Friday, October 2, 2020

Makalah Ekonomi Islam Tentang Mashlahah dan Konsumsi

Materi kali ini adalah Makalah Ekonomi Islam yang membahas hubungan mashlahah dan konsumsi. Yang dimaksud dengan konsumsi disini adalah konsumsi yang berpedoman pada ajaran Islam serta memprioritaskan maslahah.




BAB I

PENDAHULUAN



A.Latar Belakang


Islam adalah agama yang komprehensif dan mencakup seluruh aspek kehidupan, yang mengatur segala tingkah laku manusia. Sebagai khalifah bagi dirinya sendiri manusia mempiunyai peranan yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan untuk mengarungi kehidupan didunia. Demikian pula dalam masalah konsumsi, Islam mengatur bagaimana manusia dapat melakukan kegiatan-kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemashlahatan hidupnya.


Konsumsi yang Islami selalu berpedoman pada ajaran Islam, yang aturannya terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Di antara ajaran yang penting berkaitan dengan konsumsi adalah tujuan konsumsi itu sendiri, dimana seorang muslim akan lebih mempertimbangkan mashlahah daripada utilitas. Preferensi seorang konsumen dibangun atas kebutuhan akan mashlahah, baik mashlahah yang diterima di dunia maupun di akhirat. Perilaku konsumsi yang seperti ini akan membawa pelakunya mencapai keberkahan dan kesejahteraan hidupnya.


Dalam Islam, konsumsi tidak dapat dipisahkan dari peranan keimanan. Peranan keimanan menjadi tolak ukur penting karena keimanan memberikan cara pandang dunia yang cenderung mempengaruhi kepribadian manusia. Keimanan sangat mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan material maupun spiritual. Maka dari itu semua, seorang muslim yang baik haruslah mengerti tentang teori-teori konsumsi menurut Islam demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat.


B. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka yang menjadi pokok masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

1.Bagaimana hubungan mashlahah dan konsumsi dalam Islam?

2.Apa perbedaan utilitas dan mashlahah?

3.Bagaimana keseimbangan konsumen dalam Islam?

4.Bagaimana hukum permintaan dan penurunan kurva permintaan?


C. Tujuan Penulisan

1. Memberikan pengetahuan mengenai teori konsumsi dalam Islam

2. Menambah wawasan tentang hukum permintaan dan penurunan kurva permintaan dalam Islam



BAB II

PEMBAHASAN


A. Mashlahah dalam Konsumsi


Secara etimologi, mashlahah berasal dari kata sholaha ( صلح ) yang memiliki arti faedah, kepentingan, manfaat dan kemaslahatan. 

Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia dimuka bumi ini (Khan dan Ghifari, 1992). Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs), properti atau harta benda (al-mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl).


Dalam menjelaskan konsumsi, kita mengasumsikan bahwa konsumen cenderung untuk memilih barang dan jasa yang memberikan mashlahah maksimum. Hal ini sesuai dengan rasionalitas Islami bahwa setiap pelaku ekonomi selalu ingin meningkatkan mashlahah yang diperolehnya. Keyakinan bahwa ada kehidupan dan pembalasan yang adil di akhirat serta informasi yang berasal dari Allah adalah sempurna akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kegiatan konsumsi. 


Misalnya, ketika seseorang diminta memilih antara mengonsumsi sepiring cimol di pinggir jalan atau  ketika  menyantap seporsi Hamburger di restoran terkenal manakah yang kira-kira kebanyakan orang pilih?. Bagi orang yang menyukai Hamburger dan memiliki uang lebih cenderung memilih pilihan kedua, akan tetapi bagi mereka yang dompetnya kosong akan lebih condong ke pilihan pertama, walaupun  ia tidak menyukai cimol. Dalam ilustrasi tersebut tergambar pertimbangan seseorang dalam mengkonsumsi suatu barang yang antara lain biaya dan selera. Padahal, menurut pandangan Islam apabila kita hendak memilih sesuatu yang akan dikonsumsi bukan hanya selera atau biaya. Kita juga harus memperhatikan faktor manfaat seta halal/tidaknya barang tersebut. Nah, faktor manfaat dan berkah inilah yang merupakan bagian utama dari maslahah.


