Thursday, November 22, 2018

Makalah Pemeriksaan Manajemen

Makalah Pemeriksaan Manajemen ini menyajikan informasi terkait aktivitas-aktivitas yang harus memperhatikan cost dan budgeting. Dalam makalah ini tersaji bagaimana prinsip dan proses kegiatan yang disesuaikan dengan budgeting.


BAB I
PENDAHULUAN

            Teknologi Informasi (TI) saat ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perusahaan, bukan lagi menjadi fungsi terpisah yang tidak terintegrasi dengan bisnis. Tidak hanya bisnis, teknologi informasi juga perlu dikelola dengan mengacu pada kerangka kerja pengelolaan proses teknologi informasi. Tata kelola TI yang baik, terstruktur dan handal merupakan suatu kebutuhan yang mutlak bagi pelayanan pendidikan terutama pada perguruan tinggi. Tujuan utama dari tata kelola TI adalah untuk mengurangi risiko dan memastikan bahwa investasi dalam bentuk sumber daya TI dapat menambah nilai korporasi.

            Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran. Sesuai dengan fungsinya, komputer terkenal dapat membantu pekerjaan manusia hampir dalam segala hal.

            Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sangat cepat, mempunyai dampak secara global terhadap pemakaian teknologi itu sendiri. Perkembangan teknologi ini yang banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi akan mengubah sikap dan perilaku dari pengguna teknologi informasi tentunya bukan hanya akan mempermudah mereka menjalankan usahanya tetapi di sisi lain teknologi informasi akan membawa dampak buruk bagi perusahaan. Dampak buruk inilah yang disebut dengan risiko.

            Oleh karena itu, diperlukan suatu pengukuran terhadap risiko yang ada dalam penerapan teknologi informasi. Pengukuran risiko TI berguna untuk mengetahui profil risiko TI, analisa terhadap risiko dan juga melalukan respon terhadap risiko sehingga tidak terjadi dampak-dampak yang kemungkinan muncul dari resiko tersebut. Penerapan teknologi informasi didukung dengan sistem pengamanan  yang kuat, prosedur yang baik, otorisasi yang baik, dan pemeliharaan berkala terhadap sumber daya komputer, sehingga dapat menjamin keamanan aset perusahaan, pemeliharaan integritas data, dan penggunaan sumber daya tepat.




Rumusan Masalah
1.   Apa pengertian Activity Based Budgeting ?
2.   Perbedaan Activity Based Budgeting dengan Tradisional Budgeting ?
3.   Bagaimanakah Prinsip-Prinsip Activity Based Budgeting ?
4.   Apa Keunggulan Activity Based Budgeting ?
5.   Pengukuran Kinerja Activity Based Budgeting ?
6.   Proses Activity Based Budgeting ?
7.   Mindset Activity Based Budgeting ?

Tujuan
Tujuan makalah ini adalah:
1.     Untuk mengetahui pengertian perbedaan, prinsip-prinsip, keunggulan, penyusunan, tujuan Activity Based Budgeting.
2.      Untuk mengetahui tahap dalam proses dan mindset Activity Based Budgeting.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Karakteristik Activity Based Budgeting
            Melalui integrasi aktivitas-aktivitas yang ada terhadap anggaran akan dapat merespon kebutuhan-kebutuhan yang timbul secara dinamis. Anggaran yang dapat memenuhi syarat-syarat dinamika perubahan adalah activity-based budgeting (Brimson dan Fraser, 1991; Bunce dan Fraser, 1997; Antos, 1997; Anonymous, 1998; dan Brimson dan Antos, 1999). Activity-based budgeting dikenal sebagai pendekatan baru yang menghasilkan proses manajemen yang berkelanjutan secara efektif. Pendekatan ini dikembangkan oleh konsultan Coopers and Lybrand Deloitte yang mengkombinasikan praktek-praktek manajemen terkenal, diturunkan dari priority base budgeting dan total quality, bersama-sama dengan activity-based cost management concept (Brimson dan Fraser, 1991).

