Friday, October 26, 2018

Makalah Peran Normatif Auditor Internal Dalam Penerapan Good Corporate Governance{GCG}

Berikut kami sajikan bahan Makalah  Peran Normatif Auditor Internal Dalam Penerapan Good Corporate Governance (GCG). Peran auditor internal dalam aspek GCG menjadi sangat penting saat ini. Untuk itu, semoga materi dibawah ini bisa menambah wawasan kita terkait peran tersebut.





BAB I
PENDAHALUAN


A.  Latar Belakang
      Seiring dengan berkembangnya kompleksitas bisnis dan semakin terbukanya peluang usaha dan investasi menyebabkan resiko terjadinya kecurangan pada perusahaan semakin tinggi, mengacu ke berbagai kasus baik didalam maupun diluar negeri, menunjukkan  bahwa kecurangan dapat terjadi dimana saja dan termasuk yang cukup besar ada di sector usaha.
Banyak perusahaan yang didalam perusahaan terdapat kecurangan, baik yang bersumber dari internal perusahaan maupun dari external perusahaan.Yang bersumber dari internal perusahaan adalah twrdiri dari anggota perusahaan, hal ini menunjukan bahwa pihak – pihak terkait mulai dari pegawai, pejabat teras dan direksi bahwa komisaris juga pemilik rentan terhadap konsekuensi hokum dampak dari kecurangan.
Sedangkan dari external perusahaan adalah oaring diluar perusahaan.Untuk mencegah terjadinya kecurangan, pemegang peran utamanya adalah dari internal auditor sesuai fungsinya yaitu berupaya untuk menghilangkan sebab – sebab timbulnya kecurangan tersebut.Tidak hanya internal audior saja yang dapat mencegah kecurangan, kesadaran dari pihak yang berperan dalam perusahaan pun mengupayakan dirinya untuk tidak melakukan kecurangan demi keberlangsungan perusahaan tersebut.

B.  Rumusan Masalah
      Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang peran normatif auditor internal dalam penerapan prinsip GCG. Diantaranya sebagai berikut :
1. Mengenal latar belakang auditor internal itu sendiri
2. Upaya peningkatan citra auditor internal
3. Pengertian GCG dan beberapa manfaat dalam perusahaan
4. Peran auditor internal dalam GCG




BAB II
PEMBAHASAN



A.        Latar Belakang Audit Internal
            Secara teorits perbedaan utama antara organisasi sector public dengan organisasi sektor swasta terletak pada sifat layanan yang diberikan.Organisasi sektor swasta beropasi dengan tujuan utama untuk mencari laba, sedangkan tujuan utama organisasi sektor public adalah menyelenggarakan usaha untuk kemanfaatan umum untuk berupaya penyediaan barang dan jasa yang berkualitas denagn harga terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang baik.
            Lahirnya unit audit internal , khususnya SPI ( Satuan pengawas intern ) pada BUMN, tidak terlepas dari peran BPKP ( Badan Pengawasan keuangan dan Pembangunan ). Peranan BPKP khususnya internal auditing di Indonesia cukup dominan.
            Awal keberadaan SPI pada BUMN dan BUMD adalah berdasarkan peraturan pemerintah n0. 3 tahun 1983, yaitu tentang tata cara pembinaan dan pengawasan perusahaan jawatan  ( perjan ), perusahaan umum ( perum ), dan perusahaan persero ( persero ). Peran apa saja yang dapat / seharusnya dilakukan oleh para auditor internal selaku seoarang konsultan manajemen, termasuk berbagai saran / uapaya demi peningkatan citra auditor internal baik dimata manjemen maupun auditte.

a.         Peran normative auditor internal
            Cashin ( 1971 ), mengemukakan audit internal sebagai berikut “ pemeriksaan itern melaksanakan aktivitas penilaian yang bebas dalam suatu organisasi untuk menelaah kembali kegiatan – kegiatan dalam bidang akuntansi, keuangan, dan bidang – bidang operasi lainnya sebagai dasar pemberian layanannya pada manajemen “
            Menurut Hiro ( 1992 ), fungsi audit internal adalah untuk menyakinkan keandalan informasi, kesesuaian denagn kebijaksaan / renacana / prosedur dan peraturan perundang – perudangan, perlindungan terhadap harta, penggunaan sumber daya seacara ekonomis dan efisien, dan pencapaian tujuan.

b.         Aktifitas audit internal pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam 2 macam bentuk sebagai berikut :
           

1. Financial Auditing
Kegiatan ini antara lain mencakup pengecekan atas kecermatan dan kebenaran segala data administrasi, mencegah terjadinya kesalahan / kecurangan dan men jaga kekayaan perusahaan. Tugas – tugas ini dapat dilaksanakan tanpa suatu evaluasi yang memerlukan penelitian lebih mendalam dan hasi audit ini ditukar denagn tolak ukur yang mudah, yaitu “benar” atau “ salah “
            2. Operatioanal Auditing
Kegiatan pemeriksaan lebih di tunjukkan pada bidang operasional untuk dapat memberikan rekomendasi yang berupa perbaikan dalam cara kerja system pengendalian dan sebagainya. Namun intinya adalah bahwa pemeriksaan operasional ini meliputi perluasan dari pemeriksaan intern pada semua operasi perusahaan dan tidak membatasi diri pada bidang keuangan dan akuntansi seamata, oleh karena aktivis keuangandan akuntansi berhubungan erat dengan hamper semua aktivitas yang berlangsung dalam perusahaan.


