau guru karena tidak jarang anak-anak remaja ini juga mempunyai kode-kode berupa singkatan kata atau emoticon internet yang tidak dapat dimengerti selain oleh mereka sendiri.


2.3. PENYEBAB BULLYING
Banyak sekali factor mengapa seseorang melakukan bullying. Pada umumnya orang melakukan bullying karena merasa tertekan, terancam, terhina, dendam, dan lain sebagainya. Bullying disebabkan oleh korban dari keadaan lingkungan yang membentuk kepribadiannya menjadi agresif dan kurang mampu mengendalikan emosi, seperti lingkungan rumah yang tidak harmonis karena adanya pertengkaran orangtua atau broken home, kekerasan yang dilakukan orangtua terhadap anaknya, perlakuan orangtua yang terlalu mengekang anaknya.
Sementara itu Psikolog Clara Wriswanto dari Jagadnita Counseling mengemukakan bahwa penyebab seseorang menjadi pelaku “bullying” bisa dari berbagai faktor seperti orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, keadaan keluarga yang berantakan sehingga diri anak tersisihkan, atau hanya karena anak tersebut meniru perilaku “bullying” dari kelompok pergaulannya serta tayangan bernuansa kekerasan di internet atau televisi.
Selain itu, lingkungan sekitar rumah juga berpengaruh besar terhadap perilaku bullying ini, misalnya anak hidup pada lingkungan orang yang suka berkelahi atau bermusuhan, berlaku tidak sesuai norma yang ada, maka akan mudah meniru perilaku dari lingkungan tersebut dan merasa tidak bersalah.
Lingkungan sekolah juga bisa menjadi factor penyebab aksi bullying, misalnya guru berbuat kasar terhadap siswa, guru yang kurang memperhatikan kondisi anak, teman yang sering mengejek atau menghina, dan lain sebagainya.
Faktor lain yang berpengaruh cukup kuat terhadap anak untuk berbuat bullying yaitu adanya tayangan televisi yang sering mempertontonkan kekerasan  dalam sinetron atau film atau acara lain seperti acara sidik, berita utama dan lain sebagainya.


2.4. DAMPAK BULLYING
Menurut Psikolog Ratna Juwita, siswa korban bullying akan mengalami permasalhan kesulitan dalam membina hubungan interpersonal dengan orang lain dan jarang datang ke sekolah. Akibatnya, mereka (korban bullying) ketinggalan pelajaran dan sulit berkonsentrasi dalam belajar sehingga hal tersebut mempengaruhi kesehatan fisik dan mental baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Beberapa hal yang bisa menjadi indikasi awal bahwa anak mungkin sedang mengalami bullying di sekolah :
·         Kesulitan untuk tidur
·         Mengompol di tempat tidur
·         Mengeluh sakit kepala atau perut
·         Tidak nafsu makan atau muntah-muntah
·         Takut pergi ke sekolah
·         Sering perg ke UKS
·         Menangis sebelum atau sesudah bersekolah
·         Tidak tertarik pada aktivitas sosial yang melibatkan murid lain
·         Sering mengeluh sakit sebelum pergi ke sekolah
·         Sering mengeluh sakit pada gurunya, dan ingin orang tua ingin segera
·         menjemput pulang.
·         Harga diri yang rendah
·         Perubahan drastis pada sikap, cara berpakaian, atau kebiasaannya
·         Lecet luka
Dari penelitian Riauskima dkk mengemukakan ketika mengalami bullying korban merasakan banyak emosi negatif seperti marah, dendam, kesal, tertekan,takut, malu dan sedih).Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri dan gejala-gejala gangguan stres pasca trauma (post trumatic stress disoder). Anak yang menjadi korban bullying atau tindakan kekerasan fisik, verbal ataupun psikologis di sekolah akan mengalami trauma besar dan depresi yang akhirnya bisa menyebabkan gangguan mental di masa yang akan datang. Gejala-gejala kelainan mental yang biasanya muncul pada masa kanak-kanak secara umum terbukti anak tumbuh menjadi orang yang pencemas, sulit berkonsentrasi, mudah gugup dan takut, hingga tak bisa bicara.
Beberapa hal yang menjadi tanda-tanda anak korban bullying :
·         Kesulitan dalam bergaul
·         Merasa takut datang ke sekolah sehingga sering bolos
·         Ketinggalan pelajaran
·         Mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran
·         Kesehatan fisik dan mental (jangka pendek/jangka panjang) akan terpengaruh

2.5. CARA MENGATASI BULLYING
Pencegahan agar anak tidak menjadi pelaku bullying orang tua harus mampu mengembangkan kecerdasan emosional anak sejak dini. Ajarkan anak untuk memliki rasa empati, menghargai orang lain, dan menyadarkan sang anak bahwa dirinya adalah mahluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya.
Pemerintah seharusnya memiliki program yang tegas, jelas, dan terarah. Kalau kita diam saja, maka itu sama saja melegalkan tradisi dendam di sekolah tersebut.
Untuk mengatasi dan mencegah masalah bullying diperlukan kebijakan yang bersifat menyeluruh di sekolah, sebuah kebijakan yang melibatkan komponen dari guru sampai siswa, dari kepala sekolah sampai orang tua murid, kerja sama antara guru,orang tua dan masyarakat atau pihak lain yang terkait seperti kepolisian, aparat hukum dan sebagainya.
Peran orang tua di rumah harus mampu menciptakan komunikasi yang baik dengan anak-anak dan membekali anak dengan pemahaman agama yang cukup dan menanamkan ahlakul karimah yang selalu dilaksanakan di lingkungan rumah, karena anak akan selalu meniru perilaku orangtua. Pemberian teladan kepada anak akan lebih baik dari memberi nasihat.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh sekolah ialah membuat sebuah program anti bullying di sekolah. Meurut Huneck bullying akan terus terjadi di sekolah-sekolah, apabila orang dewasa tidak dapat membina hubungan saling percaya dengan siswa, tidak menyadari tingkah laku yang masuk tindakan bullying, tidak menyadari luka yang disebabkan oleh bullying, tidak menyadari dampak bullying yang merusak kegiatan belajar siswa, serta tidak ada campur tangan secara efektif dari sekolah. Adapun kegunaan dari program serta kegiatan anti bully di sekolah antara lain:
·         Menanamkan pengertian bahwa rasa aman adalah hak dan milik semua orang
·         Menyadarkan semua orang di sekolah bahwa tindakan bullying dalam bentuk apapun tidak dapat ditolelir
·         Membekali siswa untuk membuat keputusan
·         Membantu siswa membentuk lingkaran orang yang mereka percayai
Kegiatan yang dapat dilakukan selama program ini, antara lain :
1.      Brainstorming dan diskusi
2.      Kegiatan menggunakan lembar kerja
3.      Membaca buku cerita yang berhubungan dengan bullying
4.      Membuat gambar, kolase, poster mengenai pencegahan bullying
5.      Bermain drama
6.      Berbagi cerita dengan orang tua di rumah
7.      Menulis puisi
8.      Menyanyikan lagu anti bullying dengan lirik yang sudah di rubah dari lagu populer
9.      Bermain teater boneka
Beberapa tips mencegah terjadinya bullying :
1.      Berikan mereka alternatif komunitas yang mengakuinya
Pada dasarnya setiap manusia membutuhkan pengakuan atas keberadaan dirinya, terlebih pada usia remaja yang sedang dalam masa transisi dan krisis identitas, para remaja lebih senang berkumpul dengan teman-teman sebaya yang menurutnya lebih bisa menerima dan senasib dan sepenanggungan. Oleh karena itu kewajiban kita untuk memberikan alternatif komunitas yang positif dan tetap memenuhi kriteria penerimaan identitas para remaja, misalnya buat perkumplan pecinta alam atau wira usaha yang sesuai dengan keiginannya. Membuat kelompok band, atau kelompok kesenian dan sebagainya.
2.      Putus mata rantai pelaku dan budaya bullying
Biasanya budaya bullying diwariskan dengan sistem kaderisasi yang kuat, motivasi senioritas adalah faktor yang terkuatnya. Untuk menghindari gejala tersebut sebaiknya bimbinglah para remaja dengan cara mengadakan kegiatan bersama antara generasi tersebut maupun alumninya dan buatlah suatu ikatan supaya terbentuk jalinan. Persaudaraan yang akan melahirkan kesadaran bahwa senior harus membimbing dan para junior harus menghormati seniornya.
3.      Ajarkan cara mengantisipasi kekerasan bukan melakukannya
Latihan bela diri misalnya merupakan salah satu alternatif pembentukan mental spiritual dan jasmani yang kuat.
4.      Tingkatkan kepedulian lingkungan sosial untuk mencegah praktek bullying
Sudah waktunya masyarakat ikut peduli dan melakukan pencegahan atas praktek bullying yang terjadi di lingkungannya.
5.      Dukung gerakan diet siaran televisi
Batasi anak-anak dan remaja menonton televisi, karena acara dan penampilan yang disiarkan televisi ikut membentuk masyarakat pengaksesnya.

Berikut merupakan saran bagi anak yang berisiko terkena bullying :
·         Jangan membawa barang mahal-mahal dan uang berlebihan.
·         Jangan sendirian. Kalau memungkinkan, beradalah di lingkungan yang dekat dengan guru atau orang dewasa lainnya yang dapat mengawasi anda. Atau lebih baik jika anda bersama teman-teman.
·         Jangan cari gara-gara dengan pelaku bullying.
·         Jika suatu saat menjadi korban bullying, kuncinya adalah tetaplah percaya diri.
·         Anda harus berani melapor kepada guru, orang tua, atau orang dewasa lainnya yang anda percayai.

Pihak kepolisian bekerja sama dengan sekolah dengan cara mengadakan penyuluhan ke sekolah sekolah tentang bahaya dari bullying, dan memberikan sanksi dari mulai yang ringan seperti di skors beberapa waktu sampai dengan pemecatan dari sekolah. Begitu juga kerja sama dengan pihak kehakiman bagaimanakah proses persidangan, tuntutan serta keputusan yang akan dan telah diambil bagi pelaku bullying itu. Bagi pelaku bullying dari pihak guru, sekolah atau pihak- pihak lain jangan ragu-ragu untuk menindak dengan tegas supaya keadilan dapat di tegakkan di negeri ini dan guru tersadar atas semua kesalahannya, sehingga tidak terjadi lagi korban-korban bullying berikutnya.

2.6. PENTINGNYA BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH
Depdikbud menjelaskan bahwa tujuan layanan bimbingan di sekolah dasar adalah untuk membantu siswa agar dapat memenuhi tugas –tugas perkembangan yang meliputi aspek-aspek pribadi, pendidikan dan karir sesuai tuntutan lingkungan.
Dalam aspek perkembangan social pribadi, layanan bimbingan membantu siswa agar :
a.       Memiliki pemahaman diri.
b.      Mengembangkan sikap positif.
c.       Membuat pilihan kegiatan secara sehat.
d.      Mampu menghargai orang lain.
e.       Memiliki rasa tanggung jawab.
f.       Mengembangkan ketrampilan hubungan antar pribadi.
g.      Dapat menyelesaikan masalah.
h.      Dapat membantu membuat keputusan secara baik.
Dalam aspek perkembangan pendidikan, layanan bimbingan membantu siswa agar :
a.       Melaksanakan cara-cara belajar yang benar.
b.      Menetapkan rencana dan tujuan pendidikan.
c.       Mencapai prestasi belajar secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
d.      Memiliki ketrampilan untuk menghadapi ujian.
Selanjutnya Rochman Natawidjaja mengemukakan bahwa peran bimbingan seorang guru sebagai penyesuaian interaksional dalam proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai perlakuan guru terhadap siswa dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)      Perlakuan terhadap siswa sebagai individu yang memliki potensi untuk berkembang dan maju serta mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk mandiri.
2)      Sikap positif dan wajar terhadap siswa. Dalam melaksanakan peran bimbingan itu guru tidak menjauhkan diri dari siswa, tetapi tidak pula terikat secara sentimentil kepada siswa.
3)      Perlakuan terhadap siswa secara hangat, ramah, rendah hati, dan menyenangkan
4)      Pemahaman siswa secara empatik
5)      Penghargaan terhadap martabat siswa sebagai individu
6)      Penampilan diri secara asli di depan siswa
7)      Kekongkritan dalam menyatakan diri
8)      Penerimaan siswa secara apa adanya
9)      Perlakuan terhadap siswa secara permisive
10)  Kepekaan terhadap perasaan yang dinyatakan oleh siswa dalam membantu siswa untuk menyadari perasaannya itu.
11)  Kesadaran bahwa tujuan mengaja bukan terbatas pada penguasaan siswa terhadap bahan pengajaran saja, melainkan menyangkut pengembangan siswa menjadi individu yang lebih dewasa.
12)  Penyesuaian diri terhadap keadaan siswa yang khusus. Penyesuaian perilaku guru terhadap situasi yang khusus adalah sangat penting untuk memperoleh hasil belajar pada diri siswa, sesuai dengan yang diinginkannya. Jadi, efektifitas mengajar itu sangat tergantung pada kemampuan guru untuk menyesuaikan diri pada situasi khusus.




BAB III
PEMBAHASAN

Bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Bullying tidak hanya dilakukan secara langsung. Namun, bullying juga dapat dilakukan melalui media social atau internet, yang disebut Cyberbullying.
Jenis bullying ada 5 kategori, antara lain :
1)      Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimliki orang lain).
2)      Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name–calling), sarkasme, merendahkan (put-down), mencela/mengejek, mengintimidsi, mengejek, menyebarkan gosip).
3)      Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal).
4)      Perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).
5)      Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).
Pada umumnya orang melakukan bullying karena merasa tertekan, terancam, terhina, dendam, dan lain sebagainya. Bullying disebabkan oleh korban dari keadaan lingkungan yang membentuk kepribadiannya menjadi agresif dan kurang mampu mengendalikan emosi. Faktor lain yang berpengaruh cukup kuat terhadap anak untuk berbuat bullying yaitu adanya tayangan televisi yang sering mempertontonkan kekerasan  dalam sinetron atau film atau acara lain seperti acara sidik, berita utama dan lain sebagainya. Pencegahan agar anak tidak menjadi pelaku bullying orang tua harus mampu mengembangkan kecerdasan emosional anak sejak dini. Sekolah dan pemerintah juga harus bersikap tegas dalam menghadapi bullying. Sekolah dapat mengadakan program anti bullying.
Bimbingan konseling juga berperan penting dalam mencegah bullying. Bimbingan konseling dapat membantu supaya siswa :
a)      Memiliki pemahaman diri.
b)      Mengembangkan sikap positif.
c)      Membuat pilihan kegiatan secara sehat.
d)     Mampu menghargai orang lain.
e)      Memiliki rasa tanggung jawab.
f)       Mengembangkan ketrampilan hubungan antar pribadi.
g)      Dapat menyelesaikan masalah.
h)      Dapat membantu membuat keputusan secara baik.
i)        Melaksanakan cara-cara belajar yang benar.
j)        Menetapkan rencana dan tujuan pendidikan.
k)      Mencapai prestasi belajar secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
l)        Memiliki ketrampilan untuk menghadapi ujian.




BAB IV
PENUTUP

4.1. KESIMPULAN
Bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Bullying tidak hanya dilakukan secara langsung. Namun, bullying juga dapat dilakukan melalui media social atau internet, yang disebut Cyberbullying. Bullying dibagi menjadi 5 kategori, diantaranya kontak fisik langsung, kontak verbal langsung, perilaku non-verbal langsung, perilaku non-verbal tidak langsung, dan pelecehan seksual.
Pada umumnya orang melakukan bullying karena merasa tertekan, terancam, terhina, dendam, dan lain sebagainya. Bullying disebabkan oleh korban dari keadaan lingkungan yang membentuk kepribadiannya menjadi agresif dan kurang mampu mengendalikan emosi, juga diakibatkan tayangan televisi yang dapat mempengaruhi remaja.
Pencegahan terhadap bullying dapat dimulai melalui orangtua dengan mengajarkan kecerdasan emosional sejak dini dan dapat dilakukan oleh sekolah dan pemerintah, seperti program anti bullying. Adanya bimbingan konseling juga berpengaruh penting dalam mencegah adanya bullying.

4.2. USUL DAN SARAN
1)      Saya mengusulkan supaya pemerintah memberi perhatian lebih terhadap kasus bullying, karena sekarang ini sebagian besar remaja melakukan bullying.
2)      Saya juga mengusulkan supaya sekolah dapat memilih guru dengan benar, supaya dapat membimbing siswa dan memperhatikan siswa. Tidak hanya memarahi siswa yang malah akan menyebabkan aksi bullying.



DAFTAR PUSTAKA


Dra. Ehan. Bullying dalam Pendidikan.  http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195707121984032-EHAN/BULLYING_DALAM_PENDIDIKAN.pdf
Tisha. Astri. 2012. Apa sih, Bullying itu?. http://www.kawankumagz.com/read/apa-sih-bullying-itu
Anonymous. 2012. Cyberbullying. http://cyberbullying126e27.blogspot.com/


Demikianlah materi tentang Makalah Bimbingan Dan Konseling yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak Makalah Bimbingan Dan Konseling yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.

Anda dapat mendownload Makalah diatas dalam Bentuk Document Word (.doc) melalui link berikut.



EmoticonEmoticon