2.2. Pengertian Activity Based Budgeting
Activity-based budgeting merupakan proses penyusunan anggaran yang berfokus pada improvement terhadap sistem yang digunakan oleh organisasi agar dapat menghasilkan value bagi pelanggan dan berfokus pada proses secara integral terhadap suatu organisasi , serta merupakan proses perencanaan dan pengendalian aktivitas-aktivitas yang diharapkan oleh organisasi agar mencapai anggaran yang cost-effective dan memenuhi workload sesuai dengan tujuan dan strategi organisasi.
Pendekatan ini merupakan proses merencanakan dan mengendalikan aktivitas yang diharapkan dapat mencapai efektivitas biaya dalam anggaran, sehingga memenuhi beban kerja yang diramalkan dan tujuan strategis yang telah disepakati.  Activity-based budgeting dapat diaplikasikan pada semua organisasi dan fungsi, termasuk untuk perusahaan jasa, dan fungsi-fungsi overhead, sedangkan pada perusahaan manufakturkonsep ini mula-mula diterapkan. Adanya tantangan baru mendorong semua organisasi komersial ataupun non komersial memusatkan perhatiannya pada overall cost. Activity Based Budgeting berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan Traditional Budgeting. Secara ringkas perbedaannya dapat dilihat pada tebel berikut ini :
Perbedaan
Traditional Budgeting
Activity Bused Budgeting
Fokus
Fungsi
Sistem
Tujuan
Menjalankan bagian dari sistem yang ada, memenuhi kebutuhan fungsi, melaksanakan pengendalian, dan Cost Control.
Melakukan improvement terhadap sistem, memuaskan kebutuhan customer dan Cost Reduction.



Perbedaan Anggaran Tradisional Dengan Activity Based Budgeting
Perbedaan
Penganggaran Tradisional
Activity Based Budgeting
Unit penganggaran
Diekspresikan sebagai biaya fungsional atau kategori pengeluaran
Diekspresikan sebagai biaya pelaksanaan aktivitas
Fokus
Sumber daya yang dibutuhkan
Keluaran atau pekerjaan yang dilakukan
Orientasi
Historis
Countinuous improvement
Peran pemasok dan pelanggan
Tidak secara normal mempertimbangkan pemasok dan pelanggan dalam penganggaran
Melakukan koordinasi dengan pemasok dan mempertimbangkan kebutuhan pelanggan dalam proses penganggaran
Tujuan pengendalian
Memaksimalakan kinerja manajer
Menyelaraskan aktivitas perusahaan secara keseluruhan
Dasar anggaran
Berdasarkan kinerja manajer
Berdasarkan kemanfaatan kapasitas
Berdasarkan tabel di atas, perbedaan yang paling mendasar antara traditional budgeting dan activity based budgeting adalah banyaknya informasi yang dibutuhkan untuk membangun anggaran.

Perbedaan Traditional Budgeting Dengan Activity Based Budgeting adalah :
   a.       Dalam penganggaran tradisional perusahaan memperlakukan aktivitas pemasok dan pelanggannya berdasarkan kondisi yang telah ditentukan dalam anggaran ( tidak secara formal mempertimbangkan pemasok dan pelanggan dalam penganggaran ). Pengangaran berbasis aktivitas melakukan koordinasi dengan pemasok dan mempertimbangkan kebutuhan pelanggan dalam proses penganggaran.
  b.      Penganggaran tradisional berfokus pada meminimalkan selisih dan memaksimalkan tanggung jawab kinerja manajer. Pengaggaran berbasis aktivitas berfokus pada mengoordinasikan dan menyelaraskan aktivitas perusahaan secara keseluruhan untuk melayani pelanggan.
  c.       Penganggaran tradisional (fungsional) bertujuan menjalankan bagian dari sistem yang ada dan menyediakan tolak ukur untuk pengendalian pelaksanaan pekerjaan fungsi. Penganggaran berbasis aktivitas bertujuan melakukan perbaikan terhadap sistem
( bukan hanya bagian dari sistem ) dan meraih peluang bisnis, bukan sekadar penyelesaian masalah bisnis yang dihadapi.
  d.      Penganggaran tradisional bertujuan melalui alokasi sumbr daya berdasarkan ramalan jualan (sales forecast) untuk memenuhi keperluan fungsi. Penganggaran berbasis aktivitas berfokus pada pengerahan dan pengarahan seluruh aktivitas ke penciptaan nilai untuk memuaskan kebutuhan pelanggan.