B.        Upaya peningkatan citra auditor internal
            Seorang auditor internal paling tidak  ( minimal ) harus memiliki pemahaman yang cukup kuat / baik mengenai ilmu accounting dan auditing ( secara teknis ) disamping kemampuan memahami segal aspek yang menyangkut biadang bisnis operasional perusahaan. Tak jarang di jumpai seoarang auditor internal yang memiliki kemampuan teknis dan pengalaman kerja yang minim disbanding dengan persyaratan yang diperlukan dalam melakukan tugas audit.
            Dalam bidang prpfesi audit internal, khususnya di Indonesia, ada 2  jenis sertifikat yang relatif diakui , yaitu sertifikat yang bersifat local dan internasional. Yang bersifat local adalah apa yang disebut dengan Qualifiet internal aufitor , dengan gelar QIA. Sedangkan yang bersifat internasional adalah yang disebut dengan Certified internal auditor, denagn gelar CIA.
            Dewan sertifikasi Qualified internal auditor telah mensyaratkan bahwa para pemegang sertfikat QIA harus melaksanakan program pendidikan lapangan ( PPL ) sebanyak 180 jam yang dapat di tempuh dalam kurung waktu 3 tahun. Hal ini dimaksud untuk menjaga agar para pemegang serfikat dalam biadang profesi internal audit ini selalu menyegarkan pengetahuannya sesuai kebutuhan atau tuntutan perkembangan jaman, perkembagan ilmupengetahuan, dan teknologi serta kemajuan dalam dunia usaha / bisnis. Pada beberapa perusahaan swasta, hanya sedikit sekali auditor internal yang memiliki sertifikasi profesi dalam bidang internal audit.
            Para auditor internal yang telah memilki sertifikat profesi ini sudah pasti juga menghendaki imbalan jasa yang besar, oleh sebab itu perlu pihak perusahaan untuk mempertimbangkan manfaat yang yang akan diperoleh dari pengorbanan yang dikeluarkan perusahaan dengan membayar mahal jasa para auditor internal yang bersrtifikasi. Auditor internal yang telah bersrtifikasi ini memang paling tidak memiliki “ nilai lebih “ dimata auditte karena pengkuannya dalam bidang pemerksaan intern.

Adapun kualifikasi yang seharusnya dimliki auditor internal yang idealnya adalah sebagai berikut :
1.         Sarjan akuntansi ( lebih di utamakan MBA )
2.         Akuntan publik beregister yang memiliki pengalaman auditor di KAP “ the big four “
3.         Memiliki latar belakang dalam bidang keuangan dan akuntansi
4.         Memiliki pengalaman kerja dalam bidang pemeriksaan selama 5 hingga 15 tahun
5.         Memilki pengakuan sertifikasi secara internasioanl seperti Certified internal auditor ( CIA ),Certified information System auditor ( CISA ), Certified Fraud Examiner ( CFE )
            Certified Mangement Accountan ( CMA ), atau Certified Financial Manager ( CFM )
6.         Memiliki keahlian dalam bidang computer, termasuk mengusai sitem dan data base keunagan Serta ahli dalam menggunakan accounting dan auditing computer soffware
7.         Memiliki pengalaman dalam hal berinteraksi dengan top management, dewan direksi, dan
            Audit committee.
8.         Memilki kepribadian yang kuat dan memahami etika profesi secara baik
9.         Memilki kemampuan anlisis yang kuat dan kemampuan untuk memecahkan masalah
10.       Memilki keahlian dalam hal berkominikasi , baik secara tertulis maupun secara lisan

C.        Pengertian Good Corperate Governance ( GCG )
            Konsep Good Corperate Governance ( GCG ) adalah konsep yang sudah saatnya diimplementasikan dalam perusahaan – perusahaan yang ada di Indonesia, karena melalui konsep yng menyangkut struktur perseroan, yang terdiri dari unsur – unsur RUPS, Direksi dan komisaris dapat terjalin hubungan mekanisme kerja, pembagian tugas, kewenangan dan tanggung jawab yang harmonis, baik secara intern maupun ekstern dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan demi kepentingan shareholder dan stakeholder.
            Arti GCG secara awam :“ mengurus perusahaan secara baik “ GCG merupakan system pengendalian dan pengaturan perusahaan yang dapat dilihat dari mekanisme hubungan antara berbagai pihak yang mengurus perusahaan ( hard definition ), maupun ditinjau dari “ nilai – nilai” yang terkandung dari mekanisme pengelolaan itu sendiri ( soft definition )

1.         5 Manfaat yang dapat diperoleh perusahaan yang menerapkan GCG yaitu :
#          GCG dapat mendorong penggunaan sumber daya secara efisien oleh perusahaan dan perekonomian nasional yang lebih besar.
#          GCG dapat membatu perusahaan dan perekonomian nasional menarik investasi modal dengan biaya yang lebih rendah melalui perbaikan kepercayaan investasi dan kreditur domestik maupun internasional.
#          GCG membantu pengelolaan perusahaan dalam memastikan / menjamin bahwa perusahaan telah taat pada ketentuan, peraturan dan ekspetasi masyarakat.
#          GCG membntu manajer dan corporate board dalam pemantauan penggunaan asset perusahaan.
#          Mengrangi korupsi.