Mashlahah berkonsep maqashid as-syariah. Maslahah memiliki dua kandugan yaitu manfaat dan berkah. Manfaat berarti dapat memenuhi kebutuhan konsumen, berkah berarti barokah, sesuai konsep Islam. Bagi seorang muslim yang takwa dia akan mempertimbangkan maslahah dari barang tersebut. Jika dihubungkan  ke pertanyaan awal, maka ia akan lebih memilih Cimol dipinggir jalan karena Hamburger termasuk barang haram (Ham=daging babi), meskipun ia tidak menyukai cimol tersbut setelah membandingkan berkah dari kedua makanan tersebut. Contoh lainnya, seorang siswa SMA karena prestasinya disekolah dan orang tuanya kaya raya akan dibelikan  hadiah antara sepeda roda dua atau Motor gede 250cc. Karena mempertimbangkan sekolahnya yang tidak terlalu jauh, serta tidak suka polusi maka ia akan lebih memilih sepeda, karena mempertimbangkan manfaatnya meskipun harga sepeda tersebut jauh lebih murah. Selain itu konsumsi yang maslahah termasuk konsumsi yang tidak berlebihan (israf), mubazdir, dan tidak menimbulkan kemudharatan. 


Konsumen merasakan adanya manfaat suatu kegiatan konsumsi ketika ia mendapatkan pemenuhan  kebutuhan fisik atau psikis atau material. Di sisi lain, berkah akan diperolehnya ketika ia mengonsumsi barang/jasa yang dihalalkan oleh syariat Islam. Mengonsumsi yang halal saja merupakan kepatuhan kepada Allah, karenanya memperoleh pahala. Pahala inilah yang kemudian dirasakan sebagai berkah dari barang/jasa yang telah dikonsumsi. Sebaliknya, konsumen tidak akan mengonsumsi barang/jasa yang haram karena tidak mendatangkan berkah, menimbulkan dosa dan siksa Allah.


Jadi, dapat ditarik kesimpulan apabila kita hendak mengkonsumsi suatu barang, hendaklah kita memikirkan manfaat, berkah, dan kauntitas yang diperlukan. Dengan melakukannya Insya Allah maslahah dapat tercapai.


1. Kebutuhan dan Keinginan

Kebutuhan terkait denagn segala sesuatu yang harus dipenuhi agar suatu barang berfungsi secara sempurna. Sebagai misal genting dan pintu jendela merupakan kebutuhan suatu rumah tinggal. Di sisi lain, keinginan adalah terkait dengan hasrat atau harapan seseorang yang jika dipenuhi belum tentu akan meningkatkan kesempurnaan fungsi manusia atau suatu barang.

Secara umum pemenuhan terhadap kebutuhan akan memberikan tambahan manfaat fisik, spiritual, intelektual atau material, sedang keinginan akan menambah kepuasan disamping manfaat lainnya. 


Wants dalam teori ekonomi konvensional muncul dari keinginan naluriah manusia, yang muncul dari konsep bebas nilai (value-free concept). Ilmu ekonomi konvensional tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan, karena keduanya memberikan efek yang sama bila tidak terpenuhi, yaitu kelangkaan. Mereka berpendirian bahwa kebutuhan adalah keinginan, demikian pula sebaliknya. Padahal konsekuensi dari hal ini adalah terkurasnya sumber-sumber daya alam secara membabi-buta dan merusak keseimbangan ekologi.


Pada sisi yang lain, Ekonomi Islam justru tidak memerintahkan manusia untuk meraih segala keinginan dan hasratnya. Memaksimalkan kepuasan (maximization of satisfaction) bukanlah spirit dalam perilaku konsumsi Ekonomi Islam, karena hal tersebut adalah norma-norma yang disokong oleh peradaban yang materialistik. Sebagai gantinya Ekonomi Islam memerintahkan individu untuk memenuhi kebutuhannya/needs sebagaimana yang dikehendaki oleh syari’ah. Needs memang muncul dari keinginan naluriah, namun dalam framework Islam tidak semua keinginan naluriah itu bisa menjadi kebutuhan. 