  
2.3. Prinsip-Prinsip Activity Based Budgeting
            Prinsip-prinsip Activity Based Budgeting (ABB) sebagai berikut:
     1.   Activity Bused Budgeting harus menggambarkan apa yang dilakukan, aktivitas atau proses usaha, bukan unsur biaya. Sumber daya yang dibutuhkan atau elemen biaya harus berasal dari aktivitas yang diharapkan atau proses usaha dan beban kerja. Biaya untuk melakukan aktivitas tersebut adalah gaji dan tunjangan dari perjalanan, peralatan kantor, dan biaya lain untuk wawancara.
     2.  Activity based budgeting merupakan proses yang mengarahkan seluruh aktivitas perusahaan untuk menciptakan nilai.
     3.  Anggaran berbasis aktivitas harus didasarkan pada beban kerja mendatang agar dapat memenuhi; persyaratan pelanggan, tujuan dan strategi organisasi/departemen, jasa dan bauran jasa yang baru atau yang diubah, perubahan dalam proses usaha, perbaikan dalam efesiensi dan efektifitas, perubahan dalam tingkat layanan, mutu, fleksibilitas dan tujuan siklus waktu.
     4. Anggaran akhir harus menggambarkan perubahan dalam biaya sumber daya (resource cost).
     5.   Sebagai bagian dari proses pengganggaran, perusahaan perlu memberi perhatian pada usaha perbaikan yang berkesinambungan. Setiap departemen harus mengidentifikasi aktivitas atau proses usaha untuk melakukan perbaikan, jumlah perbaikan, dan bagaimana merencanakan mencapai target perbaikan.


2.4. Keunggulan Activity Based Budgeting
Dibandingkan dengan traditional budgeting, activity-based budgeting memiliki keunggulan sebagai berikut ini :
  1.    Orientasi personel diarahkan ke pemenuhan kebutuhan customers
Proses penyusunan anggaran mengarahkan perhatian seluruh personel organisasi ke pencarian berbagai peluang untuk melakukan improvement terhadap sistem yang digunakan untuk menghasilkan value bagi customers. Keadaan seperti ini menjanjikan tercapainya efektivitas kegiatan bisnis perusahaan yang pada gilirannya diharapkan akan menghasilkan financial return yang memadai bagi perkembangan organisasi melalui loyalitas pelanggan.
 2.    Fokus penyusunan anggaran pada perencanaan aktivitas, digunakan untuk menghasilkan value bagi customers
Penyusunan anggaran akan memperoleh gambaran yang jelas antara penyebab dan akibat. Biaya timbul sebagai akibat dari adanya aktivitas. Jika personel akan mengurangi biaya, cara efektif yang dapat ditempuh dengan mengelola penyebab timbulnya biaya tersebut, yaitu aktivitas. Anggaran merupakan langkah strategik untuk melaksanakan pengurangan biaya melalui perencanaan aktivitas yang mengkonsumsi biaya. Kondisi ini akan membangkitkan semangat dalam diri personel dalam mewujudkan tujuannya.
  3.    Activity-based budgeting mendorong personel untuk mengimplementasikan cara berpikir berbasis sistem
Keputusan improvement di satu bidang tidak dapat dilepaskan pengaruhnya terhadap bidang lainnya. Keseluruhan lebih penting daripada sekedar bagian-bagiannya. Hal ini berbeda dengan dengan traditional budgeting yang memandang bagian atau fungsi lebih penting daripada keseluruhan.
  4.    Mencapai keunggulan dengan menghilangkan pemborosan
Untuk memacu nilai, suatu organisasi seharusnya berupaya menghilangkan pemborosan. Organisasi perlu sistem penganggaran dan pelaporan yang mampu mengidentifikasi dan menyoroti pemborosan dalam organisasi. Oleh karena biaya timbul sebagai akibat adanya aktivitas, maka cara yang efektif untuk mengatasi pemborosan tersebut adalah mengelola penyebab timbulnya biaya tersebut.
  5.    Mencapai keunggulan dengan mengurangi beban kerja
Upaya memacu nilai memerlukan cara menentukan pengurangan biaya tanpa harus mengurangi kualitas output. Ini dapat dilakukan dengan menyesuaikan tingkat layanan atau dengan mengurangi unit output. Untuk mengurangi beban kerja adalah dengan memperoleh pemahaman yang mendalam tentang output yang diinginkan customer. Tujuannya selain mengetahui keinginan customer, juga untuk memahami kebutuhan atas output dan bagaimana hal tersebut dapat dimanfaatkan perusahaan.


2.5 Pengukuran Kinerja Activity Based Budgeting

Pengukuran kinerja aktivitas dilaksanakan baik dalam bentuk keuangan maupun non keuangan. Pengukuran ini didesain untuk menilai bagaimana aktivitas dilaksanakan dan hasil diperoleh.
Pengukuran kinerja aktivitas juga didesain untuk mengungkapkan apakah dilaksanakan improvement berkelanjutan terhadap aktivitas untuk menghasilkan value bagi customer. Pengukuran kinerja aktivitas berpusat pada 3 dimensi,yaitu :
1. Efisiensi memfokuskan hubungan antara masukan aktivitas dengan keluaran aktivitas.
2. Kualitas berkaitan dengan pelaksanaan dengan benar aktivitas pada kesempatan pertama kali aktivitas tersebut dilaksanakan.
3. Waktu yang digunakan untuk melaksanakan aktivitas juga merupakan faktor kritis.
            A. Ukuran Kinerja Keuangan
            Ukuran kinerja keuangan harus dapat memberikan informasi khusus tentang dampak moneter dari setiap dari usaha improvement terhadap aktivitas yang dilaksanakan oleh personel. Oleh Karena itu, ukuran keuangan harus mampu menunjukkan pengurangan biaya yang sesungguhnya dicapai maupun yang secara potensial dapat dicapai.


            B. Laporan trend Biaya Aktivitas
            Jika pengelolaan aktivitas yang dilakukan oleh manajemen efektif, maka sebagai hasilnya adalah menurunnya biaya aktivitas bukan-penambah nilai.

1. Benchmarking
            Benchmarking adalah penggunaan praktik terbaik sebagai standar untuk mengukur kinerja aktivitas. Praktik terbaik dapat berasal dari dalam perusahaan atau dari perusahaan lain dalam industry. Jika praktik tebaik berasal dari dalam perusahaan, aktivitas unit tertentu yang dipandang terbaik ditetapkan sebagai standar, dan aktivitas yang sama didalam unit-unit organisasi lain menjadikan standar tersebut sebagai acuan kinerja aktivitas.
            Secara ideal, benchmarking menggunakan standar pesaing atau pihar luar lain. Jika perusahaan dapat memperoleh praktik terbaik dari perusahaan lain, standar ini dapat dipakai untuk memotivasi improvement terhadap aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan nilai bagi customer.
2. Activity-Based Budgeting
Activity-based budgeting adalah penyusunan anggaran biaya per aktivitas untuk memungkinkan manajer memprediksi biaya aktivitas yang akan terjadi dalam periode anggaran. Acttivity-based budgeting memungkinkan manajer merencanakan dan memantau improvement terhadap aktivitas secara lebih seksama.
3. Life-Cycle Cost Budgeting
Daur hidup produk (product life cycle) adalah jangka waktu sejenak produk diciptakan sampai dengan saat dihentikan produksinya. Biaya daur hidup produk adalah biaya yang berkaitan dengan produk dalam keseluruhan daur hidupnya, yang mencakup biaya pengembangan (perencanaan, desain, dan pengujian), produksi (aktivitas pengubahan bahan baku menjadi produk jadi), dan dukungan logistic (iklan, distribusi, jaminan, dsb).
            B.  Ukuran Kinerja Nonkeuangan
            Ukuran kinerja nonkeuangan sekarang menduduki peran penting di dalam akuntansi biaya berbasis aktivitas. Kondisi ini sejalan dengan proses pemberdayaan karyawan.
Informasi nonkeuangan yang dibutuhkan oleh karyawan adalah:
1. Ukuran Produktivitas
Pengukuran produktivitas dilakukan dengan mengukur perubahan produktivitas sehingga dapat dilakukan penilaian terhadap usaha untuk memperbaiki produktivitas. Pengukuran produktivitas dapat bersifat prospektif dan berfungsi sebagai masukan untuk pengambilan keputusan strategic.  
2. Ukuran Kualitas
Kualitas menjadi andalan dalam persaingan, oleh karena itu, karyawan memerlukan ukuran kualitas untuk mengukur kinerja mereka. Ukuran nonkeuangan yang digunakan untuk mengukur kualitas adalah: jumlah produk cacat per unit produk jadi, persentase produk rusak dari jumlah unit yang diproduksi, jumlah kesalahan persurat order pembelian,dsb.
3. Ukuran Waktu
Ada dua karakteristik penting yang berkaitan dengan waktu: keandalan dan kecepatan respon. Keandalan berarti keluaran-suatu aktivitas diserahkan tepat waktu. Untuk produk akhir, keandalan berarti ketepatan penyerahan produk kepada pemesan. Kecepatan respon diukur dengan jangka waktu yang diperlukan untuk memproduksi keluaran.

2.6. Proses Activity Based Budgeting
Tahap dalam proses Activity-based budgeting meliputi :

1.    Menganalisa Strategi
Fokus penyusunan anggaran activity-based-budgeting adalah merencanakan aktivitas yang digunakan untuk mendapatkan value bagi customerUntuk mengarahkan nilai ini, diawali dengan tahap pendefinisian tujuan dan perumusan strategi organisasi oleh manajemen senior. Kemudian melalui beberapa tahap, strategi ini diterjemahkan ke dalam proses bisnis, aktivitas, dan kondisi yang sesuai.
2.    Menetapkan Panduan Perencanaan (Planning Guidelines)

Untuk menerjemahkan sasaran dan tujuan strategik ke dalam proses anggaran diperlukan panduan perencanaan anggaran. Pembuatan panduan perencanaan dilakukan oleh manajemen puncak. Panduan perencanaan kemudian disampaikan kemudian masing-masing manajer untuk ditetapkan target-target tingkat aktivitasnya secara spesifik dalam konteks proses bisnis.
Dalam panduan perencanaan ini para manajer kemudian menyusun usulan anggaran dan melalui activity-based-budgeting, panduan ini dapat diaplikasikan kepada pengertian yang lebih rinci yakni tingkat aktivitas organisasi bukan sekedar tingkat sumber daya.
3.    Menerjemahkan Strategi ke Aktivitas
Setelah panduan perencanaan telah ditetapkan, manajemen dapat menentukan target dari setiap aktivitas dan proses bisnisnya. Manajemen seharusnya me-review proses bisnis untuk dapat meringkas dan mengeliminasi kemungkinan adanya aktivitas ganda (duplikasi aktivitas).
4.    Menentukan Beban Kerja dan Proyek Interdepartemental
Pada tahap ini, langkah yang dilakukan yaitu menetapkan target penjualan produk/ jasa (harga jual dan volume penjualan) untuk memproyeksikan beban kerja. Beban kerja didefinisikan sebagai jumlah volume output dimana aktivitas atau proses diperlukan untuk menghasilkannya. Banyak organisasi memilih cara praktis dengan menghitung ramalan volume penjualan dibanding mengukur permintaan costumer. Ramalan tersebut digunakan untuk menyusun anggaran pengahasilan. Ada tiga tahap utama untuk menentukan beban kerja suatu aktivitas dan proses, yaitu:
1.    Forecast produk – menentukan aktivitas/proses bisnis
2.    Forecast non produk – menentukan aktivitas/proses bisnis
3.    Forecast proyek spesial
5.    Menyusun Anggaran Final (Finalize the Budget)
Setelah manajer menyusun anggaran, menyusun rancangan aktivitas dan mengestimasi pendapatan dan atau penghematan biaya, biaya, dan arus kasnya masing-masing, maka data yang dihasilkan tersebut kemudian diserahkan kepada departemen anggaran untuk dikompilasi menjadi rancangan anggaran final. Panel review anggaran seharusnya mencakup tim lintas fungsi untuk mencapai perspektif organisasi. Activity-based budgeting secara sederhana merangking aktivitas dan proses bisnis disbanding pengeluaran (expenses). Organisasi dapat menganggarkan dan melaporkan dengan aktivitas dan merubah anggaran aktivitas ke dalam anggaran sumber daya tradisional sampai system anggaran berbasis aktivitas dapat diciptakan.
Tahap-tahap dalam memfinalkan suatu anggaran meliputi:
   1.      Membuat rencana dan anggaran untuk seluruh proses bisnis dan setiap aktivitas dalam proses bisnis dan aktivitas setiap departemen.
   2.      Mengevaluasi performance yang dianggarkan dengan sasaran.
   3.      Mengevaluasi performance dan cost trade off.
   4.      Memfinalkan biaya dari aktivitas dan proses bisnis dengan sasaran performance.



22.7. Mindset Activity Based Budgeting
Activity-based budgeting dilandisi oleh lima buah mindset antara lain :
1.    Customer Value Mindset
Dalam penyusunan anggaran, penyusun anggaran (budgetees) yang terdiri dari manajer sistem, ketua tim, manajer fungsi utama, dan manajer fungsi pendukung, merencanakan aktivitas selama tahun anggaran dengan dilandasi semangat untuk memuaskan kebutuhan customer. Fokus perhatian penyusun anggaran harus diletakan pada pengelolaan aktivitas yang terdiri dari: (1) activity elimination, penghilangan aktivitas yang tidak menambah nilai bagi customer, (2) activity reduction, pengurangan aktivitas yang tidak menambah nilai bagi customer, (3) activity sharing, pemanfaatan aktivitas penambah nilai yang belum secara optimum digunakan, dan (4) activity selection, pemilihan aktivitas penambah nilai yang paling efisien.
2.    Continuous Improvement Mindset
Dalam penyusunan anggaran, manajer sistem memimpin anggota timnya dalam melakukan continuous improvement terhadap sistem yang digunakan untuk melayanicustomer. Manajer fungsi utama dan manajer fungsi pendukung memimpin karyawan fungsinya dalam melakukan improvement kualitas sumber daya manusia dan sumber daya lain (prasarana, sarana, informasi, dan teknologi) yang dimanfaatkan oleh manajer sistem. Continuous improvement mindset juga digunakan untuk memerangi rasa puas personel atas kinerja sumber daya manusia dan kinerja sistem yang sekarang dicapai.
3.    Cross-functional Mindset
Organisasi difokuskan untuk memuaskan kebutuhan customer, melalui pembentukan tiga sistem permanen, yaitu: sistem inovasi, sistem operasi, dan sistem layanan purna jual. Setiap sistem dijalankan oleh suatu tim lintas fungsional, yang anggotanya berasal dari berbagai fungsi utama organisasi. Penyusunan anggaran dilandasi oleh cross-fungctional mindsetMindset ini mampu menghasilkan perencanaan aktivitas yang kompleks, cepat, terintegrasi, dan andal untuk mengasilkanvalue bagi customer.
4.    Employee Empowerment Mindset
Karyawan berada di garis depan dalam pemberian layanan kepada customer. Dalam proses penyusunan anggaran diperlukan pengikutsertaan dan pemberian kesempatan kepada karyawan untuk merencanakan aktivitas yang digunakan untuk melayani customer dalam proses penyusunan anggaran.
5.    Opportunity Mindset
Hasil ekonomi (economic result) diperoleh organisasi dari pengeksploitasian peluang, bukan dari pemecahan masalah. Hasil diperoleh organisasi karena produk dan jasa yang dihasilkan oleh organisasi memiliki value bagi customerCustomer lah yang memutuskan bahwa suatu hasil mempunyai value baginya. Unggul (distinct) jika hasil ber value dibandingkan dengan hasil yang diproduksi oleh organisasi lain, memiliki keunggulan atau leadership (berani tampil beda). Suatu hasil yang mediocre tidak akan mempunyai value bagi customer sehingga akan diabaikan oleh pelanggannya.



Demikianlah materi tentang Makalah Pemeriksaan Manajemen yang sempat kami berikan. semoga materi yang kami berikan dan jangan lupa juga untuk menyimak materi seputar Makalah Manajemen Keuangan yang telah kami posting sebelumnya. Semoga dapat membantu menambah wawasan anda semikian dan terimah kasih.


EmoticonEmoticon