2.         Auditor internal dalam GCG :
            #          Membantu direksi dan dewan komisaris dalam menyusun dan mengimpletasikan
            Kriteria GCG sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
            #          Membantu direksi dan dewan komisaris dalam menyediakan data keuangan dan
Operasi serta data lain yang dapat dipercaya, accountable, akurat, tepat waktu, obyektif,mudah dimengerti dan relevan bagi stakeholder untuk mengambil keputusan. Sehubungan hal tersebut, auditor intern berperan penting untuk memberikan limited assurance atas data informasi yang tersedia.
#          Membantu direksi dan dewan komisaris meamtuhi dan mengawasi penerapan atas seluruh ketentuan yang tersedia yang berlaku dan auditor intern harus memastikan bahwa seluruh elemen perusahaan dan dalam setiap aktivitas perusahaan, mereka telah mengikuti ketentruan secara konsisten ( compliance audity )
#          Membantu direksi menyusun dan mengimplementasikan stetuktur pengendalian intern yang handal dan memadai.Auditor intern dalam konteks ini harus memastikan bahwa struktur tersebut telah tersedia denagn memadai dan telah berfungsi atau diikuti oleh setiap elemen perusahaan.

#          Menstimulasi direksi dan dewan komisaris untuk mengembangkan dan mengimnplentasikan system audit yang baik, khususnya mendorong pembentukan komite audit yang ideal, merancang pedoman audit intern, serta menumbuhkan efektifitas penggunaan dan pemanfaatan hasil kerja auditor.

Adapun bebrapa tugas auditor internal lainnya yang sejalan dengan manfaat yang akan diperoleh dari diterapkannya prinsip tata kelola perusahaan yang baik :
1.         Auditor internal berkewajiban membantu manajemen dalam mengawasi jalanya kegiatan operasional perusahaan.
2.         Auditor internal berkewajiban untuk memastikan pengamanan atau keberadaan seluruh aktiva yang dimiliki perusahaa.
3.         Auditor internal juga harus dapat mengambil tindakan preventif / pencegahan atas kemungkinan terjadinya penyimpangan, kekeliruan dan ketidakberesan serta kasus penipuan / korupsi yang dilakukan karyawan maupun manajemen dalam perusahaan.
4.         Melaksankan Penyidikan pemalsuan
5.         Mengelola hubungan yang baik dengan para auditor eskternal selaku pihak yang dapat lebih di percaya oleh stokoholder,  terutam dalam masalah kelayakan pertanggungjawaban manajemen











BAB III
KESIMPULAN


A.        Kesimpulan
Saat ini terjadi pergeseran paradigma, auditor dahulu bertindak pasif sekarang telah menjadi bussines partner pada perusahaan – perusahaan sebagai pemberi deteksi dini dalam mengindentifikasi resiko usaha dan beriorentasi pada kinerja perusahaan secara keseluruhan.dengan demikian, cara pandang bussines unit juga berubah, tidak lagi menganggap auditor sebagai polisi organisasi namun sebagai bussines partner yang menjadi bagian internal dalam sebuah manajemen.
Terkait dengan pencapain GCG dan kaitannya dengan peranan internal auditor garda terdepan dalam penerapan prinsip – prinsip GCG di sebuah perusahaan.auditor berperan sebagai pencegah bukan bagi sebagi penilai perusahaan dimana mencari – cari kesalahan dari perusahaan tersebut.
Auditor juga membantu perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan dan bekerja “ hand in hand “ dengan unit bisnis. auditor mampu melakukan pengendalian terhadap penyimpangan atau system dan prosedur yang telah ditetapkan sesuai apek Good Coorperate Governance ( GCG ).

B.        Saran
            Makalah ini sangat jauh dari sempurna, mohon saran dan kritiknya guna menyempurnkan tulisan berikutnya








DAFTAR PUSTAKA


Hery, S.E., M.Si., CRP., RSA., Auditing dan Asurans, PT Grasindo, Jakarta, 2016
https ://yuoksurinda.wordpress.com/2016/01/03peran-auditor-internal-dalam-penyerapan-
prinsi-gcg/





Demikianlah materi tentang Makalah  Peran Normatif Auditor Internal Dalam Penerapan Good Corporate Governance{GCG} yang sempat kami berikan dapat bermanfaat. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak Makalah Manajemen Keuangan yang telah kami posting sebelumnya. semoga materi yang kami berikan dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.


EmoticonEmoticon