2.  Mashlahah dan Kepuasan


Imam Shatibi menggunakan istilah 'maslahah', yang maknanya lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan hukum syara' yang paling utama.


Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung  elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini (Khan dan Ghifari, 1992).  

Menurut al-Ghazali dalam pemikirannya maslahah didasarkan kepada 5 (lima) tujuan dasar (maqashid al-syar’iyyah) yaitu: agama (al-din), hidup atau jiwa (al-nafs), keluarga atau keturunan (al-nasl ), harta ataukekayaan (al-mal ), danintelektual atau akal (al-’aql ), beliau menitikberatkan (mahallusyahid ) pada tuntunan wahyu, tujuan utama kehidupan umat manusia adalah untuk mencapaikebahagian di dunia dan akhirat (maslahat al-din wa al-dunya) 

Kepuasan merupakan suatu akibat dari terpenuhinya suatu keinginan, sedangkan mashlahah merupakan suatu akibat atas terpenuhinya suatu kebutuhan atau fitrah. Meskipun demikian terpenuhinya suatu kebutuhan juga akan memberikan kepuasan terutama jika kebutuhan tersebut disadari dan diinginkan.


Berbeda dengan kepuasan yang bersifat individualis mashlahah tidak hanya bisa dirasakan oleh individu. Mashlahah bisa jadi dirasakan oleh selain konsumen, yaitu dirasakan oleh sekelompok masyarakat. Sebagai contoh ketika seseorang membelikan makanan untuk tetangga miskin, maka mashlahah fisik/psikis akan dinikmati pula oleh tetangga yang dibelikan, sementara itu si pembeli akan mendapatkan berkah.


3. Mashlahah dan Nilai-nilai Ekonomi Islam

Perekonomian islam akan terwujud jika prinsip dan nilai-nilai Islam diterapkan secara bersama-sama. Pengabaian terhadap salah stunya akan membuat perekonomian pincang. Penerapan prinsip ekonomi yang tanpa diikuti oleh pelaksanaan nilai-nilai Islam hanya akan memberikan manfaat (mashlahah duniawi), sedangkan pelaksanaan sekaligus prinsip dan nilai akan melahirkan manfaat dan berkah atau mashlahah dunia akhirat. Keberkahan akan muncul jika dalam kegiatan ekonomi-konsumsi misalnya disertai dengan niat dan perbuatan yang baik seperti menolong orang lain, bertindak adil dan semacamnya.


B.Utilitas dan Mashlahah


Dalam ekonomi konvensional, konsumen diasumsikan selalu bertujuan untuk memperoleh kepuasan (utility) dalam kegiatan konsumsinya. Utility secara bahasa berarti berguna (usefulness), membantu (helpfulness), atau menguntungkan (advantage). Dalam konteks ekonomi utilitas dimaknai sebagai kegunaan barang yang dirasakan oleh seorang konsumen ketika mengonsumsi sebuah barang. Kegunaan ini bisa juga dirasakan sebagai rasa “tertolong” dari suatu kesulitan karena mengonsumsi barang tersebut. Karena adanya rasa inilah, maka sering kali utilitas dimaknai juga sebagai rasa puas atau kepuasan yang dirasakan oleh seorang konsumen dalam mengonsumsi sebuah barang. Jadi kepuasan dan utilitas dianggap sama, meskipun sebenarnya kepuasan adalah akibat yang ditimbulkan oleh utilitas. 


Dalam ekonomi Islam, tujuan konsumsi lebih mempertimbangkan mashlahah daripada utilitas. Namun demikian utilitas tidak bertentangan dengan mashlahah bahkan dalam Islam Seorang muslim juga harus rasional tetapi dibatasi pada hal-hal yang membawa kemashlahatan. 

Untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen terhadap mashlahah akan dipaparkan terlebih dahulu mengenai perilaku konsumen konvensional yang mengejar utilitas dalam konsumsi.


1.Hukum Penurunan Utilitas Marginal


Dalam ilmu ekonomi konvensional dikenal adanya hukum mengenai penurunan utilitas marginal (law of diminishing marginal utility) yang mengatakan bahwa jika seseorang mengonsumsi suatu barang dengan frekuensi yang diulang-ulang, maka nilai tambahan kepuasan dari konsumsi berikutnya akan semakin menurun.

2. Hukum mengenai Mashlahah


Hukum mengenai penurunan utilitas marginal tidak selamanya berlaku pada mashlahah. Maslahah dalam konsumsi tidak seluruhnya secara langsung dapat dirasakan, terutama mashlahah akhirat atau berkah. Adapun maslahah dunia manfaatnya sudah dapat dirasakan setelah konsumsi. Dalam hal berkah, dengan meningkatkanya frekuensi kegiatan, maka tidak akan ada penurunan berkah karena pahala yang diberikan atas ibadah mahdhah tidak pernah menurun. 


Sedangkan mashlahah dunia akan meningkat dengan meningkatnya frekuensi kegiatan, namun pada level tertentu akan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan tingkat kebutuhan manusia di dunia adalah terbatas sehingga ketika konsumsi dilakukan berlebih-lebihan, maka akan terjadi penurunan mashlahah duniawi. Dengan demikian, kehadiran mashlahah akan memberi warna dari kegiatan yang dilakukan oleh konsumen mukmin.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Preferensi seorang konsumen dibangun atas kebutuhan akan akhirat, baik maslahah yang diterima di dunia ataupun di akhirat. Maslahah adalah setiap keadaan yang membawa manusia pada derajat yang lebih tinggi sebagai makhluk yang sempurna. Maslahah dunia dapat berbentuk manfaat fisik, biologis, psikis, dan material, atau disebut manfaat saja. Maslahah akhirat berupa janji kebaikan (pahala) yang akan diberikan di akhirat sebagai akibat perbuatan mengikuti ajaran Islam.


Bagi orang yang peduli akan adanya berkah, semakin tinggi barang halal yang dikonsumsi seseorang, tambahan maslahah yang diterimanya akan meningkat hingga titik tertentu dan akhirnya akan menurun, dengan asumsi jumlah konsumsi masih dibolehkan oleh Islam. Namun, bagi orang yang tidak peduli terhadap adanya berkah, peningkatan maslahah adalah identik dengan peningkatan manfaat duniawi saja.

B. Saran

Sebagai seorang kosumen, sebaiknya kita mengonsumsi barang-barang halal, tidak berlebih-lebihan dalam berkonsumsi, dan diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah dalam rangka mencapai tingkat maslahah yang lebih tinggi.


DAFTAR PUSTAKA

Http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2200531-definisi-maslahah

Misanam, Munrokhim. 2008. Ekonomi Islam. Jakarta : Rajagrafindo Persada

Http://wasilas.wordpress.com/2012/04/20/maslahah-dalam-konsumsi

Http://qamaruddinshadie.blogspot.com/2012/04/maqashid-syariah-maslahah-sebagai_29.html

Al-Syatibi (tt), al-Muwafaqat fi Usul al-Ahkam, Beirut: Dar al-Fikr, juz 2

Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din (Beirut : Dar al-Nadwah, tt), Juz 2

Http://burhanuddinsolong.blogspot.com/2010/02/bagaimana-sebaiknya-perekonomian.html

Mustafa, dkk. Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam. Kencana Prenada Media Group: Jakarta. 2007


Demikian tulisan tentang makalah ekonomi Islam yang bisa penulis bagikan, semoga menjadi referensi yang sesuai bagi pembaca dalam menyelesaikan tugas kuliah. Intinya dalam materi ini pembahasan yang diberikan adalah tentang bagaimana mengkonsumsi yang sesuai dengan ajaran dan aturan Islam. Tidak berlebihan dan mendatangkan manfaat.


This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon